That's What I Feel, My Husband

That's What I Feel, My Husband
episode 21-Menyelidiki



Setelah pamitan dengan mamahnya, Novrida memikirkan sebuah rencana untuk menjawab apa yang telah terjadi dengan suaminya itu. Tak mungkin kan jika Novrida memilih blak-blakan dengan mamahnya apalagi dengan suaminya itu, pasti suaminya tidak akan mengakui. Mengapa Novrida bisa berbicara seperti itu? Ya jelas sekali, karena jika benar pelakunya itu mertua dan adik iparnya sendiri maka sudah pasti suaminya akan membela dan segera memaafkan, kan mereka berdua itu keluarganya. Beda cerita lagi kalau yang menyiksa itu orang lain, sudah pasti suaminya bakal marah besar. 


Awalnya Novrida heran, jika memang luka yang ada dikepala itu akibat ulahnya sendiri sudah pasti tidak akan separah itu dong, toh lantai apartemen tidak pernah licin, kecil kemungkinan Lukas kepleset. Setiap dia hari sekali pasti ada bagian bersih-bersih yang mengerjakan semuanya. "Didalam apartemen kan ada cctv, ah lebih baik cek aja diam-diam," gumam Novrida. 


***


Setelah sampai di apartemen, kebetulan sekali Lukas sedang keluar, jadi Novrida bisa leluasa mengecek cctv agar hati dan pikirannya tidak terus menerus gelisah. 


Hampir 1 jam lamanya Novrida memperhatikan gerak-gerik yang terekam cctv namun tak ada tanda yang mencurigakan, Novrida merasa sia-sia karena sudah membuang waktu, ketika hendak berdiri, ada rekaman yang memperlihatkan kedatangan mamah mertua juga Ivanka di apartemen. Sebelum masuk pun mereka seperti sedang mengobrol kan sesuatu, sayang sekali cctv milik suaminya tidak bisa mendeteksi apa yang mereka bicarakan. 


Novrida lalu mengamati dengan seksama sampai akhirnya… jleb.. Hati Novrida sungguh kaget juga tak menyangka dengan adegan yang ia lihat sendiri yang dimana memperlihatkan Ina sedang menjambak rambutnya secara brutal hingga terjembab dilantai, tak itu juga, tamparan juga makian disematkan untuknya sebagai pelengkap sebuah penyiksaan, andai mereka tau jika yang mereka siksa adalah anaknya sendiri, apakah mereka akan setega dan seganas itu. Sungguh ini perilaku yang sangat tragis, Ina menghempaskan Lukas dengan begitu kencangnya sampai akhirnya Lukas tak bisa menyeimbangkan diri dan terbentur meja makan, setelah itu darah keluar cukup banyak dari kepalanya hingga membuat Lukas pingsan. 


Dari sini sudah terlihat dari gesture Ina juga Ivanka jika mereka panik bukan main, sayang seribu sayang.. Mereka memilih kabur tanpa membawa Lukas berobat. 


"Mamah mertua dan adik ipar, sebenarnya hati kalian terbuat dari apa? Yang kamu siksa hingga berdarah itu keluargamu sendiri bukan Novrida, memang wujudnya itu Novrida tapi tidak dengan jiwanya, sungguh kejamnya kalian, pantaskah kalian disematkan dengan manusia?" gumam Novrida mengepalkan tangan karena geram. Meskipun yang disiksa itu Lukas tapi ya tetap saja fisiknya itu miliknya. 


Tak mau berdiam diri dan pasrah, Novrida menyalin rekaman penyiksaan itu dan segera melaporkannya ke kantor polisi secara diam-diam, biarlah ini menjadi kejutan untuk keduanya. Dan Lukas, apa karena mereka keluarganya jadi Lukas enggan jujur dengan Novrida? 


Untung saja salinan rekaman CCTV sudah berhasil didapatkan, tak berselang lama terlihat Lukas akan masuk ke apartemen, cepat-cepat Novrida berpindah tempat ke ruang tv. 


"Loh jam segini kok udah pulang Nov?" tanya Lukas kaget ketika membuka pintu ada istrinya sedang menonton televisi. 


"Iya.. Kepikiran tentang kondisimu, hatiku gak tenang soalnya," jawab Novrida membuat hati Lukas tersentuh. 


"Kondisi ku semakin baik kok kan ada kamu yang merawat," jawab Lukas bahagia. 


"Tetap saja, tidak tega meninggalkanmu dengan kondisi seperti itu," jawab Novrida. 


"Kamu beli apa? Kok banyak sekali?" tanya Novrida lagi sambil melihat belanjaan Lukas. 


"Stok makanan juga minuman, di kulkas tinggal sedikit, sekalian aku jalan-jalan sebentar, suntuk juga ya di rumah terus," jawab Lukas menaruh belanjaan di meja makan lalu duduk di sebelah istrinya. 


"Capek??" tanya Novrida peduli. 


"Gak juga sih," jawab Lukas. 


"Masih sakit gak? Obatnya udah diminum?" tanya Novrida penuh perhatian. 


"Better sih, udah kok," jawab Lukas membuat Novrida lega. 


"Syukurlah.." jawab Novrida ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Lukas. 


"Mau jam makan siang nih, aku masak dulu ya," pamit Novrida. 


"Mau masak apa?" tanya Lukas. 


"Lihat stok yang ada saja," jawab Novrida seadanya dan berjalan ke arah kulkas. 


Di Dalam kulkas terisi berbagai jenis stok makanan yang sangat berlimpah, ada ayam, ikan, tahu, tempe, udang, telor, perbumbuan sampai sayur mayur. Kalau begini mah semua wanita juga bakalan rajin memasak, udah disediakan stok makanan segini banyaknya, kualitasnya pun terjamin lagi. Akhirnya Novrida memutuskan memasak ikan gurame bumbu acara. 


Setelah selesai memasak, Novrida menyiapkan masakan di meja dan segera memanggil Lukas, tak butuh waktu lama mereka berdua langsung menyantap makanan itu dengan nikmat. Novrida memang pandai memasak, jadi soal rasa sudah tidak perlu diragukan lagi. 


"Ada apa Nov? Kenapa memperhatikanku segitunya?" tanya Lukas selesai makan. 


"Aku mau tanya sesuatu tapi tolong jawab jujur ya," pinta Novrida serius. 


"Apa itu?" tanya Lukas penasaran. 


"Tentang lukamu itu, beneran penyebabnya karena keteledoranmu sendiri?" tanya Novrida memastikan. 


"Ya.. Ya memang bener, waktu itu sudah pernah aku jawab kan," jawab Lukas tak nyaman. 


"Kamu gak berbohong kan?" tanya Novrida memastikan. 


"Ya enggak, buat apa coba?" tanya balik Lukas. 


"Siapa tau ada ancaman atau apa?" sindir Novrida yang berhasil menskak Lukas. 


"Gak.. Gak ada yang mengancam, lagian siapa yang berani mengancamku?" tanya Lukas terkekeh. 


"Ya itu kan dulu, sekarang faktanya berbeda, saat ini kamu ada di tubuhku, begitupun denganku," jawab Novrida. 


"Iya juga ya.." jawab Lukas membenarkan. 


"Jujurlah, apa ada yang mengancammu dan luka itu karena ulah seseorang, jangan membuatku selalu dihantui rasa penasaran, Lukas," pinta Novrida penuh harap. 


"Apa jawabanku waktu itu masih membuatmu ragu?" tanya Lukas. 


"Bukan hanya ragu namun sangat meragukan, mana mungkin kamu seceroboh itu Lukas," sindir Novrida dan yang bersangkutan diam sejenak. 


"Mana mungkin aku bicara yang sejujurnya sedangkan pelakunya saja keluargaku sendiri, nanti Novrida malah menjadi benci pada keluargaku dan nantinya keluargaku dianggap buruk olehnya," batin Lukas bimbang. 


"Kenapa hanya diam? Sedang memikirkan jawaban yang pas?" sindir Novrida lagi. 


"Tidak.. Aku hanya sedih saja karena kamu meragukan suamimu sendiri," jawab Lukas sendu. 


"Tidak meragukan suami sendiri, melainkan meragukan jawabanmu yang terkesan ada yang kau tutupi," jawab Novrida menatap Lukas tajam. 


"Tidak.. Tidak ada yang ditutupi, percayalah," pinta Lukas. 


"Dan sayangnya aku tidak bisa mempercayainya, maaf," jawab Novrida tegas. 


"Baiklah.. Aku akan berkata jujur, tapi aku mohon jangan membenci siapapun itu setelah tau yang sebenarnya," pinta Lukas. 


"Tidak bisa dipastikan juga, tergantung bagaimana perlakuannya," jawab Novrida yang lagi-lagi membuat Lukas menghela nafas panjang. 


"Lebih baik biarlah begini saja, jika nantinya kamu sendiri tidak yakin, cukup percaya saja dengan apa yang kemarin aku katakan," ucap Lukas lalu masuk ke kamar. 


"Baiklah.. Kita tunggu kejutan yang nantinya datang, jika kamu tidak mau membuka kebusukan keluargamu, biarkan bukti ini yang akan membukanya," batin Novrida sambil menggenggam flashdisk dan segera pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian ini.