That's What I Feel, My Husband

That's What I Feel, My Husband
Menjenguk Ivanka



Berita masuknya Ivanka dirumah sakit langsung menyebar luas dan kakaknya pun juga mendengar berita itu, hal yang mengusik pikiran kakaknya ialah kesalahan apa yang sudah Ivanka lakukan sehingga membuat salah satu napi disana murka dan tak segan menghajar Ivanka. 


Kebetulan sekali jadwal di kantor senggang jadinya Lukas bisa memjenguk adiknya ketika jam makan siang bersama Novrida tentunya. Terlebih dahulu Lukas menghubungi istrinya untuk memberitahu bahwa sebentar lagi mau menjenguk Ivanka, jadi nantinya ketika Lukas sampai di apartemen posisi Novrida sudah siap. 


"Ivanka.. Ulah apalagi yang kamu buat sampai akhirnya kamu dirawat di rumah sakit? Aku pikir dengan masuknya kamu ke penjara bisa membuatmu juga mamah berubah, namun sepertinya tidak," gumam Novrida tak habis pikir. 


Jam makan siang telah tiba, Lukas sudah menjemput istrinya dan kini mereka bersiap ke rumah sakit. 


"Halo pah? Kamar Ivanka ada dimana ya? Rencana Lukas dan Novrida mau kesana," tanya Lukas via telepon. 


"Kamu ngapain kesana? Mendingan jangan deh apalagi kamu bawa istrimu, takutnya mamah nanti marah," tegur Smith. 


"Kami kesana dengan tujuan baik pah dan harusnya mamah bisa melihat itu dong," protes Lukas. 


"Papah tau, tapi lebih baik menghindar dulu dari mereka," tegur Smith. 


"Tanggung pah, kasih tau saja dimana kamar Ivanka, mau nantinya mamah marah atau gimana biar menjadi urusan kami," bantah Lukas lalu Smith mengalah. 


"Baiklah.. Adikmu ada dikamar bougenville 3," jawab Smith pasrah. 


"Thanks papah," jawab Lukas lalu memutus sambungan telepon. 


"Kenapa? Pasti dilarang papahmu kesana ya," tebak Novrida. 


"Gak kok.. Papah hanya menyuruh kita kesana kalau Ivanka sudah siuman saja, tapi mau gimana lagi? Tanggung kan," bantah Lukas berbohong. 


Tiba di rumah sakit, mereka langsung berjalan ke ruang rawat inap yang dimaksud, kebetulan tidak ada Ina disana, jadi Lukas juga Novrida bisa bebas menjenguk tanpa ada embel-embel sungkan. "Syukurlah mamah gak ada, semoga mamah kembali lagi ketika kami sudah pergi,"


"Mamah saya kemana ya pak?" tanya Lukas pada petugas kepolisian. 


"Saudara Ina tidak bisa 24 jam menjaga saudara Ivanka, hanya di jam-jam tertentu kami mengizinkan," jawab petugas dan Lukas hanya mengangguk, setelah itu kembali masuk ke kamar inap. 


"Kenapa Luk?" tanya Novrida penasaran. 


"Mamah memang gak ada disini, tidak bisa menjaga Ivanka selama 24 jam katanya, hanya diberikan izin di jam tertentu," jawab Lukas. 


"Ohh.. Lalu kita gimana? Tetap jaga adikmu atau pulang? Sepertinya adikmu belum siuman," tanya Novrida. 


"Tunggulah disini dulu, aku ingin melihat kondisinya, aku iba padanya, kenapa bisa sampai seperti ini," jawab Lukas dan Novrida mencoba mengerti. 


Lukas mendekati adiknya dengan wajah sendu dan berusaha menahan air mata agar tidak berlinang di pipi, sebagai kakak, rasanya ia tidak tega melihat adiknya dengan kondisi yang mengenaskan seperti ini, wajah penuh lebam, rambut gak terawat, kulit sedikit kusam bahkan wajahnya pun tak secerah dulu. Lukas tidak bisa membayangkan penderitaan seperti apa yang sudah dilalui adik dan mamahnya, baru beberapa hari masuk sel saja perubahan mereka sudah sangat drastis, bagaimana jika sampai 5 tahun? Mungkin papah tidak akan mengenali mereka. Tak hanya papah, ia dan Novrida pun juga. 


Kebetulan Novrida sedang melihat seluruh tubuh Ivanka yang sedang terbaring lemah dan pandangannya terfokus pada bagian tangan, dimana tangannya terlihat bergerak meskipun itu masih lemah. 


"Luk.. Coba tengok tangan Ivanka," bisik Novrida menunjuk tangan adik iparnya. 


"Kenapa emangnya?" jawab Lukas penasaran dan melihat arah telunjuk istrinya. 


"Akhirnya kamu menunjukkan kemajuan, kakak tau kamu marah sekali dengan kakak kan, maafkan kakak ya karena belum bisa menjadi kakak yang baik, kakak melakukan ini semua agar kalian jera, agar tidak ada lagi aksi menindas sesama keluarga, mau kamu terima kehadiran Novrida atau tidak intinya sekarang ini dia adalah kakak iparmu," ucap Lukas membelai rambut adiknya. 


"Maaf Ivanka jika kehadiranku di hidup kalian hany membuat masalah, semoga kamu cepat sembuh ya, aku sudah memaafkan apa yang sudah kalian lakukan," ucap Novrida. 


Ivanka kembali merespon dengan menggerakan jari-jari tangannya, namun kali ini lebih lama. Sebuah kemajuan yang luar biasa, tak mau mengabaikan momen ini, Novrida bergegas memanggil dokter dan memberitahukan semuanya. Dengan sigap dokter segera ke ruangan Ivanka ditemani oleh petugas kepolisian. 


Ivanka diperiksa secara instens dan beberapa kali dokter mengajaknya berbicara, benar saja, Ivanka merespon dengan menggerakan jarinya. 


"Ini suatu kemajuan yang signifikan bagi pasien, teruslah ajak berbicara agar syaraf-syaraf yang ada ditubuhnya merespon dan pasien akan semakin mendekati kesembuhan," ucap dokter. 


"Baik dokter, saya akan usahakan, terima kasih banyak dok," jawab Lukas sigap lalu dokter kembali ke ruangannya dan petugas kepolisian kembali berjaga di pintu. 


Merasa Ivanka perlu diperhatikan secara khusus, Novrida berinsiatif untuk menjaga adik iparnya sampai sembuh. 


"Luk," panggil Novrida. 


"Ya?" jawab Lukas menoleh ke istrinya. 


"Bolehkah aku menjaga adikmu sampai dokter menyatakan sembuh?" tanya Novrida. 


"Apa? Kamu serius?" tanya Lukas memastikan sekaligus kaget. 


"Serius, kasihan Ivanka tidak ada yang merawat, papahmu kerja sedangkan mamah harus kembali ke tahanan, katamu gak setiap hari kan mamah mendapat izin menjenguk Ivanka sedangkan kamu juga harus bekerja, makanya biar aku saja yang menjaga Ivanka, aku kan dirumah juga gak ngapa-ngapain," usul Novrida. 


"Tapi bagaimana nantinya kalau Ivanka sadar dan menyakitimu lagi?" tanya Lukas. 


"Semoga saja tidak, jangan selalu berpikir buruk pada seseorang," jawab Novrida optimis. 


"Baiklah kalau kamu bersedia maka aku mengizinkannya, tapi jangan lupa selalu kabari aku dan kabari juga perkembangan Ivanka," ucap Lukas. 


"Baiklah.. Makasih sudah mengizinkan, semoga dengan adanya seseorang yang menemani membuat adikmu segera sembuh, aku gak tega melihatnya seperti ini," ucap Novrida terlihat tulus dan menyeka air matanya. 


Meskipun berulang kali Ivanka selalu menyakitinya, namun melihat dia terbaring lemah tak berdaya dengan luka lebam yang sangat mengenaskan membuat hati kecilnya terketuk untuk membantu. 


Tanpa mereka sadari, Ivanka mendengar semua obrolan mereka dan merespon dengan berlinang air mata, Ivanka tak menyangka jika kakak iparnya berhati bersih. 


Ketika Lukas dan Novrida sedang asyik berdiskusi, datanglah Ina yang membuat keduanya terkejut, Ina pun demikian. 


"KALIAN NGAPAIN ADA DISINI? TERUTAMA KAMU, WANITA KAMPUNG SIALAN!!!! MAU MENGHABISI ANAKKU? IYA??" tuduh Ina dengan membentak. 


"Mah.. Jaga ucapan mamah! Aku masih waras dan masih punya hati! Mana tega aku menghabisi adikku sendiri!" bantah Lukas. 


"HALAH!!! MAMAH GAK PERCAYA, PERGI KALIAN DARI SINI, PERGIIIII… JANGAN PERNAH JENGUK IVANKA LAGI, MAMAH GAK SUDI ADA CEWEK KAMPUNG ITU DISINI!" usir Ina murka.