That's What I Feel, My Husband

That's What I Feel, My Husband
Membuat Laporan



#Sebelum Ina dan Ivanka tertangkap


Setelah memastikan suaminya beneran dikamar, Novrida bergegas keluar apartemen dengan hati-hati. Ia tidak mau aksinya untuk melaporkan kejahatan mamah mertua dan adik iparnya itu ketahuan suaminya, bisa-bisa mereka bertengkar hebat. 


Sesampainya dikantor polisi, Novrida disambut baik oleh petugas kepolisian yang sedang berjaga, namanya Heru. 


"Selamat siang pak, ada yang bisa kami bantu?" sapa Heru dengan ramah dan sopan. 


Awalnya Novrida merasa aneh dengan sebutan pak yang tersemat pada dirinya, lalu sedetik kemudian ia menyadari jika posisinya saat ini berada di tubuh suaminya, Lukas. 


"Siang Pak, ada.. Saya mau melaporkan seseorang atas tindakan penyiksaan," jawab Novrida sambil mengeluarkan flashdisk. 


"Penyiksaan yang bagaimana pak dan apakah anda membawa cukup buktinya? Agar bisa segera di proses," tanya Heru. 


"Penyiksaan yang membuat kepala istri saya terluka cukup dalam bahkan sampai mengeluarkan darah banyak, kebetulan saya membawa buktinya pak, silahkan dilihat," jawab Novrida menyerahkan flashdisk kepada petugas. Lalu dengan teliti dan juga penuh hati-hati, petugas kepolisian mengamati adegan demi adegan yang ada di rekaman itu dengan intens, setelah selesain baru laporan Novrida ditindaklanjuti. 


"Baik.. Bukti yang Anda bawa sudah cukup membuktikan jika kedua orang tersebut bersalah dan membuat seseorang terluka, kalau boleh tau apakah anda tau siapa mereka?" tanya petugas sambil membuat laporan. 


"Tau.. Sangat tau pak, dia mamah dan adik saya sendiri, Ina dan juga Ivanka Smith," jawab Novrida dengan lantangnya. 


"Keluarga Smith?" gumam petugas kaget, bagaimana petugas itu tidak kaget, keluarga terpandang itu dikenal sebagai keluarga yang harmonis bahkan selalu rukun, tak segan mereka menunjukkan bagaimana keakraban antara satu dengan lainnya. 


"Iya dan saya adalah putranya," jawab Novrida dengan tenang. 


"Ba..baik, laporan akan segera saya buat dan segera kami tindaklanjuti, terima kasih atas laporannya, akan segera kami hubungi," ucap petugas lalu mereka berjabat tangan. 


"Baik.. Saya tunggu kabar baiknya segera mungkin," jawab Novrida lega. 


Lalu Novrida keluar dari kantor kepolisian dan kembali ke apartemennya, ia sudah malas untuk bekerja karena rasanya sangat capek. Didalam perjalanan, terbesit dalam pikirannya tentang ekspresi kaget dari petugas kepolisian itu ketika mengetahui siapa pelakunya. 


Memang sih selama ini keluarganya sangat terkenal dan tak pernah ada kabar miring sedikitpun, baik mamah dan papahnya sangat menjaga nama baik marga Yudhistira, tak heran, untuk mencari menantu saja mereka harus memilih yang terbaik dari yang terbaik. Tak ayal jika pernikahan Lukas juga Novrida ditentang keras oleh kedua orang tuanya karena Novrida bukan dari kalangan orang atas. 


"Yah mau gimana lagi, yang namanya orang berduit dan punya pengaruh ya memang seharusnya memilihkan menantu yang jelas bibit, bebet dan bobotnya yang paling unggul dari yang terunggul, memang suatu anugerah bisa masuk dalam lingkup keluarga ini namun itu hanya semu semata, kenyataannya yang terjadi? Justru berbanding terbalik," gumam Novrida memikirkan apa yang ia rasakan dari awal menikah hingga sekarang. 


Tiba-tiba ada panggilan masuk dari suaminya, sudah pasti ia sedang mencari kemana perginya. Benar saja, baru juga mau mengatakan halo, sang suami sudah nerocos terus mengatakan sekarang ada dimana dan di suruh segera pulang. 


***


Dua hari kemudian ada berita baik dari kepolisian, laporan yang dibuat olehnya sudah diproses dan hari ini pemanggilan saksi juga calon tersangka, hati Novrida sungguh bahagia ketika mendengar hal itu. Baginya ini seperti menang jakcpot. 


"Kamu kenapa Nov? Sepertinya senang sekali?" tanya Lukas penasaran. 


"Iya nih, bangun tidur rasanya fresh aja pikiranku dan gak tau kenapa hatiku bahagia," jawab Novrida tersenyum mengembang lalu menuju dapur untuk memasak. 


Karena hari ini sangat spesial baginya, maka Novrida memasak pun juga harus yang spesial. Ia memasak udang asam manis dan tak lupa capcay. Setelah semua beres, tak lupa Novrida memanggil Lukas dan mereka makan bersama. 


***


Dirumah mertuanya, mereka sedang makan dengan nikmat, tapi itu tak berlangsung lama. Pembantu yang bekerja dirumah mereka pun memberitahu dengan mimik panik, ia memberitahu majikannya jika ada polisi diluar sedang mencari Ina juga Ivanka. Keduanya lantas tersedak dan membelalakan mata saking tak percayanya. 


"Jangan ngawur ya bi, buat apa polisi cari saya juga Ivanka," tegur Ina kaget. 


"Beneran nyonya, saya mana berani berbohong, jika tuan, nyonya serta non Ivanka tak percaya silahkan ke ruang tamu," ucap bibi panik. 


"Ayo kesana, kita buktikan," ajak Ina yang disusul Ivanka juga suaminya. 


Benar saja, ada dua polisi yang sedang duduk di ruang tamu sambil menunggu kedatangan yang bersangkutan, wajah panik juga keringat dingin menyerbu tubuh Ina dan Ivanka. 


"Selamat siang, apa benar ini kediaman Ina Smith juga Ivanka Smith?" sapa polisi dengan gerakan hormat. 


"Benar.. Ada apa ya pak? Apa anak dan istri saya melakukan kesalahan?" tanya Smith penasaran. 


"Ini ada surat undangan penangkapan untuk Ina juga Ivanka Smith, mereka ditangkap atas tuduhan penyiksaan disebuah apartemen hingga menyebabkan korban mengalami luka yang cukup dalam," ucap polisi sambil menyerahkan surat laporan. Smith pun membaca surat itu dan seketika kemudian ia buang surat laknat lalu menatap istri dan anaknya dengan tajam. 


"APA YANG SUDAH KALIAN LAKUKAN DENGAN NOVRIDA?!!!" bentak Smith murka. 


"Pah.. Ini tidak seperti yang dituduhkan, baik mamah juga Ivanka tidak melakukan apapun padanya, jangan percaya begitu saja pah," rengek Ina. 


"Iya pah.. Pasti cewek udik itu sudah membuat semua ini," ucap Ivanka ketakutan sampai susah menjelaskan. 


"TAK ADA GUNANYA MENCARI PEMBELAAN DISINI, SILAHKAN KALIAN PERGI KE KANTOR POLISI DAN MINTALAH PEMBELAAN DISANA, SAYA MALU PUNYA ANAK DAN ISTRI YANG KELAKUANNYA SANGAT BURUK!!" bentak Smith lalu polisi dengan sigap memborgol tangan Ina juga Ivanka dan membawa mereka ke kantor polisi. 


Baik Ina maupun Ivanka meronta-ronta tidak terima ketika dibawa dan selalu memohon pada Smith agar bisa membebaskan mereka. Namun sayangnya, Smith tidak menggubris. Ia masih sangat terpukul atas apa yang mereka lakukan dibelakangnya, pantas saja menantunya itu lebih nyaman tinggal di apartemen ketimbang dirumah mewah dan besar ini. 


"Pah tolong bebaskan kami, mamah tau papah tidak tega kan kami masuk penjara? Tolong upayakan agar kami segera bebas pah, mamah gak mau dipenjara," rengek Ina yang masih terngiang di pikiran Smith, sedangkan anaknya, Ivanka hanya menangis dan menangis. 


"Aku harus menemui Novrida untuk menanyakan semua ini, mengapa ia tidak mengadukan ini padaku dan memilih langsung ke jalur hukum? Apa sudah sangat keterlaluan sekali sehingga tak ada negoisasi terlebih dahulu," batin Smith lalu menyuruh supir pribadinya menuju apartemen anaknya.