
Akhirnya Martha hanya memasak dengan bahan dan bumbu yang masih ada didapur, ia berharap suaminya mau makan.
Masakan yang bisa dimasak Martha ialah capcay dengan lauk tempe goreng, ya dulunya menu seperti ini sangat istimewa bagi mereka, mengingat penghasilan yang didapat keduanya hanya mampu untuk makan ala kadarnya, dulu mereka paling enak ya makan telur dadar ataupun telur ceplok. Namun sekarang keadaan berbalik, uang mahar yang diberikan oleh suami Novrida sangatlah besar dan mampu membuat kehidupan mereka jauh lebih baik.
Hingga pukul 1 siang, Heru tak kunjung bangun, Martha ingin sekali membangunkan suaminya untuk mengingatkan makan namun langsung ia urungkan mengingat suaminya habis mabuk berat hingga emosinya sangat brutal. Mengingat kejadian tadi membuat hati Martha kembali sedih bahkan air mata seakan enggan untuk berhenti.
Semua pekerjaan sudah selesai ia kerjakan, kini Martha memilih menjahit bajunya yang sudah robek. Ketika baru saja memulai menjahit terdengar teriakan suaminya dari arah dapur. "Martha!! Mana makanannya, jangan bilang kamu belum masak!"
Dengan sedikit berlari, Martha menuju dapur dan langsung membuka lemari makanan, ia menyajikan masakannya dimeja makan dan tak lupa ia mengambilkan Heru nasi.
"Makanan apaan ini!! Emang suamimu ini kambing yang setiap hari harus makan sayuran!! Buang.." tolak Heru menyingkirkan piring.
"Makanya itu tadi aku pergi ke pasar mau berbelanja malah kamu nuduh yang bukan-bukan, sekarang menu yang ada ya tinggal ini, jadi makanlah pak," jawab Martha sabar.
"Halah ke pasar itu cuma alasanmu aja Mar!! Disini banyak warung, kenapa gak beli disekitar sini saja," protes Heru.
"Disini memang banyak warung tapi mana ada yang jualan ayam, daging sama ikan?" tanya Martha penuh penekanan.
"Ya pasti ada kalau kamu pesan, makanya punya otak dipakai jangan buat pajangan!!" jawab Heru kesal.
"Yasudah sekarang kamu pesan daging, ayam dan ikan sama salah satu pemilik warung sini dan berapa jumlahnya biar nanti aku yang bayar ketika barang udah ada," tantang Martha.
"Halah!! Dasar istri pemalas!! Muak lama-lama hadapi kamu!" teriak Heru lalu membanting kursi makan dan mendobrak meja.
"Banting terus sampai nanti rusak dan patah," sindir Martha dan Heru hanya mendelik saja setelah itu mengendarai motornya entah mau kemana.
Berulang kali Martha istighfar dan menyebut nama Tuhannya. Ia masukkan kembali masakan tadi ke dalam lemari dan Martha memilih melanjutkan menjahit pakaian yang tertunda, setidaknya dengan menjahit pakaian bisa mengurangi rasa sedih dihatinya.
Diluar sana Heru sedang mengisi perutnya yang sangat kelaparan dengan mampir ke sebuah restoran terkenal. Heru memesan ikan gurame bakar, cah kangkung, jus alpukat. Ketika makanan sudah datang dan disajikan, Heru langsung menyantapnya dengan lahap seperti belum makan satu minggu.
"Makan ya begini dong, punya uang banyak kok makan itu-itu aja, dasar istri gak guna, buat apa punya banyak uang tapi makanannya saja tak jauh berbeda dari kehidupan susah dulu!" gerutu Heru lalu kembali menyantap makanan. Setelah kenyang dan membayar, Heru langsung menuju basecamp para pengangguran yang doyan judi dan mabuk, disana Heru sudah ditunggu kedatangannya apalagi mereka semua sudah mendengar jika mahar yang diberikan menantunya sangat banyak, mereka tidak akan menyia-nyiakan momen ini.
"Nah itu Heru udah datang, sini bosku," sapa Joko sambil merangkul bahu Heru.
"Pasti datang dong," jawab Heru.
"Gimana bosku? Mau taruhan berapa nih?" tanya Joko memprovokasi.
"Bentar, aku itung dulu duit yang ada didompet," jawab Heru lalu menghitung lembaran merah di dompetnya, teman sesama pengangguran merasa silau melihat lembaran demi lembaran merah ada didompet Heru. Tak sabar mereka untuk menikmati uang itu.
"Masih banyak aja duitmu Ru," ucap Dono.
"Jelas.. Menantuku kaya raya," jawab Heru dengan sombongnya.
"Ah.. Kalau duit habis belum tentu menantumu mau memberi," ejek Dono.
"Jangan terlalu sombong dulu Ru, kalau nanti jatuh baru tau rasa," tegur Dono.
"Apa maksudmu!!" pekik Heru tak terima diejek temannya itu, ia paling tidak suka ada yang merendahkan dirinya.
"Hanya mengingatkan sebagai teman saja, selebihnya terserah padamu Ru," jawab Dono dengan santai sambil menyesapi rokok.
"BILANG AJA KALAU IRI, KAMU MANA ADA MENANTU KAYA SEPERTIKU, HA?" teriak Heru emosi.
"Sudah jangan terlalu dibahas, mau dimulai gak nih??" tanya Joko yang malas melihat pertengkaran receh ini. Baginya siapapun yang datang kesini harus menguntungkan untuknya, seperti sekarang ini, Heru sedang memiliki banyak uang maka sudah pasti Heru yang akan dipuja-puja oleh Joko agar memberi taruhan uang yang sangat besar.
"Mulai sekarang, nih taruhannya," ucap Heru dengan lantang lalu meletakkan 5 lembar merah dimeja. Joko tersenyum senang karena setelah ini ia akan untung banyak, ia sangat tau watak Heru, pantang baginya untuk pulang sebelum uang yang dibawa itu habis. Melihat beberapa lembar uang merah di dompetnya masih banyak membuat Joko yakin jika Heru akan terus menerus bermain.
Hingga malam tiba, Heru tak pernah sekalipun menang, uang yang ada di dompetnya sudah mulai menipis belum lagi membayar minuman alkohol itu. Dalam beberapa menit, uang sudah ludes bahkan tak menyisakan sedikit untuk membayar minuman yang dipesan.
"Yah duitku didompet habis," ucap Heru kecewa.
"Ingat bosku, minuman belum dibayar, hari ini kamu habis 10 botol," ucap Joko menepuk bahu Heru.
"Tenang saja besok akan aku lunasi, uangku masih banyak," jawab Heru sombong.
"Siap bosku, berarti kurangnya 500rb ya," ucap Joko tersenyum lebar.
"Beres.." jawab Heru mengacungkan jempol lalu mengendarai motornya untuk pulang.
"Haha lumayan, dari Heru saja sudah terkumpul 5juta, kalau gini terus bisa kaya raya nih, asal bilang bosku, pasti Heru langsung senang dan melayang, mana sih orang yang gak suka disanjung?" gumam Joko sambil merapikan uang.
Tiba di rumah, Heru mencari keberadaan istrinya namun sama sekali tak ia temukan. Semua barang yang ada didepan matanya ia banting ke sembarang arah.
"Sial!!! Kemana perginya Martha?" teriak Heru sambil terus membanting barang.
"Martha.." panggil Heru sangat keras.
Kebetulan Marta sedang pergi ke warung yang ada dibelakang rumahnya untuk membeli kopi dan gula, ketika pulang, Martha bergegas menuju depan rumah untuk menemui suaminya.
"Astaga.. Kamu ini kenapa to pak? Barang semua kamu berantakin, ada apa?" pekik Martha kesal karena rumahnya seperti kapal pecah.
"Kamu darimana saja? Habis ketemu pria tadi pagi itu??" tuduh Heru.
"Habis dari warung beli gula dan kopi, nih buktinya, jangan asal tuduh aja kalau gak ada bukti," ucap Martha menyodorkan plastik hitam.
"Halah bisa saja ini alasanmu," jawab Heru masih tak percaya.
"Terserah kamu pak, kalau pulang dalam keadaan mabuk kok pasti adanya cari gara-gara," jawab Martha berlalu pergi. Q