That's What I Feel, My Husband

That's What I Feel, My Husband
Kehidupan Di Penjara (2)



Setelah semua tahanan selesai makan dan kebetulan juga waktu makan juga telah usai, semua tahanan langsung pergi ke sel nya masing-masing. Tak terkecuali Ina juga Ivanka, mereka dihukum untuk membersihkan semua kamar mandi yang ada di sel ini, bak mimpi buruk bagi keduanya, entah bagaimana mereka bisa melakukan semua ini. 


Petugas kepolisian bergegas menggiring mereka ke kamar mandi dari ujung sampai ujung, baru satu kamar mandi saja Ina juga Ivanka sudah mutah berulang kali hingga penghuni sel itu geram, "Woi yang bener dong kalau bersihin, gini kan tambah kotor! Becus gak sih,"


"Gak usah banyak omong! Sini lo kerjain sendiri," tantang Ivanka. 


"Emang bener ya lo itu nyolotnya minta ampun, baru juga sebentar di sini tapi sikapnya sok senior!!" protes napi lain. 


"Iya nih!! Makanya jadi orang jangan sok kaya, masih untung di kasih makan dengan baik bukannya dihargai malah dibuang! Jangan sampai esok hari kedapatan menu yang lebih buruk dari itu," sindir napi lain geram. 


Ingin sekali Ivanka membalas mulut sampah mereka, namun kode yang diberikan mamahnya cukup membuat Ivanka kesal, kalau mereka dibiarkan terus bisa ngelunjak, "Gak disini gak dirumah sama aja rasanya, ketemu cewek nyebelin!!!"


Merasa semuanya sudah bersih dan wangi, kini petugas mengarahkan ke sel sebelahnya namun kali ini diberikan waktu hanya 20 menit, jika lebih dari itu maka hukuman akan bertambah. 


"Yang benar saja mbak, bersihin kamar mandi jorok kayak gitu harus dalam waktu 20 menit, ini penyiksaan namanya," protes Ivanka. 


"Terima atau memilih ditambah hukumannya," jawab petugas santai namun tegas. Ivanka lalu memilih diam saja meskipun hatinya sangat dongkol, seumur hidup, baru kali ini dia membersihkan kamar mandi, apalagi kamar mandi yang dibersihkannya kali ini sungguh kotor juga bau sekali, Ivanka yakin jika siapapun bakalan gak betah berada dikamar mandi. 


Akhirnya hukuman yang diberikan telah berhasil dijalani dengan baik, tubuh Ina juga Ivanka sangat capek bahkan lemas karena berulang kali harus menahan mual, setelah selesai, mereka dibawa ke sel. Ingin sekali Ina juga Ivanka beristirahat, lalu mereka kebingungan mau tidur beralaskan apa, hanya ada lantai dingin saja sedangkan teman satu sel yang lain ada yang memakai kardus, plastik besar. 


"Mah.. Aku capek banget, rasanya pengen cepet tidur," rengek Ivanka. 


"Tidur ya tidur aja apa susahnya sih?" tanya Ina heran. 


"Kita tidur hanya begini doang mah? Gak ada alasnya?" tanya Ivanka kaget. 


"Mau gimana lagi, adanya begini, udah terima saja," jawab Ina pasrah. 


"Ivanka mana bisa mah tidur seperti ini," rengek Ivanka yang membuat teman satu selnya terganggu. 


"BERISIK!!! KALAU GAK MAU TIDUR DILANTAI YA KALIAN BERDIRI SAJA!! KITA INI MAU TIDUR, BESOK HARUS BANGUN PAGI!" bentak ketua sel. 


"Mana bisa tidur jika kondisinya mengenaskan begini," protes Ivanka. 


"Itu urusanmu! Salah siapa jadi orang jahat jadi kena getahnya kan," ejek napi. 


"Sudah Ivanka jangan ditanggapi, tidurlah," tegur Ina lalu Ivanka menurut. 


Mereka berdua terpaksa tidur tanpa alas apapun, semakin malam cuaca di sel semakin dingin apalagi Ina juga Ivanka tidur di lantai. Berkali-kali Ina juga Ivanka menggigil karena saking dinginnya, tak lupa pula mereka saling berpelukan untuk memberi kehangatan satu sama lain. 


Hingga pagi hari tiba, Ina juga Ivanka dikejutkan dengan suara bertahan petugas kepolisian yang menyuruh mereka untuk membersihkan halaman juga ruangan lain. 


"Mah.. Lama-lama kita seperti pembantu, kita dikerjain habis-habisan oleh polisi," bisik Ivanka. 


"Masih mending jadi pembantu tiap bulan digaji dan bisa dapat bonus, lah kalau kita? Hanya diberi makan yang tidak layak, membayangkan makanan kemarin rasanya mual. 


"Pagi hari bikin badmood, kenapa nasib gue kayak gini banget," gumam Ivanka. 


"Kapan semua ini berakhir? Andai semuanya tidak dibeberkan oleh kakak, mungkin saat ini gue lagi shopping dan menikmati hidup seperti biasanya," batin Ivanka lagi. 


Ketika Ina sedang fokus menyapu halaman, ia mendengar keributan kecil yang terjadi, Ina bergegas berlari karena disitu tidak hanya ada Ivanka saja melainkan sudah ada orang banyak. 


"Ada apa Ivanka?" tanya ibunya panik. 


"Mah tolong katakan pada petugas jika ada yang berkelahi, mereka berbahaya mah," tegur Ivanka. 


Setelah itu Ina bergegas memanggil petugas yang jaga dan memberitahu jika ada keributan, untungnya aksi premanisme yang terjadi segera terkendali dan semuanya kembali kondusif, hanya yang bersangkutan saja yang disuruh menghadap petugas. Entah hukuman apa yang mereka dapatkan nantinya, baik Ina maupun Ivanka tidak mau ikut campur karena berurusan dengan mereka sama saja menyerahkan nyawa secara cuma-cuma, dilihat dari kejadian tadi saja mereka tidak segan menggunakan senjata dan saling menghantam satu sama lain, bagaimana jika korbannya itu Ina apalagi Ivanka yang notabene masih baru disini? Untuk melawan pun pasti tidak akan sanggup. Membayangkannya saja sudah ngeri dan bikin bulu kuduk berdiri. 


Lalu Ina juga Ivanka kembali menjalankan tugas yang diberikan meskipun dengan setengah hati, ini pertama kali bagi mereka bersih-bersih apalagi debu bertebaran dimana-mana, berulang kali Ivanka bersin dan sesekali menutup hidungnya karena terasa gatal. 


Ina yang melihat sebenarnya kasihan, namun mau gimana lagi? Ini semua harus ia terima dan jalani. 


"Semoga saja suatu saat papah terbuka mata hatinya untuk membebaskan kami dari sini, jujur saja aku pun juga tak sanggup jika harus terus disini, kasihan juga Ivanka, masa depannya harus terputus karena aksi egois ku itu," batin Ina sambil sesekali menyeka air matanya. 


"Mah.." panggil Ivanka setelah mereka selesai beberes halaman lapas. 


"Iya sayang, ada apa?" tanya Ina lembut. 


"Kapan ya mah kita bisa bebas? 5 tahun masih lama lagi ya mah? Kita baru berjalan beberapa hari ya mah? Tapi kenapa rasanya lama sekali," keluh Ivanka. 


"Semoga ya sayang, semoga papah segera membebaskan kita dari sini, mamah yakin pasti papah tidak akan tega membiarkan kita berada disini dalam waktu yang lama," bujuk Ina agar anaknya bisa sedikit tenang. Jauh dalam lubuk hati Ina, ia pun tidak akan tau apakah suaminya akan membebaskannya atau malah membiarkan mereka disini sampai waktu yang ditentukan, ia sangat tahu jika suaminya marah sekali dengannya, tak hanya marah, kecewa pun juga. 


Ketika mereka sedang asyik merenungi nasib sambil duduk di kursi panjang, ada salah satu tahanan yang jahil, ia menendang kursi yang diduduki Ina dan Ivanka hingga akhirnya mereka terjungkal. 


"Sialan… ada masalah apa lo dengan gue, ha?" tantang Ivanka murka. 


"Haha gak ada tuh, hanya memberikan syok terapi saja, kenapa emangnya? Gak suka? Gak terima? Ngajak ribut?" tantang balik salah satu tahanan. 


"Ivanka.. Sudahlah, biarkan saja, jangan membuat kesalahan apapun," tegur Ina. 


"Ini gak bisa dibiarkan mah, dia mulai duluan," protes Ivanka menunjuk tahanan itu. 


"Wah berani sekali ya tangan busukmu itu menunjuk gue!!! Bugh.." ucap tahanan yang langsung memukul perut Ivanka. 


"Awww… Sakit sekali, mah Ivanka susah nafas," rintih Ivanka memegangi perutnya.


"Ivankaaaaaa… tolong.. Siapapun tolong anak saya," teriak Ina panik sambil berurai air mata, namun sayang sekali, tahanan yang lainnya hanya sekedar melihat saja tanpa ada niat sedikitpun membantu.