That's What I Feel, My Husband

That's What I Feel, My Husband
Dendam Pada Handoko



Setelah mendengar dengan seksama dan detail bagaimana awal mulai ibunya bisa terkena stroke, amarah dihati Novrida semakin membara dan ia tak sabar untuk mencari dimana keberadaan ayahnya itu.


Tak butuh waktu lama, Novrida segera pamit keluar sebentar dan membohongi ibunya dengan izin mau membeli makan. Padahal sebenarnya Novrida meminta bantuan detektif keluarga suaminya untuk melacak dimana keberadaan ayahnya itu, segera mungkin Handoko harus segera diketemukan dan diberi pelajaran.


"Mau kemana Nov?" tanya Lukas.


"Mau cari ayahku, dia harus mempertanggungjawabkan semua ini, enak saja main kabur setelah meninggalkan hutang segitu banyaknya sampai rumah pun hilang," jawab Novrida emosi.


"Mau kamu cari dimana? Memang kamu tau keberadaannya?" tanya Lukas dan Novrida hanya menggeleng lemah.


"Nah.. Posisinya aja gak tau main cari aja, mau sampai kapan kamu cari ayahmu? Meksipun ini bukan ibukota tapi kan disini wilayahnya cukup luas, kamu mau mendatangi satu persatu rumah warga dari ujung ke ujung? Jangan gegabah gitu kenapa sih," tegur Lukas.


"Kamu mana tau rasanya jadi aku? Berapa lama warga sini menyembunyikan fakta menyakitkan ini, ha?? Jika sampai sekarang aku gak pulang apa ibuku bisa sembuh seperti sekarang??" pekik Novrida.


"I know.. Aku tau gimana perasaan mu, tapi tolong jangan gegabah, biarkan aku yang menyelesaikan semua ini, kamu fokus saja dengan ibumu," ucap Lukas.


"Kamu mau pakai cara apa?" tanya Novrida memastikan.


"Nanti akan aku suruh detektif langganan ku buat mencari keberadaan ayahmu, semoga saja dia masih ada disekitar sini ya," jawab Lukas memberi harapan.


"Semoga saja.. Jika nanti ada kabar tentang ayahku segera kabari, biar aku yang menyelesaikannya," ucap Novrida yang terlihat jelas kilatan amarahnya.


***


Dua hari telah berlalu, keberadaan Handoko diketahui oleh detektif sewaan Lukas namun sayang sekali posisinya Handoko tidak ada di sekitar sini melainkan ada di luar pulau, Novrida yang mengetahui langsung marah dan tak habis pikir dengan ayahnya, setelah meninggalkan hutang segitu banyaknya dengan enaknya malah pergi ke luar pulau membuat kehidupan baru tanpa memikirkan bagaimana sengsaranya ibu selama ini.


"Aku harus kesana sekarang!" ucap Novrida tak sabar.


"Tenang dulu kenapa sih, main pergi aja.. Kalau kamu nyamperin ayahmu lalu gimana dengan ibumu? Kamu tinggal sendirian? Gak mungkin kan beliau kamu bawa," tanya Lukas yang membuat Novrida diam sejenak. Ia berpikir jika perkataan Lukas memang ada benarnya juga, jika ia pergi sekarang lalu gimana dengan ibunya? Dengan siapa dia akan menitipkan ibunya? Jika posisinya ada di kota sudah pasti Novrida bisa meminta bantuan art yang bekerja di rumahnya dan menyewa suster.


"Kita bawa ibu ke rumah, disana nanti akan aku sewakan suster untuk menjaga ibu dan meminta tolong art bergantian menjaga ibu dan menyiapkan segala keperluannya," usul Novrida.


"Jangan seenak mu saja! Ibumu bisa dipindah dirumah sakit ini saja butuh perjuangan dan semua itu gak mudah apalagi dengan enaknya kamu main pindah ibumu lagi, apa kamu lupa jika ibumu belum sembuh sepenuhnya, tunggu sampai kesembuhannya kurang lebih 90-95% baru akan aku usahakan supaya ibumu bisa dirawat inap dan kita bawa ke kota," tegur Lukas.


"Tidak akan.. Sudah aku minta seseorang untuk mengawasi pergerakan ayahmu disana, tenanglah.. Semua harus dipikirkan secara matang, andai mengurus kepindahan ibumu dan izin rawat inap itu mudah, sudah aku lakukan sejak ibumu ada di panti sosial," ucap Lukas.


"Aku hanya tak terima ibu diperlakukan seperti ini, kurang apa ibuku selama ini? Setahuku dari kecil hingga dewasa, tak pernah ayah memberikan nafkah yang layak untuk ibu, setiap pulang selalu dalam kondisi mabuk dan seringkali memarahi ibu bahkan tak segan memukul ibu jika tak menuruti kemauannya, sekarang? Bukannya membahagiakan Ibu dengan uang pemberianmu waktu itu malah ini semakin membuat ibu sengsara," keluh Novrida berlinang air mata. Lukas segera memeluk istrinya itu dan membiarkan Novrida menangis di pundaknya. Lukas sadar jika ia tak bisa berbuat banyak makanya membiarkan istrinya menangis di pundaknya siapa tau bisa mengurangi rasa sedih yang ada dihatinya.


Sebenarnya Lukas juga tidak menyangka jika memiliki mertua yang bersifat seperti itu, pemabuk, penjudi bahkan tak segan melakukan KDRT, entah bagaimana awal mula ibunya Novrida bisa terpincut dengan Handoko yang tak ada baiknya itu. Uang yang ia berikan sebanyak 100 juta termasuk jumlah yang banyak untuk hidup di pedesaan bahkan bisa saja membeli sepetak sawah untuk digarap dan menghasilkan pundi-pundi rupiah, lah ini untuk membeli sawah pun tidak malah digunakan untuk berjudi dan mabuk.


Untung saja Novrida memiliki sifat yang turun dari ibunya, jika sang istri memiliki sifat seperti ayahnya yang tempramental, gak bisa dibayangkan bagaimana pusingnya Lukas menghadapi semua ini.


Hari demi hari telah berganti, kini Martha dinyatakan semakin membaik dan dalam beberapa waktu kedepan kondisinya akan kembali seperti semula. Sebuah kabar membahagiakan bagi semuanya termasuk Martha sendiri. Sujud syukur dan bahagia selalu dipanjatkan Novrida. Segera mungkin ia mengurus kepulangan ibunya dan segera memboyong sang ibu ke kota. Setelah itu tugas Novrida untuk mencari keberadaan Handoko akan dimulai.


Kebetulan semua proses diurus dengan cepat dan kini waktunya bagi mereka untuk ke kota. Awalnya Martha menolak ajakan Novrida namun dengan desakan demi desakan dan dalih kesembuhan Martha, akhirnya ia setuju meskipun berat hatinya meninggalkan kampung halaman.


Tiba di kota dan sudah ada dirumah Novrida juga Lukas, mata Martha tak lepas mengamati setiap titik rumah anaknya itu dengan pandangan tak berkedip, baginya ini bukan rumah melainkan sebuah istana. Martha kagum bukan main melihat kemegahan rumah anak dan menantunya itu.


"Bu.. Kok diam aja sih, ayo masuk," ajak Novrida dan Martha mengekor anaknya dari belakang.


"Bi.. Kenalin ini ibu aku namanya Martha, beliau akan tinggal disini, tolong kerjasamanya ya bi karena ibu saya habis dari rumah sakit dan ini masih pemulihan, nanti akan ada suster juga yang sesekali datang mengecek kondisi ibu," ucap Novrida memperkenalkan ibunya.


"Baik non.. Mari bu ikut saya ke kamar, sudah saya siapkan," ajak bibi.


Setelah memastikan ibunya berada di kamar, Novrida segera berdiskusi dengan suaminya guna membahas ayahnya, Handoko. "Gimana Luk? Kita berangkat kapan? Ibu udah ada disini loh," tanya Novrida memastikan.


"Mending jangan cari ayahmu, lebih baik fokus aja dengan ibumu, aku rasa percuma datang kesana," jawab Lukas seakan tau sesuatu.


"Maksudmu apa? Kemarin memintaku menunggu sampai ibu sembuh, kenapa sekarang malah menghalangiku? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang kamu tahu? Katakan.." cecar Novrida.


"Gak ada.. Aku.. Aku gak tau apa-apa, hanya saja setelah aku pikir rasanya percuma jika nanti mendatangi ayahmu, ya kalau ayahmu menyadari kesalahannya dan meminta maaf sama ibu, kalau nantinya gak mengakui??" tanya Lukas yang menyembunyikan fakta yang ada.


"Aku tau jika ada yang kamu sembunyikan, jawabanmu sangat tidak masuk akal! Mau nantinya ayahku meminta maaf atau tidak, itu bukan urusanku! Yang penting bagiku adalah ayahku harus menerima semua ganjaran dan mengetahui kondisi ibu setelah ditinggal kabur, hanya itu saja, jika kamu tak mau menemaniku pergi, biarkan aku berangkat sendiri!" tantang Novrida.


"Kamu kenapa ngeyel banget sih," gerutu Lukas kesal. Tujuan dia itu baik, agar nantinya Novrida tidak kecewa dengan fakta yang sebenarnya ketika ada disana.