That's What I Feel, My Husband

That's What I Feel, My Husband
Ada Apa Dengan Orang tuaku?



Antara Novrida juga Fika tak hentinya saling adu argumen, terlebih Novrida yang sedari bertamu langsung menunjukkan sikap amarahnya, padahal tidak sepenuhnya semua ini salah Fika. 


"Sudahkah Fik, kita ini berteman cukup lama dan aku sudah menganggapmu saudara, kenapa kamu malah tega merahasiakan ini semua?" cecar Novrida. 


"Bukannya tega, orang tuamu yang melarang untuk mengatakan ini semua, mereka sudah banyak salah padamu," jawab Fika menahan air mata. 


"Banyak salah bagaimana?" tanya Novrida tak mengerti maksud perkataan temannya. 


"Ketika kamu dipinang oleh orang kota, kedua orang tuamu sangat bahagia karena sudah menjadi orang kaya dan hidupnya enak, lama kelamaan ayahmu malas kembali bekerja dan setiap hari yang ada pertengkaran demi pertengkaran dengan ibumu, bagaimana tidak? Setiap pulang ke rumah ayahmu selalu dalam keadaan mabuk parah apalagi uang yang selalu dibawa ayahmu tidaklah sedikit, lama kelamaan mereka kembali seperti dulu, uang pun sampai tidak punya dan ayahmu masih sama dengan kebiasaan buruknya itu. Lalu suatu hari datanglah seorang pria yang gagah dengan wajah sangar, dia bertanya dimana ayahmu, setelah dijelaskan maksudnya barulah ibumu menangis histeris dan syok berat, ayahmu ternyata memiliki hutang yang cukup banyak di tempat perjudian dan diam-diam menggadaikan sertifikat rumahmu sebagai jaminannya, kedua orang tuamu hidup terlunta-lunta dijalanan, terakhir kabar yang aku dengar sekarang ini ibumu sakit stroke dan ayahmu entah kemana, maaf Nov, bukan maksudku menyembunyikan ini semua tapi ini atas permintaan kedua orang tuamu," jawab Fika merasa bersalah dan berlinang air mata. 


"Astaga.. Kenapa kehidupan orang tuaku menjadi seperti ini?? Sekarang dimana ibu?" tanya Novrida berlinang air mata. 


"Ada di dinas sosial, disana ibumu dirawat dengan baik, setelah kamu menelponku, segera aku kesana dan mengabari jika kamu akan pulang," ucap Fika. 


"Respon ibu gimana?" tanya Novrida. 


"Aku gak tau Nov, respon ibumu malah menangis sesengukan, aku jadi merasa bersalah," jawab Fika lirih. 


"Tolong antar aku kesana ya, urusan bapak biar dipikir nanti," pinta Novrida dan Fika dengan sigap mengantar. 


Didalam mobil tidak ada percakapan khusus dan terkesan canggung, Fika benar-benar tidak enak hati karena baru bisa memberitahu sekarang ini. Entahlah mau nantinya Novrida marah atau memusuhinya biar itu menjadi keputusannya, memang disini dirinya juga bersalah dengan menutupi nasib kedua orang tua temannya. 


Terkadang Fika berandai-andai ayahnya Novrida tidak seperti itu sudah pasti hidup mereka akan bahagia, nyaman dan tentram. Novrida memang tidak salah menikah dengan orang kota dan nominal yang diberikan pun cukup fantastis, yang menjadi masalah dari semua ini adalah ayahnya, dari dulu tidak pernah ada kapoknya sama sekali. 


Melihat temannya dengan wajah murung seperti itu membuat Fika semakin merasa bersalah dan menyesal. 


***


Di dinas sosial 


Novrida juga Fika tiba di dinas sosial dan disambut dengan ramah oleh petugas jaga, maksud dan tujuan kedatangan mereka pun segera dikatakan. Tak butuh waktu lama, petugas memberitahu dimana ruangan ibunya Novrida itu, ada petugas lain yang mengantarkan mereka sampai diruangan. 


Tiba di ruangan, hati Novrida sungguh sangat sakit melihat ibu yang sangat dia sayangi harus terbaring lemah tak berdaya, mau apa-apa juga susah. Kebetulan ketika Novrida menjenguk, ada perawat yang baru saja membersihkan buang air kecil ibunya. 


Novrida semakin mendekat ke arah ibunya, sosok yang sangat ia sayangi pun menyadari keberadaan anaknya, antara percaya atau tidak, ibunya berulang kali mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti oleh mereka, namun yang pasti ibunya menangis histeris. Entah apa maksud dari tangisannya, bahagia, sedih atau bahkan penyesalan. 


"Bu.. Ini Novrida, sekarang Novrida pulang bu," ucap Novrida dengan lembut sambil mengusap punggung tangan ibunya. 


"Iya bu, ini anak ibu, maafkan Novrida ya bu karena baru tau keadaan ibu seperti ini, Novrida menyesal bu," ucap Novrida berlinang air mata. 


"Maafkan aku bu," ucap Novrida lagi sambil menangis sesengukan. 


"Sudah Nov, jangan terus menangis, nanti yang ada ibumu kepikiran," ucap Fika mencoba menenangkan. 


"Aku tau ini berat bagimu dan aku tau kamu harus menerima semua ini dengan terpaksa, maafkan aku yang membuatmu harus menerima dan mengetahui semua ini secara bersamaan," ucap Fika. 


Melihat kedua sahabat saling menangis dan menyalahkan satu sama lain membuat hati Lukas terketuk, ia tidak menyangka dengan kondisi kedua orang tua istrinya akan seperti ini, ia pikir uang yang diberikan olehnya waktu itu sangatlah cukup bahkan bisa untuk hidup beberapa tahun ke depan, tapi nyatanya? Semua uang yang diberikan malah dipakai untuk foya-foya. 


Ada rasa sesal didalam hatinya ketika tau semua uangnya hilang tak tersisa sampai rumah pun raib, entah seburuk apa sifat ayah istrinya ini sampai-sampai melakukan kesalahan seperti ini. Memang dari awal mereka bertemu, Lukas sudah menilai jika ayah mertuanya itu meteralitis bahkan memandang apapun dari segi harta, makanya ketika Novrida menikah dengan Lukas, sang ayah merasa seperti menang jackpot, berapa pun yang diminta pasti akan dikasih. 


Sekarang bagi Lukas adalah fokus dengan kesembuhan ibu mertuanya dulu. Selagi ayah mertuanya diluar sana masih sehat dan kuat berjalan maka biarkan sajalah, toh semua ini akibat perbuatannya kan? Hitung-hitung sebagai pembelajaran. 


"Bu.. Ini Lukas, suaminya anak ibu, apa ibu masih ingat?" tanya Lukas dengan lembut. 


"I.. Iya," jawab ibunya Novrida. 


"Syukurlah, mulai sekarang ibu akan saya rawat dengan sangat baik bahkan terbaik dari terbaik agar ibu cepat sembuh, ibu mau sembuh kan?" tanya Lukas dan mertuanya mengangguk pelan. 


"Baiklah.. Mulai besok ibu dirawat di rumah sakit ya, jangan disini lagi kan sudah ada anak ibu yang bakalan jaga, disini kan khusus orang-orang yang sudah ditinggalkan keluarganya secara sengaja, sedangkan kami tidak pernah meninggalkan ibu juga bapak, nyatanya kami datang, jujur saja bu saya pun juga kaget dan kecewa ketika mendengar semuanya, tapi mau gimana lagi? Nasib sudah menjadi bubur kan bu? Sekarang lanjutkan saja hidup yang sudah ada," ucap Lukas mencoba memotivasi mertuanya. 


Novrida juga Fika merasa terharu melihat Lukas bisa mendekatkan diri dengan ibunya dan seketika bisa mengambil hatinya. Padahal ibunya Novrida terkenal dengan orang yang penuh kehati-hatian, bahkan semua yang akan ingin diucapkan selalu dipikirkan terlebih dahulu. 


"Luk, beneran kamu mau rawat ibuku?" bisik Novrida tak percaya. 


"Tentu saja, dia ibumu berarti ibuku juga," jawab Lukas mantap dan semakin membuat hati Novrida berseri. 


"Tapi biayanya nanti mahal, aku gak mau merepotkan lagi apalagi nanti kalau mamahmu sampai tau," jawab Novrida sedih. 


"Tenang saja.. Mamah dan adikku sedang masuk tahanan, siapa yang nantinya akan memberi info? Papah?" tebak Lukas dan Novrida mengangguk mengiyakan. 


"Urusan papah biar menjadi urusanku, fokuslah dengan kesembuhan ibu kamu, setelah ibumu pulih baru kita cari ayahmu," ucap Lukas membuat hati Novrida sangat tenang.