
Ibunya Novrida tepat hari ini sudah menjalani perawatan selama 1 bulan dan semakin hari progres yang diberikan sangat positif, ibunya memiliki niat kesembuhan yang tinggi hingga membuat Novrida semakin semangat dan yakin jika ibunya akan segera sembuh.
Kebetulan hari ini ada temannya, Fika yang menjenguk sambil membawa parsel buah. Kedatangan Fika disambut baik oleh Novrida juga ibunya karena Fika lah yang selalu senantiasa merawat ibunya Novrida ketika berada di dinas sosial ya meskipun tidak bisa setiap hari kesana.
"Hai Nov.. Gimana kabar ibumu?" sapa Fika sambil menyerahkan parcel buah.
"Ibu semakin hari semakin memperlihatkan progres yang baik dan aku senang melihatnya, ngomong-ngomong ngapain kamu repot bawa beginian segala, aku jadi gak enak kan sama kamu," jawab Novrida sungkan.
"Halah kamu kayak sama siapa saja Nov, itu buah untuk ibumu biar cepat sembuh," ucap Fika lalu menemui ibu Martha.
"Halo bu, apa kabar? Fika disini menjenguk ibu," sapa Fika tersenyum ramah.
"Ba..ba..i..baik," jawab ibu Martha lirih.
"Ibu sudah mulai bicara? Alhamdulillah.. Aku turut senang mendengarnya bu," tanya Fika kegirangan.
"Iya Fik udah beberapa hari ini ibu mulai berbicara tapi masih sedikit sih," ucap Novrida menimpali.
"Ya gak papa ini juga progres yang luar biasa loh Nov, andai ibumu masih di dinas sosial, belum tentu kan bisa seperti ini," jawab Fika.
"Iya juga ya.. Setidaknya aku belum terlambat menyembuhkan ibu," jawab Novrida bahagia.
Lalu mereka mengobrol dengan riang dan ibunya hanya menjadi pendengar setia sembari menunjukkan respon dengan senyum anggunnya. Sebenarnya ibu Martha adalah tipe wanita yang cantik, anggun, sopan bahkan ramah sama siapapun, entah bagaimana ceritanya bisa bersuamikan pak Heru yang notabene suka main judi dan mabuk-mabukan. Pasangan yang memiliki latar belakang berbeda jauh, namun yang namanya jodoh siapa yang bakal tau?
Ketika mereka sedang asyik mengobrol, datang seorang perawat untuk membawakan obat kepada ibu Martha meningat memang ini jamnya untuk minum obat.
"Selamat siang semua, wah ramai sekali ya," sapa perawat dengan ramah.
"Selamat siang Sus, iya nih kebetulan teman saya menjenguk ibu," jawab Novrida memperkenalkan Fika dan mereka saling melemparkan senyum.
"Oh begitu, sekarang waktunya ibu Martha minum obat ya biar semakin sembuh," ucap perawat sambil menyiapkan obat.
Ketika suster sudah menyiapkan obat dan bersiap untuk meminumkan nya, ibu Martha tiba-tiba mencolek Novrida dengan sedikit cepat.
"Ada apa bu?" tanya Novrida lembut.
"I..ibu.. Ibu.. Ma..mau ba..bangun," jawab Martha terbata.
"Ibu bisa?" tanya Novrida memastikan dan ibunya mengangguk.
"Gimana Sus? Boleh?" tanya Novrida meminta pendapat suster.
"Boleh.. Jika pasien memang sudah yakin untuk bangun," jawab suster ramah.
"Mari saya bantu," ucap suster lalu membantu Martha bangun.
"Ibu.. Ibu sekarang sudah banyak perubahan, Novrida bangga pada ibu," puji Novrida terharu.
Lalu suster segera meminumkan obat dan tak lupa di sebelahnya ada segelas air putih untuk di minum. Setelah selesai barulah pasien dibaringkan lagi namun Martha menolak, alasannya ia bosan terus menerus berbaring.
Akhirnya Novrida membiarkan ibunya tetap bersandar namun tak lupa Novrida mewanti-wanti jika ibunya sudah terasa capek harus segera bilang padanya. Ibunya pun mengangguk setuju.
"Eh Nov tau gak kalau teman kita si Junet mau menikah loh?" ucap Fika.
"Junet? Junet yang anaknya juragan kambing itu bukan sih Fik?" tanya Novrida memastikan.
"Yap.. Betul sekali Nov, yang dulu selalu mengejar cintamu itu loh," goda Fika.
"Apaan sih Fik, itu zaman kapan," bantah Novrida.
"Zaman bahula hahaha, tapi serius deh dia tiba-tiba mau menikah, orang sekampung saja pada kaget kok, mana wanita itu belum pernah diperkenalkan keluarganya lagi," ucap Fika bergosip.
"Ya bagus dong Fik, sekali diperkenalkan langsung ke pelaminan, jangan malah semua cewek diajak ke rumah," sanggah Novrida.
"Ish kamu nih gak asik diajak gosip," protes Fika cemberut.
"Oohh.. Aku tau sekarang, Jangan-jangan kamu cemburu ya si junet menikah, hayo ngaku," goda Novrida.
"Apa?? Idih kayak gak ada pria lain aja, mana ada aku cemburu," bantah Fika berkacak pinggang.
"Kalau gak cemburu ya jawabnya santai dong lah ini kamu malah ngegas gitu berarti kan cemburu," goda Novrida lagi.
Ketika mereka sedang asyik menggoda, ibu Martha ikut menimpali yang sedang mereka berdua bahas.
"Ju..junet I..itu cin..cinta mati sama.. Sama kamu Nov," ucap ibunya membuat Novrida berhenti tertawa.
"Apa? Ya gak mungkin lah bu," bantah Novrida.
"Tuh dengerin, ibumu saja sampai tau kok," celoteh Fika.
"Mana mungkin? Junet anak orang kaya la sedangkan kita? Bisa makan saja bersyukur, jangan berharap terlalu jauh deh, lagian sekarang junet sudah menemukan pasangan hidupnya," sanggah Novrida.
Ibunya merasa capek dan meminta bantuan Novrida untuk membaringkan nya. Dengan telaten Novrida membantu ibunya dan tak lupa menyelimuti nya.
***
Pagi hari yang cerah dan awan yang berwarna biru membuat semangat baru untuk setiap pasien yang ada dirumah sakit ini, tak terkecuali Martha. Tanpa disadari oleh anaknya, Martha turun dari ranjang tempat tidur dan berlatih jalan, awalnya ia sungguh kesulitan bahkan kedua kakinya tak mampu untuk melangkah lebih, namun semangatnya tak patah begitu saja, Martha terus mencoba memaksa berjalan hingga sampai dipintu.
Novrida yang sudah selesai membeli sarapan kaget bukan main ketika mengetahui ibunya sudah bisa berjalan.
"Ibu??" teriak Novrida kaget.
"Ibu mencoba berjalan," jawab Martha lirih sambil berusaha melangkahkan kakinya.
"Bu kalau gak bisa jangan dipaksa, nanti yang ada saraf ibu kenapa-napa, sudah istirahat dulu," protes Novrida menuntun ibunya ke tempat tidur.
"Ibu bisa kok," ucap Martha membantah.
"Ya tapi jangan lama bu, kondisi ibu lagian belum pulih betul," protes Novrida.
"Hanya beberapa langkah saja," jawab Martha kekeh.
"Ibu.." ucap Novrida penuh penekanan.
Petugas rumah sakit pun datang membawakan sarapan dan juga segelas teh hangat untuk ibunya, setelah itu datang dokter beserta para koas untuk memeriksa ibunya.
"Selamat pagi ibu Martha, sepertinya perubahan yang dialami sangat signifikan ya?" sapa dokter ramah.
"Pa.. Pagi dokter," jawab Martha.
"Iya dok kemarin ibu sudah bisa bersandar dan tadi ketika saya tinggal membeli sarapan tiba-tiba ibu berjalan sampai pintu, saya sampai khawatir sekali dok," ucap Novrida.
"Wah.. Ini berita yang bagus bu, berarti ada niat kesembuhan yang tinggi dalam diri ibu Martha, saya senang mendengarnya, tapi harap diingat ya bu jangan berjalan terlalu jauh dulu, semua ada prosesnya kok bu, jangan buru-buru," tegur dokter.
"Tuh denger bu, tadi bilangnya beberapa langkah tapi kok udah sampai pintu," tegur Novrida.
"Ma.. Maaf," jawab Martha merasa bersalah.
"Baiklah saya periksa dulu ya bu," ucap dokter lalu memeriksa Martha dengan teliti.
"Gimana dok?" tanya Novrida penasaran.
"Kemajuan yang dialami pasien sungguh luar biasa dan jika terus dipertahankan maka pasien akan sembuh total," ucap dokter memberi angin segar bagi Novrida juga Martha.
"Serius dok? Dalam jangka waktu berapa lama ibu akan sepenuhnya sembuh??" tahya Novrida penasaran.
"Saya tidak bisa memastikan karena semua tergantung dari pasien dan bagaimana proses perubahannya, semoga saja secepatnya pasien bisa pulih kembali," jawab dokter dan Novrida mengerti.