That's What I Feel, My Husband

That's What I Feel, My Husband
Ivanka Siuman



Mendengar ada keributan didalam ruangan membuat petugas kepolisian sigap untuk merelai, karena membuat kegaduhan sama saja menganggu kenyamanan pasien yang lainnya. 


"Ada apa ini?" tanya petugas. 


"Usir dua orang ini dari sini pak, mereka membahayakan anak saya," fitnah Ina. 


"MAH.. TEGA SEKALI MAMAH BICARA SEPERTI ITU SAMA KAMI!" bentak Lukas. 


"Apa benar yang dikatakan oleh saudara Ina Smith?" tanya petugas memastikan. 


"Maaf Pak, ini tidak seperti yang dikatakan oleh beliau, kedatangan kami kemari murni ingin menjenguk Ivanka, tidak lebih bahkan bapak sendiri tau kan jika tadi pasien sudah menunjukkan kemajuan dengan menggerakan jarinya," jawab Novrida dengan tenang. 


"Halah gak usah bohong deh! Nyatanya sampai sekarang Ivanka juga belum sadar, jangan cari alasan! Kedatangan kamu kesini justru membuat Ivanka marah," protes Ina. 


"Maaf sebelumnya, tapi apa yang disampaikan tadi benar adanya bu, saudari Ivanka memang menunjukkan respon dengan menggerakan jarinya, ada dokter yang melihatnya juga," ucap petugas membenarkan dan Ina merasa malu namun terlalu gengsi untuk menunjukkan. 


"Bisa saja mereka melepas selang infus anak saya jadinya anak saya refleks menggerakan jari untuk meminta tolong," bantah Ina. 


Novrida juga Lukas hanya bisa menggelengkan kepala karena mereka tidak menyangka jika Ina akan berbuat sekeji ini dengan selalu menuduh tanpa bukti, pantas saja Novrida makan hati dengan mamahnya, nyatanya memang begitu, mamahnya tak pernah segan menuduh orang hanya berdasarkan feelingnya saja. "Selama ini kamu sabar sekali Nov,"


"Justru kedatangan anda yang membikin kegaduhan disini dan kenyamanan pasien jadi terganggu maka kami tidak akan segan membawa anda kembali ke sel," gertak Polisi dan seketika Ina diam. 


Merasa suasana sudah kembali kondusif, polisi kembali ke pintu untuk berjaga. 


"Puas kamu!! Puas membuat mamah selalu kehilangan muka!" pekik Ina. 


"Maksud mamah?" tanya Novrida tak mengerti. 


"Ngomong sama orang susah emang ngeselin! Ngapain sih pakai datang kesini segala? Ivanka tidak butuh kehadiranmu, pergilah sana!" usir Ina. 


"Justru Novrida akan menjaga Ivanka sampai sembuh mah, kasihan Ivanka tidak ada yang menjaga dengan baik," ucap Lukas membuat mamahnya kaget. 


"Apa? Jangan gila kamu, bisa-bisa Ivanka malah kenapa-napa, mamah gak setuju," tolak Ina. 


"Terserah mamah.. Lagian mamah mana bisa setiap hari kesini? Papah juga sibuk kerja sedangkan aku pun sama, hanya Novrida yang dirumah, jadi biarkan dia yang menjaga Ivanka, ada pak polisi didepan pintu yang menjaga 24 jam, buat apa mamah takut? Kalau terjadi hal yang tidak diinginkan dengan Ivanka otomatis petugas kepolisian yang lebih dulu tau," ucap Lukas. 


"Apapun itu mamah tetap tidak setuju," tolak Ina mentah-mentah. 


Merasa percuma berdebat dengan mamahnya, mereka memilih pulang dulu. Sebelum pulang, terlebih dahulu Lukas menanyakan kepada petugas, kapan jam berkunjung mamahnya usai. 


10 menit telah berlalu dan benar saja, Ina sudah kembali diborgol untuk dibawa ke sel, kesempatan bagi Novrida juga Lukas untuk masuk ke kamar Ivanka. Petugas kepolisian pun sudah diajak bekerja sama dengan mereka, jadi ketika mereka masuk, tak ada pemeriksaan lagi. Lukas pun juga meminta kepada pihak kepolisian selama sepekan agar Ina tidak diberi izin menjenguk Ivanka. Tujuan Lukas melakukan itu agar Novrida bisa leluasa merawat dan menemani Ivanka yang sedang kritis, Lukas percaya jika nantinya Novrida mampu membuat Ivanka sadar. 


****


Sepekan kemudian, Novrida setiap hari mengunjungi Ivanka dan selalu mengajak berbicara, hari demi hari Ivanka pun merespon dengan gerakan jari, kedipan mata hingga bersuara meskipun masih sedikit dan lirih, namun setidaknya perubahan tersebut sudah cukup bagus dan memberi kemajuan yang signifikan. 


Dokter yang memeriksa Ivanka pun terkesima dengan kepiawaian Novrida dalam mengajak pasien koma berbicara. 


"Hai Novrida, udah sepekan ini kita bersama dan pastinya sudah banyak cerita yang aku bagi ke kamu, sekarang ayo dong gantian kamu yang gantian cerita, apa kamu tidak bosan terus menerus tidur dan tanganmu di selang begitu?" tanya Novrida sambil membelai rambut Ivanka. 


Entah pinta Novrida yang mujarab atau suatu kebetulan, Novrida merespon perkataan kakak iparnya dengan membuka mata secara perlahan namun pasti, selain itu tangannya juga ia naikkan ke atas karena ingin menyentuh Novrida. 


"Astaga Ivanka, kamu hebat sekali, sebentar ya aku panggilkan dokter dulu," ucap Novrida girang. 


"Nov..novrida.." panggil Ivanka serak. 


"Ya? Kamu apa? Makan? Minum?" tanya Novrida dan Ivanka hanya menggeleng. 


"Tahan dulu ya jangan banyak gerak atau pun bicara, aku panggil dokter dulu," pamit Novrida lalu memanggil dokter. 


Dokter pun datang dan segera memeriksa Ivanka dengan teliti, perubahan yang dilakukan Ivanka memang sangat drastis dan ini sangat langka sekali. Namun mau bagaimanapun kabar ini sangatlah menggembirakan bagi keluarganya, wanita cantik yang berkaos narapidana mengalami koma hampir 2 minggu dan sekali menunjukkan perubahan langsung signifikan. 


"Keadaannya sudah mulai pulih namun pastikan jangan biarkan pasien terlalu banyak gerak dan berbicara, kondisinya masih lemah," ucap dokter. 


"Syukurlah.. Makasih dok," jawab Novrida senang. Setelah memeriksa dan menyampaikan hasilnya, dokter bergegas pergi. 


Kabar bahagia ini tidak akan Novrida diamkan begitu saja, ia langsung menghubungi suaminya dan juga Smith, respon mereka yang diberikan sangatlah melegakan, mereka penuh syukur bahkan tidak sabar untuk segera kesana. Kemungkinan jam makan siang mereka akan menjenguk Ivanka, itu berarti 1 jam lagi. Meskipun lama tapi tak mengapa, terpenting sekarang ini Novrida sudah membaik. 


"Gimana ya caranya membabari mamah Ina? Apa iya harus menelpon kantor kepolisian? Kalau nanti aku memberitahu keadaan Ivanka sudah membaik pasti mereka akan berbondong-bondong kesini dan menyakan pada dokter, kapan Ivanka diperbolehkan pulang. 


Perasaan dilema menyelimuti hati Novrida, lebih baik ia meminta pendapat Ivanka saja, dia berhak menerima dan menolak siapa saja tamu yang datang. 


"Ivanka.. Kamu kan sudah dinyatakan berhasil melewati masa kritis, sudah pasti itu menjadi berita yang menggembirakan bagi kami terutama keluargamu, apkah sebaiknya berita bahagia ini diberitahukan mamahmu?" tanya Novrida meminta pendapat, Ivanka hanya mengganguk setuju. 


Lalu Novrida menelpon kepolisian untuk memberitahu keadaan Ivanka yang sebenarnya, awalnya Ina tidak percaya namun Novrida berhasil membuat mertuanya percaya. 


"Lagi dan lagi, gadis kampung ini yang terlihat seperti pahlawan kesiangan!! Mana mereka ketika Ivanka terbaring lemah dan kondisinya sangat mengenaskan seperti ini," gumam Ina semakin kesal dengan menantunya karena ia menilai jika menantunya hanya akting saja.