That's What I Feel, My Husband

That's What I Feel, My Husband
Ibuku Bisa Keluar Dari Sana



Melihat anak dan suaminya bisa hidup rukun dan tentram adalah dambaan setiap orang tua, apalagi ditambah suami anaknya memiliki harta berlebih, serasa mendapat paket komplit. Itulah gambaran ibunya Novrida ketika menikahkan anaknya dengan Lukas, setidaknya ibunya tak perlu lagi risau akan nasib anak dan keturunannya kedepan. 


Makanya itu, setelah Novrida resmi menyandang status istri, seketika itu juga kedua orang tuanya meminta anaknya untuk tinggal terpisah dari orang tuanya dan mertuanya, mau bagaimana pun lebih baik rumah tangga dijalani dan dipecahkan masalahnya hanya mereka berdua saja. 


Lagian mana ada dalam satu rumah terdapat dua ratu? Pasti tidak ada kan? Kalau pun ada nantinya banyak selisih paham dan perdebatan yang terjadi. 


"Nduk.. Setelah nanti kamu menjadi seorang istri, turuti lah perkataannya selagi itu mengajak ke arah yang benar dan kamu boleh membangkang jika itu ke arah yang salah, boleh jadi istri lemah lembut namun ada saatnya wanita harus tegas dan kuat," wejangan ibunya sambil berlinang air mata. 


"Maafkan kami ya nduk yang menikahkan kamu dengan pria yang sama sekali tidak kamu cintai, ini diluar kendali ibu nduk, semua ini karena ayahmu, tolong maafkan kami," ucap ibunya lagi menangis terisak. 


"I..iya bu, semoga ini memang jalanku," jawab Novrida lirih dengan pandangan kosong. 


"Aamiin, semoga saja, ibu selalu mendoakanmu yang terbaik, oh iya satu lagi nduk, setelah resmi menikah nanti ibu harap kalian jangan tinggal bersama dengan orang tua suamimu, lebih baik kalian mengontrak atau apalah, itu lebih baik nduk, lihatlah ibu dan bapakmu, meskipun rumah ini kecil dan terkesan tak layak huni, tetapi ibu lebih memilih tinggal disini, karena tidak ada yang namanya dia ratu di dalam satu rumah," wejangan ibunya lagi, Novrida hanya mengangguk.


***


Semalam Novrida memilh tidur disamping ibunya daripada harus pulang, lagian kalau pun mau pulang juga dimana? Rumah mereka setengah sudah roboh dan sekarang ini sudah berpindah tangan kepemilikan. Tidur diruangan ibunya adalah solusi yang terbaik untuk saat ini, kebetulan temannya memilih pulang karena besok ada janji dengan seseorang. Novrida tidak bisa memaksa temannya itu, tapi Fika berjanji jika urusan sudah selesai secepatnya akan kesini lagi. 


Sedangkan Lukas? Dimana dia tidur semalam? Yang seperti Novrida dan Fika lihat, Lukas tertidur di kursi tunggu yang hanya berisi empat kursi berjejer saja sehingga tubuh Lukas tidak bisa leluasa diluruskan. Novrida jadi kasihan dengan suaminya itu, pikirannya sedang kacau dan rasa syok masih ada, sehingga Novrida sedikit melupakan kehadiran suaminya itu. 


Novrida membangunkan Lukas dan menyuruh pindah di dalam saja namun Lukas menolak. Akhirnya Novrida membiarkan suaminya berbuat apa yang menurutnya nyaman, 


Novrida memang berencana hari ini akan membawa ibunya pergi ke rumah sakit supaya segera mendapatkan pertolongan yang baik, bukan berarti disini tidak baik, setidaknya disini ibunya sedikit terabaikan karena terbatasnya jumlah petugas yang bekerja bahkan para petugas juga menangani pasien dengan berbagai penyakit. 


"Sus.." panggil Novrida.


"Iya kak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya suster jaga tersenyum ramah. 


"Ada.. Saya mau ibu saya diuruskan surat pemindahan perawatan di sebuah rumah sakit, jujur saja Sus aku mau ibu segera sembuh," pinta Novrida. 


"Kalau untuk itu harus menunggu keputusan kepala dinas sosial bu, kebetulan beliau datang terlambat, apakah anda mau menunggu?" tanya suster dan semuanya mengangguk setuju. 


Benar saja, beberapa jam setelah itu kepala dinas sosial datang dan langsung memeriksa pasiennya, tak terkecuali Novrida lalu menghampiri dan akan diberi jawabannya ketika nanti selesai makan siang. Menunggu selama itu sangatlah membosankan baginya apalagi ibunya tidak bisa leluasa berbicara, hanya terkadang memberi kode dengan menepuk kasur yang bunyinya pun nyaris tidak terdengar. 


"Belum tahu, katanya menunggu setelah makan siang," jawab Novrida lirih. 


"Kenapa harus lama sekali? Mana ruangan kepala dinasnya? Biar aku temui, memberi keputusan kok dipersulit," tanya Lukas geram lalu berjalan menuju ruangan kepala dinas. 


Sebelum masuk, ada beberapa petugas yang mencoba menegur Lukas agar tidak sembarangan menemui kepala dinas jika tidak ada perjanjian sebelumnya, namun bukan Lukas namanya jika tidak berbuat nekat, ia menerjang segerombolan petugas dan akhirnya berhasil masuk, jujur saja kedatangan Lukas membuat kepala dinas terkejut bukan main. 


"Selamat pagi kepala dinas sosial yang terhormat, perkenalkan saya Lukas Smith, sudah pasti anda tau kan silsilah keluarga besar saya, Smith," sapa Lukas memperkenalkan diri. 


"Keluarga konglomerat kaya raya tapi ngapain dia ingin bertemu denganku? Ah pokoknya aku harus memberikan kesan baik," batin kepala dinas lalu bersikap sopan, ramah. 


"Selamat pagi juga bapak Lukas Smith, senang bertemu dengan anda, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya kepala dinas dengan senyum ramahnya. 


"Begini, saya tidak bisa kalau harus menunggu lebih lama perihal keputusan pemindahan rawat inap pasien atas nama ibu Marta, jadi saya mohon segera beri keputusannya sekarang juga," ucap Lukas. 


"Anda keluarga dari pasien tersebut?" tanya kepala dinas kaget. 


"Ya, bisa dibilang begitu, bagaimana?" jawab Lukas. 


"Baiklah akan saya izinkan pasien atas nama Marta untuk dipindahkan ke rumah sakit agar mendapat perawatan yang lebih baik, berkas-berkas akan segera kami siapkan pak," jawab kepala dinas dan keputusan itu membuat Lukas senang. 


"Baiklah.. Itu yang saya tunggu daritadi, jangan terlalu lama karena saya juga ada pekerjaan yang harus diselesaikan," tegur Lukas. 


"Iya Pak, maafkan kami, kedepannya akan kami evaluasi pelayanannya," jawab kepala dinas sambil menelungkupkan tangan. 


Lalu Lukas keluar dari ruangan kepala dinas sosial disusul dengan ekspresi sinis dari beberapa petugas yang tadi ia lawan, mereka sampai sekarang tidak tau siapa Lukas sebenarnya. Setelah Lukas masuk ke kamar ibu Marta, segera ia memberitahu jika ibunya sudah boleh dipindahkan ke rumah sakit, jadi sekarang tinggal menunggu berkasnya saja. 


Hal yang membuat hati Novrida lega sekaligus bahagia, biarpun ia telat mengetahui tentang kejadian ini namun setidaknya setelah ini ia tidak telat untuk mengobati, ia yakin jika semua penyakit pasti ada peluang untuk sembuh jika banyak dukungan dan semangat dari orang sekitar, serta ada rasa ingin sembuh dari orang yang sakit itu. 


15 menit kemudian datanglah beberapa petugas sambil membawa berkas, disusul kepala dinas sosial yang ikut masuk. Setelah berkas selesai ditandatangani, ibunya Novrida dibawa ke rumah sakit rekomendasi dinas sosial menggunakan ambulance, sedangkan Lukas menyusul di belakangnya menggunakan mobil mewahnya. 


Ketika Lukas masuk ke mobil mewah, banyak pasang mata yang memperhatikan dan pastinya banyak pula yang iri, tak terkecuali orang yang tadi menatapnya sinis kini malah melongo melihat Lukas masuk ke mobil mewah.