That's What I Feel, My Husband

That's What I Feel, My Husband
Rumah Jadi Hak Milik Nana



TWIFM EPISODE 41-RUMAH JADI HAK MILIK NANA


Sekali dua kali Heru mangkir dari jadwal pembayaran hutangnya kepada Nana namun Heru juga seakan lupa jika sekali lagi ia mangkir maka rumah yang menjadi tempat persinggahan akan segera menjadi milik Nana. Sang istri, Martha tidak tau sama sekali jika suaminya sampai nekat meminjam uang dengan rentenir yang terkenal sadis itu, ketika pertama kali datang untuk menagih, Martha sangat terkejut bahkan marah besar namun semua terasa sia-sia karena suaminya sudah terlanjur meminjam uang pada Nana. Kali ini Nana datang tidak sendirian, ia datang bersama kedua bodyguard yang berperawakan tinggi, tegap dan wajahnya garang. 


"Mana suamimu?" tanya Nana ketus. 


"Gak ada dirumah bu, maaf," jawab Martha ketakutan. 


"Saya gak perlu kata maafmu yang saya butuhkan adalah uang, hanya uang! Disini saya tidak menerima curhatan ya, jadi siapkan uangnya sekarang juga," protes Nana sudah sangat muak. 


"Tapi saya belum ada uangnya," jawab Martha pelan. 


"Mana saya peduli, intinya ketika saya datang segera siapkan uangnya!! Apa kalian lupa jika kali ini mangkir lagi maka rumah ini mutlak menjadi milik saya," gertak Nana tak main-main. 


"Apa? Mana bisa begitu bu??" tanya Martha syok. 


"Jelas bisa, apa suamimu gak mengatakan apapun? Di surat perjanjian sudah tertulis dengan jelas bahwa dalam 3x mangkir dari angsuran maka jaminan yang ia berikan akan menjadi milik saya secara mutlak, sedangkan suamimu saja menjaminkan sertifikat rumah ini, otomatis nantinya ini menjadi rumah saya," jawab Nana. 


"APA?? GAK.. INI GAK MUNGKIN, SUAMI SAYA GAK PERNAH CERITA APAPUN, SAYA BARU TAU KALAU DIA NEKAT MEMINJAM UANG DENGAN ANDA YA WAKTU ANDA MENAGIH KEMARI, UNTUK SERTIFIKAT? YAKIN BU KALAU SUAMI SAYA MENJAMINKAN SERTIFIKAT RUMAH? INI RUMAH MILIK SAYA," bentak Martha sangat kaget mendengar semua ini. 


"Buat apa saya berbohong? Silahkan datang ke rumah dan akan saya tunjukkan buktinya, saya tidak bodoh, meminjamkan 50 juta dengan cuma-cuma, ogah! Sini duitnya!" protes Nana. 


"Apa? 50 juta? Astaga bapak, kamu saja gak bekerja kok tega banget meminjam uang sebanyak itu," keluh Martha. 


"Mana uangnya? Segera bayar atau silahkan angkat kaki dari rumah saya," ancam Nana. 


"GAK!! INI RUMAH SAYA, JANGAN SEENAKNYA MENGUSIR ORANG DARI RUMAHNYA SENDIRI," tolak Martha. 


"Jangan ngeyel bu! Makanya kalau gak mampu bayar jangan berhutang, sok banget!!! Minggir!" gertak Nana. 


"GAK.. INI PENINGGALAN ORANG TUA SAYA SATU-SATUNYA, TAK ADA YANG BOLEH MEMILIKINYA SELAIN SAYA, KALIAN YANG SEHARUSNYA PERGI, PERGIIIII," bentak Martha berlinang air mata. 


"Ngeyel nih! Usir dia dan keluarkan pakaiannya," suruh Nana pada bodyguardnya. 


"Baik bu," jawab bodyguard cekatan mengambil semua pakaian Martha dan suami lalu melemparkannya ke luar rumah. 


"Hidup harus begini, kalau kamu membuat saya ribet ya singkirkan! Siapa yang kuat dia yang bertahan," ucap Nana lalu pergi dari rumah Martha, sebelum itu bodyguard diminta mengunci pintu rumah Martha dan Nana membawa kuncinya. 


Tangis Martha tak bisa dibendung lagi, harta satu-satunya dengan tega suaminya gadaikan demi menutupi seluruh hutangnya, kalau Heru bekerja tak masalah, lah ini, sudah tak kerja malah hutang kesana sini. Martha yang memikirkan ini semua merasa tak kuat lagi dan lama-lama ia pingsan, untung ada tetangga yang kebetulan lewat dan lantas membantu Martha. 


"Mar.. Aduh kenapa sampai pingsan kamu Mar, tolong.. Tolong.." pekik Sri lalu warga berbondong-bondong membawa Martha ke rumah pak RT. 


"Ayo Mar sadarlah.. Kenapa kamu bisa sampai pingsan begini?" ucap Sri panik. 


"Ada apa ini bu Sri? Kenapa bu Martha bisa sampai pingsan dan malah dibawa kesini? Bukannya bu Martha punya rumah?" tanya pak RT bingung. 


"Anu pak RT.. Saya juga bingung mau membawa Martha kemana soalnya tadi pas saya lewat bu Martha tiba-tiba pingsan dibarengi ada bu Nana yang dari kampung sebelah bersama bodyguard," jawab Sri. 


"Bu Nana yang lintah darat itu? Apa jangan-jangan bu Martha punya hutang sama dia tapi belum bisa bayar makanya rumahnya disita?" tebak pak RT. 


"Untuk itu saya kurang tau pak, lebih baik tunggu sampai bu Martha siuman," jawab Sri yang disertai anggukan kepala pak RT. 


Warga yang ikut menyaksikan pun juga penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, mana mungkin Martha sampai nekat hutang ke rentenir, melihat kehidupannya saja memang kemungkinan besar begitu apalagi suaminya yang sudah lama gak bekerja. Bapak-bapak yang ikut menyaksikan diminta pak RT untuk mencari suaminya Martha, namun sudah dicari hingga ke luar desa pun tak ada petunjuk dimana keberadaan Handoko. 


Setelah cukup lama pingsan, Martha siuman juga dan warga yang melihat banyak yang mengucap syukur, Martha kaget bukan main ketika membuka mata sudah ada banyak warga yang berkumpul mana ini bukan di rumahnya, mengingat apa yang sebelumnya terjadi, tangisan Martha kembali pecah. "Bu.. Tenang dulu bu, ini diminum dulu setelah itu ceritakan apa yang sudah terjadi," ucap pak RT menyerahkan segelas teh hangat. 


Setelah meminum teh hingga setengah gelas, Martha mengumpulkan tenaga juga mengatur emosinya agar bisa menjelaskan semua ini pada pak RT. 


"Maaf sebelumnya jika saya sudah merepotkan pak RT juga warga semuanya, sebenarnya ini di luar sepengetahuan saya, suami saya tanpa persetujuan dari saya dengan beraninya menjaminkan sertifikat rumah kepada lintah darat dikampung sebelah, ibu-ibu serta pak RT sudah pasti tau kan bagaimana watak lintah darat itu? Awalnya saya menolak ketika diminta keluar dari rumah karena saya merasa itu rumah hak saya dan gak ada hak bu Nana mengusir saya, namun setelah saya membaca surat perjanjian yang dibubuhi diatas materai dan juga sertifikasi rumah saya ada ditangan bu Nana, sontak saja saya panik bukan main, saya menangis histeris mempertahankan rumah saya dan merasa jika saya tidak meminjam padanya apalagi memakai uangnya, namun bu Nana bersikukuh jika semua ini bukan urusannya, jika telat membayar selama tiga kali sudah mutlak rumah yang ia tempati menjadi milik bu Nana," ucap Martha sembari menangis. Warga yang mendengar kejujuran dari Martha merasa iba juga prihatin dengan musibah yang sedang menimpa tetangganya itu namun mereka tidak bisa membantu apapun selain dukungan moral. Pak RT yang mendengar saja juga merasa kasihan namun dia tidak bisa berbuat banyak karena didalam perjanjian hutang piutang ada tanda tangan diatas materai, jika pak RT melawan dan memperjuangkan hak bu Martha sudah pasti malah pak RT yang dibawa ke ranah hukum. 


Rombongan bapak-bapak datang dari penjuru arah dan berkumpul di rumah pak RT guna menyampaikan informasi. "Gimana bapak-bapak? Apakah sudah ketemu dengan pak Handoko?" tanya pak RT memastikan. 


"Belum pak, kami sampai mencari ke luar desa bahkan ada beberapa yang mencari ke desa sebelah-sebelah namun tak juga menunjukkan dimana keberadaan pak Handoko, mungkin dia sudah tau jika hari ini rentenir itu akan datang makanya dia sudah bersiap-siap dan pergi sejauh mungkin," tebak salah satu bapak-bapak dan yang lain membenarkan. 


"Sudah.. Sudah jangan berpikir buruk dulu, bisa saja pak Handoko sedang berkunjung ke rumah sanak saudaranya, mohon bapak dan ibu semuanya jaga lisan ya, kasihan bu Martha, jangan menambah bebannya," tegur pak RT dan semuanya diam. 


Martha yang mendengar jika suaminya telah kabur semakin tak kuasa menahan kesedihannya, ia menangis dengan histeris bahkan ibu-ibu yang menenangkan sampai bingung harus berbuat apa karena tidak biasanya Martha begini. Ketika Martha ingin kembali ke rumah, tiba-tiba saja ia terpeleset dan saat itu juga ia seperti orang stroke, bibirnya miring ke bawah dan tangannya menekuk. Warga semakin panik melihat keadaan Martha yang seperti itu dan segera membawa ke tukang pijat namun usaha para warga gagal, Martha dinyatakan stroke dan harus mendapatkan perawatan intensif, warga kebingungan siapa yang nantinya akan merawat Martha? Akhirnya atas usul dari Pak RT diputuskan bahwa Martha dirawat di panti sosial demi kerukunan bersama sembari nantinya mencari informasi keberadaan anaknya yang ada di kota.