That's What I Feel, My Husband

That's What I Feel, My Husband
Ina Membenci Novrida



Sejenak keduanya terdiam karena bingung mau memulai darimana apalagi saat ini Novrida yang harus mengatakan. 


"Begini mah.. Setelah Lukas dan Novrida diskusikan, kami memutuskan untuk tinggal di apartemen saja, disana kami bisa lebih bebas dan privasi terjaga," ucap Lukas sangat hati-hati. 


"APA??? SETELAH KAMU BERHASIL MEMBUAT ANAK SAYA KABUR, SEKARANG KAMU JUGA BERHASIL MEMBUAT ANAK SAYA KELUAR DARI RUMAHNYA SENDIRI, LALU SETELAH INI APALAGI, HEI WANITA UDIK!!!" pekik Ina marah besar. 


"Mah.. Jangan salahkan dia terus, ini permintaanku," ucap Lukas. 


"Karena dia yang merengek, ya kan?" sindir Ina. 


"Mah.. Cukup.. Selama ini saya sudah diam ketika mamah selalu mencaci maki serta menghinaku, tak hanya itu juga saya selalu menerima ketika mamah memperlakukan aku layaknya pembantu, demi sesuap nasi pun saya harus bekerja dengan sangat keras, sekarang saya capek terus menerus di salahkan bahkan dianggap membawa dampak buruk bagi anak mamah, asal mamah tau, saya pun sebenarnya tidak mau diajak Lukas ke apartemen, karena apa? Ya karena ini.. Caci maki serta hinaan ini yang sudah saya antisipasi, jangan bisanya hanya menyalahkan dan menyalahkan saja mah," ucap Lukas yang mengungkapkan isi hatinya selama ini, ia kasihan pada istrinya karena diperlakukan tidak baik oleh mamahnya sendiri. 


"HEI BERANINYA KAMU BILANG BEGITU YA!!! UDAH MULAI SOK JAGOAN?" bentak Ina. 


"Gak pernah saya merasa sok jagoan, ini hanyalah keluh kesah yang sudah terpendam cukup lama," ucap Lukas. 


"Halah!! Cewek kayak kamu mana mau hidup susah makanya langsung mengiyakan ketika dipinang anak saya!! Keluh kesah yang bagaimana? Toh emang kamu sudah kewajibannya untuk bebersih rumah, dikampung begitu kan? Semua temanmu pasti seperti itu, kenapa di sini kamu yang sewot dan gak terima?" cecar Ina. 


"Sudahlah percuma ngomong sama mamah, yang ada maunya benar dan selalu benar, terpenting kami sudah berpamitan, untuk barang-barang biarkan para pekerja yang melakukannya," ucap Novrida dan mamahnya hanya diam saja. 


Dalam hati, Ina memendam amarah dan rasa benci yang begitu besar pada Novrida. Belum lama menjadi menantunya tapi kekacauan yang dibuat sungguh menguras emosi juga tenaganya. 


"Berani sekali dia menghasut Lukas sampai sangat luluh padanya, kata-kata seperti apa yang diucapkan wanita itu sampai Lukas segitu membelanya," batin Ina menatap Novrida sangat tajam. 


Merasa sia-sia saja menyampaikan keinginannya, Lukas memilih pergi. 


"Kami permisi dulu mah, jika ada waktu silahkan mampir ke apartemen," pamit Lukas mencium tangan Ina diikuti Ina. 


"Ingat.. Jangan sampai keputusanmu itu nantinya membuatmu menyesal," tegur Ina. 


"I know mah," jawab Lukas paham. 


Lukas juga Novrida sudah pergi dari rumahnya, Ina pun bergegas ke kamar dan membanting semua barang yang ada di depan kamarnya. 


"Aaaaa… . Kenapa sekarang anakku begitu? Kenapa dia lebih memilih cewek udik itu??!!! Kenapa!!! Kenapa!!!" pekik Ina. 


"Penyebab semua ini adalah cewek udik itu, awas saja!!!' gumam Ina lagi dan menelpon Ivanka. 


"Halo? Kuliahmu sudah selesai? Segera pulang, mamah tunggu," ucap Ina langsung mematikan ponsel. 


***


Setengah jam berlalu, Ivanka sudah tiba di rumah dan menuju kamar mamahnya. Betapa terkejutnya ketika melihat barang-barang mamahnya sangat berantakan. 


"Astaga mamah.. Kenapa bisa begini?" tanya Ivanka heran. 


"Kakakmu.." jawab Ina lirih. 


"Ada apa dengan kakak? Baik-baik saja kan mah?" tanya Ivanka pamit. 


"Baik bagi dia namun buruk bagi mamah, dia memilih tinggal di apartemen bersama wanita udik itu," ucap Ina membuat Ivanka terkejut. 


"Mah.. Yang benar saja," ucap Ivanka tak percaya. 


"Buat apa mamah bohong," jawab Ina kesal. 


"Lalu setelah itu gimana?" tanya Ivanka. 


"Kakakmu tetap membela istri kampungnya itu dan memilih pergi dari rumah ini, mungkin mereka disana sedang bersenang-senang," ucap Ina membuat Ivanka semakin kesal. 


"Ada apa sih dengan kakak, makin lama makin aneh," gerutu Ivanka.


Lalu Ivanka dan Ina saling terdiam cukup lama sampai akhirnya ada ide yang muncul di otak Ivanka. 


"Mah.." panggil Ivanka sedikit keras. 


"Hehe maaf mah, Ivanka punya ide," ucap Ivanka bersemangat. 


"Ide apa?" tanya Ina. 


"Jadi…." ucap Ivanka yang langsung membuat Ina setuju. (Maaf ya kalau rencananya gak author cantumin disini, nanti malah gak seru dong hehe, setelah kejadian aja author kasih tau). 


"Good idea, kapan dimulai?" tanya Ina tak sabar. 


"Jangan buru- buru mah, kan mereka juga belum pindahin barang, otomatis ada kakak disana," ucap Ivanka dan mamahya kembali sedih. 


"Kenapa lama sekali sih? Udah gak sabar nih," ucap Ina kesal. 


"Sabar napa mah, emang mamah mau kena amukan kakak?" tanya Ivanka dan mamahnya dengan cepat menggeleng. 


"Makanya tunggu saat yang tepat," tegur Ivanka. 


Lalu pagi harinya Ina ingin berjalan-jalan ke taman kota, kebetulan Novrida juga kesana sendirian. 


"Mamah?" sapa Novrida yang tak sengaja berpapasan. 


"Kamu lagi.. Jangan bilang kamu ngikutin saya," tuduh Ina. 


"Ya enggak lah ngapain juga ikutin kok kesini," jawab Novrida membuat Ina kesal. 


"Lalu ngapain kamu kesini?" tanya Ina. 


"Ini taman kota, siapapun boleh datang kesini kan mah?" ucap Novrida penuh penekanan. 


"Halah alasan aja," jawab Ina kesal. 


"Terserah mamah mau percaya atau tidak, semua orang jika ditanya akan menjawab seperti itu," jawab Novrida santai namun sukses membuat Ina emosi. 


"KAMU INI YA MAKIN LAMA MAKIN MEMBUAT KESAL SAJA!!!" pekik Ina. 


"Mamah sendiri yang membuat semuanya terasa mengesalkan," jawab Novrida ketus. 


"Mulai berani ya sama saya!!" pekik Ina. 


"Saya hanya takut sama Tuhan, selagi jalanku masih benar dan tidak salah untuk apa saya takut," ucap Novrida seketika membuat Ina muak. 


"Cih.. Orang miskin sepertimu mana mikir baik dan buruk, yang terpenting kan gaya hidup serta biaya hidup terpenuhi," ejek Ina. 


"Tapi sayangnya saya tidak seburuk pemikiran mamah," jawab Novrida. 


"Miskin ya miskin aja, jangan berlagak sok paling benar," cibir Ina. 


"Tidak ada salahnya menegur seseorang yang berbuat salah apalagi kita mengenalnya, bukan begitu mah?" tanya Novrida tersenyum manis. 


"MUAK RASANYA BICARA SAMA KAMU!! MEMBUANG WAKTU BERHARGA SAYA SAJA, MENYESAL RASANYA UDAH DATANG KESINI!!!!" pekik Ina lantang dan akan memjambak rambut Novrida. 


Ketika Ina ingin memberi pelajaran pada Novrida, teman senam nya tiba-tiba memanggil. Mau gak mau Novrida ikut kesana. 


"Awas saja kau, kali ini masih bisa selamat!" gertak Ina tersenyum mengerikan.


Melihat mertuanya sudah jauh dari pandangan membuat Novrida heran bukan main. 


"Dengan temannya saja ramah banget dan baik eh giliran sama menantunya, dih.. Berasa punya pembantu baru," ucap Lukas yang melihat secara langsung apa yang dilakukan mamahnya. 


"Andai mamah tau jika Novrida adalah aku, apakah mamah akan bersikap demikian?" batin Lukas. 


"Mamah mana mau tau, yang ada maunya kalau itu ya itu," gumam Lukas.