
Hari demi hari Heru lewati hanya untuk judi, mabuk dan tidur. Tak terasa pula uang pemberian Lukas sudah semakin menipis bahkan hanya tersisa sedikit.
Kali ini Heru bertekad untuk menang, ia bawa semua sisa uang yang ada dan khusus hari ini ia akan main dengan serius.
Melihat suaminya kembali mengambil uang untuk judi membuat Martha bersikap tegas dan mempertahankan sisa uang yang dimiliki. "Mau kemana pak? Buat apa mengambil uang lagi??"
"Buat perlu! Jangan ikut campur," gertak Heru memasukkan uang ke saku celananya.
"Kembalikan! Hanya itu uang yang kita punya," pinta Martha.
"Gak.. Uang ini nantinya akan bertambah banyak, percayalah, hari ini aku akan menang," tolak Heru.
"Halah dari dulu saja bapak selalu kalah dan kalah, jangan berharap menang, mending uangnya kembalikan biar besok masih bisa makan," pinta Martha.
"Sekali gak ya enggak!" tolak Heru.
Lalu terjadi perebutan uang yang ada digenggaman Heru, merasa istrinya hampir meraih uang itu, dengan tak sengaja Heru mendorong istrinya sangat kasar sampai membentur lemari kaca. Saking kuatnya dorongan dari Heru membuat lemari itu pecah berkeping-keping dan beberapa serpihan kaca hinggap dikepala Martha, darah mengalir dengan derasnya seperti air terjun.
"Mar.. Martha," panggil Heru panik.
"Aw…Sakit mas, kenapa darahnya banyak sekali?" tanya Martha.
"Ya gimana gak banyak, kamu kena serpihan kaca," jawab Heru ketus.
"Bawa aku ke klinik mas, kepalaku sekarang malah pusing," pinta Martha.
"Jika dibawa ke klinik sudah pasti uang yang dikeluarkan tidak sedikit sedangkan uang yang dipegang olehnya ialah satu-satunya uang yang dimiliki.
Akhirnya Heru meninggalkan istrinya sendirian di rumah dengan kondisi yang masih menyedihkan. Hati Martha kembali teriris mengingat suaminya sudah tak mempedulikannya lagi.
Ditempat perjudian, Heru mengeluarkan seluruh sisa uang yang dimiliki dan berharap akan menang.
"Bosku.. Berapa taruhan hari ini??" tanya Joko memastikan.
"Ah sepertinya hari ini hanya sedikit, istriku di rumah sedang sakit, tadi meminta dibawa ke klinik tapi aku terlanjur mau berangkat kemari," jawab Heru.
"Baiklah bosku semoga beruntung, jackpot hari ini besar sekali," ucap Joko mengiming-imingi.
"Semoga hari ini aku yang dapat," gumam Heru sangat yakin dan mulailah perjudian hari ini, hingga tiga kali permainan Heru selalu kalah dan sudah pasti uang yang ada digenggaman semakin menipis. Lalu Heru tak patah semangat, ia tetap melanjutkan permainan dan tiba di permainan kelima Heru menang.. Sontak saja raut bahagia juga suara sorak gembira ia gendangkan, tanpa disadari olehnya, justru kemenangan ini awal kehancuran hidupnya mendatang.
"Akhirnya menang juga cuy, untung banyak gue," gumam Heru menghitung uang yang ada didepan mata dan bergegas pulang.
"Mau kemana bosku?" tanya Joko.
"Mau pulang, uang ini mau gue kasih ke istri gue biar gak ngomel mulu," jawab Heru.
"Ahh ntar gue kalah, biarlah hari ini dapat segini dulu, istri gue dirumah belum masak," jawab Heru menolak.
"Memang uangmu sudah habis? Baru dapat 1,5 juta kok udah nyerah bosku?" rayu Joko lagi, ia tidak mau jika Heru langsung pulang dengan membawa uang segitu banyaknya. Pantang baginya membiarkan pelanggannya untuk pulang membawa duit banyak.
Mendapat sindiran seperti itu hati Heru terasa tersentil bahkan malu untuk mengakui uangnya sudah menipis, mau ditaruh dimana mukanya jika dirinya mengakui semua uangnya sudah ludes dan menantunya gak mungkin mengirimkan uang, padahal beberapa hari lalu dia dengan sombongnya mengatakan jika menantunya akan selalu memberikan uang berapapun yang ia minta. Ah sial! Jadinya malah memakan omongan sendiri kalau begini, sebenarnya Heru tidak mau bermain judi lagi karena uang yang didapat bisa untuk bertahan hidup dengan istrinya, tapi disatu sisi rayuan demi rayuan Joko membuat Heru bingung apalagi jika menyinggung uangnya sudah habis, ia tidak mau dianggap miskin lagi.
"Oke gue main lagi tapi hanya beberapa kali saja," ucap Heru lalu bermain judi dengan serius. Dugaannya benar, ia selalu kalah bahkan uang yang ia pegang tersisa 200 ribu rupiah.
"Gue pulang dulu," ucap Heru lesu.
"Ayolah bosku, kenapa gampang menyerah sih? Masih ada uang ditangan tuh, lihat bosku, musuhmu datang dan dia membawa segepok uang," tunjuk Joko pada Eko yang baru saja tiba dengan membawa setumpuk uang.
"Sial!!! Ngajak ribut rupanya, gue mana ada uang segitu banyak, malu malu!" batin Heru emosi.
"Hei Joko, sini.. Hari ini aku mau main disini dengan uang sebanyak ini, biasanya yang menyaingi aku itu Heru, mana dia? Apakah dia akan mengajakku berduel?" tantang Eko dengan angkuhnya.
"Dia ada dipojokan," jawab Joko berbisik.
Lalu Eko menghampiri Heru yang sedang duduk di kursi pojok dengan tatapan kosong. "Heru.. Heru.. Kemana sikap angkuhmu beberapa hari lalu, ha? Sekarang malah menciut kayak gini haha lihat nih, aku udah bawa duit banyak, berani gak nantangin gue??"
Mendapat tantangan seperti itu membuat Heru kesal bukan main apalagi uangnya sekarang ini hanya tinggal beberapa lembar, jika ia mengalah dari Eko nantinya ia akan menjadi bulan-bulanan disini dan Eko akan selalu menindas nya. Kemudian muncullah ide yang nantinya justru menyengsarakan nya.
"Jok.. Sini," panggil Heru.
"Kenapa bosku?" tanya Joko sok ramah.
"Boleh pinjem duit gak? Kebetulan aku adanya segini doang, mana Eko ngajakin duel lagi, malu dong kalau gak diterima," ucap Heru berbisik.
"Boleh.. Tapi ada syaratnya ya bosku, bunganya 20% per minggu, gimana?" tanya Joko tersenyum seringai.
"Apa? Bunganya gede banget jok, tega banget," tolak Heru.
"Itu sudah peraturannya bosku, gak mau juga gak papa kok," jawab Joko pura-pura ingin pergi.
"Eh tunggu! Oke oke gue sanggup, pinjami gue 5 juta dulu," ucap Heru tanpa berpikir panjang. Senyum licik tergambar jelas di raut Joko dan tanpa menunggu lama, uang 5 juta ada ditangannya.
Heru langsung mengajak Eko untuk berduel, banyak pasang mata yang menyaksikan aksi mereka dan tak sedikit pula yang memojok-mojoki Heru agar jangan sampai kalah dan kembali meminjam uang ke Joko, namun sayang seribu sayang, berulang kali Heru kalah dan uang 5 juta pun hangus sudah. Ia sempat meminjam lagi 10 juta dan lagi-lagi ia mengalami kekalahan. Merasa sudah putus asa, Heru pulang dengan kondisi lunglai.
"Jangan lupa bunganya ya bosku, total pinjaman 15 juta berarti 1.500.000 per minggu," ucap Joko tersenyum gembira.
Heru tak menjawab perkataan Joko dan memilih pulang, sesampainya di rumah, tak ada makanan apapun yang tersedia bahkan istrinya entah kemana. Emosi Heru semakin memuncak, ia banting semua barang-barang dan kini rumahnya seperti kapal pecah.