That's What I Feel, My Husband

That's What I Feel, My Husband
Capek



Sudah hampir 2 bulan antara Lukas dengan Novrida saling bertukar jiwa hingga membuat mereka merasa lelah, ingin sekali mereka kembali ke jiwanya masing-masing agar bisa beraktivitas dengan normal. 


Novrida lalu mencari informasi tentang pertukaran jiwa secara tidak sengaja via internet, hampir satu jam Novrida membaca setiap artikel yang ia baca namun tak ada satupun yang membuatnya merasa yakin jika itu jalan keluarnya. 


Semua artikel mengatakan jika pertukaran jiwa akibat kelianan seksual lah, faktor trauma akan masa lalu lah, dan masih banyak lagi. Padahal kasus yang sedang dihadapi Novrida bukanlah hal yang seperti itu, ia dan suaminya secara tiba-tiba tertukar jiwanya dan saling histeris satu sama lain, padahal sebelum kejadian itu tak ada tanda-tanda keanehan sama sekali, semua berjalan seperti biasanya. 


Hingga Novrida sempat tersadar jika dulunya ia pernah meminta kepada Tuhan agar suaminya merasakan apa yang dirasakan, bagaimana rasanya di siksa oleh keluarga sendiri hanya karena dirinya berasal dari keluarga biasa saja, dicaci dan dihina setiap hari dengan kata-kata yang tidak sepantasnya diucapkan. Semua itu tiba-tiba teringat diingatan Novrida. 


"Astaga.. Jangan-jangan semua ini akibat doaku yang dikabulkan oleh Tuhan? Aduh gimana ini??" gumam Novrida panik. 


Lukas yang sedang menuruni tangga melihat Novrida gelisah dan rasa penasaran membawanya pada Novrida untuk menanyakan apa yang terjadi. 


"Ada apa Nov? Kok sepertinya gelisah gitu?" tanya Lukas heran. 


"Aku.. Aku bingung bagaimana agar kita bisa kembali ke tubuh masing-masing," jawab Novrida gugup. 


"Aku pun sama, sampai sekarang belum ada info yang akurat agar kita bisa kembali ke tubuh masing-masing," jawab Lukas. 


"Apa iya salah satu keluargamu ada yang memiliki kelainan seksual atau bahkan pernah mengalami trauma berat sehingga memutuskan untuk berpindah wujud?" tanya Novrida membuat Lukas kaget bukan main. 


"Apa maksudmu mengatakan seperti itu? Mana ada keluargaku yang memiliki sifat menjijjkan seperti itu, gak ada dan aku yakin tidak akan pernah ada," protes Lukas. 


"Jangan sombong dulu, nyatanya kita mengalaminya, kamu di tubuhku sedangkan aku ditubuhmu," jawab Novrida membuat Lukas mati kutu. 


"Ah.. Kalau itu urusannya berbeda, bukan karena faktor kelainan yang kamu maksud itu! Ini seperti kutukan, apa kamu tidak menyadarinya??" tanya Lukas. 


"Kutukan? Memang siapa yang berbuat diluar batas?" tanya Novrida. 


"Mana aku tau, yang pasti itu bukan saya, jadi sudah dipastikan saya aman, lagian mana ada aku ini melakukan hal diluar batas sampai membuat kutukan," ucap Lukas dengan angkuh. 


"Dih.. Sok bersih," cibir Novrida kesal. 


"Memang seperti itu faktanya," jawab Lukas angkuh. 


"Sifatnya tak jauh berbeda dengan adiknya," sindir Novrida. 


"Hei.. Jangan samakan dengan Ivanka ya," protes Lukas kesal. 


"Sama-sama angkuh," jawab Novrida. 


"Stop!!!" gertak Lukas. 


Lalu keduanya saling diam dan memunggungi, Novrida segera sarapan dan kembali ke kamar, sedangkan Lukas memilih sarapan diruang tengah dan setelah itu pergi ke kantor. Kejadian pagi hari yang seharusnya membuat happy malah menjadi penuh ketegangan. Lukas tak habis pikir dengan istrinya yang terang-terangan mengatakan bahwa salah satu dari keluarganya ada yang memiliki kelainan lah dan sifat dia sama dengan Ivanka, jelas lah Lukas kesal. Sama saja Novrida merendahkan silsilah keluarganya, padahal selama ini harkat dan martabat selalu dijunjung tinggi oleh mereka. 


Mana ada keturunan baik-baik didalamnya ada yang kelainan, mengingat kembali perkataan Novrida membuat Lukas sangat kesal. Seharusnya fokus bekerja malah jadi tidak fokus, hari ini yang ada Lukas marah dan marah. Semua orang yang diajaknya berbicara menjadi sasaran empuk nya. 


***


"Apa aku pulang ke rumah orang tuaku saja ya dan mencari info disana? Siapa tau ada petunjuk??" gumam Novrida lalu menelpon salah satu teman di kampungnya. 


Sayang seribu sayang, panggilannya tidak tersambung dan ketika dihubungi lagi malah tidak aktif, entah nomer temannya yang sudah ganti atau memang sinyal disana yang kadang ada kadang gak ada. 


"Ingin mencari secuil informasi saja sudah dibuat susah seperti ini, bagaimana nanti kedepannya?" gumam Novrida kembali sedih dan memeluk guling. 


Tak mau menunda waktu lagi, Novrida akhirnya nekat untuk besok pulang ke rumah orang tuanya. Semakin dibiarkan lama yang ada semuanya semakin kacau, setelah Lukas pulang kerja, ia akan mendiskusikan ini. 


##


Jam pulang kantor telah tiba, suaminya pun sudah sampai dirumah dan Novrida membiarkan untuk bebersih dulu setelah itu akan berbicara dengan serius. 


Setelah bebersih dan kini sedang bersantai, Novrida mendekati suaminya untuk menanyakan maksud hatinya. 


"Ada apa?" tanya Lukas yang seakan paham dengan isi kepala Novrida. 


"Aku belum mengatakan apapun tapi kamu sudah membuatku kesal," jawab Novrida kesal dan memanyunkan bibir. 


"Ya habisnya kan gak biasanya kamu kayak begini, ada apa?" tanya Lukas. 


"Besok aku mau pulang ke rumah orang tuaku," jawab Novrida membuat Lukas kaget. 


"Ha? Kamu serius? Untuk apa? Aku tidak membuat kesalahan apapun padamu, jangan membuat keributan ya," protes Lukas. 


"Serius.. Memang kamu tidak melakukan kesalahan melainkan kita yang membuatnya, tujuanku pulang adalah mau mencari informasi tentang seseorang yang nantinya bisa mengembalikan keadaan kita seperti sedia kala, siapa tau kan," ucap Novrida. 


"Kamu mau ke dukun?" tanya Lukas tak menyangka jika istrinya memiliki pemikiran primitif seperti itu. 


"Ya bisa dibilang begitu, aku gak mau terus menerus dalam bayanganmu," ucap Novrida membenarkan. 


"Astaga.. Ini zaman modern, harusnya kamu jangan percaya hal begituan dong, masih banyak cara untuk kita bisa sembuh," protes Lukas. 


"Kamu ada cara?" tantang Novrida. 


"Eh itu.. Belum, kamu tau sendiri kan aku sibuk dengan rutinitas yang tiada henti," sanggah Lukas. 


"Yasudah kalau begitu jangan sok melarang kalau kamu sendiri gak ada nemu jalan keluarnya, biarlah aku mencoba dengan caraku sendiri," ucap Novrida membuat Lukas malu. 


"Bukan begitu.. Aku tidak mau berurusan dengan dukun, pasti yang ada kita ditipu," bantah Lukas. 


"Itu bagimu, makanya nanti kalau ketemu dukun jangan berpenampilan mewah, cukup biasa saja," sindir Novrida. 


"Tapi.." belum sempat Lukas menjawab sudah terpotong oleh Novrida. 


"Tanpa atau dengan ikutnya kamu, tidak akan menghalangi langkahku untuk pergi kesana, aku sudah capek terus menerus bersandiwara seperti ini," ucap Novrida tak mau dibantah dan segera masuk ke kamar untuk mengemasi barang.