That's What I Feel, My Husband

That's What I Feel, My Husband
Gengsi Berterima kasih (2)



"Sudahlah buat apa juga dibahas, semua sudah berlalu kan? Yang penting sekarang ini Ivanka baik-baik saja dan semakin sehat itu sudah cukup," ucap Novrida. 


"Biarkan Ivanka tau semuanya," tegur Lukas dan Novrida memilih diam. 


"Haha.. Drama apalagi yang kalian buat? Setelah mengatakan itu apakah aku harus percaya gitu? Semua orang juga bisa mengarang kak," ejek Ivanka. 


"Ivanka.. Ini serius, banyak saksi yang tau!" tegur Lukas. 


"Bullshit!" jawab Ivanka. 


Lalu datang seorang perawat yang membawakan obat untuk diminum dan kesempatan ini menjadi ajang pembuktian atas ucapannya. 


"Sus.. Tunggu dulu," panggil Lukas dan suster menghampiri. 


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya suster ramah. 


"Ada Sus, ingat gak dia siapa?" tebak Lukas dan suster mengarahkan pandangan pada seseorang yang ditunjuk Lukas. 


"Hmm maaf sepertinya dia orang yang selalu disini kan? Yang merawat adik anda," tanya suster memastikan. 


"Tepat sekali Sus, tuh denger gak Ivanka?" sindir Lukas tersenyum senang, setelah itu ia menyuruh suster pergi. 


"Halah bisa saja sudah kakak suap dulu," tuduh Ivanka. 


"JAGA UCAPANMU IVANKA! SEJAK KAPAN MULUT ITU MENJADI BAR-BAR?" bentak Lukas. 


"Jangan mulai kurang ajar dan jangan membuat serangan jantung papah kambuh," tegur Smith membuat Novrida berada di posisi bingung sedangkan Ivanka semakin emosi, ayah dan kakak yang dulu sangat membela dan menyayanginya kini malah lebih membela perempuan kampung yang baru masuk dalam lingkup keluarganya. 


Ivanka jadi merasa jika Novrida memang biang dari semua ini, pantas saja mamah sampai segitu membencinya bahkan berniat menghempaskannya, nyatanya memang Novrida selalu menjadi pusat perhatian dan apa yang ia lakukan selalu berhasil mencuri perhatian. 


"Kalau benar dia yang merawat serta menjagaku selama ini, kenapa suster tidak pernah memberitahu? Nyatanya ketika aku membuka mata gak ada dia tuh," ucap Ivanka merasa benar. 


"Tapi memang itu faktanya Ivanka," ucap Lukas penuh penekanan. 


"Benar yang dikatakan kakakmu, memang istrinya yang telaten merawatmu," timpal Smith membenarkan. 


"Kalian ini ya gak ada simpatinya sama sekali denganku, selalu dia saja yang dibahas! Disini yang sekarat itu aku bukan dia!!! Harusnya perhatian kalian untukku bukan malah ke dia!!" pekik Ivanka. 


"Kami hanya memberitahu yang sebenarnya saja tapi kamu seolah menolak itu," sindir Lukas. 


"Jelas Ivanka menolaknya pah, mana bisa Ivanka percaya begitu saja jika dia yang sudah merawat Ivanka, kalau suster dan dokter sini baru Ivanka percaya, drama apalagi yang kau perbuat, ha?!!" pekik Ivanka melotot ke arah Novrida.


"Sebenarnya aku malas membahas ini, mau kenyataan sebenar apapun pastinya kamu tidak akan mengakui dan menerima ini semua, makanya aku menyuruh kakakmu untuk diam saja, entah karena apa kakakmu malah ngotot memberitahu ini semua, sekarang lihat kan? Dugaanku benar," timpal Novrida sedikit kecewa karena ia memang tulus ingin merawat Ivanka dengan sepenuh hatinya tanpa perlu berbalas budi, nyatanya yang sudah ia tolong malah semakin menghina bahkan di hadapan papahnya sekalipun. 


"Tak ada manfaatnya untukku, mau kamu terima atau tidak ya terserah, aku tidak mempermasalahkannya," jawab Novrida dibuat sesantai mungkin. 


"Bagus jika kamu memang sadar! Mana mungkin aku mau berterima kasih padamu," jawab Ivanka tersenyum puas. 


"IVANKA… PAPAH KECEWA SEKALI DENGANMU," bentak Smith sangat malu melihat kelakuan anaknya yang tidak memiliki sopan santun dan tidak bisa menghargai kakak iparnya. 


Melihat kondisi semakin memanas, Novrida meminta Lukas untuk keluar dari ruangan saja, Ia tidak mau jika nantinya ikut emosi menghadapi Ivanka yang sangat keras kepala itu. Papahnya saja bisa murka apalagi dirinya yang baru-baru ini, bertemu dengannya? 


Di luar rumah sakit, Lukas mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang dengan mengajak istrinya ke kantin rumah sakit, di sana memang tersaji beberapa makanan yang menggugah selera. Sayangnya, Novrida tidak mau makan dan memilih memesan jus saja, Lukas sedikit kecewa karena niat hati ingin membaikkan keadaan malah semakin rumit. 


Lukas sampai bingung harus memulai darimana untuk mengawali pembicaraan, jujur saja dirinya pun juga malu dengan sikap adiknya yang kurang ajar itu, ingin sekali Lukas memberi pelajaran pada adiknya namun kembali Lukas tersadar jika sekarang ini kondisi adiknya jauh lebih memprihatinkan. 


"Maaf.." ucap Lukas lirih. 


"Untuk?" tanya Novridabingung. 


"Untuk semuanya, untuk penghinaan yang kamu terima dari Ivanka," jawab Lukas. 


"Sudah biasa bahkan sudah menjadi makanan sehari-hari bagiku," jawab Novrida sembari menyindir. 


"Jangan berkata seperti itu, aku tidak suka," tegur Lukas. 


"Kenapa? Itu faktanya kan, baik mamah maupun adikmu mana ada yang suka denganku?" tanya balik Novrida.


"Sekali lagi maaf, akan aku buat mamah dan Ivanka bisa menerimamu," janji Lukas. 


"Tak perlu jika semua itu nantinya terpaksa, biarlah begini," tolak Novrida.


Setelah itu obrolan mereka terhenti dan keadaan canggung pun mendominasi mereka berdua, Lukas sadar betul jika hati istrinya saat ini tengah kecewa bahkan bisa saja sakit hati atas apa yang ditorehkan Ivanka padanya. Sesekali Lukas mencuri pandang pada istrinya dan tampak jelas raut penuh kekecewaan juga sedih pada sorot matanya. 


"Sorot mata tidak bisa dibohongi, aku tau saat ini kamu sedang sedih bahkan kecewa, maafkan aku yang tidak bisa bersikap tegas, aku sebenarnya ingin sekali memberi pelajaran pada Ivanka, namun kamu tau sendiri kan bagaimana kondisi adikku sekarang ini? Bisa siuman dan masih mengenal anggota keluarganya saja aku sudah sangat bersyukur, sekali lagi maafkan aku," batin Lukas yang terlalu pengecut untuk menyampaikan isi hatinya. 


Sedangkan di dalam kamar inap, Ivanka sedang dimarahi oleh papahnya perihal sikap kurang ajarnya itu. 


Teguran demi teguran sudah Smith lontarkan pada putri kesayangannya dan berharap setelah ini sang putri bisa menjadi pribadi yang lebih baik. 


Akibat teguran keras dari papahnya malah membuat Ivanka semakin membenci Maya. Padahal Smith berharap jika teguran ini bisa membuka pola pikir Ivanka agar lebih menghargai sesama apapun itu kastanya. 


"Sial!!! Gara-gara dia jadinya gue ditegur papah habis-habisan!!! Mana kondisi gue belum sehat bener lagi, memang ya semenjak kedatangan cewek kampung itu ke dalam lingkup keluarga gue, perhatian yang dulunya selalu terpusat ke gue sekarang ini berpindah padanya!! Apa sih keistimewaannya? Gak ada baik-baik nya kok dibela sampai segitunya, kakak dan papah lagi rabun kali ya makanya bisa membela gadis itu segitunya, cih menyebalkan!!! Awas saja kau, setelah gue pulih seratus persen bakalan ada pembalasan setimpal yang harus lo bayar dengan mahal!" batin Ivanka sangat emosi dan penuh amarah, dadanya pun bergemuruh hebat.