That's What I Feel, My Husband

That's What I Feel, My Husband
Menagih Hutang



Pagi hari ini adalah hari kedua setelah pria rentenir yang bernama Joko itu menagih hutang dan tepat pula pada hari ini Joko akan datang untuk menagih. Martha sengaja tidak memberitahu bahwa akan ada rentenir yang menagih hutang, biarlah menjadi tanggung jawab Heru karena semua ini terjadi karena kesalahan dia sendiri, lagian Martha juga ingin melihat bagaimana suaminya itu ketika menghadapi masalahnya. 


Sesuai janji, pukul 8 pagi Martha sudah tiba di rumah bu Rina untuk bekerja, setidaknya dari sini ia bisa mengumpulkan sedikit uang untuk berjaga-jaga apabila ada hal buruk terjadi dan juga agar dapurnya tetap mengebul.


"Selamat pagi bu Rina," sapa Martha ramah. 


"Pagi, Mar.. Udah datang rupanya, masuk," jawab Rina mengajak masuk lalu mereka berdua duduk dulu di belakang rumah. 


"Saya mau langsung bekerja saja bu agar menghemat waktu," ucap Martha. 


"Gak apa, sarapan dulu, pasti kamu kesini belum makan kan? Pekerjaan bisa kamu mulai setelah sarapan, aku gak mau kalau nanti disela bekerja kamu pingsan atau bahkan sakit," tegur bu Rina. 


"Kenapa anda baik sekali bu," jawab Martha berlinang air mata. 


"Sudah.. Semua manusia kan ada sisi baik dan buruknya, yuk sarapan," ajak bu Rina tak mau memperpanjang urusan. Setelah selesai sarapan, Martha baru diperbolehkan bekerja. 


Seperti biasa, Martha bekerja dengan cekatan, ia bisa menyambi beberapa pekerjaan dalam satu waktu, tujuannya satu, agar menghemat waktu dan bisa segera pulang. Ia juga penasaran bagaimana reaksi suaminya nanti ketika berhadapan dengan orang yang akan menagih hutangnya. 


Pukul 11 siang semua pekerjaan sudah selesai Martha kerjakan, tak lupa ia pamit kepada pemilik rumah. Upah pun langsung ia terima dengan perasaan bahagia dan bersyukur, andai semua orang seperti bu Rina, sudah pasti dunia akan damai. 


Diperjalanan pulang, Martha melihat motor penagih hutang sudah ada di depan rumahnya, berulang kali ia mengetuk pintu namun tak juga dibuka, padahal setau Martha ada suaminya didalam rumah. Nyatanya motor matic suaminya masih terparkir di sebelah rumahnya. 


Tak mau terjadi hal yang tidak diinginkan, Martha memutuskan menemui orang itu dan memanggil suaminya. Setidaknya suaminya harus bertanggung jawab, 


"Nah ini dia orangnya, dari mana saja? Berusaha kabur?" tuduh Joko sinis. 


"Saya bukan orang yang seperti itu," jawab Martha tegas. 


"Halah alasan aja! Mana uangnya?" tagih Joko. 


"Urusan anda dengan suami saya, sebentar saya panggilkan," jawab Martha berlalu masuk ke rumah dan memanggil Heru. 


Martha dibuat geleng-geleng kepala atas ulah suaminya itu yang tidak berani menemui Joko. Heru malah bersembunyi dikamar. 


"Mas.. Ngapain disini?" tanya Martha pura-pura tak tahu. 


"Ssstt.. Diam, jangan sebut namaku nanti Joko dengar," bisik Heru ketakutan. 


"Ohh namanya Joko," jawab Martha. 


"Bisa diam gak!" gertak Heru. 


"Temuin dong, berani hutang kok gak berani mempertanggungjawabkan perbuatan, sana pak, orangnya udah nunggu diluar daritadi," sindir Martha. 


"Siapa yang gak berani? Ngaco kamu ni," protes Heru kesal. 


"Kalau berani, sana temuin, aku gak mau berurusan dengan dia, lagian kemarin kamu bilang sendiri jangan ikut campur, yasudah sana urus sendiri," sindir Martha. 


"Cih.. Gak berguna!" cibir Heru.


Dengan terpaksa Heru menemui Joko dengan wajah cemas, uang untuk membayar bunga tidak ada bahkan memang saat ini dirinya tidak punya uang. 


"Hei lama sekali sih, ngapain didalam? Siapin duit? Mana uangnya, sini cepetan!" cecar Joko ketus. 


"Maaf, uangnya belum ada," jawab Heru lirih namun masih bisa didengar. 


"Apa kamu bilang? Gak ada? Haha mau main-main denganku rupanya!" tanya Joko mulai emosi. 


"Bukan begitu, bunganya terlalu banyak apalagi bayarnya per minggu, aku belum bisa mengumpulkan sebanyak itu," jawab Heru dengan wajah sedih. 


"Bukan urusanku! Sekarang duit yang ada berapa? Kasihkan dulu, cepetan!" tanya Joko dan Heru hanya menggeleng saja. 


"Apa maksud nya? Jangan bilang gak ada duit," tebak Joko dan Heru mengangguk. 


"Akan aku usahakan secepatnya melunasi hutang," jawab Joko lirih. 


"Bagus.. 1 minggu lagi harus lunas, kalau tidak maka rumah ini jadi jaminan!" ancam Joko lalu menaiki motor gedenya. 


Suara knalpot yang membikin bising telinga sudah tidak lagi terdengar, itu tandanya orang itu sudah pergi. 


"Aaarrgghhh…" teriak Joko mengobrak-abrik semua barang. 


"Mulai," ucap Martha malas. 


"Carikan aku uang 15 juta," pinta Heru. 


"Apa?? Memang uang segitu bisa dengan mudah didapat apa, mana jaman sekarang sedang susah, mikir!" protes Martha. 


"Mau bantu nyariin gak? Kalau gak mending diem aja!" bentak Heru. 


"Gak!" jawab Martha tegas dan berlalu ke dapur untuk memasak. 


Heru dibuat pusing dengan semua ini, ada rasa penyesalan dalam dirinya kenapa menghabiskan uang segitu banyaknya hanya untuk judi, andai waktu itu Heru mendengarkan permintaan istrinya, sudah pasti sekarang ini ia menikmati keuntungan. "Judi memang memabukkan namun sekaligus menyengsarakan! Penyesalan yang datang diakhir sepertinya percuma saja,"


Heru bergegas mengendarai sepeda motornya untuk mencari pinjaman, beberapa teman yang didatangi nya tidak mampu memberi pinjaman apalagi nominalnya segitu banyaknya. Ketika diujung jalan kampung, Heru merenung sejenak sambil berpikir kemana lagi ia harus mencari pinjaman?? Lalu Heru teringat ada lintah darat dikampung sebelah namun terkenal akan kekejamannya apabila telat membayar. Sebenarnya Heru merasa ragu, namun hanya ini satu-satunya jalan agar bisa terbebas dari Joko. 


Akhirnya Heru mencoba kesana, kebetulan rumah kondisi sepi jadi tidak ada siapapun yang tau jika Heru datang ke tempat ini. 


"Permisi…" ucap Heru sambil mengetuk pintu. 


"Siapa dan mau cari siapa?" tanya pembantu. 


"Saya Heru, rumahnya dikampung sebelah, mau mencari ibu, apakah ada dirumah?" tanya Heru dengan sopan dan lembut. 


"Oh ibu.. ada, sebentar saya panggilkan, duduk dulu mas," jawab pembantu lalu memanggil majikannya. 


"Ada apa?" tanya wanita setengah baya itu ketus. 


"Begini bu, maaf menganggu waktunya, apakah boleh saya meminjam uang?" tanya Heru hati-hati. 


"Kamu? Pinjam uang? Untuk apa?" tanya wanita yang bernama bu Nana itu ketus. 


"Iya bu saya mau meminjam uang untuk modal usaha laundry istri saya, apakah bisa??" jawab Heru berbohong. 


"Berapa? Jaminannya apa?" tanya bu Nana. 


"20 juta bu, jaminannya? Saya hanya ada motor yang saya pakai," jawab Heru memasang wajah sedih. 


"Saya rugi kalau gitu, gak bisa!" tolak Nana. 


"Tolong bu bantu saya," pinta Heru. 


"Saya tidak bodoh! Situ pinjam 20 juta tapi, jaminannya motor, iya kalau motor itu surat-suratnya komplit, kalau bodong? Bukannya untung malah buntung!" ucap bu Nana tegas dan ketus. 


"Kalau sertifikat rumah??" tanya Heru. 


"Boleh.. Bawa sini dulu biar saya cek asli atau tidaknya," jawab Nana melunak. 


"Baiklah bu akan saya bawa kesini, kalau tidak nanti ya besok," ucap Heru. 


"Terserah! Kan yang butuh uang situ," jawab Nana ketus lalu masuk ke rumahnya lagi. 


Sejujurnya di dalam hati Heru menyimpan rasa kesal pada wanita tua itu, udah tua bukannya tambah pahala malah menambah dosa. Apa susahnya coba kalau yang digadaikan itu motor? Untung aku masih butuh orang itu, kalau tidak, hmm sudah aku habisi!.