That's What I Feel, My Husband

That's What I Feel, My Husband
Kepergian Lukas (2)



Lukas memandangi istrinya yang berjalan semakin menjauh dari pandangannya tanpa sedikitpun hatinya tergerak untuk mengejar, dibalik itu ada air mata yang tak sengaja jatuh ke pipinya, dia adalah Novrida. Ia berusaha mencari keberadaan suaminya kesana kemari tapi ketika suaminya sudah ia temukan malah jawaban menyakitkan yang di dapatkan. 


Lagian kenapa Novrida mau-mau aja mencari suaminya yang sudah jelas tidak pernah perduli padanya, karena mamah mertuanya? Buat apa? Toh yang mertuanya tau kan suaminya itu dirinya. Malah justru mertua serta adik iparnya senang karena agak ada Novrida di hidup mereka. 


"Kenapa gue bodoh banget susah-susah cariin dia yang jelas-jelas memang sengaja kabur, susah payah nyari malah akhirnya gini, nyesek banget astaga," batin Novrida berlinang air mata. 


Karena hari semakin malam dan besok ada hari baru yang harus ia jalani, maka Novrida memutuskan untuk kembali ke rumah suaminya dan menjalankan peran sebaik mungkin. Urusan bagaimana tanggapan mamah dan adik iparnya biarkan di pikir nanti, yang penting tubuhnya sudah sangat lelah dan letih. 


***


Tiba di rumah, Novrida disambut oleh mertua dan adik iparnya, ia pikir mereka sudah tertidur pulas eh ternyata malah menunggu kedatangannya. 


"Gimana kak? Udah ketemu cewek udik itu dimana?" tanya Ivanka penasaran dan Novrida hanya menggeleng saja. Seketika raut wajah Ivanka berubah senang, begitu juga mertuanya. 


"Tuh kan udah mamah bilang kalau dia tuh memang ada maksud tersembunyi, kalau enggak ya ngapain dia tiba-tiba kabur, coba kamu cek saldo ATM dan perhiasan serta asetmu yang lain, siapa tau ada yang diambilnya," tegur Ina. 


"Mah.. Hari ini rasanya capek sekali, jangan menambah beban pikiran ya, please.. Aku mau istirahat dulu, selamat malam semuanya," ucap Novrida lesu dan langsung menuju kamar. 


Ina dan Ivanka saling berhadapan dengan tatapan bingung, tumben sekali kakaknya tidak marah-marah atau pun bersikap emosional. 


Tiba di kamar, Novrida bergegas bebersih dan tidur, ia tidak mau lagi memikirkan suami tak berperasaan macam Lukas. 


Disatu sisi ada seseorang yang sangat susah memejamkan mata, dia adalah Lukas, entah kenapa sulit sekali matanya terpejam, seperti ada sesuatu yang kurang dalam tidurnya. Ia sudah merubah posisi kesana kemari bahkan mencoba tidur di sofa pun tetap saja matanya tidak terpejam, ahh hal yang membuat Lukas pusing bukan main. 


"Apa karena gak ada Novrida ya? Selama ini aku selalu bisa tidur nyenyak kalau ada dia disampingku, ah tapi bisa saja waktu itu karena kebetulan badanku lagi capek-capek nya, gak.. pokoknya aku akan buktiin kalau aku bisa tidur sendiri," gumam Lukas mensugesti dirinya. 


Hingga subuh tiba, mata Lukas tak kunjung terpejam, kepalanya sudah sangat pusing sekali. Pukul 7 pagi dirinya baru bisa terpejam dan berharap rasa pusing di kepalanya bisa hilang. 


Novrida kebetulan hari ini bangun kesiangan dan cepat-cepat bersiap, Ina dan Ivanka sudah menunggu sedari tadi dimeja makan. 


"Kakak lama banget sih mah, jangan bilang belum bangun," tebak Ivanka. 


"Mungkin lagi bersiap, tunggu saja dulu," ucap Ina memberi pengertian. 


"Nanti terlambat mah," rengek Ivanka. 


"Yasudah kamu langsung berangkat sana dan gak usah sarapan," sindir Ina dan Ivanka hanya memanyunkan bibir. 


"Pagi semuanya, maaf terlambat soalnya bangun kesiangan," sapa Novrida lalu duduk. 


"Pagi.. Yuk sarapan," ajak Ina dan semuanya sarapan dalam diam. 


"Kak, pokoknya aku gak mau tau, kakak harus antarkan aku ke kampus," protes Ivanka. 


"Ya baiklah biar nanti supir kakak yang antarkan kamu," jawab Novrida santai. 


"Ish nyebelin," gerutu Ivanka. 


"Lagian mana aku tau dimana tempat kuliahmu Ivanka? Kalau nanti aku yang antar malah kamu curiga lagi," batin Novrida. 


Setelah selesai sarapan kini Novrida juga Ivanka bersiap untuk memulai aktivitas dan kebetulan hari ini Ina ada arisan dengan teman sosialitanya. 


"Hari ini ada acara arisan, jadi penampilanku harus oke dong, ke salon dulu ah mumpung masih jam segini," gumam Ina yang langsung menyuruh supirnya mengantarkan ke salon langganan. 


Tidak dengan Ina yang bisa me time dengan mudahnya, disini Novrida sangat kesulitan menjalani hari sebagai Lukas yang seorang CEO perusahaan besar juga berpengaruh di negri ini. Sampai sekarang pun masih ada beberapa kesalahan yang dibuat Novrida dan untungnya para karyawan serta sekretaris bisa memperbaiki dan menghandle dengan baik ya meskipun ada beberapa pihak yang merasa aneh dengan perubahan drastis sang bos. 


Tring.. Tring… tring.. Dering ponsel Novrida. 


"Lukas? Ngapain telfon, bikin males aja," batin Novrida yang sengaja tidak mengangkat panggilan suaminya itu. 


"Halo? Kenapa sih?" tanya Novrida kesal. 


"Are you okay?" tanya Lukas. 


"I'm bad, why?" tanya Novrida ketus. 


"I'm sorry.. Apa hari ini kamu sibuk?" tanya Lukas. 


"Sibuk sekali, udah ya aku mau matiin dulu," pamit Novrida yang dicegah Lukas. 


"No.. Jangan dong, aku belum selesai ngomong," rengek Lukas. 


"Buruan," ucap Novrida ketus. 


"Ok.. Ok.. Nanti setelah pulang kantor tolong mampir ke apartemen ya," pinta Lukas. 


"Ha? Mau apa?" tanya Novrida heran. 


"Ada lah nanti tau sendiri," ucap Lukas membuat Novrida penasaran dan seketika sambungan terputus. 


"Dasar aneh, di tanya kenapa malah gak dijawab, huh.." gumam Novrida kesal lalu kembali bekerja. 


Jam pulang kerja sudah tiba, kini Novrida bergegas ke apartemen suaminya menggunakan taksi online karena kebetulan hari ini supirnya izin karena kurang enak badan. 


Ting.. Tong.. Suara bel. 


"Akhirnya datang juga," sapa Lukas tersenyum lebar. 


"Jelaskan ada apa?" tanya Novrida to the point. 


"Masuk dulu sini," ajak Lukas menggandeng tangan Novrida lembut. 


"Kenapa?" tanya Novrida setelah duduk. 


"Gimana pekerjaanmu di kantor?" tanya Lukas penuh perhatian. 


"Kamu menyuruh aku kesini hanya untuk menanyakan itu? Astaga.. Nyebelin banget sih," protest Novrida. 


"Apa salahnya?" tanya Lukas heran. 


"Jelas salah.. Harusnya itu bisa kamu tanyakan lewat telepon, buat apa menyuruh aku kesini segala? Buang-buang waktu dan uangku saja," protes Novrida kesal. 


"Oke.. Oke aku mau mengatakan sesuatu padamu, tadi itu hanya basa-basi saja," jawab Lukas. 


"Cepetan," ucap Novrida tak sabar. 


"Aku mau nanti malam kami tidur disini, maukan?" pinta Lukas penuh harap. 


"APA??" pekik Novrida kaget bukan main. 


"Kenapa teriak seperti itu sih?" tanya Lukas heran. 


"Habisnya kamu aneh banget, ada angin apa kamu menyuruh aku menginap? Sedangkan tadi malam kamu mengusirku," sindir Novrida membuat Lukas malu. 


"Sepertinya aku gak bisa tidur tanpamu," ucap Lukas malu-malu dan Novrida membelalakan mata tak percaya. 


"Jangan terlalu percaya diri dulu, Nov.. Bisa saja dia hanya mengerjaimu, ingat, dia itu manusia tidak berperikemanusiaan," batin Novrida mensugesti dirinya sendiri sambil menggelengkan kepala.