
TWIFM EPISODE 40-GALI LUBANG TUTUP LUBANG
Sudah sebulan ini Heru sangat kebingungan untuk menutup hutangnya yang setiap hari semakin membengkak, semua ini bermula karena dia takut kalah saing dengan rivalnya di sebuah tempat judi, andai Heru kala itu bisa menekan gengsi dan egonya, sudah pasti tak akan ada hutangnya yang bertebaran disana sini. Karena otaknya sudah buntu mau mencari kemana lagi, Heru nekat mendatangi lintah darat yang terkenal sadis itu, semua karena terpaksa, 2 hari lagi adalah hari dimana Heru harus membayar hutangnya. Berbekal sertifikat tanah, Heru melajukan motor matic nya ke kampung sebelah.
Tok.. Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu.
"Cari siapa?" tanya pembantu ketus.
"Cari majikanmu, ada dirumah?" tanya Heru memastikan.
"Oh ada.. Tunggu diluar," jawab pembantu lalu menutup pintunya kembali sambil memanggil majikannya.
"Orang berduit gini banget, kedatangan tamu bukannya disuruh masuk malah suruh nunggu diluar, pintu pakai ditutup segala, takut kemalingan apa," gerutu Heru.
Tak butuh waktu lama, perempuan setengah baya dengan perhiasan yang sangat mencolok itu keluar dari singgah sananya untuk menemui Heru. Perhiasan yang sangat mencolok itu mencuri perhatian Heru, ingin sekali ia merampas semuanya untuk membayar hutang.
"Mau ngapain kesini lagi?" tanya lintah darat yang bernama Nana itu dengan raut wajahnya ketus.
"Saya jadi pengajuan pinjam bu, ini jaminannya," jawab Heru selembut mungkin agar Nana luluh.
"Saya cek dulu ini asli atau palsu," jawabnya sambil melihat sertifikat dengan jeli.
"Asli bu saya berani jamin," jawab Heru dengan mantap.
"Sepertinya iya, ini asli," gumam Nana yang membuat hati Heru kesal, mana mungkin ia memberikan jaminan berupa dokumen palsu? Dia tidak se kriminal itu.
"Berapa yang kamu butuhkan?" tanya Nana.
"Saya butuh 100 juta bu," jawab Heru.
"Apa?? Mana bisa? Disini saja luas rumahmu gak ada separuhnya rumah saya, enak-enakan mau pinjam segitu banyaknya, pinjam ke bank saja sana!" protes Nana.
"Tapi saya butuh uangnya cepat bu, tolong bantu saya," rengek Heru.
"Saya bisa bantu tapi gak segitu juga, ntar kamu malah menghilang yang repot kan saya nantinya," sindir Nana.
"Kalau 70 juta bu?" tawar Heru.
"Gak.. Saya gak mau ambil resiko, kalau mau 40-50 juta, itu saja saya sudah khawatir takutnya nanti kamu pergi!" jawab Nana dan Heru mulai menimbang, jika Nana hanya bisa meminjamkan segitu, uangnya nanti langsung habis untuk membayar Joko.
"Gak bisa ditambah bu? 5-10 juta," rengek Heru.
"Oke.. Terakhir ini ya, saya bisa meminjamkan maksimal 55 juta, mau ya saya ambilkan uangnya kalau gak mau terserah," ucap Nana dengan angkuhnya.
"Baiklah bu saya mau," jawab Heru cepat.
"Sebentar, saya ambilkan uang dan surat perjanjiannya," jawab Nana masuk ke rumah mewahnya.
Setidaknya kali ini Heru bisa sedikit lega karena hutangnya pada Joko akan segera lunas, tinggal memikirkan hutang yang lainnya. Andai Heru kepikiran dari dulu, sudah pasti hidupnya tidak akan montang-manting.
"Ini surat perjanjiannya dan tanda tangan diatas materai," ucap Nana menyerahkan map.
"Iya karena kamu meminjam uang dengan jumlah yang banyak, jadi perjanjian ini sebagai jaminan kedua kalau sewaktu-waktu kabur, dalam 3x telat membayar cicilan dan bunganya maka rumah mutlak menjadi milik saya, ingat itu," gertak Nana membuat nyali Heru ciut. Tadi dia baru saja bernafas lega tapi kenapa sekarang kepalanya mendadak pening lagi.
"Kok begitu peraturannya bu??" protes Heru.
"Suka-suka saya dong itu kan uang saya, jadi aturannya nanti bagaimana ya terserah saya, jangan membuang waktu, mau atau tidak?" gertak Nana lalu Heru mengangguk dengan cepat dan menandatangani perjanjian itu.
"Bagus.. Ini uangnya, silahkan dihitung," ucap Nana menyerahkan amplop coklat besar berisi uang.
"Saya percaya dengan anda, makasih sudah bersedia meminjamkan bu," jawab Heru dengan senyum merekah.
"Ingat, jangan sampai telat 3x atau rumahmu saya hak milik! Bunganya juga jangan lupa, 5.500.000 per bulan ditambah bunganya 550.000," ucap Nana memperingati, Heru hanya bisa meneguk ludahnya dan diam seribu bahasa. Angsuran sebesar itu darimana dia mendapatkan uang? Sedangkan akhir-akhir ini saja dia gak bekerja.
"Kenapa diam saja? Sanggup gak?" gertak Nana.
"Baik bu, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Heru lalu meletakkan uangnya di dalam jok motor, takutnya kalau ia bawa dengan tangan kosong akan memicu tindakan kriminal di perjalanan nanti.
Dalam perjalanan, Heru hanya diam saja dan memikirkan akankah semuanya selesai dengan baik? Apakah dirinya mampu melewati semua ini?? Uang pemberian suami Novrida saja dalam waktu 3 bulan sudah raib tak tersisa apalagi hanya segini? Ia harus mengatur uang ini sebaik mungkin. Hutang di Joko tinggal 25 juta beserta bunganya, sebelum pulang ke rumah, Heru mampir dulu ke tempat Joko untuk melunasi hutang.
"Loh.. Ini belum waktunya bayar kenapa kesini?" tanya Joko heran.
"Aku mau melunasi hutangku," jawab Heru membuat Joko tertawa mengejek.
"Mau apa? Melunasi? Hahaha dapat duit darimana?" ejek Joko lalu Heru melempar segepok uang ke meja dan Joko langsung terdiam.
"Wow.. Ini pasti duit hasil merampas menantumu itu kan?" ucap Joko namun Heru tak menjawab, baginya urusan dia dengan Joko selesai hari ini juga.
"Semua sudah lunas bukan? 25 juta rupiah beserta bunganya, urusan kita sudah selesai ya," ucap Heru memberikan uang pada Joko.
"Baik.. Semua clear, senang berbisnis dengan anda pak Heru, kalau lagi penat mainlah kesini," jawab Joko merayu.
"Bisa diatur, kalau begitu saya balik dulu," pamit Heru menyalakan motor matic nya.
Perjalanan yang baginya terasa melelahkan ini membuat Heru sampai dirumah dengan wajah lemas. "Darimana saja pak? Ibu pusing setiap hari didatangi penagih hutang, inisiatif dong pak, kerja kek," keluh Martha.
"Besok bapak lunasi satu persatu," jawab Heru dengan muka malas.
"Duit darimana pak? Jangan bilang habis ngutang lagi, jangan membuat semuanya tambah berat pak! Kerja kagak tapi ngutang mulu, siapa yang mau ngangsur?" keluh Martha sudah kesal.
"Gak perlu tau, yang penting besok penagih itu tak akan datang lagi kesini, buatkan bapak kopi," perintah Heru.
"Gak ada duit buat beli kopi dan gula, semua habis, beras juga habis," ucap Martha berlalu ke kamar, Heru mengikuti lalu memberikan 5 lembar merah ke istrinya.
"Belanjalah apa saja yang habis," ucap Heru menyerahkan lembaran uang.
"Bapak dapat duit darimana? Jelaskan!" tanya Martha penasaran.
"Gak perlu tau, yang pasti bukan maling, sana buatkan bapak kopi, jangan durhaka jadi istri," ucap Heru ketus lalu Martha berjalan ke warung depan rumahnya.
Dalam perjalanan Martha merasa penasaran darimana suaminya mendapat uang sebanyak ini? Belum lagi besok penagih hutang akan dilunasi olehnya. Kalau meminjam pun dengan siapa? Gak mungkin dengan Joko karena hutangnya saja belum lunas.