
Proses pemindahan rawat inap ibunya Novrida berjalan dengan cepat juga lancar, di rumah sakit ini setidaknya ibunya akan mendapat perawatan yang lebih baik lagi dan bisa segera sembuh, tidak ada yang tidak mungkin selagi kita terus berusaha bukan? Itulah pedoman yang menjadi motivasi Novrida saat ini.
"Nov.. Berarti kita disini cukup lama?" tanya Lukas memastikan.
"Sepertinya begitu, mana bisa aku membiarkan ibu sendirian lagi apalagi kondisinya seperti ini," jawab Novrida.
"Lalu bagaimana dengan perusahaan?" tanya Lukas membuat Novrida marah.
"Jika di pikiranmu hanya perusahaan dan uang, lebih baik kamu pulang saja, tak usah temani aku disini, aku bisa merawat ibuku dengan baik," sindir Novrida seperti tamparan bagi Lukas.
"Bukan begitu maksudku, kehidupan terus berjalan, jika kita berdua sama-sama disini dalam waktu lama maka perusahaan akan porak poranda karena tak ada pemimpin, dapat uang darimana nantinya kalau perusahaan kacau balau? Siapa yang membiayai perawatan ibumu nantinya?" jawab Lukas berpikir logis.
Mendengar penjelasan Lukas membuat Novrida berpikir jika ada benarnya apa yang dikatakan oleh Lukas, kalau perusahaan gak berkembang nanti siapa yang membiayai perawatan ibunya sedangkan dirinya saja tidak bekerja. Apa iya mulai sekarang dirinya harus mencari pekerjaan, sama saja dengan meninggalkan ibunya sendirian dirumah sakit, tak ada bedanya jika ia tinggal dirumah suaminya.
"Tujuanku datang kesini untuk berobat malah mendapat kejadian seperti ini, apa ini pertanda jika jiwaku dengan Lukas mustahil untuk kembali?" batin Novrida melamun, raut kesedihan terpancar di wajahnya.
Ibunya yang melihat anaknya bersedih membuat hatinya semakin sedih, mana ada ibu yang tega melihat anaknya seperti ini? Kepulangan yang seharusnya disambut dengan kebahagiaan malah yang diterima Novrida adalah kepedihan.
"Maafkan ibumu ini ya Novrida, dari masa mudamu sampai sekarang sudah menikah ibumu ini hanya bisa merepotkanmu saja, maafkan ibu nak semoga dengan kedatangamu bisa membuat ibu cepat sembuh, ibu janji akan semangat untuk sembuh agar kamu bisa tersenyum," batin Martha berlinang air mata.
Melihat ibunya menangis membuat Novrida segera mengusap air mata dan memegang tangan ibunya dengan lembut.
"Bu.. Kenapa ibu menangis? Apa yang membuat ibu sedih?? Karena Novrida baru bisa kesini sekarang ya bu? Maafin Novrida ya bu karena Novrida memang tidak tau sama sekali jika ibu sakit dan bapak hilang entah kemana," ucap Novrida sesekali mencium tangan ibunya.
Tak ada tanggapan dari ibunya membuat Novrida semakin sedih hingga ia tak bisa lagi menahan air mata untuk jatuh ke pipi.
Novrida ingin sekali ibunya segera sembuh dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, meskipun temannya sudah menjelaskan tapi bagi Novrida terasa kurang karena yang benar-benar tau permasalahan hanyalah kedua orang tuanya.
Pertama kali dirawat di rumah sakit membuat Novrida cukup kewalahan karena beberapa kali ibunya buang air, kebetulan ibunya tidak memakai popok dewasa jadi membuat tempat tidur ibunya basah semua bahkan baunya sangat pesing, Novrida tidak mual ataupun jijik ketika tau ibunya buang air secara sembarangan, baginya ini hal yang lumrah terjadi karena kondisi ibunya yang masih sakit bahkan untuk bergerak pun susah. Novrida juga berpikir jika merawat ibunya hingga sembuh bisa menjadi penebus dosa baginya.
Melihat istrinya dengan telaten merawat ibunya membuat Lukas berdecak kagum, sisi kebaikan demi kebaikan diperlihatkan oleh Novrida pada momen-momen yang tidak sengaja. Setidaknya hati Lukas terasa tenang dan damai karena bisa mengantarkan istrinya bertemu dengan orang tuanya meskipun dalam kondisi seperti ini.
"Maafkan aku yang baru-baru ini banyak tau sisi kebaikanmu Nov," batin Lukas menyesal.
Ketika sedang asyik mengamati istrinya merawat ibunya, ada panggilan masuk dari papanya, tak butuh waktu lama kini Lukas sudah menerima panggilan itu.
"Halo pah?" ucap Lukas mengawali pembicaraan.
"Halo.. Kamu kemana sih? Main pergi gitu aja, perusahaan juga diurus dong," tanya Luis penasaran juga kesal karena putranya main pergi aja dan menyuruh sekretaris handle semua urusan kantor.
"Aku lagi diluar kota pah dan memang aku sudah ajukan cuti kok," jawab Lukas.
"Luar kota? Ngapain sampai ke luar kota? Sama siapa?" cecar Luis Smith.
"Sama Novrida, jenguk orang tuanya," jawab Lukas kesal.
"Kenapa mendadak?" tanya Luis curiga.
"Perasaan Novrida gak enak dan meminta segera pulang, daripada dia pulang sendirian mending aku antar pah," ucap Lukas masih membuat Luis penasaran.
"Ya benar feelingnya kalau orang tuanya sedang tidak baik-baik saja bahkan ibunya mengalami stroke," ucap Lukas.
"Astaga.. Yang benar saja kamu," ucap Luis kaget.
"Buat apa bohong soal beginian sih pah," jawab Lukas kesal.
"Yasudah nanti kalau ada waktu senggang papah menyusul, gak enak kalau gak menjenguk," jawab Luis.
"Ya pah.. Titip perusahaan ya pah, gak mungkin Lukas tinggalin Novrida sendirian," pinta Lukas.
"Baiklah.. Fokuslah dengan kesembuhan mertuamu," jawab Luis lalu memutus panggilan.
Tanpa disadari oleh Lukas daritadi Novrida sudah berada di belakangnya sambil mendengarkan apa yang dibicarakan oleh suaminya.
"Sudah selesai telponnya?" tanya Novrida mengejutkan Lukas.
"Eh.. Kamu ini bikin kaget aja, udah.. Tadi papah yang telepon," jawab Lukas.
"Kenapa? Disuruh kerja kan? Sana," tebak Novrida sinis.
"Awalnya begitu tapi setelah tau alasannya papah gak jadi marah, nanti kalau ada waktu senggang papah mau mampir kesini jenguk ibumu," jawab Lukas membuat Novrida kaget.
"Ha?? Mau jenguk ibu? Gak usah.. Jangan repot-repot," tolak Novrida.
"Kenapa sih?" tanya Lukas heran.
"Ya gakpapa, gak usah jenguk kesini," tolak Novrida.
"Terserah.. Kamu lapar gak? Mau pesan makan apa??" tanya Lukas mengalah dengan mengalihkan topik pembicaraan.
"Lumayan sih.. Emang kamu tau daerah sini?" tanya Novrida.
"Enggak sih," jawab Lukas menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalau kamu yang beli makan yang ada malah tersesat," ejek Novrida.
"Eh jangan mengejek dulu ya lagian sekarang kan ada pesen makanan online jadi lebih praktis dan mudah kan?" jawab Lukas membela diri.
"Alasan," gerutu Novrida.
Lalu Novrida berjalan menuju pintu keluar rumah sakit untuk membeli makan dan menitipkan ibunya kepada Lukas. Dengan senang hati Lukas menemani ibunya Novrida yang kebetulan sedang bangun.
"Halo bu, gimana keadaannya? Lebih membaik?" sapa Lukas ramah dengan senyum menawannya.
Respon yang diberikan ibunya Novrida hanyalah sebuah kedipan mata yang menandakan jika dirinya dalam kondisi baik dan semakin membaik, Lukas yang mengerti akan kode itu membalas dengan senyum menawannya dan rasa syukur.
Hai readers,, do'ain semoga ibunya Novrida segera sembuh ya agar episode TWIFM bisa segera ke babak-babak selanjutnya, jangan lupa selalu tinggalkan jejak dengan like, komen dan vote ya hehe… thx u