That's What I Feel, My Husband

That's What I Feel, My Husband
Pulang Kampung



Perdebatan yang cukup alot membuat keduanya tak ada yang mau mengalah hingga akhirnya Novrida membangkang dari suaminya untuk tetap pergi ke rumah orang tuanya, disana ia yakin bisa sembuh. 


Teman yang sedari tadi ia hubungi akhirnya memberi kabar via telepon. 


"Hai Novrida, apa kabarmu? Tumben nelpon," sapa temannya yang bernama Fira. 


"Hai Fir, kabarku baik, gimana denganmu?" tanya balik Novrida. 


"Kabar baik juga, maaf tadi ponselku kehabisan baterai jadi aku charge deh, ada apa nih?" tanya Fira penasaran. 


"Rencana besok aku mau pulang, tolong kabari ibu dan bapak ya Fir, mereka susah banget dihubungi," pinta Novrida. 


"Oh itu.. I..iya deh ntar aku sampaikan ke mereka," jawab Fira seperti menutupi sesuatu. 


"Kenapa jawabanmu kayak gitu Fir? Orang tuaku sehat kan?" tanya Novrida khawatir. 


"Eh itu.. Iya kok sehat, mereka sehat," jawab Fira terbata. 


Merasa ada yang tak beres dengan jawaban temannya membuat Novrida ingin segera kesana dan melihat semuanya sendiri. Panggilan pun akhirnya terputus setelah mereka saling mengobrol ringan dan melupakan sejenak apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua orang tuanya. 


Menunggu pagi adalah hal yang membosankan baginya, pikirannya sungguh kacau dan hatinya mendadak gelisah, berulang kali ia mencoba memejamkan mata namun tak bisa-bisa. 


Goncangan demi goncangan dikasur empuk membuat pemiliknya merasa terganggu dan terpaksa bangun. 


"Kamu ngapain sih Nov? Ganggu tau gak," protes Lukas dengan suara setengah serak. 


"Aku gak bisa tidur, maaf menganggu," jawab Novrida lemah dan beranjak dari tempat tidur mereka. Novrida memilih duduk di sofa yang ada dikamar sambil melihat pemandangan malam. 


Merasa ada yang sedang di pikirkan oleh istrinya membuat Lukas mau gak mau harus mencari tahu, dengan wajah bantal dan mata yang belum sempurna terbuka membuat Lukas terpaksa berjalan menghampiri istrinya. 


"Ada apa denganmu? Apa yang sedang kamu pikirkan??" tanya Lukas lembut. 


"Aku juga gak tau, tiba-tiba rasanya gelisah dan ingin segera hari berganti," jawab Novrida resah. 


"Tak ada asap kalau tak ada api, bicaralah ada apa?" desak Lukas penasaran. 


"Tadi temanku menelpon, namanya Fira," jawab Novrida lirih. 


"Lalu?" tanya Lukas penasaran. 


"Aku bilang padanya jika besok mau pulang dan meminta tolong untuk memberitahu ini pada orang tuaku, tiba-tiba saja dia menjawab sedikit gugup, ketika aku tanya ada apa dengan mereka tapi temanku kekeh tidak mau menjawab," jawab Novrida sedih dan memandang lurus tanpa menoleh ke suaminya. 


"Kamu yakin besok tetap akan pulang?" tanya Lukas memastikan dan Novrida mengangguk cepat. 


"Berarti aku juga ikut," jawab Lukas. 


"Kenapa harus ikut? Kerjaanmu banyak," tanya Novrida kaget. 


"Kamu lupa apa gimana? Kita ini posisinya masih tertukar, kalau hanya kamu yang pulang, orang tuamu malah heran dong, kok suaminya yang kesini bukan anaknya," jelas Lukas. 


"Maaf aku lupa akan itu, aku terlalu panik," jawab Novrida kembali sedih. 


Melihat istrinya terus sedih dan wajahnya murung membuat Lukas tak tega, ingin sekali menghibur istrinya tapi dia sendiri bingung dengan cara apa, Lukas bukanlah tipe pria yang romantis dan peka terhadap pasangan. Akhirnya ia memilih menemani istrinya dengan duduk bersama di sofa sambil sesekali mencuri pandang, ya baginya ini jauh lebih baik daripada banyak bertanya. 


Pagi hari telah tiba, hari yang sudah ditunggu oleh Novrida akhirnya datang juga. Pakaian yang sudah dikemasi dari malam pun sudah siap didalam mobil, tinggal menata pakaian suaminya yang tiba-tiba ingin ikut. Dipikir lagi oleh Novrida memang ada benarnya sih Lukas ikut, karena sekarang ini mereka sedang berada dimasa harus menjalani peran dengan baik. Novrida jadi Lukas sedangkan Lukas menjadi Novrida. 


Perjalanan yang sangat panjang dan memakan waktu yang lama membuat keduanya jenuh dan sesekali Novrida mengantuk. Hingga akhirnya tibalah mereka dirumah orang tua Novrida. 


Pemandangan yang pertama dilihatnya ialah sebuah rumah yang sudah setengah roboh dan tak ada penghuninya. Novrida sangat kebingungan dan segera mencari keberadaan orang tuanya, beruntung ada salah satu tetangganya yang lewat, tak banyak basa-basi, Novrida langsung menanyakan keberadaan orang tuanya dan apa yang sudah terjadi. 


Bak di sambar petir di siang bolong, jawaban dari tetangganya tentang orang tua Novrida membuat dirinya langsung lemas dan berlinang air mata. 


Lukas pun yang mendengar secara langsung juga ikut kaget bukan main. Rasanya ini seperti mimpi, tak hentinya Lukas mengelus pundak istrinya dengan lembut sebagi bentuk agar istrinya lebih tenang. 


Novrida merasa marah pada temannya, mengapa temannya itu tidak mengatakan langsung apa yang terjadi dengan orang tuanya, mengapa temannya memilih diam dan seolah-olah mengatakan jika orang tuanya baik-baik saja. Sebenarnya Fira itu tau pasti atau tidak dengan kondisi orang tuanya? Akhirnya ia langsung bertandang ke rumah temannya, Fira untuk meminta penjelasan. Bagi Novrida temannya itu berhutang penjelasan padanya. 


Melihat istrinya berjalan dengan langkah cepat dan terkesan terburu-buru membuat Lukas keheranan, mau kemana kah dia? 


Sebenarnya Lukas sudah sangat capek akibat perjalanan jauh ini namun melihat istrinya seperti ingin menemui seseorang membuat Lukas membuntuti Novrida agar rasa penasarannya hilang. 


"Mau kemana sih?" tanya Lukas mensejajarkan langkah Novrida. 


"Ngapain ikut?" tanya Novrida ketus. 


"Ya jelas lah, ini kampungmu, kalau kamu pergi dengan tergesa-gesa begitu, lalu aku harus kemana? Harus menemui siapa?" tanya Lukas. 


"Kamu bisa tunggu dimobil," jawab Novrida terus melangkahkan kaki dengan cepat. 


"Aneh.." gumam Lukas masih mengikuti istrinya. 


Sesampainya di rumah Fira, perasaan Novrida semakin berdegup kencang dan rasanya ia sudah tidak sabar ingin menanyakan semua ini. 


"Fir.. Fira.." panggil Novrida sembari mengetuk pintu cukup keras. 


"Yang sopan kalau bertamu," tegur Lukas setengah berbisik. 


"Bodoh amat!" bantah Novrida terus mengetuk pintu. 


Akhirnya sang pemilik rumah membukakan pintu juga, Novrida yang sedang memasang wajah garang membuat nyali Fira seketika ciut. 


"Hai Nov.. Maaf bukain pintu lama, aku sedang dibelakang," sapa Fira ramah. 


"Yang penting udah dibukain, kamu hutang penjelasan denganku, Fir!" ucap Novrida to the poin. 


"Hutang penjelasan soal apa?" tanya Fira. 


"Tentang orang tuaku, mengapa kamu tidak mengatakan langsung lewat telepon? Kenapa Fir? Kenapa??" cecar Novrida. 


"Nov, tolong kendalikan emosimu, kita sedang bertamu, jaga sopan santun," tegur Lukas menahan malu. 


"Kamu tau apa tentang sopan santun dan tata cara menjaga emosi? Yang sepantasnya kamu beritahu seperti itu adik dan mamah kamu, bukan aku!" bantah Novrida. 


"Astaga.. Ini anak bandel banget ya," gumam Lukas. 


"Sudah.. Memang ini salahku kok, aku tidak mau kamu kepikiran Nov, makanya ketika kamu bilang mau pulang, aku ingin kamu melihatnya sendiri, memangnya kalau aku beritahu lewat telepon dan mengatakan yang sebenarnya, kamu gak akan kesini? Kamu malu?" tanya balik Fira dengan wajah bersalah.