System: Parallel World

System: Parallel World
Chapter 9: System diaktifkan



Setelah meninggalkan UKS, Riyan mengikuti Kamila. Mereka berjalan sekitar sepuluh menit sampai mereka tiba di sebuah bangunan besar.


"Ini adalah pusat pelatihan. Di sinilah siswa akademi bisa berlatih sihir dan keahlian lainnya," ucap Kamila yang menjelaskan fungsi bangunan besar, seperti stadion sepakbola di hadapan mereka berdua.


Di dunianya Riyan, pusat pelatihan itu adalah sebuah gedung serbaguna.


Mereka memasuki bangunan itu sesaat setelah Kamila selesai bercakap. Begitu masuk, Kamila membawa Riyan ke sebuah ruangan pribadi. Interior ruangan itu terbuat dari baja, dan luasnya persis dengan ruang kelas yang ada di akademi.


"Latihan seperti apa yang akan aku lakukan?" tanya Riyan sambil melihat-lihat ruangan tersebut.


"Masih bertanya? Huh, tentu saja Untuk menjaga penyamaranmu, kamu harus belajar bagaimana caranya menggunakan pedang, sama seperti Riyan asli," ucap Kamila seraya menutup ruangan tersebut, tak lupa juga untuk menguncinya.


Riyan pun berduaan dengan Kamila di ruangan cukup luas itu, tidak ada keberadaan benda lain. Ruangan kosong.


"Aku tak melihat pedang di dalam sini," ucap Riyan garuk-garuk kepala saat ia memandang sekitarnya.


"Di sini."


Riyan berbalik, melihat Kamila yang mendadak sudah memegang pedang di tangannya. Pemuda itu sontak melebarkan matanya.


"Apa? Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Riyan yang menunjuk pedang yang dibawa oleh Kamila.


Kamila membalikkan telapak tangannya dan berkata, "Spatial magic."


Riyan kemudian melihat Kamila memasukkan pedang tersebut ke sebuah lubang kecil yang tiba-tiba muncul di atas telapak tangannya.


Pedang itu menghilang ke dalam lubang tersebut.


"Dengan spatial magic ini, aku bisa membuka sebuah ruang dimensi dan menyimpan benda-benda mati ke dalamnya yang hanya bisa diakses olehku," terang Kamila seraya mengambil lagi pedangnya dari penyimpanan dimensi itu.


"Itu sungguh menakjubkan!" ucap Riyan yang matanya berbinar-binar. Maklum, ia tidak pernah melihat sihir.


Apa yang ia saksikan sekarang tampak seperti ini adalah sebuah novel fantasi atau film.


"Alih-alih belajar ilmu pedang, bagaimana jika aku belajar sihir saja?! Thaya adalah penyihir, bukan? Akan masuk akal jika aku melawannya dengan sihir, bukan pedang!" ucap Riyan memberikan usul, Kamila hanya geleng-geleng kepala.


Kamila mengerutkan kening "Apakah kamu sudah lupa? Riyan asli tak bisa menggunakan sihir! Jika kamu tiba-tiba bisa menggunakan sihir, semua orang akan menjadi curiga terhadap identitasmu. Dan kita bahkan tidak tahu apakah kamu bisa menggunakan sihir atau tidak."


Riyan menghela napas, "Aku ingat dengan baik, tapi aku benar-benar ingin mencoba menggunakan sihir, itu saja." Ia memasang wajah memelas.


Kamila mencoba untuk tak luluh pada sikap kekanak-kanakan yang ditunjukkan oleh Riyan. Yah, jika itu adalah Riyan asli yang ia kenal ... mustahil ia akan bersikap begitu.


Kamila akhirnya menyerah.


"Jika kamu bisa mencapai tingkat tertentu pada ilmu pedang secara tepat waktu, aku akan mengajarkan cara menggunakan sihir." bujuk Kamila memberikan penawaran.


Tentu saja, tujuan asli Kamila adalah untuk memotivasi Riyan agar mau belajar ilmu pedang.


"Ini adalah sebuah janji! Jadi, aku harus mencapai tingkatan apa, pada ilmu pedang, dan berapa lama waktu yang aku punya?!" Riyan segera bertanya.


"Kamu tak perlu tahu, aku akan memberi tahumu saat kamu telah mencapai tingkatan itu ... jika kamu bahkan bisa mencapainya."


"Baiklah, setuju. Aku memegang kata-katamu, kak Kamila!"


"Aku pasti menepati janji."


Kamila lalu menyerahkan pedang besi itu pada Riyan, "Kita akan mulai dengan dasar-dasarnya. Ayunkan pedangnya lurus di depanmu beberapa kali."


Riyan meraih pedang yang beratnya sekitar 2 kg itu dan segera mulai mengayunkannya dengan semua tenaga yang ia punya.


Meski Kamila melihat banyak kesalahan yang dilakukan Riyan tentang teknik mengayunnya , Kamila tidak menghentikan Riyan sampai ia mengayunkan pedang tersebut selusin kali.


"Baiklah, kamu bisa berhenti sekarang."


"Sial, itu melelahkan ..." Riyan terengah-engah sesudahnya.


"Aku tak terkejut, karena kamu mengayunkan pedang dengan mengerahkan semua tenagamu," ucap Kamila..


Dan ia terus melanjutkan, "Kamu terlalu banyak menggunakan kekuatan. Kamu memakai pedang, bukan objek tumpul. Hal yang paling penting saat berhubungan dengan pedang adalah kecepatan dan ketepatan."


"Biarkan aku mencontohkannya padamu." Kamila mengeluarkan pedang lain dengan spatial magic dan kemudian mulai mengayunkan pedang tersebut.


"Wow ... hebat!" Riyan benar-benar kagum dengan setiap gerakan yang dilakukan Kamila, terlihat anggun.


Masing-masing ayunan pedangnya terasa ringan, dan ia bisa merasakan ketajaman bilahnya meski ia jauh dari sana. Selanjutnya, gerakannya terasa alami seperti air yang mengalir.


Tidak ada gerakan sia-sia, dan sepertinya ia melakukannya tanpa kesulitan.


"Bisakah kamu melihat perbedaan antara ayunan pedangku dan dengan dirimu?" tanya Kamila setelah selesai memberikan contoh.


"Ya, ayunan pedangmu terasa ringan seperti air mengalir, sementara aku terasa berat. Gerakanmu cepat dan tangkas, sedangkan aku kaku dan canggung."


Kamila menyipitkan matanya pada Riyan, dan ia berpikir sendiri, 'jika dia bisa melihat perbedaannya dengan begitu cepat, dia pasti tidak cepat putus asa. Sebenarnya dia punya mata yang tajam.'


"Sangat bagus, karena kamu tahu kesalahannya. Jadi, silakan perbaiki. Aku tak akan menghentikanmu kali ini, jadi teruskan mengayunkan pedang sampai kamu puas," ucap Kamila yang bergerak ke pinggir ruangan.


Riyan menganggukkan kepalanya, dan tanpa mengajukan pertanyaan lagi, ia mulai mengayunkan pedangnya kembali.


Kali ini, ia tidak memasukkan semua kekuatannya ke dalam ayunan tersebut, dan ia mencoba meniru gerakan Kamila,


Beberapa menit kemudian, Kamila berkata, "Jangan hanya menyalin gerakanku. Kamu perlu memahami alasan di balik gerakan itu terlebih dahulu, atau kamu tak akan pernah benar-benar memperbaikinya.


Kencangkan peganganmu di gagang pedangnya dan jangan cuma menggunakan bahumu untuk mengayunkan pedang. Gunakan seluruh lengan dan tubuhmu juga. Kamu bisa mengayunkan pedang lebih lama dan menghabiskan lebih sedikit tenaga."


"Ya!" Riyan mendengarkan sarannya dan menyesuaikan gerakannya sesuai dengan arahan Kamila.


Setengah jam kemudian.


'Orang ini ... dia seseorang yang belajar dengan cepat. Cara dia mengayunkan pedang sekarang sangat membaik dibanding sebelumnya. Pada tingkat ini, dia mungkin benar-benar melampaui harapanku ... ' batin Kamila sedikit melirik Riyan.


'Atau dia hanya berpura-pura menjadi seorang pemula untuk menurunkan kewaspadaanku. Siapa kamu, mungkinkah terori dunia paralel itu sungguhan? Dan dari mana asalnya?'


Semakin dipikirkan, semakin membuat pening.


Meskipun Kamila adalah orang yang mengatakan kepada Riyan bahwa dirinya berasal dari dunia paralel. Namun, Kamila sama sekali tak mempercayai teori semacam itu.


Sebenarnya, Kamila menduga bahwa Riyan diciptakan oleh semacam sihir terlarang untuk alasan tertentu. Namun, untuk menyelidiki asal-usul sejatinya, tanpa membuatnya curiga, Kamila memutuskan untuk memberinya kisah omong kosong dari dunia paralel.


Bagaimanapun, terlalu banyak kebetulan untuk Riyan, yang secara misterius meninggal tanpa mayatnya bisa ditemukan, tiba-tiba kembali seperti tidak ada yang terjadi.


'Sampai aku bisa menemukan latar belakangmu yang sesungguhnya, aku harus menjagamu di sisiku ... itu akan menjadi besar jika kamu benar-benar Riyan asli, bahkan jika kamu dari dunia lain ...' Kamila menghela napas dalam hati.


Pelatihan berlangsung selama dua jam sampai Riyan tidak bisa lagi menggerakkan tubuhnya.


"S-segini saja! Aku sudah selesai! Aku tak bisa mengangkat lenganku lagi!" Riyan roboh di lantai dengan tubuhnya yang direndam keringat.


"Dua jam? Kamu tak terlalu atletis rupanya ..." Kamila menatap tubuh Riyan.


"Apa?! Bagaimana aku tak atletis? Aku telah mengayunkan pedang besi itu tanpa istirahat selama dua jam! Aku bahkan sangat sering berlatih karena aku sering melawan balik para pem-bully di duniaku!" Riyan berseru, merasa sedikit tersinggung dengan kata-kata Kamila.


Selain keterampilan akademisnya, ada satu hal lain yang sangat Riyan banggakan——dan itu adalah tubuh yang kuat, yang telah dilatih dan disempurnakan sehingga ia bisa melawan para pem-bully.


"Staminamu mungkin mengesankan di duniamu, tapi di sini, itu hanya di bawah rata-rata," ucap Kamila.


Dan ia terus melanjutkan, "Bagaimanapun, karena latihan ini berakhir lebih awal dari yang aku harapkan, dan kemajuanmu melampaui harapanku, aku kira dapat mengajarimu sedikit——"


"Sihir ?!" Riyan tiba-tiba bangkit dengan girang.


"..."


Kamila menatapnya dengan mata yang menyipit. "Apakah kamu benar-benar lelah?"


"Tentu saja! Tapi aku tak akan melewatkan kesempatan untuk belajar sihir bahkan jika semua tulang di tubuhku hancur!" ucap Riyan percaya diri.


"Apapun itu, tapi sebelum kita mulai, aku perlu melihat apakah kamu memiliki Magic Talent dan jika ada kemampuan spesifik yang kamu miliki. Dengan cara ini aku akan tahu bagaimana cara melatihmu dengan benar."


Kamila mengambil bola kristal berwarna bening, yang sedikit lebih besar daripada bola kasti dengan spatial magic dan memberikannya pada Riyan.


"Genggam kristal itu!" titah Kamila.


Riyan mengangguk dan memegang bola kristal tersebut dengan tangan kanannya.


Kamila lalu menempelkan telapak tangannya ke dadanya dan memejamkan mata.


Saat berikutnya, Riyan bisa melihat sesuatu yang muncul dari dalam bola kristal.


Ini muncul sebagai titik hitam kecil di tengah bola kristal pada awalnya, tapi titik tersebut mulai membesar sampai seluruh bola kristal berubah warna menjadi hitam. Mata Kamila melebar dengan terkejut setelah melihat hasilnya.


"Apa artinya ini? Tak terlihat bagus ..." tanya Riyan mengerutkan keningnya.


Namun, Kamila tertegun sebentar.


"Kamu memiliki afinitas sihir untuk sihir kegelapan dan itu cukup kuat," Kamila menanggapi beberapa saat kemudian.


"Sihir kegelapan? Itu terdengar sangat tidak bagus ..."


"Banyak orang akan setuju denganmu sejak sihir kegelapan berhubungan dengan para Vampire."


Riyan menelan ludahnya dengan gugup, "A-apakah itu berarti aku sebenarnya adalah Vampire?!"


"Tidak, manusia juga bisa menggunakan sihir kegelapan, tapi sangat langka untuk manusia yang memilikinya. Karena hal ini, orang-orang memanggil pengguna sihir kegelapan sebagai 'Cursed'."


"Oh, sialan! Jika orang-orang tahu bahwa aku bisa menggunakan sihir kegelapan, aku pasti akan dikucilkan untuk sisa hidupku di sini!" rengek Riyan.


"Itu tidak benar, apa yang sebenarnya penting di dunia ini adalah kekuatanmu, bukan afinitas sihirmu. Selama kamu cukup kuat, tak akan ada yang akan berani menganggumu.


Sebenarnya, ada penyihir di akademi ini yang juga memiliki afinitas sihir untuk sihir kegelapan, dan tidak ada yang berani mengusiknya."


"Dan dilihat dari hasilnya, Magic Talent yang kamu miliki setidaknya berada kisaran A-Rank. Hmm ... aku butuh perlengkapan lain untuk memastikan tingkatan sebenarnya dari Magic Talent-mu. Terlebih kamu bisa menjadi bagian dari Elite Class apabila informasi ini tersebar.


"Seolah-olah aku bisa melakukan hal seperti itu!" ucap Riyan menghela nafas. Percuma memiliki bakat yang hebat jika tak bisa diperlihatkan pada orang lain. Bakat yang dipendam untuk diri sendiri itu tak berguna


"Jadi apa yang ingin kamu lakukan? Apakah kamu ingin belajar sihir kegelapan meskipun kamu tak dapat menggunakannya di depan orang lain?" tanya Kamila, menatap serius Riyan.


"Apakah kak Kamila perlu mengajukan pertanyaan seperti itu? Tentu saja, aku akan melakukannya! Aku ingin belajar sihir, tak peduli sihir seperti apa pun, pokoknya aku harus bisa, walaupun menggunakan satu jenis sihir saja!" ucap Riyan dengan ekspresi yang serius, menunjukkan kesungguhannya.


Ding!


Sebuah suara tiba-tiba bergema di kepala Riyan.


[System telah mengakui tekad Anda!]


Layar transparan berwarna biru dengan teks muncul begitu saja, seperti sebuah game, yang memuat data statistiknya Riyan


[System diaktifkan]


{ Magic System }


[Host : Riyan] 18


[System Level: 1]


[Magic Talent: EX+]


[Dark Magic Affinity: S]


[Magic Experience: 0/1,000]


[Magic Points: 0]


[Anda telah menerima quest dari Magic System]


[Quest: Pelajari sebuah mantra sihir baru]


[Deskripsi: Pelajari sihir Tingkat 1 atau sebuah mantra sihir bebas]


[Batas waktu: 7 hari]


[Hadiah: 200 Magic Experience, 1 Magic Point]


"Apa sih ini?" gumam Riyan menyipitkan matanya, melihat layar berwarna biru yang mendadak muncul di hadapannya. Apalagi, sekumpulan teks memenuhi layar tersebut.