System: Parallel World

System: Parallel World
Chapter 7: Rasa iri



Sementara berita tentang kembalinya sang pendekar pedang menyebar ke seluruh akademi. Riyan sendiri difokuskan pada kelasnya. Sama sekali tidak menyadari banyak hal yang telah mempengaruhi akademi dan siswa di dalamnya.


Di akhir setiap jam pelajaran berakhir, siswa dari kelas tetangga akan terburu-buru ke kelasnya untuk melihat apakah rumor itu benar. Berita tentang kembalinya Riyan sudah menjadi trending topik yang hangat di akademi.


Namun, karena mereka tidak diizinkan masuk ke dalam kelas, para siswa ini hanya bisa melihat Riyan melalui pintu dan jendela.


"Ya Tuhan! Itu benar! Riyan masih hidup!"


"Dia terlihat seperti Riyan dari semua aspek, tapi ada sesuatu yang berbeda tentangnya. Dia tak terasa kuat seperti sebelumnya, dan bahkan auranya benar-benar hilang." komentar salah satu siswa, yang menyadari perbedaan Riyan yang sekarang dengan yang dulu.


"Apa yang kau harapkan dari seseorang yang Amnesia? Dia mungkin Riyan, tapi dia tak benar-benar menjadi dirinya sendiri sekarang. Dia harus sepenuhnya memulihkan ingatannya yang hilang, entah bagaimana caranya."


"Menurutmu, berapa lama Riyan akan mendapatkan ingatannya kembali?"


"Hanya Tuhan yang tahu."


"..."


Riyan pura-pura tidak memperhatikan siswa di luar kelasnya dan terus mempelajari lebih banyak tentang dunia ini dan Riyan asli dari teman-teman sekelasnya yang lebih dari bersemangat untuk membantunya memulihkan ingatan.


"Bisakah kau memberi tahuku sedikit lebih banyak tentang diriku sendiri? Bagaimana diriku yang dulu, sebelum hilang ingatan?! Apakah sangat berbeda dengan yang sekarang?" pinta Riyan.


Teman-temannya saling pandang sebentar, mereka sedikit tersenyum kecut. "Yah, kau sangat berbeda. Riyan yang dulu tak banyak bicara, hehe," katanya canggung.


"Tapi, ini lebih baik. Kita sekarang benar-benar seperti teman," imbuhnya, ia terdengar sangat bersemangat.


"Sudahlah, Riyan ingin mendengar tentang dirinya!" ucap seorang siswa mengehentikan omong kosong itu.


"Baiklah, baiklah! Haruskah kita mulai dari awal? Sungguh dari awal?


"Tentu saja." Riyan mengangguk yakin.


Dengan demikian, para siswa mulai memberi tahu Riyan tentang prestasinya sendiri dari hari Ia mulai masuk ke akademi itu.


"Situasi bullying akademi paling buruk saat pertama kali masuk ke akademi setahun yang lalu. Tak satu pun dari siswa normal yang tak bisa melakukan sihir berani membalas pada siswa kelas sihir, tapi kau adalah satu-satunya pengecualian. Tak peduli siapa yang mencoba mengusikmu, kau akan melawan balik dan menang."


"Itu benar! Kau tidak hanya kuat dan tak terkalahkan! Tak satu pun siswa kelas sihir yang bisa mengalahkanmu, termasuk beberapa Elite Class!"


"Karena kehebatanmu dalam menggunakan pedang, para siswa akhirnya mulai memanggilmu Pendekar Pedang, selain Spellsword! Dalam berpedang, kau sungguh tak tertandingi!"


'Pendekar Pedang? Kedengarannya seperti sesuatu yang lurus dari novel fantasi. Seberapa memalukannya ...' pikir Riyan yang merasa bahwa julukannya itu ... sedikit kekanak-kanakan.


"Kau juga telah memenangkan banyak turnamen, menjadi siswa kelas reguler pertama dalam sejarah akademi untuk memenangkan turnamen di mana siswa kelas sihir juga diizinkan untuk berpartisipasi."


"Bukan hanya siswa kelas sihir, kau bahkan telah mengalahkan banyak Vampire! Sangat sedikit siswa di akademi ini yang memiliki kemampuan untuk melawan mereka. Tentu saja, kau adalah satu-satunya siswa kelas reguler yang mampu melakukannya! Yah, sisanya adalah Magia."


"Magia?" ucap Riyan sebelah mengangkat alisnya.


"Berbicara tentang Magia, kau sebenarnya memiliki pacar yang menjadi Magia." Salah satu siswa menambahkan.


"Apa? Aku punya pacar?" Mata Riyan melebarkan matanya dengan kaget, karena ini adalah hal yang paling ia harapkan di dunianya sendiri. Tapi, tak pernah kesampaian.


"Ya, namanya Araya, dan dia adalah salah satu dari sedikit siswa elit di akademi ini."


"Araya ..." Riyan mengulangi nama itu dengan suara yang bingung.


'Bunga sekolah, Araya, adalah pacarku?! Tak mungkin!' Riyan menjerit dalam hatinya.


Di dunianya, Araya adalah salah satu bunga sekolah dengan fans yang tak terhitung jumlahnya, dan ia bahkan memiliki sebuah fanclub sendiri dengan lebih dari 12.000 anggota.


Meski sudah melihatnya beberapa kali, Riyan tidak pernah benar-benar berbicara dengannya sebelumnya. Riyan sekarang benar-benar mengerti perbedaan besar antara dirinya dan Riyan asli dari dunia ini.


Di dunia lamanya, ia adalah orang yang tidak memiliki teman, apalagi pacar. Ia sering dibully oleh siswa lain yang cemburu pada nilainya yang tinggi. Sementara itu, Riyan asli dari dunia ini adalah sosok yang lengkap.


Ia punya teman, semua orang suka padanya, dan bahkan memiliki pacar. Ia bahkan mampu menekan sekelompok pem-bully, memberi harapan kepada siswa lain. Ia seperti pahlawan.


'Aku sungguh iri padanya. Iri pada Riyan, diriku dari dunia lain. Kami sungguh bertolak belakang!' batin Riyan yang merasa minder terhadap semua pencapaiannya. Ia jadi bertanya-tanya, apakah ia sanggup menggantikan Riyan asli. Ia tak memiliki kemampuan untuk itu.


Setelah kelas terakhir berakhir, Riyan berdiri dan bersiap untuk pergi.


"Kemana kau akan pergi, Riyan? Mari bicara lagi! Kita masih punya banyak hal yang bisa diceritakan!" ucap seorang siswa yang berupaya menahannya untuk tetap di kelas.


"Maaf, tapi aku memiliki janji dengan kak Kamila. Aku harus bertemu dengannya setelah kelas ini selesai. Kita bisa berbicara besok." ucap Riyan agak menyesal. Ia sebetulnya juga ingin mengenal lebih dalam teman-temannya itu.


Setelah melambaikan tangan pada para siswa, Riyan keluar dari kelas dan mulai berjalan ke UKS.


Kerumunan siswa membanjiri koridor, Riyan kesulitan menembusnya. Ia seperti idola besar saja. Yah, benar. Ia adalah idola bagi siswa yang tak mampu menggunakan sihir.


"Ya Tuhan, itu benar-benar Riyan!"


Sebagian besar siswa memang siswa dari luar kelas sihir, dan mereka gembira melihat idola mereka masih hidup.


Namun, tiba-tiba, suara keras bergema di koridor.


"Jangan menghalangi jalan, dasar sampah!" Aku bersumpah akan menghempaskan semua orang di sini dengan sihirku! Aku akan memberi kalian tiga detik! Tiga ...! Dua ...!"


Para siswa di sana dengan cepat membuat laluan untuk laki-laki itu


Riyan menyipitkan mata saat melihat orang itu. Rambut hijau pendek dan wajah yang nampak seperti anggota gangster.


'Rayan ... ternyata bajin9an ini sama saja kelakuannya. Tidak di duniaku, tidak di dunia ini ...' batin Riyan melihat Thaya.


Di dunia sebelumnya dia tidak bisa membalas perbuatannya. Di dunia ini berbeda, Riyan mungkin bisa membalasnya, dia merasakan sesuatu.