
"Bisakah kau mengangkat bajumu?" tanya Selena setelah Riyan setuju untuk tubuhnya diperiksa.
Riyan menarik napas dalam-dalam, ia segera melakukan permintaan Selena. Ia secara perlahan mengangkat bajunya ke atas, perut sixpack-nya lantas terekspos
Selena menelan ludah dengan gugup dan berkata, "S-sedikit lebih tinggi. Angkat di atas dadamu!"
Riyan tidak mengatakan apapun dan asal mengangkat bajunya sampai seluruh tubuh bagian atasnya terlihat.
Selana mulai menyentuh tubuh Riyan. Jujur saja, ia gugup. Lagian, ia menyentuh tubuh laki-laki yang hampir sebaya dengannya. Jika bukan karena rasa penasaran, Selena tak akan mau melakukannya.
Selena menggerakkan tangannya sampai di dada, tepat di mana letak jantung berada.
Ia memejamkan mata dan mulai memeriksa tubuh Riyan dengan beberapa sihir yang tidak diketahui.
Lila melihat setiap gerakan Selena kalau tiba-tiba ia merencanakan untuk melakukan sesuatu yang lucu pada tubuh Riyan.
'Tidak ada yang salah dengan jantungnya ... ' batin Selena kebingungan. 'Darahnya juga tampak sehat ... ' Ia semakin gencar mengecek tubuh Riyan.
'Ada sedikit sihir hitam di tubuhnya, tapi tidak ada yang merujuk pada dia yang dibangkitkan dari kematian. Mana-nya terlalu lemah.'
Beberapa menit kemudian, Selena memindahkan tangannya dari tubuh Riyan dan bergumam dengan bingung, "Kau bukan mayat yang dihidupkan ..."
Riyan segera menurunkan bajunya kembali dan berkata, "Sudah kubilang. Aku tak dibangkitkan, tapi kau tidak mau percaya padaku," protesnya sedikit kesal.
"Mengapa kau bahkan peduli jika aku adalah mayat hidup atau tidak?" Riyan kemudian bertanya.
"Necromancy adalah keahlianku. Wajar jika aku tertarik dengan seseorang yang seharusnya mati tiba-tiba muncul kembali," ucap Selena.
"Lagian, aku salah paham tentangmu. Sampai jumpa," Selana segera berbalik dan menghilang ke bayangan di bawahnya.
"Gadis itu ... dia bahkan tak repot-repot untuk meminta maaf!" ucap Riyan sedikit tercengang. Lagipula, ia sedikit kesal dengan sikap yang Selena perlihatkan.
"Setidaknya kepribadiannya sesuai dengan rumor." Lila terkekeh.
Riyan menggelengkan kepalanya dan terus berjalan kembali ke asrama.
.
.
.
.
Sementara itu, setelah pemeriksaannya terhadap Riyan, Selena kembali ke gedung akademi dan langsung menuju ke UKS
Meskipun lampu di dalam sana ada di dimatikan, Selena membuka pintu yang seharusnya sudah terkunci setelah jam belajar di akademi selesai, ia lalu memasuki ruangan tersebut.
Di dalam ruang kesehatan, Selena bisa melihat sosok tinggi dan dewasa yang berdiri di dekat jendela.
"Aku sudah memeriksa tubuh Riyan seperti yang kau minta, kak Kamila," ucap Selena setelah menutup pintu di belakangnya.
"Terima kasih, aku hanya bisa mengandalkanmu karena kau adalah satu-satunya orang di akademi ini yang bisa tahu apakah seseorang adalah mayat hidup atau bukan. Jadi, apa hasilnya?"
"Sebelum aku menceritakan hasilnya, apakah kau ingat kesepakatan kita? Aku tak melakukan ini secara cuma-cuma."
"Tentu saja. Aku mengingatnya." Kamila menunjukan sebuah barang pada Selena.
"Death Necklace, ini adalah artefak sihir B-Rank, yang bisa meningkatkan semua sihir nekromancy. Beritahu aku hasilnya dan itu akan menjadi milikmu." Kamila menggoyangkan sebuah kalung yang ia pegang.
Selena menarik napas dalam-dalam dan berbicara, "Riyan bukanlah mayat yang dihidupkan. Tubuhnya jelas masih hidup."
"Apakah kau yakin?" Kamila sedikit mengerutkan kening.
"Seratus persen. Namun, ada sedikit perbedaan di tubuhnya."
"Apa itu?"
"Ada jejak sihir kegelapan di dalam tubuhnya, jadi dia pasti menggunakan sihir kegelapan baru-baru ini atau dia telah serang oleh sihir kegelapan.
Bisa dikatakan, jumlah Mana di tubuhnya tidak bisa menjadi hasil dari sebuah sihir kebangkitan, jadi kau tak perlu khawatir tentang itu."
Kamila merenungkan pengakuan Selena.
'Jejak sihir kegelapan ... Mungkinkah itu disebabkan oleh pengecekan yang kulakukan hari ini? Ini akan masuk akal karena dia memiliki afinitas sihir untuk sihir kegelapan,' batin Kamila.
"Apakah kau memiliki hal lain?" tanya Kamila beberapa saat kemudian.
"Tidak, hanya itu informasi yang aku miliki."
Kamila menyipitkan mata kepada Selena. Ia jelas belum percaya pada gadis itu.
"Jika aku tahu bahwa kau berbohong kepadaku, kau tahu resikonya, 'kan?"
Selena menunjukkan senyum dingin di wajahnya yang lembut, "Bukankah kau melupakan hal lain? Kesepakatan kita ... aku bisa menyebarkannya, lho? Kau tak mau ada orang lain yang tahu, 'kan?" Ia menyeringai, merasa bisa menyerang balik Kamila.
Selena bergegas untuk menangkap artefak sihir itu.
"Hei, itu berbahaya——" Selena mencoba mengeluh, tapi seperti hantu saja, Kamila tiba-tiba menghilang dari ruangan itu.
'Riyan, ya? Kenapa dia sangat peduli tentangnya? Untuk berpikir dia bersedia memberikan artefak sihir B-Rank hanya untuk mengkonfirmasi bahwa Riyan seorang mayat hidup atau bukan ... betapa mengejutkannya.'
Selena tidak berlama-lama di UKS dan pergi sesaat setelahnya.
.
.
.
.
Kembali ke gedung asrama tua, Riyan langsung ke tempat tidurnya dan bersiap tidur.
'Bagaimana jika aku bangun dan menemukan diriku kembali ke dunia asalku besok? Bagaimana jika ini hanya mimpi yang sangat panjang?' batin Riyan.
"Ngomong-ngomong, aku sangat berharap kau tak akan melihatku tidur sepanjang malam." Riyan melihat Lila, yang melayang jauh di atasnya dan menatap wajahnya.
"Kenapa tidak? Kamu cukup ganteng untuk ukuran manusia dan termasuk tipeku," katanya dengan suara menggoda.
"Untuk manusia?" ucap Riyan mengangkat alisnya.
"Kenapa kau berbicara seolah-olah kau bukan manusia? Maksudku, kau hantu sekarang, tapi kau masih manusiawi?"
Namun, Lila tidak menanggapi, karena dia terlalu sibuk menatapnya dengan mata yang terkejut
"Kamu tak sadar?" tanya Lila setelah beberapa saat membisu.
"Sadar akan apa?"
Kemudian Lila menyadari sesuatu dan bergumam, "Oh, benar. Dari dunia lain, dan Vampire tidak ada di dunia itu."
"Huh? Vampir?" gumam Riyan dengan terkejut.
Ketika Lila menyebutkan Vampire, Riyan tiba-tiba mengingat apa yang Kamila katakan kepadanya sebelumnya hari ini.
'Vampire terlihat persis seperti manusia, tapi mereka memiliki rambut putih dan mata merah,' batin Riyan.
"K-kau seorang vampir!?" ucap Riyan sedikit ragu.
Karena Lila memiliki rupa seperti manusia, baik itu penampilan atau sikapnya. Riyan secara tidak sadar memperlakukannya sebagai sesama manusia, meski Lila punya ciri-ciri seorang Vampire.
Yah, siapa sangka vampir bisa secantik itu? Riyan menyangka mereka memiliki rupa yang menyeramkan.
Ia mengangguk dengan senyuman sombong, "Benar, aku adalah seorang Vampire. Tapi untuk berpikir bahwa kamu tidak menyadarinya sampai sekarang ... itu sedikit tak masuk akal."
"Kak Kamila memberitahuku, tapi aku agak lupa ..." ucap Riyan menggaruk kepalanya.
"Lupa? Meskipun ingatanmu cukup menakjubkan untuk langsung menghafal mantra sihir? Aku tak percaya," sangkal Lila yang menggeleng.
"Bahkan jika aku memiliki ingatan yang sempurna, tak dapat terhindarkan bahwa aku bisa saja melupakan beberapa hal kecil! Aku juga telah memikirkan banyak hal hari ini, jadi kepalaku sedikit overdosis."
"Apakah begitu?" tanya Lila dengan suara yang hampa.
Lila melanjutkan untuk menatap wajah Riyan dalam diam dan dengan ekspresi yang tak terjelaskan.
"Jadi?" Riyan memutuskan untuk bertanya pada Lila.
"Sekarang kamu tahu aku adalah seorang Vampire ... apakah kamu takut padaku? Apakah kamu membenciku? Apakah kamu akan berhenti berteman denganku?" ucap Lila dengan suara bergetar dan tatapan yang cemas.
Riyan diam sejenak sebelum berbicara, "Setelah mendengar tentang vampir dari kak Kamila, aku pikir Vampire akan menjadi lebih menakutkan. Bagaimanapun, aku tak takut padamu.
Bahkan jika kau mungkin memang seorang Vampire, di mataku, kau hanya hantu mesum yang suka mengintip orang di kamar mandi. Bahkan Selena, yang terlihat seperti anak kecil, lebih menakutkan dari pada dirimu."
Lila tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum setelah mendengar kata-kata dari Riyan, dan ia berbicara," Sekali lagi, aku bukan hantu!"
"Terserah. Aku mau tidur, woah," ucap Riyan sambil menguap.
Ia memejamkan mata dan memposisikan diri dengan nyaman di tempat tidur
"Selamat malam, Riyan."
"Malam."
Riyan dengan cepat tertidur, hanya dalam hitungan detik. Ia sungguh kelelahan dengan rutinitasnya hari ini.
Sedangkan untuk Lila, ia akan melanjutkan untuk menghabiskan seluruh malam dengan menatap diam wajah Riyan dengan senyuman lembut di wajahnya.
'Aku bertanya-tanya apakah dia bisa mengatakan kalimat yang serupa seperti sekarang, jika dia tahu identitas sejatiku ...' Lila menghela nafas.