
Riyan dengan gugup menunggu afinitas sihir barunya yang bangkit.
Ding!
[Anda telah membangkitkan afinitas sihir angin]
[Afinitas sihir angin: F]
"Afinitas sihir angin?" Riyan bergumam pada notifikasi System.
Ia tidak senang atau kecewa dengan hasilnya, karena ia tidak tahu banyak tentang sihir angin.
'Sihir angin ... apakah itu akan membuatku terbang seperti dalam novel fantasi?' Riyan bertanya-tanya pada dirinya sendiri, karena ini adalah hal pertama yang terpikir olehnya.
Jika ia bisa terbang di langit menggunakan sihir, itu akan membuat perjalanan jauh menjadi lebih nyaman.
Riyan melihat-lihat Magic Shop setelah pembelian.
{Magic Shop}
[Shop Level: 1]
[Pembangkit afinitas sihir secara acak: 300 MP]
[Meningkatkan kapasitas Mana: 5 MP] [Meningkatkan Magic Power: 5 MP] [Meningkatkan afinitas sihir :?]
[Total MP: 1]
[Shop Experience: 10/100]
Mata Riyan melebar saat melihat harga baru untuk membangkitkan afinitas sihir baru.
'300 Magic Point?! Kenaikan yang luar biasa! Ratusan kali lipat.'
Meski ia mengerti mengapa harganya meningkat, ia masih bingung.
'Untungnya, hadiah yang aku dapatkan untuk menyelesaikan quest tampaknya semakin tinggi setiap kali aku menyelesaikannya. Sedangkan 300 Magic Point mungkin terlalu mahal bagiku sekarang. Aku seharusnya tak memiliki masalah untuk membayarnya di masa depan.'
Karena terlalu mahal untuk membangkitkan afinitas sihir lain untuk sekarang, Riyan telah memutuskan untuk fokus pada pilihan lain, seperti meningkatkan Magic Power dan meningkatkan kapasitas Mana-nya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Riyan bertanya, "Hei, Lila, karena kau tak ingin mengajariku mantra sihir tingkat 2, mengapa kau tidak mengajariku beberapa mantra tingkat 1? Aku ingin belajar sihir angin?"
"Hah? Kenapa kamu tiba-tiba ingin belajar sihir angin? Jika kamu tidak memiliki afinitas sihir angin, kamu tak akan bisa menggunakan angin sihir."
"Sebenarnya, aku juga memiliki afinitas sihir angin, tapi ini adalah peringkat F. Aku mengetahuinya baru-baru ini." ucap Riyan.
"Serius? Kamu memiliki afinitas kegelapan dan angin?"
"Apakah itu sangat mengejutkan?" tanya Riyan mengangkat alisnya.
"Tentu saja. Tidak biasa seseorang memiliki lebih dari satu afinitas sihir. Sebenarnya, hanya satu dari satu juta penyihir yang memiliki dua afinitas sihir yang berbeda." ucap Lila dengan wajah serius.
"Yah, begitu ... apakah kau memiliki sihir angin yang bisa kau ajarkan kepadaku?"
Lila berpikir sesaat sebelum mengangguk, "Yang satu ini akan sangat menguntungkanmu." Ia menjulurkan tangannya pada Riyan, lalu muncul lingkaran sihir berwarna hijau.
Riyan menatap lingkaran sihir hijau itu di telapak tangan Lila dan menghafalnya dalam hitungan detik.
[Anda telah mempelajari mantra sihir: Feather Step]
[Feather Step]
[Affinitas: Wind]
[Tingkat: 1]
[Mana: 5]
[Mastery Rank: F]
"Feather Step? Apa yang bisa dilakukan dengan itu?" Riyan memiringkan kepalanya.
"Pada dasarnya membuat tubuhmu terasa ringan seperti bulu, memungkinkan kamu untuk melakukan perjalanan lebih cepat dan dengan efisiensi lebih pada stamina." terang Lila.
"Oh, itu cukup bagus." ucap Riyan.
Dan ia melanjutkan, "Hmm ... sekarang aku memikirkannya, aku tidak tahu banyak tentang afinitas sihir. Setiap elemen harusnya memiliki kelebihan dan kekurangan, 'kan? Lalu, ada berapa banyak afinitas sihir?"
"Ya, itu benar. Setiap afinitas sihir memiliki kelebihan dan kelemahan sendiri. Misalnya, sihir kegelapan unggul dalam kehancuran tapi membutuhkan Mana lebih banyak daripada afinitas lain, sementara angin unggul dalam dukungan dan kecepatan tapi tidak memiliki daya hancur yang besar. Yah, pengecualian untuk mantra tingkat tinggi."
"Itu cukup menarik ..." ucap Riyan saat ia menyerap informasi tersebut dalam kepalanya.
Lila melanjutkan, "Afinitas sihir ada banyak, ada yang langka dan sangat jarang dijumpai. Jadi, aku akan menjelaskan yang umum saja."
"Afinitas sihir terbagi menjadi dua kategori—— utama dan lanjutan. Misalnya, afinitas sihir air dianggap sebagai afinitas utama sementara afinitas sihir es adalah afinitas lanjutan yang merupakan versi superior dari afinitas sihir air."
"Jika kamu memiliki afinitas sihir es, kamu dapat menggunakan sihir es dan air. Namun jika kamu memiliki afinitas sihir air, kamu masih dapat menggunakan sihir es, namun tidak akan sama kuatnya. Dan juga akan jauh lebih sulit untuk digunakan karena membutuhkan lebih banyak Mana."
"Air, api, angin, dan tanah semua itu adalah afinitas utama. Hanya 1% penyihir yang lahir dengan afinitas lanjutan, jadi mereka sangat langka." Lila menjelaskan panjang lebar. Ia berhenti sebentar untuk memberi kesempatan Riyan mencerna semuanya.
"Bagaimana dengan cahaya dan kegelapan? Apakah keduanya adalah versi lanjutan?" tanya Riyan.
"Itu termasuk dalam Holy Magic dan Chaos Magic. Ada juga afinitas sihir lainnya seperti petir, ruang, dan gravitasi. Namun, tidak semua afinitas sihir memiliki versi yang lebih kuat." jawab Lila.
"Aku mengerti ... sihir ternyata lebih kompleks daripada yang aku pikirkan ... Betapa menariknya Itu" Riyan bergumam pada dirinya sendiri.
"Ya, itu juga termasuk." Lila mengangguk.
"Jadi, kak Kamila juga memiliki dua afinitas sihir ... cahaya dan ruang. Wah, dia sangat keren."
"Kurasa tak begitu. Ada artefak sihir yang memungkinkan seseorang menggunakan sihir tertentu, jadi tidak semua orang yang bisa menggunakan sihir semacam itu. Sebenarnya, kebanyakan dari mereka pasti menggunakan artefak sihir karena cukup umum di dunia ini."
"Begitu, ya?"
Beberapa saat kemudian, Riyan bertanya lagi, "Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa tahu sihir angin juga? Apakah kau juga memiliki afinitas sihir angin?"
"Yah. Aku hanya menikmati belajar segala macam sihir bahkan jika aku tidak bisa menggunakannya. Ini adalah hobiku."
"Yap, hobimu sangat bermanfaat." ucap Riyan.
Lila mengusap hidungnya dengan sombong. "Hehe."
"Dengan itu, kau bisa mengajariku lebih banyak sihir angin, 'kan? Apakah ada sihir angin yang memungkinkan diriku untuk terbang?"
"Terbang? Ada sihir terbang, tapi itu adalah mantra tingkat 4." ucap Lila sedikit terkejut.
"Tingkat 4? Ajarkan itu! Meskipun aku tidak bisa mempelajarinya sekarang, tapi, aku merasa puas, meski sebatas mengetahuinya!" ucap Riyan dengan penuh semangat.
.
.
.
.
Seminggu setelah latihan dengan Kroni berjalan.
Di Guild Petualangan, Kroni berkata, "Reon, sudah seminggu sejak pertemuan pertama kita. Selama ini, kau telah berhasil menguasai 20 combo yang berbeda, dan kau bahkan berhasil mendaratkan luka bersih di tubuhku kemarin. Aku sudah yakin waktunya kita mulai ke tahap 3 latihanmu."
"Ada tahap 3?" Riyan mengangkat alisnya. Ini adalah pertama kali ia mendengar itu.
"Tentu saja. Sementara kau cukup layak dalam pertarungan jarak dekat, kau tidak memiliki pengalaman dengan melawan lawan yang dapat menyerangmu dari jarak jauh seperti penyihir. Oleh karena itu, kau akan mulai melawan para penyihir untuk minggu terakhir latihanmu."
"Oh, kebetulan aku juga sudah ingin melawan penyihir!" Riyan berkata dengan bersemangat.
"A-aku akan bertarung dengan siapa?" tanyanya dengan gugup.
"Aku." Suara yang familiar menanggapi pertanyaan Riyan.
Riyan berbalik untuk melihat Kamila yang berdiri di belakangnya.
"S-serius?" Riyan menatapnya dengan mata yang melebar.
"Sangat serius." Kroni mengangguk dengan wajah serius.
"Bukankah kau salah satu petualang terkuat?! Meski kak Kamila sedikit menahan diri, pasti sudah cukup untuk membunuhku!" Riyan berseru.
"Jangan khawatir, aku tahu bagaimana mengendalikan kekuatanku. Kamu tidak akan mati bahkan jika aku langsung menyerangmu dengan sihirku. Tapi pasti akan lebih sakit daripada dipukul oleh pedang kayu." ucap Kamila tersenyum lembut, tapi Riyan tak menganggapnya begitu.
"Itu tidak membuatku merasa lebih baik!" Riyan tersenyum kecut.
Kamila tiba-tiba menjulurkan lengannya dan memanggil dua tombak emas yang indah.
"H-Hei! Tunggu sebentar! Setidaknya biarkan aku bersiap!" teriak Riyan yang panik.
"Semoga berhasil, Reon!" Kroni tertawa terbahak-bahak saat ia duduk di ujung ruangan, berubah menjadi penonton.
Sementara itu, Kamila melemparkan salah satu tombak cahayanya pada Riyan.
Tombak itu melesat dengan cepat, tapi tidak pada kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh Riyan.
"Whoa!"
Setelah menghindarinya, Riyan segera berlari ke arah Kamila.
"Aku mendapatkanmu!" Riyan mengayunkan pedangnya saat ia cukup dekat dengan Kamila.
"Oh, aku lupa memberi tahumu, tapi kebanyakan penyihir tahu bagaimana caranya melawan petarung jarak dekat!" Kroni tiba-tiba berteriak.
Kamila memblokir pedang Riyan dengan tombak emasnya dengan mudah. Kemudian menggunakan tangannya yang lain, ia menjulurkan telapak tangannya ke wajah Riyan sebelum melepaskan mantra sihir.
Riyan tidak dapat bereaksi terhadap serangan itu dan segera dihempaskan ke tepi ruangan.
"Sialan! Itu sangat menyakitkan!" Riyan menyentuh wajahnya dengan panik, karena ia khawatir bahwa wajahnya kenapa-napa setelah terkena serangan itu, belum lagi sensasi terbakar yang ia rasakan.
"Jangan pernah kehilangan fokus saat kamu melawan penyihir!" Kamila memperingatkannya sebelum ia mengirim tombak emas terakhir.
"Sial!"
Riyan secara tidak sadar menggerakkan pedang ke depan tubuhnya.
Meski ia hampir bisa memblokir tombak itu dengan pedangnya, tapi masih menghempaskannya ke dinding.
"Apakah kau benar-benar seorang Healer?!" Riyan berteriak sambil bersusah payah untuk berdiri dan bersiap untuk serangan Kamila yang selanjutnya.
Dan untuk beberapa jam berikutnya, Kamila akan men-spam sihir untuk menyerang Riyan tanpa istirahat, hampir seolah-olah ia memiliki Mana tak terbatas.