System: Parallel World

System: Parallel World
Chapter 17



Setelah enam jam latihan yang intens, Riyan akhirnya roboh di lantai dengan nafas terengah-engah.


"Aku tak pernah melakukan latihan fisik sekeras ini seumur hidupku ... aku merasa seperti mau mati saja ..." Riyan bisa merasakan jantungnya berdetak seperti drum perang.


Melihat bahwa Riyan telah selesai, Kamila menutup bukunya lalu melemparkannya ke dalam penyimpanan ruang, dan ia mendekati Riyan.


"Makan ini!" Ia memberikan sesuatu yang tampak seperti permen pada Riyan


"Mengapa kau memberiku permen?" tanya Riyan mengangkat alisnya.


"Ini adalah obat peningkat. Ini akan membuat tubuhmu mendapatkan keuntungan lebih dari latihanmu hari ini," jelasnya.


Riyan melihat pil yang seperti permen dan tidak bisa tak merasa seperti ia minum obat dan untuk meningkatkan kekuatannya dengan waktu singkat.


'Ini benar-benar dunia sihir, jadi hal-hal sungguh berbeda di sini,' pikir Riyan.


Begitu Riyan bisa berdiri lagi, Kamila tiba-tiba berkata kepadanya, "Buka pakaianmu."


"Lagi?"


Ini adalah hari kedua di dunia ini dan Kamila sudah membuatnya bugil dua kali.


Namun, Riyan tidak mengeluh dan melepaskan pakaian bagian atasnya dan bawahnya sampai hanya tersisa pakaian dalam.


"Hehe… wow."


Riyan bisa mendengar Lila terkekeh di belakangnya dan merasakan tatapan mesum pada tubuhnya, tapi ia berpura-pura tidak memperhatikan.


Sementara itu, Kamila lantas mondar-mandir di sekitar Riyan sambil menatap tubuhnya dengan seksama. Ia juga akan menggunakan tangannya untuk meremas otot-otot Riyan sesekali.


'Tubuhnya meningkat dengan baik, dan sepertinya memiliki banyak potensi. Mungkin dia akan bisa mencapai kekuatan Riyan asli jika diberi cukup waktu,' batin Kamila.


Beberapa saat kemudian, Kamila berbicara, "Jika kamu terus berlatih pada tingkat ini selama sebulan, kamu akan mendapatkan kekuatan sekitar 1 persen dari apa yang telah dicapai Riyan asli."


"Hanya 1%? Bukankah itu terlalu rendah? Bagaimana aku akan mengalahkan Thaya dengan kekuatan seperti itu?" tanya Riyan.


"1% kekuatan spellsword lebih dari cukup untuk mengalahkan seseorang seperti Thaya."


"Tidak mungkin ... Seberapa kuatnya Riyan asli ini?" tanya Riyan dengan penasaran.


"Sangat kuat " Kamila dengan senang menjawab.


'Dan seseorang seperti itu entah bagaimana bisa mati? Dunia ini lebih berbahaya daripada yang kupikirkan ...' batin Riyan menelan ludahnya.


"Sudah larut, kita sudahi sampai di sini saja untuk hari ini. Kembalilah ke sini besok pagi jam 9 dan jangan terlambat," ucap Kamila beberapa saat kemudian.


"Oh, kak Kamila, apakah kau keberatan jika aku meminjam artefak sihir ini untuk aku bisa berlatih sendiri?" tanya Riyan.


"Aku tidak keberatan, tapi jika kamu menghancurkan atau kehilangan artefak itu tanpa pengawasanku, kamu yang akan bertanggung jawab untuk membayar dendanya."


Riyan menelan ludahnya dengan ngeri, dan ia berkata, "A-aku hanya akan meminjam salah satu untuk saat ini."


Lebih mudah mengurus satu daripada empat, secara signifikan menurunkan risiko kerusakan atau kehilangan.


"Tentu." Kamila memberikan gelang hijau itu.


Setelah memasukan ketiga artefak sihir lainnya ke penyimpanan ruang, Kamila meninggalkan pusat pelatihan.


"Bagaimana perasaanmu?" Lila bertanya pada Riyan begitu mereka sendiri lagi.


"Aku hampir tidak bisa berjalan lurus ..." Riyan menghela napas saat berjalan ke asrama.


Setelah mandi cepat, Riyan melompat langsung ke tempat tidur tanpa repot-repot makan malam.


"Hei, Lila, aku punya pertanyaan."


"Bagaimana aku bisa meningkatkan Mastery Rank? Apakah aku harus terus menggunakannya?"


"Kurang lebih," balasnya.


"Aku mengerti ..." Riyan tertidur saat kemudian.


.


.


.


.


Keesokan paginya, Riyan terbangun dengan tubuh bagian bawahnya yang sakit.


Setelah mencuci muka dan memakai pakaiannya, ia pergi ke kantin untuk sarapan pagi.


Tidak mengherankan, kantin itu cukup kosong kali ini, kebanyakan karena akhir pekan dan kebanyakan siswa masih tidur, atau mereka lebih suka makan di luar akademi.


Karena itu, Riyan bisa sarapan yang santai dan damai.


Ketika hampir jam 9, Riyan menuju area pelatihan untuk bertemu dengan Kamila untuk latihan selanjutnya.


"Apakah hari ini kita akan berlatih pedang?" tanya Riyan melihat pedang yang dibawa Kamila.


"Ya." Kamila menganggukan kepalanya saat ia menyerahkan pedangnya pada Riyan.


'Pedangnya terlihat berbeda dari pedang terakhir yang aku gunakan," batin Riyan menyadari perbedaan pada pedang itu.


"Hati-hati, pedang ini beratnya 10 kg. Ini lima kali lebih berat dari pedang yang terakhir kamu gunakan," peringat Kamila saat pedang itu akan berpindah tangan.


"10 kg?! Kenapa kau menambah berat pedangnya?"


"Sesi latihan yang kemarin-kemarin hanya untuk membuatmu terbiasa memegang dan mengayunkan pedangnya. Latihan sebenarnya dimulai hari ini. Kita akan menguatkan otot lenganmu terlebih dahulu. Begitu kamu bisa mengayunkan pedang dengan berat 30 kg tanpa kesusahan, kamu akan mulai melatih teknikmu."


"30 kg? Itu konyol! Pedang macam apa beratnya mencapai 30 kg?"


"30 Kg itu bukan apa-apa. Riyan asli bisa mengayunkan pedang dengan berat 300 kg dengan mudah. Dan untuk pertanyaanmu, kebanyakan pedang jenis Spellsword memiliki berat di atas 50 kg," terang Kamila.


Setelah menyerahkan pedang, Kamila lalu menyerahkannya 3 gelang hijau yang digunakan Riyan kemarin.


Setelah memakai gelang, Riyan merasa lebih mudah untuk memegang pedang dengan berat 10 kg tersebut.


"Gelang ini hanya untuk melatih otot-ototmu sekarang. Tujuan sebenarnya adalah untuk mengayunkan pedang 30 kg tanpa gelang itu."


"Aku mengerti ... ngomong-ngomong, bagaimana jika seseorang memutuskan untuk memakai lebih dari empat gelang? Tidakkah itu sedikit terlalu kuat?" Riyan tiba-tiba bertanya.


"Memang bisa, tapi artefak sihir ini akan berkurang efeknya setelah yang keempat, jadi tidak ada gunanya memakainya terlalu banyak"


Beberapa saat kemudian, Riyan mulai mengayunkan pedang seperti yang diajarkan oleh Kamila.


Begitu Riyan sudah berada di batas staminanya sekitar tiga jam kemudian, Kamila lantas memberikan stamina potion.


"Sebelum kamu melanjutkan, biarkan aku menambahkan sesuatu," ucap Kamila sambil mengambil sesuatu yang tak pernah Riyan lihat dari penyimpanan ruang.


Objek itu setinggi manusia dewasa, dan bentuknya seperti manusia. Namun, materi yang penyusunnya dari sesuatu yang membuat Riyan bingung.


"Apa ini? Terbuat dari jeli ..." ucap Riyan bingung.


"Ini adalah Slime tiruan. Hampir tidak bisa dihancurkan selama kamu menyerangnya dengan serangan fisik. Cobalah."


Riyan mengangguk dan mengayunkan pedang pada Slime tiruan itu, memotongnya setengah dari tubuhnya tapi tak sepenuhnya terpotong.


Setelah menarik pedangnya dari Slime, beberapa saat kemudian slime itu kembali seperti semula, seolah-olah Riyan tak pernah memotongnya.


"Kamu akan mengayunkan pedang pada Slime tiruan itu mulai dari hari ini. Ini akan membantumu melatih akurasi ayunan pedangmu juga. Jika kamu tak bisa mengenai slime itu dengan benar dan dengan kekuatan yang cukup, kamu tidak akan bisa memotongnya. Tugasmu adalah memotongnya dengan setiap ayunan. "


"Aku mengerti." Riyan mengangguk, dan ia mulai mengayunkan pedangnya ke tubuh slime.


Beberapa ayunan kemudian, Kamila tiba-tiba berkata, "Karena kita punya banyak waktu hari ini, aku tidak keberatan mengajarimu sihir, jika kamu berlatih cukup keras."


"Aku menantikannya!" Riyan menjadi lebih bersemangat setelah mendengar kata-kata Kamila, dan ia mulai mengayunkan pedangnya pada slime itu dengan kekuatan dan kecepatan yang lebih besar lagi.