
"Lihat ke sana! Itu Spellsword."
"Apakah kau sudah mendengarnya? Dia menerima tantangan dari Thaya, dan mereka akan berduel bulan depan."
"Thaya? Dia selalu menantang Riyan untuk bertarung selama dia punya kesempatan. Dan dia selalu kalah. Kali ini harusnya sama, Thaya tak akan punya kesempatan untuk menang."
"Aku tak begitu yakin tentang hal itu. Riyan menderita Amnesia, dan dari apa yang aku dengar, dia bahkan tidak ingat bagaimana caranya bertarung. Hasilnya mungkin berbeda kali ini."
"Jika Riyan tidak ingat bagaimana caranya bertarung, mengapa Thaya bahkan repot-repot melawannya? Itu hanya akan membuatnya terlihat seperti orang bodoh, melawan seseorang tanpa kekuatan."
"Kurasa dia hanya putus asa untuk mengalahkan Riyan."
Di meja lain, beberapa siswa perempuan bergumam satu sama lain, "Tidakkah menurutmu ini adalah kesempatan terbaik untuk mengungkapkan perasaan pada Riyan?"
"Hah? Apakah kau ingin mati? Dia sudah punya pacar, dan dia seorang Magia!"
"Apakah kau berbicara tentang Araya? Tidakkah kau dengar? Dia dengan Reinal sekarang, yang berarti Riyan sudah tak memiliki hubungan dengannya. "
"Masih terlalu berisiko, aku akan menunggu beberapa hari lagi sebelum aku melakukan apapun jika aku menjadi dirimu."
Sementara itu, Riyan duduk sendiri di sebuah meja kecil, mencoba yang terbaik untuk mengabaikan segala tatapan mereka.
"Kamu bahkan lebih populer sekarang karena kamu dirumorkan bangkit dari kematian." Lila berkata saat ia melayang ke sampingnya, hampir seolah-olah ia terbaring di tempat tidur.
Riyan bergumam tanpa melihat ke arah Lila, "Tak bisakah kau tidak berbicara kepadaku saat kita di depan umum? Orang akan berpikir aku gila jika mereka melihatku berbicara dengan diri sendiri."
"Itu tidak menyenangkan sama sekali." Lila mengerutkan kening.
"Kau mungkin tidak peduli pada citra publikmu sama sekali karena mereka tak bisa melihatmu, tapi aku peduli!"
"Kamu tak perlu menanggapi semua yang aku katakan, tapi aku akan terus berbicara. Hanya bertindak seperti aku sedang berbicara kepada diri sendiri. Aku sudah merasa puas hanya tahu bahwa kamu bisa mendengarku," ucap Lila yang melayang-layang.
Riyan dengan cepat menyelesaikan makanannya dan segera meninggalkan kantin.
Dalam perjalanan kembali ke asrama, Lila tiba-tiba berkata, "Riyan, jangan berhenti berjalan dan jangan berbalik, ada seseorang yang mengikutimu."
"Apa? Siapa itu? Apa yang mereka inginkan dariku?" ucap Riyan yang merasa kesal.
"Itu adalah seorang siswa kelas sihir jika dilihat dari seragamnya."
"Hah? Apakah itu seorang siswa perempuan? Lalu aku tidak perlu terlalu cemas tentang hal itu. Dia mungkin seorang fans dari Riyan asli," ucap Riyan dengan enteng, normal jika ada orang yang mengagumi Riyan asli.
Lila kemudian pergi dari dari sisi Riyan untuk memeriksa identitas si stalker.
Ketika Lila kembali ke sisi Riyan, ia berkata, "Aku rasa dia bukan seorang fansmu."
"Bagaimana kau sampai pada kesimpulan itu?"
"Karena si stalker adalah Selena, dan dia seorang Magia." jawab Lilia.
"Jadi apa? Huh, Riyan asli bisa berpacaran dengan orang seperti Araya, dia pasti juga bisa menarik Magia lainnya," gumam Riyan. Merasa iri pada dirinya yang ada di dunia lain itu tidak berguna.
"Sebenarnya, Selena juga dikenal sebagai Necromancer. Tidakkah menurutmu terlalu banyak kebetulan bahwa seseorang sepertinya dicurigai segera setelah kamu kembali dari kematian? Mungkin dia pikir kamu dibangkitkan dengan sihir atau sesuatu, jadi dia memata-mataimu." Lila mengutarakan hipotesisnya.
"Terdengar buruk. Bisakah dia membangkitkan orang mati dengan sihirnya atau semacamnya? Dan yang terpenting, apakah dia berbahaya?" Riyan bertanya.
'Selena ... aku tak tahu ada siswa dengan nama itu di duniaku,' pikir Riyan mencoba mengingat nama tersebut.
"Tidak, dia tidak bisa membangkitkan orang mati. Aku tak tahu apakah dia berbahaya atau tidak, tapi dia memiliki reputasi buruk di akademi."
"Seberapa buruk?" tanya Riyan dengan penasaran.
"Rumor mengatakan bahwa dia suka bereksperimen pada mayat dan hal-hal lain yang terkait dengan orang mati," beritahu Lila.
"Bukankah ada semacam hukum yang mencegah orang-orang mengotak-atik mayat di dunia ini?" tanya Riyan menaikkan sebelah alisnya.
"Nah, itu tergantung pada apa yang dia lakukan dengan mayat, tapi untuk sebagian besar, apa yang dia lakukan bukanlah tindakan ilegal. Dan dia mungkin hanya mencoba mempraktikkan sihirnya, cukup normal bagi seseorang yang mempelajari Necromancy," ucap Lila.
"Hmm? Apakah Necromancy dianggap sebagai sihir kegelapan?" Riyan kemudian bertanya.
"Ya."
"Aku mengerti, jadi dia juga——"
"Apa?"
Namun, sebelum Riyan dapat bereaksi, dua tangan muncul dari tanah di bawahnya dan meraih pergelangan kaki, mencegahnya bergerak.
"Apa maksudnya ini?!" Riyan berteriak keras.
"Tenanglah, dia hanya membatasi gerakanmu," ucap Lila
Seseorang dengan sosok kecil mendekatinya dari bayang-bayang beberapa saat kemudian.
"Tolong tenanglah, aku tak akan menyakitimu," ucap Selena dengan segera.
"Kau ...." Riyan kaget saat melihat penampilan Selena.
Selena memiliki tubuh mungil dan wajah yang lembut, sehingga tampak seolah-olah dia berusia 12 tahun. Ia memiliki rambut hitam panjang yang sampai di belakang lututnya, dan matanya yang gelap seperti malam.
Ketika Riyan melihat Selena, ia secara tidak sadar bergumam, "Seorang anak kecil?"
Alis Selena berkedut setelah mendengar kata-katanya.
"Siapa yang kau panggil anak kecil?! Aku berusia 19 tahun, sudah dewasa!" Ia berteriak dengan suara keras sebelum menendang Riyan di bagian lutut dengan sepatu hitamnya.
"Sialan! Itu menyakitkan!" ucap Riyan kesakitan memegangi lututnya.
"Aku pikir kau bilang bahwa tidak akan menyakitiku!" ucap Riyan meringis memegangi lututnya.
"Itu sebelum kau menghinaku." Selena mendengus tak terima.
"Ini melawan peraturan akademi untuk menggunakan sihir di luar pertandingan resmi dan pusat pelatihan! Kau akan mendapat banyak masalah jika akademi mengetahui tindakanmu!" gertak Riyan. Namun, Selena nampak tak peduli dengan hal itu.
"Ini hanya mantra sihir tingkat 1. Aku tak akan dihukum karena sesuatu yang begitu kecil asalkan aku tidak membunuhmu," ucap Selena dengan enteng mengangkat bahunya.
"Kau melewatkan beberapa kata di sana! Itu harusnya 'Selama aku tidak menyakitimu'!" Riyan berseru.
"Jangan naif, Riyan, dia Magia. Dia bisa memukul murid lain di depan para guru dan tak akan dihukum," ucap Lila tertawa.
Riyan mengertakkan giginya setelah mendengar kata-kata seperti itu.
'Jadi seperti di duniaku, di mana orang kaya dan berpengaruh bisa lolos dari semua masalah. Apa-apaan itu?' Ia menghela napas.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Riyan tidak mau berbasa-basi.
"Aku ingin melihat tubuhmu dan melihat apakah kau dibangkitkan dengan sihir," katanya dengan ekspresi masa bodoh.
"Apa? Itu gila. Tentu saja aku tak dibangkitkan dengan sihir!" ucap Riyan membantah.
"Kalau begitu, kenapa aku bisa merasakan sihir kegelapan dari tubuhmu?"
"Sihir kegelapan? Aku tak tahu apa yang sedang kau bicarakan." Riyan mengerutkan kening.
Lila terbang di depannya dan menjelaskan kepada Riyan, "Black Bullet. Bila kamu menggunakan sihir, sisa Mana akan tertinggal di sekitarmu untuk beberapa waktu sebelum menghilang. Dan orang-orang dengan afinitas sihir yang sama akan dapat merasakannya, jika itu berasal dari tubuhmu."
'Apa ?! Kenapa kau tak memberitahuku sesuatu yang begitu penting ini sebelumnya?! Rahasiaku sekarang terekspos! Dan itu bahkan belum sepenuhnya sehari penuh sejak aku datang ke dunia ini! ' Riyan menangis di dalam hati.
"Kenapa kau tidak menanggapi?" Selena bertanya kepadanya dengan mata yang menyempit, jelas mencurigai tingkah lakunya.
"A-aku tak tahu apa yang sedang kau bicarakan, tapi aku tidak dibangkitkan dengan sihir! Ini adalah kesalahpahaman!" sangkal Riyan.
"Karena kau yakin bahwa kau bukan seorang mayat yang telah dihidupkan kembali, kau tidak keberatan agar aku bisa memeriksa tubuhmu, 'kan? Aku akan segera meninggalkanmu sendiri setelahnya. Jika ini memang menjadi kesalahpahaman." Mendengar kata-katanya, Riyan sontak menatap Lila.
"Biarkan dia," Lila mengangguk dengan senyuman di wajahnya.
Meskipun Riyan tidak mempercayainya, itu tidak seolah-olah ia punya pilihan lain.
"Baiklah, alu akan membiarkanmu memeriksa tubuhku. Kau harus pergi dan jangan mengusikku lagi!" peringat Riyan.
"Terima kasih atas kerja samamu," ucap Selena mengangguk.
'Kerjasama apanya! Kau pada dasarnya memaksaku! ' Riyan mengutuknya dalam hati.