System: Parallel World

System: Parallel World
Chapter 31: Lulus dengan mudah



"Sekali lagi, karena komplikasi, Reon tidak dapat belajar sihir sampai baru-baru ini. Jika kau terus meributkan hal ini, aku akan marah." ucap Kamila.


"Bahkan jika kau mengatakan itu, aku hanya tidak bisa menahan rasa frustrasi karena bakat hebat yang terbuang di hadapanku!" Ia menghela napas dengan kasar.


"Aku mengerti rasa frustrasimu, tetapi tidak ada yang bisa kita lakukan selain melangkah maju. Reon mungkin telat belajar sihir, tapi dia masih sangat muda. Bukan hal yang mustahil baginya untuk mengejar ketertinggalan, jika ia berlatih cukup keras."


"Kau benar... Dia mungkin terlambat start, tapi bakatnya masih ada. Selama kita bisa melatihnya dengan benar, dia pasti akan menjadi Petualang rank S di masa depan!" Bearnold tersenyum.


Guildmaster Bearnold lanjut untuk menuliskan hasil tes Riyan ke dalam clipboard yang ia pegang.


[Bakat Sihir: S]


[Afinitas Sihir: Kegelapan(S), Angin(F)]


[Kapasitas Mana: 900]


[Catatan: Baru mulai berlatih sihir 3 minggu yang lalu. Petualang rank S Potensial]


"Baiklah, mari kita lanjut ke pemeriksaan selanjutnya. Ikuti aku."


Guildmaster Bearnold membawa mereka ke ruangan yang lebih luas, di mana golem berbentuk manusia sedang beristirahat di tengah ruangan.


'Apakah aku akan melawan makhluk itu?' Riyan bertanya-tanya pada dirinya sendiri begitu ia melihat golem itu.


"Ini adalah Human Golem. Ia memiliki kehebatan yang setara dengan monster rank F. Tujuanmu adalah mengalahkannya. Namun, kau tidak diperbolehkan menggunakan artefak atau potion selama pertarungan, dan kau hanya punya waktu 10 menit untuk mengalahkannya."


"Ada pertanyaan?"


Riyan mengangguk dan bertanya, "Selama itu bukan artefak, aku bisa menggunakannya, 'kan? Aku ingin menggunakan pedang."


"Apa? Kau seorang penyihir. Mengapa kau ingin menggunakan pedang?" Guildmaster Bearnold bingung dengan permintaan Riyan.


"Sebenarnya... aku punya lebih banyak pengalaman dengan pedang daripada dengan sihir..." beritahu Riyan.


"Apa?!" Bearnold langsung berbalik menatap Kamila lalu sedikit berteriak, "Apa maksudnya ini?! Kupikir kau mengajarinya sihir!"


"Memang benar, tapi dia juga berlatih ilmu pedang."


"Itu konyol. Dia sudah terlambat beberapa tahun, namun kau masih membuang-buang waktunya dengan mengajarkan ilmu pedang? Apa yang kau pikirkan, Kamila?"


"Bagaimana cara aku melatihnya itu bukan urusanmu, Guildmaster Bearnold. Apakah kau di sini untuk menasehatiku atau mengatur ujian?"


Guildmaster Bearnold menghela nafas, "Apakah kau punya pedang? Jika tidak, aku bisa meminjamkannya padamu."


"Aku punya pedang. Kak Kamila?" Riyan menghadap Kamila.


Kamila mengambil pedang yang biasa Riyan gunakan dan menyerahkannya kepadanya.


Setelah pedang itu berada di tangannya, Riyan mengangguk pada Guildmaster Bearnold, yang dengan enggan mengaktifkan Human Golem.


Human Golem mulai bergerak beberapa detik kemudian.


Meskipun pada awalnya gerakannya kaku, tapi lama-lama menjadi lebih cepat, dan sebelum Riyan sadar, golem itu sudah berlari ke arahnya.


Makhluk batu itu mulai melemparkan pukulan ke arah Riyan begitu jaraknya cukup dekat.


'Meskipun pukulannya nampak kuat, tapi gerakannya lambat! Aku bisa menghindarinya dengan mudah!'


Riyan ingin menguji hasil latihannya pada golem itu, jadi ia tidak langsung menyerangnya dan cuma menghindar.


Namun, ia dengan cepat merasa bosan karena betapa lambatnya golem itu bergerak.


'Golem ini lebih lemah dari yang kupikirkan... Mari kita akhiri saja...'


*Slaash!


Riyan tiba-tiba menggunakan kombo pertama dari Formless Sword Dance, mengirimkan tiga serangan secara beruntun.


Golem itu berhenti bergerak untuk sesaat sebelum roboh di lantai, pecah menjadi 3 bagian.


'Hanya itu saja?' Riyan menatap golem yang hancur itu dengan alis terangkat, seolah-olah ia tidak percaya betapa mudahnya ia mengalahkan monster itu.


"Selamat, kau telah mengalahkan Human Golem dan lulus Ujian menjadi Petualang... jika ini adalah ujian biasa." Guildmaster Bearnold berkata dengan senyum lebar.


"Hah? Apa maksudmu?" tanya Riyan.


Bearnold tiba-tiba menginjak lantai dengan kakinya yang besar, menyebabkan seluruh ruangan bergetar.


Human Golem yang tadinya tergeletak di lantai tiba-tiba berubah menjadi tumpukan pasir.


Pasir itu bergerak tak lama setelah itu, tumbuh semakin besar sampai berubah menjadi golem lain, tapi tidak terlihat seperti Human Golem dan dua kali lebih besar.


"Ini adalah Sand Golem, dan memiliki kehebatan monster Rank E. Jika kau ingin lulus ujian dan menjadi seorang Petualang, kau harus mengalahkannya! Namun, kau hanya diperbolehkan menggunakan sihir!" beritahu Bearnold.


"Bearnold! Apa maksudnya ini?! Ini bukan bagian dari Ujian Petualang!" protes Kamila.


"Kamila, ini adalah Guild-ku. Jika kau ingin diakui sebagai Petualang di sini, kau harus mengikuti aturanku. Jika kau tidak menyukainya, kau bisa pergi ke kota lain dan mengikuti ujian lagi di sana."


"Aku hanya perlu mengalahkannya dengan sihirku, kan? Aku akan melakukannya." ucap Riyan dengan tenang.


"Itulah yang ingin aku bicarakan! Golem itu akan mulai bergerak dalam sepuluh detik, jadi lebih baik kau bersiap-siap sebelum itu!" Bearnold mengingatkan.


"Sepuluh detik, ya?"


Riyan diam-diam berdiri di sana dan menunggu Sand Golem bergerak.


Sepuluh detik kemudian, Sand Golem tiba-tiba bergerak.


Namun, bahkan sebelum bisa menggerakkan lengannya, Riyan mengangkat tangannya dan mengarahkan jarinya ke arah Golem itu.


Sebuah garis hitam terbang melintasi ruangan dalam sekejap mata sebelum menghantam Sand Golem.


Black bullet dengan mudah membuat lubang di kepala golem. Namun, sihir itu tidak berhenti dan terus melesat ke dinding di belakangnya, menciptakan lubang seukuran kepalan tangan.


Beberapa detik kemudian, Sand Golem kembali menjadi tumpukan pasir yang tidak berguna.


"Serius?" Bearnold bergumam bingung setelah menyaksikannya.


'Dalam waktu 10 detik, dia diam-diam telah mengaktifkan Black Bullet dan mengisinya dengan Mana secara berlebihan. Setelah sepuluh detik berlalu dan golem diaktifkan, dia melepaskan sihirnya, menghancurkannya dalam sekejap.'


'Namun, meskipun dia punya rencana, itu tidak akan berhasil jika kekuatan sihirnya tidak cukup kuat. Untuk mengalahkan Sand Golem, dia membutuhkan setidaknya 1,500 magic power. Black Bullet barusan seharusnya mendekati 2,000 magic power...'


Senyum tipis muncul di wajah Kamila ketika ia menyadari apa yang baru saja Riyan lakukan.


"Apakah aku lulus ujian?" tanya Riyan.


"Hahaha!" Guildmaster Bearnold tiba-tiba mulai tertawa terbahak-bahak.


"Lumayan! Tidak buruk sama sekali! Baiklah, aku akan menerima kekalahan ini! Selamat, Reon. Kau telah resmi lulus Ujian Petualang. Dan aku minta maaf atas lelucon kecilku barusan. Aku ingin melihat potensi sihirmu dan tidak bisa menahan diri."


"Tidak apa-apa. Aku juga ingin menguji sihirku." Riyan menggelengkan kepalanya.


Beberapa waktu kemudian, Guildmaster Bearnold secara pribadi menyerahkan Lisensi Petualang kepada Riyan.


"Kau akan membutuhkan ini jika kau ingin meninggalkan kota sendirian atau menerima misi dari Guild manapun di luar sana."


"Terima kasih." Riyan yang menerima Lisensi Petualang yang berbentuk kartu identitas.


[Nama: Reon]


[ID:1505737101]


[Peringkat Petualang: F]


[TTL:06/04/20XX]


[Darah: O+]


[Sponsor: Kamila (ID:646090913)]


[Tanggal Dibuat: 06/04/20xx]


[Kadaluarsa: 06/04/2040]


"Sekarang kamu sudah resmi menjadi Petualang, mari kita mulai latihanmu." ucap Kamila.


"Sudah? Bukankah kita harus mempersiapkan lebih banyak lagi? Bagaimana kalau pelajaran tentang monster dulu?"


"Kamu akan belajar saat kamu melawan mereka. Itulah cara tercepat bagi orang sepertimu untuk belajar."


"Semoga berhasil. Aku tidak sabar untuk melihat akan menjadi apa dirimu nantinya." Bearnold berkata kepada Riyan.


"Senang juga akhirnya bisa melihatmu kembali ke luar kota lagi, Kamila." Guildmaster Bearnold berbalik dan menghilang ke dalam gedung tak lama kemudian.


Sementara itu, Kamila membawa Riyan ke ruangan lain yang memiliki puluhan komputer, seolah-olah mereka telah memasuki sebuah warnet.


"Tempat macam apa ini?" Riyan bertanya.


"Di sinilah kamu bisa menerima misi dan permintaan guild," jelasnya.


'Huh. Dalam novel fantasi, mereka akan ditempelkan di seluruh dinding seperti semacam kantor yang sibuk, tapi ini cukup rapi dan lebih nyaman.' pikir Riyan.


Setelah mereka menemukan komputer yang kosong, Kamila menginstruksikannya, "Masukkan kartumu di sana. Untuk saat ini, kamu hanya akan diperlihatkan misi-misi yang berada di kelasmu atau di bawahnya."


Riyan menggulir misi-misi di layar setelah memasukkan kartunya.


Ada empat kategori misi yang bisa Riyan pilih.


Misi transportasi, misi penaklukan, kontrol wilayah, atau misi khusus.


"Lakukan misi penaklukan." Kata Kamila.


"Baiklah..."


Setelah mengklik kategori misi penaklukan, Riyan secara otomatis menerima sebuah misi.


[Bunuh Monster rank F]


"Hah? Itu saja? Bukankah seharusnya lebih spesifik?" Riyan menatap Kamila dengan bingung.


"Apakah itu tidak cukup spesifik untukmu?"


"Maksudku, berapa banyak yang harus kubunuh? Monster seperti apa?"


"Jumlahnya tidak masalah. Kamu bisa membunuh seratus atau tidak sama sekali. Jenis monsternya juga tidak masalah. Bunuh saja apa pun yang menghampirimu." terang Kamila.


"Benarkah? Ini sama sekali bukan misi sama sekali."


"Bukan. Kecuali ada monster yang menyebabkan masalah di dekat kota kita atau menghalangi rute perdagangan, guild tidak akan membagikan misi penaklukan resmi.


Namun, untuk meninggalkan kota sebagai Petualang rank F, kamu harus memiliki misi, maka misi yang samar-samar seperti ini, sebagian besar hanya untuk memberi tahu guild apa yang kamu rencanakan untuk dilakukan di luar."


"Begitu..."


"Sekarang kamu punya misi, ayo kita pergi berburu beberapa monster." Kamila berkata sesaat kemudian.


"Oke." Riyan mengangguk.