System: Parallel World

System: Parallel World
Chapter 6: Punya pacar



"Huh?"


Semua guru yang ada di ruangan tersebut menoleh pada Mina. Mereka semua sama-sama mengangkat alisnya.


"Mina ... maksudmu Riyan? Apakah kamu berbicara tentang Si pendekar pedang, Spellsword? Yang meninggal beberapa bulan yang lalu?" Salah satu guru meminta klarifikasi.


"Ya, itu Riyan! Dia kembali!" ucap Mina girang, setelah beberapa saat tenggelam dalam keheningan. Ruangan tiba-tiba meletus dengan kekacauan saat semua orang menyadari makna di balik kata-kata tersebut.


"Sungguh sialan, aku tahu bajin9an itu tak akan mati dengan mudah!"


"Hahaha! Ini berita bagus! Aku tak bisa membayangkan reaksi akademi lain jika mendengar berita ini!"


Namun, Mina mengganggu perayaan mereka dengan kabar buruk yang datang setelahnya.


"Aku minta maaf untuk mengganggu perayaan kalian, tapi meski Riyan masih hidup, dia menderita amnesia, jadi dia tidak ingat apapun."


"Apa? Amnesia? Siapa yang peduli! Selama dia ingat bagaimana caranya bertarung!" Salah satu guru tertawa.


"Sayangnya, dia juga kehilangan kekuatannya. Riyan benar-benar tak ingat dengan seluruh kemampuannya."


Yah, ekspetasi mereka terlalu berlebihan.


.


.


.


.


Sementara itu, di dalam kelas, Riyan berpura-pura tak menyadari tatapan dari teman sekelasnya dengan memusatkan perhatian pada buku catatan.


Namun, beberapa siswa mulai mendekati Riyan untuk mengajukan pertanyaan. Mereka sudah sangat penasaran.


"Jadi apa yang telah kau lakukan selama tiga bulan terakhir?" ucap salah satu siswa tanpa basa-basi.


"Semuanya masih kabur, tapi aku ingat berjalan tanpa tujuan sampai aku tiba di akademi ini. Aku tahu ada sesuatu yang istimewa tentang tempat ini saat aku melihatnya," balas Riyan dengan sempurna, ia tak gugup untuk menanggapi pertanyaan itu. Lagipula, ia sudah memprediksi pertanyaan-pertanyaan itu dan telah membuat jawabannya.


"Jadi kau benar-benar tak ingat apa-apa tentang 'kematian' mu? Kami semua terkejut saat akademi tiba-tiba mengumumkan tentang kabar kematianmu!"


"Benarkah?" Riyan menyipitkan matanya.


'Sekarang aku memikirkannya, bagaimana akademi ini tahu bahwa aku sudah mati tanpa menemukan mayatku?' batin Riyan.


Riyan memiliki beberapa pertanyaan. Ia memutuskan untuk mencari tahu dengan bertanya pada sesama siswa di kelasnya.


"Mengapa aku diberitakan sudah mati? Aku diberitahu bahwa mereka hanya tak dapat menemukan mayatku."


"Life Tablet milikmu sudah hancur, begitulah yang diketahui sekolah." Salah satu siswa menjelaskan.


"Life Tablet? Benda apa itu?"


"Ini adalah artefak yang melacak hidupmu. Jika kau tewas, Life Tablet akan kehilangan fungsinya. Semua siswa diminta untuk memilikinya, dan semuanya dikelola oleh akademi."


"Oh, aku mengerti ..."


"Bahkan jika kau kehilangan ingatanmu, senang bisa kembali, Riyan!"


"Benar?! Kau adalah Spellsword——harapan kita."


Riyan mengangkat alis dan bertanya, "Maaf, tapi apa itu Spellsword?"


"Aliran dalam memanfaatkan Mana, kau yang menciptakan aliran ini, tau?!. Orang-orang yang tidak bisa menggunakan sihir biasanya memanfaatkannya untuk memperkuat senjata yang mereka gunakan! Hanya itu cara golongan seperti kita untuk bersaing dengan para Penyihir. Yah, selain itu ada artefak sihir, tapi benda itu mahal!"


"Karena ketidakmampuan kita untuk menggunakan sihir, kita selalu diejek dan diintimidasi oleh siswa kelas sihir. Untungnya, kami memilikimu, kebanggaan semua kelas non penyihir."


"Aku mengerti. Tidak kusangka ternyata seburuk itu?!" Riyan mengangguk.


Ia tidak berharap Riyan asli dari dunia ini menjadi harapan orang-orang. Di dunia sebelumnya, ia hanya orang biasa yang memiliki nilai tertinggi.


'Apakah ini rasanya memiliki orang-orang yang bergantung padamu? Betapa indahnya ...' Riyan menghela napas dalam hati.


'Sayangnya, perasaan ini bukan untukku, tapi untuk Riyan asli, yang merupakan inspirasi bagi para siswa ini,' batin Riyan dengan lesu.


Saat mata pelajaran berikutnya dimulai, semua orang kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.


'Sialan, dia benar-benar hidup!' Guru untuk pelajaran berikutnya benar-benar menangis di dalam hatinya setelah melihat wajah Riyan. Guru tersebut secara singkat memperkenalkan dirinya pada Riyan sebelum memulai kelas.


'Bagus, aku juga paham pada materi ini,' Riyan tersenyum setelah menyimak penjelasan dari guru itu.


Sementara itu, berita tentang kebangkitan Riyan mulai menyebar ke seluruh akademi seperti api diberi bensin.


"Hei! Sudahkah kau mendengar hal ini?!"


"Yah! Spellsword masih hidup!"


"Aku pikir Life Tablet-nya sudah hancur. Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Siapa yang tahu?"


"Aku dengar dia juga menderita Amnesia. Apakah kau pikir dia masih begitu kuat?"


"Kita akan segera tahu, aku yakin ada banyak siswa kelas sihir yang sangat senang dengan keadaan ini. Ini mungkin kesempatan mereka untuk bisa mengalahkannya, setelah semua yang terjadi."


Memang, ada banyak siswa yang ingin bertarung dengan Riyan karena ia sudah kembali.


"Apa?! Riyan masih hidup?! Hahaha! Ini hebat! Aku bisa melawannya lagi!"


"Aku mendengar bahwa dia menderita amnesia, dia mungkin tak ingat bagaimana caranya bertarung."


Berita tentang kembalinya Riyan akhirnya mencapai telinga para Elite Class di akademi, yang merupakan kelas di mana para siswa yang paling berbakat ditempatkan.


Kelompok para gadis sedang membicarakannya.


"Hei, Araya, apakah kau dengar? Spellsword telah kembali. Dia masih hidup, dia berhasil selamat!?"


"A-apa?" Seorang gadis muda yang cantik dengan rambut hitam pendek dan sepasang mata zamrud berkata dengan kaget. Matanya sedikit membelalak ketika menatap teman yang membawa kabar mengejutkan itu.


"Spellsword! Jangan katakan bahwa kau sudah melupakan pacarmu? Baru tiga bulan, lho?!"


"H-Hei! Kau belum pernah mendengarnya? Araya sekarang dengan Reinal!" Siswi lain ikut nimbrung.


"Eh? Sejak kapan? Ini adalah pertama kalinya aku mendengar tentang hal ini."


"Yah, aku tak terkejut, karena mereka mulai terlihat kencan minggu lalu," timpal siswi lainnya.


"Apakah benar begitu? Apa yang akan kau lakukan sekarang bahwa pacar lamamu telah kembali, Araya? Apakah kau akan membuang Reinal dan kembali dengan Riyan? Reinal akan kesal jika kau melakukannya, dia mungkin akan berusaha membunuh Riyan untuk alasan ini!"


"Riyan ..." Araya jelas nampak bingung. Hatinya bergejolak karena emosi yang tak terhitung jumlahnya mendadak muncul.


"Rupanya, Riyan mengalami amnesia. Tergantung pada tingkat keparahan, dia mungkin bahkan tak akan mengingatmu, jadi kau bisa bersikap seolah-olah kau memang tak mengenalnya." Siswi lainnya bergabung pada obrolan dan memberikan sebuah usulan.


Sementara itu, di kelompok laki-laki ...


"Apa yang kau pikirkan, Reinal? Apakah kau tak masalah bahwa Araya akan kembali dengan Riyan?" Seseorang di sana tiba-tiba bertanya kepada yang bersangkutan, Reinal memang berada di ruangan itu. Namun, terpaut jarak dari para gadis.


Namun, Reinal tetap diam saat ia menatap Araya dengan ekspresi yang membingungkan di wajahnya.


'Riyan ... kenapa kau harus kembali sekarang?' Ia menarik napas dalam-dalam.