System: Parallel World

System: Parallel World
Chapter 26: Afinitas sihir baru



Beberapa saat kemudian, Kamila mendekati tubuh Riyan yang tergeletak di lantai dan mengambilnya, menggendongnya seperti seorang putri.


"A-aku akan menggendongnya untukmu." Kroni dengan cepat berkata.


"Tidak apa-apa, aku bisa melakukannya." Kamila berbalik dan mulai berjalan menuju pintu.


Kroni menyipitkan matanya pada mereka berdua dan tiba-tiba bertanya, "Hei, Saintess, jika kau tidak keberatan jika aku bertanya. Kau memiliki hubungan apa dengan orang ini? Dia terlihat sedikit terlalu muda untuk menjadi pacarmu, kecuali jika kau lebih memiliki tipe seperti itu ..."


"Apakah kau ingin mati?" Kamila berbalik dan meliriknya dengan niat membunuh.


"A-aku hanya bercanda. Jangan dianggap serius."


Kamila dengan dingin mendengus, "Dia hanya anak terlantar dan kebetulan kutemukan dan entah bagaimana akhirnya aku merawatnya. Tidak ada yang lebih dari itu di antara kami."


"Aku mengerti ... Maaf sudah sok tau pada urusanmu." Kroni membungkuk padanya dan tetap melakukannya sampai Kamila menghilang dari tempat itu.


Setelah meninggalkan guild petualang dengan Riyan yang masih pingsan, Kamila membawanya kembali ke mobilnya sebelum pulang ke akademi.


Tepat sebelum mereka kembali ke akademi, Kamila memastikan untuk mengambil kalung yang ia berikan kepada Riyan.


"A-apa yang terjadi padanya?" Penjaga di gerbang bertanya tentang Riyan saat mereka tiba di gerbang.


"Luka-lukanya kambuh, menyebabkan dia kehilangan kesadaran." Kamila menjelaskan.


"Apakah dia memerlukan penanganan medis? Kita mungkin harus——oh ... jangan pikirkan ..." Penjaga tiba-tiba teringat pada latar belakang Kamila dan menghentikan perkataannya di tengah-tengah.


"Bisakah kau membantu untuk pemeriksaan?" Aku akan membawanya kembali ke kamarnya," ucap Kamila


"Aku akan melakukannya."


Kamila melanjutkan untuk membawa Riyan kembali ke dalam kamarnya.


Begitu berada di dalam kamarnya, ia membawanya dan meletakkannya di tempat tidur.


Namun, karena Riyan tidak sadar, tubuhnya dipenuhi keringat.


Kamila mengusap matanya dan menghela nafas dengan kasar sebelum ia mulai melepaskan seluruh pakaian Riyan dan menyeka tubuhnya dengan handuk.


Sementara itu, Lila melihat semuanya dari awal sampai akhir dengan menyeringai lebar.


Setelah semuanya selesai, Kamila meninggalkan Riyan sendiri untuk beristirahat.


.


.


.


.


Keesokan paginya, Riyan terbangun dengan nyeri intens di seluruh tubuhnya, merasa seolah-olah ia telah ditabrak oleh sebuah truk.


"Sialan ... rasa sakit ini?"


"Selamat pagi, Riyan." Lila menyapanya dengan senyuman.


"Huh? Lila?" Riyan terkejut melihatnya.


Ia mulai melihat sekelilingnya, "Ini ... aku kembali ke kamarku? Bagaimana caranya?"


"Perawat cantik itu membawamu kembali karena kau pingsan."


"Kak Kamila? Tunggu ... itu berarti ..."


"Yup! Dia membawamu seperti seorang putri! Aku hampir tidak bisa percaya saat aku melihatnya!" Lila tertawa terbahak-bahak.


Wajah Riyan mendadak tersipu setelah menyadari bahwa Kamila telah membawanya kembali dari Guild Petualangan.


"Oh, apakah kamu tersipu? Jangan dulu! Karena itu bukan bagian yang terbaik!" Lila tiba-tiba berkata dengan semangat.


"Apa yang kau maksud?" Riyan memiliki perasaan buruk tentang ini, tapi ia masih bertanya terlebih dahulu.


"Setelah dia membawamu kembali ke kamar, dia bahkan menyeka tubuhmu yang berkeringat! Kau ditelanjangi terlebih dulu."


"A-apa?! Aku ... apa? Tunggu, sepertinya sudah menjadi hal biasa, kak Kamila pernah mengecek tubuhku."


Namun, sebelum Riyan bisa menenangkan diri,


Lila berkata, "Ngomong-ngomong, ini hampir waktunya berangkat. Kamu harus segera mandi sebelum pergi."


Riyan menghela napas dan mandi dengan cepat sebelum berangkat ke akademi.


"Aku bertaruh banyak siswa melihat kak Kamila membawaku ... mereka pasti akan mem-bully-ku dengan itu ..."


"Sebenarnya, kamu cukup beruntung. Hanya penjaga di pintu gerbang dan beberapa siswa di asramamu yang melihatnya," beritahu Lila.


"Bahkan jika seseorang melihat itu, itu masih terlalu banyak." Riyan menghela napas.


"Ngomong-ngomong, apa yang terjadi saat kamu berada di luar? Kenapa kamu bisa pingsan?" tanya Lila.


"Ceritanya cukup panjang, tapi biar kupersingkat. Kak Kamila membawaku ke Guild Petualang, tempat aku berlatih dengan bajin9an gila sampai aku hampir mati."


"Kedengarannya menyenangkan." Lila mangut-mangut.


"Menyenangkan? Cobalah sendiri jika kau berpikir bahwa pelatihan itu menyenangkan! Saat itu adalah siksaan! Namun, jika aku harus jujur, aku rasa ada sangat banyak keuntungan dari itu, jadi aku tak akan mengeluh terlalu banyak."


Beberapa saat kemudian, Riyan tiba di kelasnya dan melanjutkan untuk menghabiskan setengah dari hari untuk mendengarkan guru memberikan materi pelajaran.


Setelah semua kelas berakhir, Riyan berhasil menuju pusat pelatihan meskipun Kamila tidak menyuruh untuk melakukannya. Benar saja, Kamila menunggunya di luar gedung itu.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Kamila.


"Aku tiak pernah seburuk itu, seluruh tubuhku menjerit pada rasa sakit setiap kali akan menggerakkan tubuh. Aku bahkan mungkin memiliki beberapa tulang yang patah," Riyan menghela napas.


"Tulangmu baik-baik saja. Aku sudah mengeceknya."


"Lagipula, aku punya sesuatu untuk diceritakan kepadamu. Kroni ingin terus melatihmu untuk dua minggu lagi. Aku akan membiarkanmu untuk memutuskan, apakah kamu ingin terus berlatih dengannya atau tidak?"


"Kalau begitu, aku akan mengatakan kepadanya bahwa kamu menolak," ucap Kamila dengan wajah datar.


"T-tunggu! Siapa bilang aku menolak?" Riyan tiba-tiba berkata.


"Oh?" Kamila sedikit terkejut.


"Itu benar bahwa metode pelatihannya sangat menyakitkan, tapi, aku harus mengakui bahwa itu sangat efisien dan menjanjikan. Hanya dalam dua hari, aku telah belajar bagaimana menggunakan pedang dengan benar.


Jika aku bertempur dengan teman sekelasku, aku akan memiliki kesempatan yang layak untuk mengalahkan mereka. Jika aku terus berlatih dengan Kroni, aku pasti bisa mengalahkan Thaya!"


"Jadi, kamu akan terus berlatih bersamanya?" Kamila meminta konfirmasi.


"Ya." Riyan mengangguk pasti.


"Aku mengerti, maka aku akan segera memberitahu Kroni untuk mengetahui keputusanmu."


"Oh tunggu ... tapi ini berarti bahwa aku harus meninggalkan akademi setiap hari untuk pergi ke Guild Petualang. Aku akan berjalan kaki ke sana, tapi itu akan menyia-nyiakan banyak waktu."


Kamila tidak bisa tidak tersenyum saat melihat bagaimana Riyan begitu perhatian terhadap dirinya.


"Aku tak keberatan mengantarmu ke sana," katanya beberapa saat kemudian.


"Apakah kau yakin?"


"Aku masih akan bersamamu bahkan jika kamu tidak berlatih di sini, itu tidak akan membuat sebagian besar perbedaan," balas Kamila tanpa keraguan.


"Baiklah, aku akan merepotkanmu lebih banyak, untuk mengantarku ke Guild Petualang."


"Istirahat sekarang, dan beli lagi baju. Kita akan mulai pergi ke Guild Petualang besok," perintah Kamila


"Ya!"


Riyan pergi untuk membeli lebih banyak pakaian saat Kamila menghubungi Kroni tentang keputusannya.


"Aku mengerti, tampaknya aku masih meremehkan bocah itu. Aku tak berpikir dia akan benar-benar setuju. Aku akan membalasnya karena melebihi harapanku dengan meningkatkan pelatihannya! Hahaha!" Kroni tertawa terbahak-bahak.


Keesokan harinya, Kamila mengantar Riyan ke Guild Petualangan untuk pelatihannya


.


.


.


.


Beberapa hari kemudian, Riyan akhirnya berhasil meningkatkan mantra sihirnya untuk Dark Barrier ke Mastery Rank 'D', dengan berlatih sihir sebelum berlatih dengan Kroni, menyelesaikan quest-nya.


[Anda telah menyelesaikan sebuah quest]


[+1.000 Magic Experience, +5 Magic Point]


[Anda telah menerima quest baru dari Magic System]


[Quest: Pelajari mantra sihir baru]


[Deskripsi: Pelajari satu mantra sihir tingkat 2 atau atasnya]


[Batas waktu: 30 hari]


[Reward: 1.600 Magic Experience, 8 Magic Point]


[Quest: Bunuh monster]


[Deskripsi: Bunuh 3 monster menggunakan sihir]


[Batas waktu: 30 hari]


[Hadiah: 2.000 Magic Experience, 10 Magic Points]


'Aku harus membunuh monster untuk quest baru ini?!' batin Riyan membaca panel melayangkan di hadapannya.


Ia kemudian bertanya pada Lila, "Hei, apakah kau memiliki mantra sihir tingkat 2 yang bisa kau ajarkan kepadaku?"


"Aku mengetahuinya, tapi kenapa kamu begitu tergesa-gesa? Kamu baru saja mulai menggunakan sihir."


"Kurasa aku hanya penasaran." Ia membuat sebuah alasan.


"Maaf, tapi aku tidak akan mengajarkan mantra sihir tingkat 2 untuk sekarang."


"Kalau begitu kapan bisa kau ajarkan padaku?"


"Ketika aku pikir kamu cukup mampu menanganinya," balas Lila sambil tersenyum.


Jawaban Lila sedikit mengambil keputusan untuk Riyan.


Ia memutuskan untuk tidak mengejar quest untuk saat ini sejak ia memiliki waktu 30 hari untuk menyelesaikannya.


'Sekarang aku memikirkannya, apa yang akan terjadi jika aku gagal dalam quest?' Riyan bertanya-tanya.


Beberapa saat kemudian, begitu ia berada di dalam kamar mandi, Riyan membuka Magic Shop.


'Sekarang aku aku memiliki cukup banyak Magic Point, mari kita mendapatkan afinitas sihir baru!'


Setelah menarik nafas dalam-dalam, Riyan menggunakan 10 Magic Point dari 11 yang ia miliki untuk membeli [Pembangkit afinitas sihir secara acak] dari Magic Shop.


[Konfirmasi pembelian 'Pembangkit afinitas sihir secara acak']


"Konfirmasi!"


Ding!


[Anda telah membeli 'Pembangkit afinitas sihir secara acak' dari Magic Shop [


[Anda telah membangkitkan afinitas sihir baru!]