System: Parallel World

System: Parallel World
Chapter 11: Lila



"Waaa ... ugh. Bisa-bisanya aku ketiduran. Mungkin aku memang sangat kelelahan," ucap Riyan menatap sekitarnya. Air panas yang ia gunakan sudah dingin, itu berarti ia tertidur sejam lebih.


"Ini semakin dingin ... aku harus segera mentas!?"


Riyan ingin segera mentas, namun matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang tak lazim. Hanya sekelebat bayangan misterius. Ia pun tak mau menganggapnya serius. Tapi, pikiran liarnya sudah kelewatan.


"Huh, jangan pikir yang aneh-aneh! Mana mungkin ada hantu, iya 'kan——"


Namun, apa yang ia lihat selanjutnya menyebabkan ia berteriak dan jatuh ke bak mandi lagi.


"Hantu, h-hantu!" Riyan berteriak sedikit histeris saat mata lebarnya menatap dinding kamar mandi di depannya, di mana kepala manusia muncul dari dinding.


Sosok itu juga terkejut dengan reaksi yang Riyan tunjukkan, dan dengan suara yang feminin, ala-ala perempuan, sosok itu berkata "K-kamu bisa melihatku?!"


'D-dia bisa bicara?!' ucap Riyan panik dalam hatinya.


"Hei! Jawab aku! Bisakah kamu melihatku?!" Sosok itu bertanya lagi padanya. Riyan duduk di bak mandi dengan ekspresi bingung di wajahnya.


Setelah beberapa saat diam, Riyan berdiri dan berpura-pura seperti tidak ada yang terjadi. Ia berusaha menenangkan dirinya.


Riyan membilas tubuhnya selama beberapa detik sebelum keluar dari kamar mandi, benar-benar mengabaikan sosok yang disangka hantu itu.


'Aku hanya akan berpura-pura tak bisa melihatnya. Jika dia menyangka bahwa aku dapat melihatnya, kemungkinan besar akan menghantuiku terus-terusan!' pikir Riyan saat ia mengeringkan tubuhnya dengan handuk.


Setelah mengenakan pakaian satu-satunya yang ia miliki, jubah mandi yang ia temukan di kamar mandi, Riyan langsung tidur. Yah, pura-pura untuk tidur.


Sosok perempuan itu terus melayang-layang di sekitar tempat tidur. Riyan jadi terganggu, alisnya berkedut, aktingnya sedang dipertaruhkan.


Sementara itu, pikirannya menjerit. Ia sedikit ketakutan. Apalagi setelah mengetahui bahwa sosok itu benar-benar hantu.


'Ah, sial! Kenapa kau tak segera pergi? Aku tak bisa melihatmu! Aku tak bisa melihatmu!' batin Riyan yang masih berupaya berpura-pura tidur.


Lalu hantu itu melayang langsung tepat di atas Riyan, diam-diam menatap wajahnya yang sedikit ganteng itu.


"Kamu cukup buruk dalam berpura-pura, kamu tahu? Aku tahu kamu bisa melihatku. Aku bukan roh jahat, jadi kamu tidak perlu waspada."


"..."


'Terdengar mencurigakan! Seperti sesuatu yang akan dikatakan oleh roh jahat!' batin Riyan yang masih kekeh untuk pura-pura tidur. Walaupun sudah ketahuan.


"Jika kamu membuka mata sekarang, aku akan menunjukkan kepadamu dadaku yang indah!" Kata-kata yang tak terduga akan keluar dari hantu perempuan itu membuat wajah Riyan secara tidak sadar berkedut.


Itu berarti kamu akan menjadi yang pertama! Yang perlu kamu lakukan adalah membuka mata! Kemudian kamu bisa memanjakan matamu dengan tubuh yang menggoda ini!"


"..."


Riyan tidak terpedaya pada tipu muslihat hantu itu dan tetap menutup matanya. Siapa juga yang mau meng-grape dada yang tembus pandang?


Hantu itu menghela napas setelah melihat Riyan yang tak terjebak dalam perangkapnya.


Setelah beberapa saat keheningan, hantu itu berbicara dengan suara yang terdengar mengancam, "Jika kamu tak membuka mata sekarang, aku akan merasuki tubuhmu dan membuatmu berlari mengelilingi akademi dengan keadaan telanjang!"


Mendengar ancaman yang mengerikan seperti itu, Riyan sontak membuka matanya, dan ia berteriak, "Jangan berani-beraninya melakukan itu!"


Saat membuka matanya, akhirnya ia bisa melihat hantu itu mengambang di atasnya.


'Sialan … aku tak menyangka bahwa dia bisa secantik ini. Siapa juga yang menyangka bahwa hantu bisa secantik ini! Eh? Tunggu, jangan terpedaya! Mereka adalah makhluk yang mampu berubah-ubah wujud, mungkin itu bukan wujud aslinya!'


Ini adalah pikiran pertama Riyan saat melihat hantu itu dengan jelas untuk pertama kalinya.


Karena kabut dari air panas, ia tidak dapat melihat hantu itu dengan jelas saat di kamar mandi, tapi sekarang ia melihatnya tanpa ada yang menghalangi penglihatannya, ia bisa melihat sosok hantu tersebut dengan sangat jelas.


Hantu ini memiliki rambut putih yang panjang terurai mengembang di belakangnya seperti tertiup angin, bulu mata yang panjang, dan ia memiliki dua mata merah seperti batu rubi yang sangat indah. Tubuhnya cukup langsing dan ideal.


Ia memiliki kaki panjang dan ramping, dan kulit pucat yang membuatnya tampak seperti ia tercipta dari salju. Ia juga terlihat sebaya dengan Riyan, dan ia juga mengenakan seragam sama dengan yang dipakai oleh para siswa di akademi ini.


Melihat ekspresi Riyan yang bingung, hantu perempuan itu tersenyum, "Apakah kamu kecewa karena aku tak telanjang? Atau apakah kamu takut dengan penampilanku?"


Riyan mengerutkan kening dan berkata, "Aku tak peduli dengan tubuh telanjangmu, dan aku juga tidak takut padamu. Lagian, siapa kau? Apakah kau benar-benar hantu? Dan apa yang kau inginkan dariku?" Riyan memborbardir si hantu dengan pertanyaan.


Hantu itu tampak sedikit terkejut dengan jawabannya.


"Aku tidak benar-benar seorang hantu, karena aku tak benar-benar mati, aku adalah apa yang kamu sebut 'Spirit'."


"Apa bedanya?" tanya Riyan mengerutkan kening.


"Untuk orang bodoh sepertimu, yah mari kujelaskan. Spirit adalah makhluk hidup yang tak memiliki tubuh fisik. Tubuh fisikku mungkin sudah lama hilang, tapi jiwaku baik-baik saja, dan itu membuatku menjadi seorang Spirit."


"Ngomong-ngomong, aku punya nama. Lila. Senang bertemu denganmu, Riyan dari dunia lain." Spirit yang mengaku bernama Lila itu tersenyum.


"Apa——?! Bagaimana kau bisa ..." Mata Riyan melebar dengan kaget.