
Setelah meninggalkan Guild Petualang, Riyan masuk ke dalam mobil bersama Kamila.
“Ini akan memakan waktu yang cukup lama untuk sampai ke tembok pertahanan. Jadi, aku akan menjelaskan kepadamu tentang monster,” beritahu Kamila.
"T-Tunggu... tembok pertahanan?" kejut Riyan menatap Kamila dengan sebelah alis terangkat.
"Kota ini dikelilingi oleh tembok besar. Itu mencegah para monster masuk dan membuat lebih sulit para Vampire untuk menyelinap ke dalam. Ada juga penghalang sihir kuat yang melindungi kota dari serangan sihir dari luar." terang Kamila.
"Aku mengerti... Ngomong-ngomong, aku sudah lama ingin menanyakan hal ini, tetapi... darimana monster dan Vampire ini berasal?" tanya Riyan.
"Vampire telah ada sejak zaman kuno. Ada catatan yang menunjukkan bahwa Vampire telah ada bahkan sebelum manusia. Sedangkan untuk monster... ini mungkin mengejutkan, tetapi kami percaya bahwa mereka datang dari dunia lain, sama sepertimu."
"Serius?" Riyan tercengang oleh informasi baru ini.
"Ya. Monster tidak ada sampai seribu tahun yang lalu. Mereka tiba-tiba muncul dan mulai meneror dunia. Mereka tidak peduli apakah kau manusia atau Vampire, mereka akan menyerang apapun yang terlihat."
"Tak peduli berapa banyak monster yang kita bunuh, mereka tampaknya terus muncul. Meskipun jumlah monster saat ini jauh lebih rendah daripada seribu tahun yang lalu, kita tak bisa menyingkirkan mereka sepenuhnya."
"Namun, itu tidak seperti tidak ada hal baik dari munculnya monster itu. Mereka memberikan kita Mana core."
"Mana core? Biar kutebak, itu adalah sesuatu yang monster tinggalkan setelah mereka terbunuh, dan itu mengandung mana di dalamnya." ucap Riyan, mengingat semua game yang pernah ia mainkan di masa lalu ketika ia masih kecil.
"Ya, itu benar. Mana Core ini sangat berguna bagi kita, karena dapat digunakan untuk membuat ramuan dan artefak."
Beberapa saat kemudian, Kamila memarkirkan mobilnya di area khusus untuk para Petualang yang berencana meninggalkan kota.
"Jadi ini adalah tembok pertahanan... Ini sangat besar..." Riyan bergumam saat ia menengadah untuk melihat bagian atas tembok.
"Seberapa tinggi tembok ini?" Riyan bertanya sesaat kemudian.
"Lebih dari 1.000 meter."
"Pakailah cincin ini." Kamila tiba-tiba menyerahkan sebuah cincin hitam.
Setelah memakainya di jari manis kanannya, Riyan bertanya, "Apakah ini artefak?"
"Ya, dan ini akan melindungimu jika aku tidak bisa," kata Kamila dengan tenang.
Mereka berdua mendekati gerbang di tembok pertahanan, di mana beberapa penjaga dengan senjata api berat berdiri. Salah satu dari mereka mengangkat tangannya dan berkata,
"Tunjukkan kartu identitas kalian."
"Tunjukkan padanya Lisensi Petualangmu." ucap Kamila pada Riyan sambil mengambil kartu miliknya sendiri.
Penjaga memeriksa kartu Riyan terlebih dahulu.
"Petualang rank F? Dan kau akan keluar hanya dengan kalian berdua?" Penjaga itu memandang mereka dengan alis terangkat.
Meskipun tidak ada peraturan tentang berapa banyak orang yang diharuskan meninggalkan kota, kebanyakan Petualang rank F hanya meninggalkan kota jika setidaknya ada empat orang.
"Aku mengatakan ini untuk kebaikanmu sendiri, tapi kau mungkin harus kembali setelah kau memiliki lebih banyak orang. Di luar sangat berbahaya, dan jumlah monster yang berkeliaran telah meningkat secara signifikan selama beberapa hari terakhir." Penjaga itu berkata, tidak menyadari Ranking Petualang Kamila.
"Terima kasih atas perhatianmu, tapi kami akan baik-baik saja." Kamila menyerahkan Lisensi Petualang kepadanya pada saat berikutnya.
"Rank S?!" Penjaga itu tidak percaya saat ia melihat Lisensi Petualang milik Kamila.
Karena sudah bertahun-tahun sejak Kamila meninggalkan kota untuk terakhir kalinya, tidak aneh bagi penjaga di sana untuk tidak mengenalinya.
"Kamila... Anda Saintess!" Penjaga itu segera mengenali setelah melihat namanya.
"Maafkan kekasaran saya barusan, Saintess. Jika itu Anda, saya tidak ragu bahwa semuanya akan baik-baik saja." Penjaga itu dengan cepat mengembalikan Lisensi Petualang mereka dan mundur selangkah.
"Jangan khawatir tentang itu." ucap Kamila acuh tak acuh.
"Kalau boleh tau, mengapa kalian meninggalkan kota? Dan berapa lama kalian akan pergi?" Penjaga itu kemudian bertanya.
"Kami akan melakukan perburuan monster. Kami harus kembali malam ini."
"Aku mengerti. Selamat menikmati di luar sana."
Penjaga itu memberi hormat kepada mereka saat mereka berjalan melewati tembok kota yang tebal.
"Apa yang...?" Mata Riyan melebar karena terkejut setelah melihat pemandangan di luar tembok kota.
Tidak seperti pemandangan yang cerah dan berwarna-warni di dalam kota yang bisa dilihat sepanjang hari, pemandangan di luar kota adalah kebalikannya, menjadi sunyi dan sepi tanpa tanaman hijau yang terlihat.
Riyan mengira ia telah diangkut ke dunia lain lagi setelah meninggalkan kota untuk pertama kalinya.
"Apa yang terjadi di sini? Seolah-olah telah terjadi perang nuklir."
"Ini adalah hasil dari melawan monster selama seribu tahun. Apa yang kamu harapkan?" ucap Kamila tersenyum tipis.
"Aku tidak tahu apa yang kuharapkan, tapi ini hanya... gila."
"Selamat datang di dunia kami." Kamila berkata sambil mulai berjalan ke depan.
Riyan mengikutinya dari belakang dan melihat sekeliling dengan gugup.
"S-Sepuluh km?! Jangan bilang kita akan berjalan?!" kaget Riyan.
"Tentu saja tidak. Kita bisa menyewa kendaraan di perbatasan zona hijau." .
Dan ia melanjutkan, "Ada tiga zona aman yang berbeda di dalam perimeter 10 km ini. Zona hijau panjangnya sekitar satu km mulai dari tembok kota. Di dalam zona ini, hampir tidak ada resiko kita bertemu monster. Setelah zona hijau adalah zona oranye."
"Zona oranye sekitar empat km setelah zona hijau. Penjaga dan Petualang yang berpatroli di zona ini jauh lebih sedikit daripada zona hijau, jadi ada kemungkinan lebih tinggi untuk bertemu monster, tetapi masih merupakan area yang relatif aman."
"Zona terakhir adalah zona merah. Meskipun masih ada orang yang berpatroli di area ini, itu tidak cukup untuk menjaganya tetap aman sepenuhnya, jadi ada kemungkinan kita akan bertemu monster di sana."
"Sedangkan untuk area di luar zona aman... Kami menyebutnya Wilderness."
"Bagaimana dengan kota-kota lain?" Riyan tiba-tiba bertanya.
"Kebanyakan dari mereka berada dalam situasi yang sama."
"Oh, begitu..."
Sekitar sepuluh menit kemudian, Riyan bisa melihat sebuah bangunan di kejauhan, dan itu tampak seperti dealer mobil dengan banyaknya kendaraan yang ada di sana.
Begitu mereka tiba di tempat ini, salah satu pekerja di sana mendekati mereka.
"Apakah Anda ingin menyewa kendaraan?"
"Ya, dan aku menginginkannya untuk seminggu penuh." Kamila mengangguk.
"Kendaraan jenis apa yang ingin Anda sewa?"
"Sepeda motor."
"Saya mengerti. Tolong, ikuti saya. Saya akan menunjukkan kepada Anda semua yang kami miliki."
Kamila dan Riyan mengikuti pekerja itu ke bagian belakang gedung, di mana lebih dari 20 sepeda motor tersedia.
"Aku akan mengambil yang ini." Kamila menunjuk ke sebuah sepeda motor sport berwarna merah.
"Pilihan yang bagus. Ini adalah yang terbaik yang kami miliki sekarang. Biayanya 1.000 Yor per hari, tapi kami tidak menanggung kerusakan yang terjadi, jadi Anda harus berhati-hati dalam menggunakannya."
Kamila tiba-tiba mengambil Lisensi Petualangnya dan menunjukkannya kepada pria itu.
"Petualang rank S!" Pria itu tidak bisa berkata-kata.
Setelah terdiam sejenak, ia tersentak dari kebingungannya dan berkata dengan senyum kaku, "Karena Anda adalah Petualang Rank S, Anda dapat meminjam kendaraan selama yang Anda inginkan tanpa biaya apapun! Terima kasih sudah mempercayai kami!"
Setelah mengambil kembali kartu identitasnya, Kamila melompat ke atas motor dan berkata kepada Riyan,
"Naiklah."
Riyan menelan ludah dengan gugup sebelum mengenakan helm dan duduk tepat di belakangnya.
'Kurasa ada yang salah? Kenapa aku yang berada di belakang? Ini aneh!' batin Riyan yang merasa canggung.
Setelah mengenakan helmnya, Kamila menghidupkan mesin.
"Tahan dulu."
"Whoa!" Riyan berteriak keras saat motor tiba-tiba mulai melesat ke depan, dan secara naluriah ia memeluk Kamila.
'Sangat lembut!' pikir Riyan saat ia secara tidak sengaja meraih sesuatu yang sangat lembut ...
"Jika kamu tidak memindahkan tanganmu dari sana, aku akan melemparmu dan membiarkan monster-monster itu berpesta denganmu!" ucap Kamila dengan nada dingin..
"M-Maaf!" Riyan dengan cepat menyadari apa yang sedang disentuhnya dan segera menarik tangannya.
Beberapa menit kemudian, mereka mencapai ujung zona merah.
"Baiklah, turun." ucap Kamila.
"Sudah sampai?"
"Karena kita hanya akan berburu monster rank F, kita tidak perlu pergi lebih jauh."
Setelah mereka berdua turun dari sepeda motor, Kamila memarkir motor di salah satu pos penjagaan di sana.
"Apa kau tidak takut seseorang akan mencurinya?" Riyan mau tidak mau bertanya, Kamila bahkan tidak repot-repot mengamankannya.
"Semua kendaraan di sini ditandai dengan sihir dan tidak diizinkan untuk dibawa masuk ke dalam kota. Bahkan jika mereka berhasil menyelundupkannya ke dalam kota, mereka tidak akan bisa menjualnya secara legal. Ini tidak sebanding dengan jumlah yang kamu dapatkan dari itu."
"Aku mengerti... Itu bagus untuk didengar, kurasa."
"Ayo pergi. Tetap waspada dan jangan tinggalkan sisiku sampai aku mengatakannya. Kita memasuki zona Wilderness yang sebenarnya."
Riyan mengangguk dan mengikuti Kamila masuk ke dalam Wilderness.