System: Parallel World

System: Parallel World
Chapter 8: Mulai berlatih



"Hahaha! Kau benar-benar masih hidup! Ini hebat! Aku pikir tak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk membalas dendam terhadap apa yang telah kau lakukan padaku. Sekarang kau kembali, ayo bertarung, Riyan!" teriak Thaya yang menunjuk Riyan dengan telunjuknya.


Thaya adalah salah satu dari sekelompok orang-orang yang suka mengganggu Riyan di dunianya, jadi tidak terlalu mengejutkan bagi Riyan untuk melihat Thaya dunia ini tak jauh berbeda.


Riyan menarik napas dalam-dalam dan berbicara dengan suara yang tenang dan sedikit bingung, "Maafkan aku, tapi siapa kau? Aku menderita amnesia, jadi aku tidak mengingatmu ...."


"Aku tidak peduli jika kau memiliki ingatan atau tidak! Bertarung lah denganku!" ucap Thaya yang memaksa. Ia tak peduli pada kondisi Riyan.


"Maaf, tapi aku sedikit sibuk sekarang. Mungkin kita bisa melakukannya di lain waktu——"


"Kau mau menerima tantanganku atau aku akan mengalahkanmu di sini sekarang!" ancam Thaya.


Riyan mengertakkan giginya dengan frustrasi. 'Orang ini!'


Ia berpikir bahwa ia bisa menjalani kehidupannya yang damai, memanfaatkan kehidupan Riyan asli karena reputasinya yang kuat, tapi ia sudah mendapatkan gangguan pada hari pertamanya.


Ternyata menjadi Riyan asli dunia ini sangat sulit, ia ternyata memiliki lebih banyak musuh.


"Apa ini? Apakah kau takut? Hahaha! Aku tak percaya ini! Bagaimana aku bisa melihat ekspresi seperti itu dari wajah Spellsword!" Thaya tertawa terbahak-bahak.


"Siapa bilang aku takut?" Riyan tiba-tiba berbicara dengan tangannya yang mengepal kuat.


"Kau ingin bertarung? Tentu, aku akan melawanmu. Namun, aku tak akan melakukannya sekarang. Beri aku waktu satu bulan dan aku akan melawanmu.


Tubuhku baru pulih dari beberapa luka serius, jadi aku tak akan bisa melawanmu dengan kekuatan penuh sekarang. Kecuali kau tidak keberatan melawan pria yang pada dasarnya cacat. Kau tak akan puas bahkan jika kau memenangkan pertarungan seperti itu, bukan?" ucap Riyan panjang lebar, ia sedikit menyeringai.


Ada satu kesamaan dari Riyan dan Riyan asli dunia ini—— bahwa mereka akan selalu melawan pem-bully.


Lorong itu kembali senyap setelah Riyan menerima tantangan dari Thaya.


"Apakah aku peduli? Tentu tidak, itu deritamu. Aku memiliki dendam pada Riyan, dan kau adalah Riyan, masa bodoh dengan kau yang sekarang berubah."


Thaya menunjukkan senyuman licik. Pada saat ini para siswa di sisi lain lorong mulai bergerak untuk membersihkan jalan.


"I-itu adalah Magia Araya! Semua orang, menyingkir dari jalan!"


Riyan menoleh setelah mendengar nama itu, dan cukup yakin bahwa ia bisa tahu jika Araya sedang mendekat ke arahnya dengan sekelompok orang di belakangnya.


"Ya Tuhan! Mereka semua dari Elite Class!" ucap seorang siswa yang girang.


Para siswa segera mengenali seragam elegan yang mereka kenakan, sangat berbeda daripada yang dikenakan oleh siswa biasa. Araya berhenti beberapa meter dari Riyan, dan ia berbicara dengan suara tenang saat menatap Thaya, "Apa yang kau lakukan?"


Thaya menggertakan giginya dengan frustrasi, ia tidak berani melawan Araya, salah satu siswa paling berpengaruh di akademi.


"Aku akan memberimu waktu sebulan, Riyan. Dan aku tak peduli jika kau sudah siap atau belum! Kita akan bertarung bahkan jika itu adalah hal terakhir yang akan aku lakukan!" ucap Thaya mengerang, wajahnya nampak menakutkan. Ia kemudian pergi.


'Aku aman ... untuk saat ini ...' Riyan menghela napas dalam hati


Namun, sementara masalahnya dengan Thaya berakhir, ia segera disambut oleh sebuah masalah baru.


"Riyan ... apakah ini benar-benar kamu?" Suara lembut Araya bergema lagi, membuat Riyan menatapnya.


'Bahkan di dunia ini, dia benar-benar cantik ... Tidak, dia bahkan terlihat sedikit lebih cantik di sini. Apa benar diriku dari dunia ini benar-benar pernah berkencan dengan gadis secantik dirinya? Rasanya sungguh mustahil. Tapi, yah ... Itu adalah diriku dari dunia ini. Kami jelas sangat berbeda,' batin Riyan.


"Maafkan aku, tapi apakah aku mengenalmu?" Riyan berpura-pura tidak mengenalinya.


Ekspresi lembut yang terlukis di wajah Araya luntur secara perlahan, setelah mendengarkan fakta pahit mantan pacarnya.


"Riyan, kau bajin9an!"


Salah satu orang yang berdiri di belakang Araya tiba-tiba melangkah maju dan mencengkeram kerah seragam Riyan dengan cara yang agresif.


'Reinal?' Riyan juga mengetahui orang ini. Seperti Araya, Reinal adalah seorang siswa yang sangat populer.


"Jika kau akan menantangku untuk bertarung seperti orang tadi, maka aku harus menolak." ucap Riyan sambil menatap mata Reinal. Ia tak gentar sama sekali.


"Reinal! Hentikan!" Araya tiba-tiba berteriak padanya.


Reinal cuma bisa menatap dingin Riyan sebelum melepaskannya dan kembali ke sisi Araya.


"Satu-satunya yang aku ingat adalah namaku dan status siswa di akademi ini. Itu saja. Maaf, tapi aku sangat sibuk sekarang, dan aku memiliki seseorang yang menungguku. Jika kau ingin berbicara, mungkin di lain waktu. "


Dan tanpa berkata lebih lanjut, Riyan berbalik dan mulai berjalan pergi.


'Bahkan jika kau memiliki hubungan dengan Riyan asli, aku tak berniat melanjutkan hubungan itu karena aku bukan Riyan asli dari dunia ini. Selanjutnya, aku tak memiliki perasaan untukmu, bahkan jika kau sangat cantik,' pikir Riyan saat dia menghilang dari koridor.


Meski diberi kehidupan yang selalu ia inginkan, Riyan tidak berniat untuk menjalani kehidupan yang dimiliki orang lain, meski itu adalah dirinya sendiri dari dunia lain.


Itu tidak terasa benar menurutnya, bahkan jika keputusannya mungkin akan menyakiti orang-orang dalam kehidupan itu.


Begitu Riyan tidak lagi berada di sana, ekspresi Araya menjadi datar, hampir tanpa ekspresi.


"Araya, apa kau baik-baik saja?" tanya Reinal saat melihat Araya agak termenung.


"Aku baik-baik saja, sebenarnya aku tak lagi merasa bersalah tentang hubungan kami sekarang. Riyan mungkin masih hidup, tapi Riyan yang pernah aku kenal dan cintai masih mati." Mendengar kata-katanya, Reinal tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Itu adalah perkembangan bagus untuknya.


.


.


.


.


Setelah meninggalkan Araya, Riyan langsung masuk ke UKS, di mana Kamila sedang menunggu.


"Kamu terlambat. Kelas berakhir lima belas menit yang lalu. Aku pikir sudah menyuruhmu untuk langsung datang ke sini setelah kelas berakhir. Dari mana saja kamu?" ucap Kamila yang menyambut Riyan dengan tatapan jengkel, melipat tangan di bawah dada.


"Maaf, tapi beberapa orang memblokir jalanku, mencegah aku lewat. Aku bahkan mendapat tantangan untuk bertarung dengan Thaya," ucap Riyan mengeluh.


"Thaya? Kurasa dia masih marah tentang apa yang kamu lakukan padanya," ucap Kamila nampak mengingat-ingat sesuatu.


"Apa yang sudah kulakukan padanya? Dia nampaknya sangat dendam padaku?" tanya Riyan dengan ekspresi yang aneh.


"Kamu mempecundanginya di depan seluruh siswa akademi, dan dia terbaring di rumah sakit selama seminggu karena luka-luka yang kamu sebabkan."


"Hahaha! Yah, itu sangat pantas, sih!" ucap Riyan tertawa terbahak-bahak, memegangi perutnya.


Lalu ia ingat bahwa telah setuju untuk melawan Thaya.


"Aku bertanya-tanya apakah aku bisa melakukannya dalam sebulan ... aku setuju untuk melawan Thaya," keluh Riyan yang geleng-geleng kepala.


"Kamu apa? Aku sudah menyuruhmu ... huh, sudahlah! Jadi, gimana?" Kamila mengerutkan keningnya.


"Dia mengancam akan mengalahkanku di depan semua siswa, dan aku tidak ada hak untuk menolak! Jangan khawatir, aku punya waktu sebulan penuh untuk mempersiapkan diri!" ucap Riyan sedikit enteng. Ia tak merasa akan kalah melawan Thaya.


"Thaya berada di top 200 di seluruh akademi, dan ada lebih dari 10.000 siswa kelas sihir di akademi ini. Kamu tak akan bisa mengalahkannya, tak dengan kamu tidak bisa sihir," ucap Kamila apa adanya, hal itu sontak menjatuhkan semangat Riyan.


"Tak mungkin ..." ucap Riyan lesu. Kamila benar-benar menjatuhkan asa dan harapannya.


Kamila menggelengkan kepalanya dan menghela nafas, "Itu hanya jika kamu benar-benar orang yang tidak bisa sihir. Huh, Ikuti aku!" Ia mulai berjalan lebih dulu, Riyan lantas mengikuti.


"Kemana kita akan pergi?" tanya Riyan.


"Untuk berlatih, tentu saja."


"Sekarang?"


Kamila berhenti berjalan, ia menatap Riyan dengan intens.


"Apakah kamu ingin menang saat melawan Thaya atau tidak? Aku tak peduli jika kamu terbunuh olehnya," ucap Kamila menyipitkan matanya, memaksa Riyan agar yakin pada dirinya.


Riyan menarik nafas dalam-dalam, menenangkan dirinya. "M-mari kita berlatih ..." ucapnya dengan semangat.


Kamila lantas tersenyum. "Kamu tak perlu sampai meniru Riyan asli, coba jadi dirimu sendiri, tapi jangan banyak-banyak! Kamu perlu meyakinkan orang-orang bahwa kamu benar-benar Riyan asli."