
Setelah berlatih sendiri selama setengah jam lagi, Mina mengakhiri kelas, 3 jam lebih awal dari biasanya.
"Sampai jumpa besok, Riyan."
"Tentu saja." Riyan bergegas pergi ke area pelatihan setelah kelas itu.
Meski Kamila belum ada, Riyan memutuskan untuk mulai berlatih lebih awal.
"Kamu lebih termotivasi dari biasanya. Apakah sebab tertantang berkali-kali sudah mempengaruhimu?" tanya Lila.
"Bukan, tidak ada hubungannya dengan itu. Setelah menonton siswa lain berduel, aku menyadari betapa lemahnya diriku dibandingkan dengan mereka. Dan itu bukan hanya perbedaan kekuatan saja.
Aku tak akan bertahan, bahkan tiga detik jika aku bertarung dengan mereka. Aku masih punya banyak hal yang harus dilakukan," ucap Riyan menghela napas, ia sedikit frustasi bahwa kemampuannya masih di bawah rata-rata
"Itu mungkin benar jika kamu menggunakan pedang. Jika kamu diizinkan untuk menggunakan sihir, kamu sudah lebih kuat daripada kebanyakan orang di colloseum," ucap Lila bermaksud membantah rasa pesimis Riyan.
"Bahkan jika itu benar, aku tak bisa menggunakan sihir sampai aku cukup kuat." ucap Riyan berdecak lidah.
Kamila tiba di pusat pelatihan, Riyan sudah terlanjur menghabiskan staminanya, jadi ia mulai berlatih sihir.
Pada akhir hari, Riyan bertanya sebelum berpisah dengan Kamila, "Aku telah mengayunkan pedang tanpa tujuan selama beberapa hari. Kapan aku belajar beberapa teknik pedang?"
"Hanya fokus pada pondasi awal untuk saat ini dan lupakan yang lain. Kita akan berlatih hal lain saat kamu sudah lihai," ucap Kamila sedikit acuh, fokus pada bukunya.
Dan ia melanjutkan, "Kebanyakan hal di dunia ini membutuhkan sebuah pondasi. Jika pondasi itu lemah, jadi seterusnya juga begitu."
"Juga, aku tak memenuhi syarat untuk mengajarimu ilmu pedang. Aku harus menemukan guru lain untukmu, sebaiknya seseorang yang tidak mengenal Riyan asli."
"Huh, begitu rupanya?"
.
.
.
.
Waktu berlalu dengan cepat saat Riyan fokus pada latihannya di pagi hari dan latihan di sore hari, dan sebelum ia sadar, seminggu penuh telah berlalu.
Selama waktu ini, Mastery Rank untuk Black Bullet meningkat menjadi D dan Dark Barrier meningkat menjadi E.
Karena ia hanya bisa menggunakan sihir yang Kamila ajarkan, Riyan tidak bisa berlatih dengan Black Flame sama sekali.
Selanjutnya, kapasitas Mana-nya telah meningkat menjadi 300, dan Magic Power mencapai lebih dari 1000 hanya dengan satu mantra sihir tingkat 1.
Sedangkan untuk latihan dengan pedang, akhirnya ia berhasil mendapatkan kekuatan yang cukup untuk menggunakan pedang 30 kg dengan mudah.
Meskipun ilmu pedangnya tidak dapat dibandingkan dengan sihirnya, progresnya masih lebih cepat daripada yang diharapkan Kamila.
Pertumbuhan seperti itu tidak akan mungkin terjadi di dunia Riyan, namun dengan bantuan Magic Point dan artefak, itu menjadi nyata.
"Sekarang kamu memiliki kekuatan yang cukup, kita bisa mulai belajar teknik pedangmu, sehingga kamu akhirnya bisa mulai bertarung. Akhir pekan, temui aku di sini jam 9 dan jangan terlambat!"
"Oke."
Setelah kembali ke asrama, Riyan pergi untuk mencari Andre, si pengurus asrama.
"Hei, sudah lama sejak kau mengatakan akan mengembalikan barang-barang pribadiku, tapi aku masih belum menerimanya," ucap Riyan sedikit kesal.
"Hah? Sungguh? Biarkan aku memanggil yang mengurus hal itu." Andre lantas mengambil telepon.
Beberapa saat kemudian, Andre menjelaskan situasinya kepada orang di sisi lain telepon.
"Riyan, kan? Akan aku cek di bank data ..."
Beberapa saat kemudian.
"Ini dia ... Riyan ... Hm?"
"Apa yang terjadi?" tanya Andre.
"Dikatakan di sini bahwa barang-barang Riyan telah dikirim tiga hari yang lalu."
"Apa?" Andre mengangkat alisnya.
Andre menoleh pada Riyan dan berkata, "Mereka mengatakan barang-barangmu telah dikirim kepadamu tiga hari yang lalu."
"Apa? Itu tidak mungkin! Apakah mereka meninggalkannya di depan pintu dan menandai itu dikirimkan? Bagaimana jika seseorang mencuri itu?" ucap Riyan tidak percaya.
"Riyan mengatakan bahwa dia tidak menerima barangnya." Andre menyampaikan perkataan Riyan.
"Biarkan aku menghubungi orang yang mengirimkannya."
"Umm ... Riyan, apakah kau yakin tidak menerima apapun? Pengirim mengatakan bahwa dia menyerahkannya kepadamu ... langsung," ucap Andre dengan hati-hati, ia tahu bahwa ada sesuatu yang salah di sini.
"Itu jelas omong kosong! Aku jarang berada di kamarku akhir-akhir ini walaupun hari libur, dan ketika aku kembali, aku langsung tidur! Aku belum pernah menerima apapun!" Riyan berseru.
"Kau mendengar apa yang Riyan katakan?" ucap Andre pada orang yang diteleponnya.
"Kalau begitu aku harus menyelidiki kasus ini. Ini bisa memakan waktu berminggu-minggu jika tidak berbulan-bulan."
"Aku mengerti, aku akan memberitahukannya."
Setelah menutup sambungan teleponnya, Andre menjelaskan situasinya pada Riyan.
"Sungguh tak dipercaya ... aku hanya menginginkan beberapa pakaian dan seragam tambahan. Dan jika kau tidak mempercayaiku, kau bisa memeriksa kamarku. Itu kosong kecuali pakaian yang kau berikan." ucap Riyan geleng-geleng kepala pada tatapan Andre padanya.
"Tidak perlu, aku percaya padamu." Andre menggelengkan kepalanya.
"Namun, karena kita tidak tahu apa yang terjadi dengan barang-barangmu, kita hanya bisa menunggu mereka menyelesaikan penyelidikan."
"Apa saja barang-barangku? Karena seseorang mencurinya, pasti ada sesuatu yang berharga."
"Sejauh yang aku ketahui, artefak sihir dan barang berharga lainnya akan diambil pihak akademi begitu pemiliknya meninggal, jadi selain pakaian dan barang-barang biasa, sangat tidak mungkin ada barang yang berharga," beritahu Andre.
"Kenapa bisa-bisanya ada yang mencuri pakaian murahku? Itu benar-benar konyol!" Riyan mencibir dengan kesal.
"Yah ... jika kau benar-benar menginginkan beberapa pakaian baru, kau bisa bertanya pada pihak akademi. Seragam itu gratis. Dan karena kau terkenal, akademi bahkan mungkin memberimu sejumlah uang untuk membeli lebih banyak pakaian."
"Kemana aku harus pergi untuk mendapatkan seragam gratis itu?" tanya Riyan yang sedikit menghilangkan kekesalannya.
Andre menunjuk pada denah besar di dinding dan berkata, "Itu denah akademi. Temukan pusat administrasi dan pesanlah seragammu di sana."
Riyan melihat denah itu dengan intens untuk beberapa saat, menghafal denah dan semua detailnya.
"Baiklah, aku tahu ke mana harus pergi. Terima kasih atas bantuanmu." Riyan langsung meninggalkan asrama.
Sesampainya di sana, Riyan berbicara kepada salah satu pekerja untuk mendapatkan bantuan.
Untungnya, karena informasi Riyan masih berada di database akademi, mereka bisa memberinya empat set seragam secara langsung.
"Ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Yah ... sejujurnya, semua pakaianku telah dicuri baru-baru ini, jadi selain seragam ini, aku tidak memiliki hal lain yang bisa dikenakan, bahkan piyama. Untungnya, aku diberitahu bahwa aku bisa menerima bantuan keuangan di sini. "
"Baiklah, saya mengerti ... Sebenarnya, kami tak memberikan bantuan keuangan kepada siswa."
"Hah? Kenapa tidak? Aku tidak punya uang sekarang."
"Tapi tenang saja. Kamu tau, ketika kamu meninggal, akademi telah menyita semua kekayaanmu, karena kamu tidak benar-benar meninggal, kamu secara alami bisa mengambil kembali apa yang awalnya milikmu, dan ini termasuk artefak dan yang lainnya."
"Saya yakin akademi akan memprosesnya karena kamu populer. Apakah kamu ingin saya mengeceknya?"
"Tolong!" Riyan menjawab.
"Baiklah, beri saya waktu ..." Pekerja itu melanjutkan untuk mengetikkan beberapa keyword di komputernya.
Beberapa saat kemudian, ia berbicara, "Jadi akademi telah mengembalikan semua uangmu. Namun, artefakmu akan memerlukan yang waktu lebih lama karena beberapa masalah."
"Jadi, bagaimana caranya untuk mengakses uangku?" tanya Riyan.
"Akademi memiliki sistem perbankan sendiri yang digunakan oleh sebagian besar siswanya ... uangmu juga berada di bank. Untuk mengaksesnya, kamu hanya perlu mengunjungi bank. Namun, sudah ditutup untuk hari ini, jadi kamu harus pergi besok saat buka di jam 7 pagi."
"Aku mengerti, terima kasih telah meluangkan waktu untuk membantuku." Riyan kembali ke kamarnya setelah menyelesaikan urusannya di pusat administrasi.
"Woah, aku tak sabar untuk mengunjungi bank! Karena Riyan asli itu sangat kuat, dia seharusnya punya banyak uang!" ucap Riyan yang tidak sabar untuk esok hari.
"Aku mengira tak akan ada banyak uang yang tersimpan ..." Lila tiba-tiba berkata.
"Hah? Apa yang membuatmu mengatakan itu?" heran Riyan mengerutkan kening.
"Riyan asli sangat kaya dari berburu monster dan Vampire, dia akan menggunakan sebagian besar kekayaannya untuk meningkatkan kemampuan dirinya sendiri, jadi aku tidak akan terkejut jika tidak banyak uang yang tersisa."
"Orang yang benar-benar kaya tidak akan jatuh miskin, tidak peduli berapa banyak uang yang mereka habiskan!" Riyan menolak pendapat Lila.
Lila terkekeh, "Kamu akan terkejut melihat betapa mudahnya untuk menghabiskan seluruh uang pada artefak. Bahkan artefak E-rank bisa menghabiskan biaya hingga enam digit."
"Aku mengerti, jadi berhenti merusak kegembiraanku. Lihat saja, besok aku mampu membeli pakaian baru dengan uang Riyan asli."
Riyan segera tidur.
Keesokan paginya, Riyan meninggalkan asrama dan menuju ke bank 15 menit sebelum mereka buka.