
Riyan terbangun keesokan paginya dengan rasa keram dan nyeri di seluruh tubuhnya, terutama di sekitar bahu dan lengan.
"Selamat pagi, Riyan," sapa Lila bahkan tak menunggu Riyan untuk membuka mata secara sempurna.
"Ah ... aku belum pernah merasa seburuk ini sejak pertama kali mulai berlatih ..." ucap Riyan mengerang, mencoba memijit bagian tengkuknya sendiri. Sudah coba untuk melakukan sedikit peregangan, namun tak berhasil meredakan rasa pegalnya.
"Mungkin sakit, tapi jika kamu tak bangun dengan segera, kamu bakal terlambat untuk ke akademi," ucap Lila mengingatkan sambil tersenyum.
"Jam berapa sekarang?" tanya Riyan yang seketika menjadi panik. Ia kelabakan mengecek jam.
"Jam 7 kurang," ucap Lila.
Riyan menghela napas, menghabiskan beberapa detik untuk menenangkan diri, lalu turun dari tempat tidur dan pergi untuk mencuci muka. Yah, ia tak mandi terlebih dulu.
Lima menit kemudian, ia berpakaian rapi dan segera meninggalkan asrama.
"Riyan, tadi malam kamu terus mengigau, lho? Apakah kamu sering begitu?" ucap Lila yang melayang di depan Riyan, ia menampilkan senyum mengejek.
"Sungguh? Aku biasanya tak begitu. Lalu, apa yang aku gumamkan?" tanya Riyan yang penasaran.
"Hmm ... intinya mimpimu pasti tak jauh-jauh dari menggunakan sihir, 'kan? Kamu selalu meneriakkan 'Black bullet!' dan 'Black flame!' Terus terdengar sepanjang malam," ucap Lila terkekehkan.
"Yah, aku memang sangat berharap bisa menggunakan sihir di depan umum. Huh, sampai terbawa ke mimpi."
Beberapa saat kemudian, Riyan tiba di kelas tiga menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai.
"Selamat pagi, Riyan!" Teman-teman sekelasnya lantas menyambut kedatangannya dengan senyuman lembut.
"Selamat pagi," balas Riyan dengan tersenyum kaku, ia bingung harus merespon bagaimana. Ia di dunianya tidak pernah mendapatkan perlakuan semacam itu. Bahkan keajaiban jika ada yang mengajaknya bicara duluan untuk hal yang baik.
"Apakah kau tidur nyenyak tadi malam?" Salah satu siswa bertanya kepadanya.
"Ya, aku tidur dengan nyenyak." Riyan mengangguk.
"Bagus. Yah, jika itu aku .... tidur dengan nyenyak pasti anugerah, karena mengetahui bahwa aku akan melawan Thaya dalam waktu sebulan untuk persiapan."
'Sialan, mengapa kau harus mengangkat topik yang tak menyenangkan seperti itu pagi-pagi begini? ' batin Riyan geram. Mood-nya telah jatuh duluan.
"Kau akan berduel dengan Thaya bulan depan? Sangat mengagetkan, kenapa kamu tak memberitahuku Sebelumnya? Lila berkata setelah mendengar fakta bahwa Riyan berduel dengan Thaya.
"Aku tahu kamu berbakat, tapi bahkan dengan bakatmu ... kamu harus berlatih sangat keras jika ingin mengalahkan seseorang seperti Thaya hanya dalam waktu sebulan. Dia adalah orang dengan pengalaman tempur dan sihir yang hebat. Sedangkan kamu bahkan baru mulai kemarin," ucap Lila mengatakan ketimpangan antara Riyan dan Thaya.
"Aku tak punya pilihan, aku akan tetap melawannya. Tak peduli apakah aku menerima tantangannya atau tidak. Jika aku menolak, dia pasti akan tetap melawanku, bedanya secara adil, atau pertarungan brutal tanpa aturan," bisik-bisik Riyan menghela nafas.
"Jangan khawatir. Selama kamu memilikiku sebagai gurumu, kamu pasti bisa mengalahkan orang itu!" ucap Lila membusungkan dada dengan percaya diri.
'Meskipun kau mengajariku sihir, tapi tetap tak bisa menggunakan sihir di depan umum? ' Riyan menggelengkan kepalanya dengan hati-hati.
Jam pelajaran pertama dimulai, guru yang bernama Mina memulai kelas.
"Riyan, bisakah kamu menyelesaikan ini?" Mina memilih Riyan untuk pertanyaan pertama mereka hari ini.
"Aku bisa."
Riyan berdiri dan berjalan ke papan tulis. Ia kembali ke tempat duduknya beberapa saat kemudian setelah memberikan jawaban sempurna di sana.
'Seperti yang aku pikirkan ... berarti kemarin bukan hanya kebetulan! Dia entah bagaimana mendadak menjadi jenius! ' batin Mina yang memerhatikan Riyan dengan serius.
Meski tidak pintar di kelas, Riyan asli masih berhasil menjadi siswa kesayangannya. Sekarang setelah ia berubah cerdas, kesan Mina pada Riyan akan meningkat beberapa kali lipat.
Waktu berlalu sangat cepat, dan sebelum Riyan bisa menyadarinya, sudah waktunya untuk pulang.
"Akhir pekan dimulai besok. Jika kalian berencana untuk keluar dari area akademi, pastikan untuk memberitahu pihak akademi dan melakukan pengecekan di gerbang masuk. Bersenang-senanglah." Mina berkata kepada siswa sebelum meninggalkan kelas.
"Apa yang akan kau lakukan untuk akhir pekan ini, Riyan?" Para siswa bertanya kepadanya.
"Kau ingin hang out? Aku tahu sebuah tempat yang bagus dan dekat dengan akademi."
"Maaf, tapi aku sudah punya rencana dengan kak Kamila," ucap Riyan dengan senyum menyesal
"Hah? Seorang perawat akademi? Kenapa?"
"Dia yang bertanggung jawab atas pemulihanku," balas Riyan memberikan alasan acak, namun masuk akal. "Dan aku juga harus mempersiapkan pertarunganku dengan Thaya."
Riyan tidak berlama-lama di kelas dan segera menuju pusat pelatihan, di mana Kamila sedang menunggunya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Kamila begitu Riyan sampai di ruang kesehatan
"Bagus-bagus saja."
"Baiklah, itu berarti kamu siap untuk berlatih lagi."
Riyan mengikutinya ke ruang pelatihan pribadi sesaat setelah berbasa-basi sebentar.
"Karena kita melatih tubuh bagian atas kemarin. Sekarang kita akan melatih tubuh bagian bawahmu hari ini. Aku ingin kamu berlari mengitari ruangan ini sampai kamu tak dapat mengangkat kaki lagi. Ini akan membantumu dengan cepat mendapatkan lebih banyak daya tahan."
"Aku mengerti," ucap Riyan tanpa mengeluh dan menjalankan arahan Kamila.
"Sebelum kamu mulai, pakai ini di sekitar pergelangan tangan dan pergelangan kakimu." Kamila menyerahkannya 4 gelang hijau metalik.
"Apa ini?" tanya Riyan.
"Mereka adalah artefak sihir F-Rank yang akan meningkatkan daya tahan dan staminamu, memungkinkan kamu berlatih lebih lama," terang Kamila.
"Bukankah ini curang? Aku harus secara mandiri meningkatkan staminaku, bagaimanapun juga," ucap Riyan mengangkat alisnya, menatap gelang hijau yang merupakan artefak sihir tersebut.
"Tidak, bukan sama sekali! ini rumit untuk menjelaskannya, jadi aku tak akan repot-repot." Kamila menggelengkan kepalanya. "Namun, aku akan mengatakan bahwa ini adalah metode pelatihan yang sangat umum yang digunakan oleh semua orang yang mampu membeli artefak ini."
"Berapa harganya?" Riyan tiba-tiba bertanya.
"20 ribu Yor per satuannya," beritahu Kamila sedikit acuh. Sementara itu, Riyan seketika membuka lebar mulutnya
"A-a-pa?! Jadi aku akan berlatih dengan item senilai 80 ribu Yor?! Jika aku secara tak sengaja merusaknya selama latihan, aku sungguh tak akan mampu menggantinya." Riyan hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia bersikeras menolak pemberian Kamila.
Namun, Riyan melupakan sesuatu. "Eh? Tunggu sebentar! Yor? Mata uang dari mana itu, aku tak pernah mendengarnya," ucap Riyan mengerutkan kening.
"Yah, baru beberapa tahun ini. Seluruh mata uang dari berbagai negara disamakan. Itulah Yor, nilainya sama dengan dolar Amerika." terang Kamila.
"D-dolar Amerika ... jika salah satu artefak sihir itu rusak, mungkin aku harus menjual ginjal dan organ lainnya."
"Huh, dengar, ya? Itu bukan milikku secara pribadi. Itu fasilitas akademi. Dan para siswa bebas menggunakannya."
"Itu bukan masalahnya ..." balas Riyan mendengus.
Sebagai seseorang yang lahir di keluarga biasa, bahkan termasuk golongan bawah. 80.000 dolar adalah jumlah uang yang sangat besar. Membutuhkan bertahun-tahun kerja untuk mengumpulkannya, namun ia akan memakai peralatan yang berharga segila itu untuk latihan. Lonjakan besar bagi Riyan, membuatnya merasa minder.
"Jika kamu tak mau menggunakannya dan membuat segalanya menjadi lebih sulit untuk dirimu sendiri, ya terserah," ucap Kamila seraya memberi isyarat untuk mengembalikan artefak tersebut.
"S-siapa yang bilang tentang tak mau menggunakannya?" Riyan dengan cepat memakai keempat artefak tersebut, satu di kaki dan lengan, dan ia mulai berlari mengitari ruangan dengan kecepatan penuh.
Satu jam kemudian, Riyan terkejut mengetahui bahwa ia masih bisa berlari tanpa kehabisan napas.
Normalnya, Riyan akan kehabisan nafas setelah beberapa menit berlari dengan kecepatan penuhnya, namun sekarang ia bisa melakukannya lebih lama.
'Artefak sihir ini menakjubkan! Aku merasa bisa berlari mengelilingi dunia selama aku memakainya!' Riyan menjadi lebih termotivasi untuk berlatih karena mainan barunya itu.
Setelah berlari dua jam kemudian, Riyan akhirnya roboh di lantai karena sudah menghabiskan banyak staminanya.
"Tiga jam, ya? Tidak buruk untuk percobaan pertama," ucap Kamila perlahan mendekati Riyan yang terkapar.
Ia mengambil sesuatu dari penyimpanan ruang dan meletakkannya di hadapan Riyan.
"Apa ini?" ucap Riyan bingung melihat barang pemberian Kamila, yang merupakan botol kaca berwarna transparan dengan sedikit cairan hijau di dalamnya.
"Ini adalah stamina potion. Itu akan meningkatkan pemulihan staminamu. Kamu harusnya kembali ke stamina penuhmu dalam 15 menit setelah meminumnya," terang Kamila.
"Dunia ini luar biasa! Tidak heran mengapa semua orang begitu kuat! Selama aku punya stamina potion ini, aku bisa berlatih sepanjang hari dan tak akan kehabisan nafas!"
Namun, Kamila menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tubuhmu terlalu lemah sekarang, jadi kamu hanya bisa minum satu setiap 12 jam."
"Meski begitu, itu masih tiga jam ekstra dari setiap hari!" Riyan segera minum stamina potion dan menunggu staminanya untuk pulih.
Seperempat jam kemudian, ia kembali berlari mengitari ruangan selama tiga jam.
Sementara itu, Kamila kembali membaca bukunya di dekat pintu untuk menunggu Riyan selesai.