
Setelah menghabiskan setengah jam di Wilderness, Riyan sudah membunuh monster untuk ketiga kalinya, tetapi karena ia tidak menggunakan sihir dan hanya menggunakan pedang, itu tidak tidak dihitung ke dalam perkembangan quest.
"Kak Kamila, bolehkah aku menggunakan sihir untuk membunuh beberapa monster? Aku ingin merasakan bagaimana rasanya melawan monster menggunakan sihir." tanya Riyan pada Kamila.
Kamila berpikir sejenak sebelum menganggukkan kepalanya, "Oke, tapi hanya beberapa. Jika kamu ingin menggunakan sihir untuk melawan monster, kamu bisa melakukannya di masa depan."
"Aku mengerti. Terima kasih!"
Mereka bertemu dengan monster-monster lain, Riyan lanjut untuk mengarahkan jarinya ke arah monster yang berlari ke arah mereka.
Setelah ia memiliki bidikan yang bagus, Riyan melepaskan Black bullet, menembakkannya langsung ke kepala monster itu yang kemudian melubangi tubuhnya. Monster itu lantas ambruk di tanah.
"Apa-apaan ini? Itu sangat mudah!" Riyan berseru setelah membunuh monster itu dalam sekali serangan.
Dibandingkan dengan melawan monster dengan pedangnya, itu pada dasarnya mudah dan tanpa resiko apapun. Itu seperti mengambil permen dari bayi!
Sekarang Riyan telah merasakan bagaimana rasanya bertarung menggunakan sihir, ia tidak ingin menggunakan pedang lagi! Setelah tau, jauh lebih mudah, lebih aman dan lebih efisien untuk menggunakan sihir daripada pedang.
"Tidak heran mengapa orang berpikir sihir itu lebih unggul." Riyan bergumam pada dirinya sendiri.
"Jangan terlalu cepat percaya diri hanya karena kamu membunuh satu monster rank F. Kamu tidak akan memiliki waktu yang mudah jika kau melawan monster dengan rank yang lebih tinggi." ucap Kamila
Dan ia melanjutkan, "Kekuatan sihirmu berada di sekitar batas rank E, jadi sudah jelas bahwa kamu bisa membunuh monster rank F dengan satu serangan. Selain itu, monster ini dikenal memiliki pertahanan yang lemah."
Meskipun Kamila meremehkan prestasi Riyan, tidak semua orang bisa melakukan apa yang baru saja ia lakukan. Bahkan Penyihir berbakat pun akan kesulitan mengalahkan monster rank F dengan Mantra sihir tingkat 1, apalagi dengan satu serangan.
Namun, Kamila tidak ingin Riyan menjadi terlalu sombong, jadi ia meremehkan pencapaiannya, membuatnya tetap rendah hati untuk saat ini.
Dengan itu, Riyan masih merasa bersemangat dan senang dengan hasilnya.
Sekitar setengah jam kemudian, Riyan membunuh dua monster lagi menggunakan sihir, ia menyelesaikan quest-nya.
[Anda telah menyelesaikan Quest]
[+2,000 Magic Experience, +10 Magic point]
[Anda telah menerima Quest baru dari
Magic System]
[Quest: Bunuh Monster]
[Deskripsi: Bunuh 10 monster menggunakan
sihir]
[Batas Waktu: 30 hari]
[Hadiah: 3.000 Magic Experience, 15
Magic Point]
[Quest: Bunuh Monster]
[Deskripsi: Bunuh 10 monster tanpa
menggunakan sihir]
[Batas Waktu: 30 hari]
[Hadiah: 3,400 Magic Experience, 17
Magic Point]
'Oh? Ada quest yang tidak
berhubungan dengan sihir? Menarik...' pikir Riyan setelah melihat quest baru yang mengharuskannya untuk membunuh monster tanpa menggunakan sihir.
'Dan itu bahkan memiliki hadiah yang lebih baik dibandingkan aku membunuh monster menggunakan sihir. Kurasa aku tidak membuang-buang waktuku untuk belajar ilmu pedang setelah semua ini.' Riyan tertawa dalam hati.
Setelah membunuh dua monster lagi dengan sihir, Riyan kembali menggunakan pedang.
"Kak Kamila, aku telah membunuh sekitar 10 monster sekarang, dan mereka semua pada dasarnya adalah jenis monster yang sama. Apakah ada monster rank F lain di sekitar sini? Aku pikir melawan berbagai jenis monster yang berbeda akan menjadi pengalaman yang bagus." ucap Riyan.
"Serigala ini adalah yang paling umum di sekitar kota kita. Jika kamu ingin melawan monster lain, kamu harus beruntung atau mengembara lebih jauh di Wilderness. Karena ini adalah hari pertamamu melawan monster, mari fokus untuk membuatmu lebih nyaman dengan para monster."
"Mulai sekarang, kamu dilarang menyerang monster itu sampai tiga menit telah berlalu. Namun kamu dapat memblokir serangannya. Tidak akan menyenangkan jika kamu membunuh mereka sebelum mereka bahkan bisa melakukan apapun padamu."
"Menyenangkan? Apakah ini seharusnya menyenangkan?" tanya Riyan mengerutkan kening.
"Ini jelas menghibur bagiku." jawab Kamila tersenyum tipis.
"Betapa jahatnya..." Riyan menghela napas.
Pertemuan berikutnya dengan seekor monster Serigala yang sama, Riyan dengan sengaja membiarkan monster itu untuk menyerangnya tanpa membalas.
'Meskipun mudah untuk menghindari serangannya, aku merasa biasa saja saat berada di sekitarnya. Aku pikir sudah mulai terbiasa dengan mereka, tetapi tapi aku masih takut pada monster-monster ini secara tidak sadar.'
Riyan dengan cepat menyadari maksud sebenarnya dari larangan Kamila yang sebenarnya untuknya.
Memang, Kamila ingin menyingkirkan ketakutan Riyan terhadap monster dengan memaksanya untuk menghadapi mereka tanpa bisa melakukan apa pun, selain menghindar dan menangkis.
Namun, karena Riyan hanya seorang manusia biasa sampai saat ini, itu akan membutuhkan waktu dan usaha yang serius untuk mengubah sifatnya.
Beberapa saat kemudian.
[Anda telah menyelesaikan Quest]
[+3,400 Magic Experience, +17 Magic point]
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Kamila.
"Pastinya melelahkan." balas Riyan yang duduk di atas tanah tandus.
"Kamu telah membunuh 17 monster sejauh ini. Tidak buruk untuk si pemula." ucap Kamila remeh.
"Kita sudahi untuk hari ini. Karena besok adalah akhir pekan, kita akan menginap di hotel terdekat untuk membuat perjalanan lebih nyaman." ucap Kamila saat kembali ke kota.
"Oke." Riyan tidak memiliki keluhan.
Setelah kembali ke tembok kota, Kamila memarkir kendaraannya tepat di luar gerbang dan berkata kepada para penjaga, "Kami akan kembali besok pagi."
"Tidak masalah." Para penjaga tidak mengatakan apa-apa tentang tindakannya meskipun itu tidak diperbolehkan.
Beberapa waktu kemudian, Kamila membawa Riyan ke sebuah hotel yang hanya satu blok jauhnya dari gerbang dan menyewa dua kamar untuk akhir pekan.
"Aku akan menemuimu di luar saat jam sembilan besok. Mereka menyajikan sarapannya jam enam." Kamila memasuki kamarnya setelah memberitahukan rincian ini.
Riyan juga memasuki kamarnya yang berada di sebelah kamar Kamila.
Setelah mandi air panas, Riyan berbaring di tempat tidur dan berpikir, 'Oh, benar. Lila tidak tahu bahwa aku tidak akan akan kembali untuk akhir pekan ini. Bodo ah! Dia tetap hidup tanpaku selama dua hari.'
Dia membuka Magic shop tak lama setelah itu dan melanjutkan untuk membeli Peningkatan Magic power.
[Konfirmasi pembelian 'Meningkatkan Magic
Power' untuk 5 MP]
"Konfirmasi."
Ding!
[Anda telah membeli 'Meningkatkan Magic
Power' dari Magic shop]
[Magic power telah meningkat]
"..."
"Itu saja?" Riyan mengangkat alisnya.
Ia sedikit kecewa saat system tidak memberitahunya berapa banyak Magic power-nya telah meningkat.
"Kurasa aku mencari tahunya besok saja." Ia menghela napas.
"Aku bisa meningkatkan afinitas angin dengan 20 MP, tapi itu bukan prioritas. Aku hanya akan menyimpan MP-ku untuk 'Meningkatkan Kapasitas Mana'."
Beberapa waktu kemudian, seperti anak kecil dengan mainan baru, Riyan mengambil semua Mana core yang ia kumpulkan hari ini dan meletakkan mereka semua di atas tempat tidur.
"Aku menghasilkan hampir 10.000 Yor atau 10.000 dolar dalam satu hari. Jika aku masih di dunia lamaku, aku akan sangat kaya!"
Setelah cukup lelah dengan semua yang terjadi hari ini, Riyan tidur dengan Mana core yang masih tergeletak di sekitar tempat tidur, memperlakukan mereka seolah-olah mereka adalah semacam benda berharga.
Keesokan paginya, Riyan bangun dan menghitung Mana core sebelum menempatkannya di dalam Spatial Ring-nya.
Setelah sarapan, ia meluangkan waktu untuk bersantai sebelum bertemu Kamila di luar hotel.
Setelah kembali ke Wilderness, Kamila berkata kepadanya, "Kita akan melanjutkan apa yang kita lakukan kemarin."
"Oke."
Dua jam dan 7 monster dikalahkan, Riyan bertanya, "Aku sedikit lelah. Bisakah aku menggunakan sihirku untuk saat ini?"
Melihat Kamila menganggukkan kepalanya, Riyan segera mulai mencari monster berikutnya dengan penuh semangat.
Tentu saja, Kamila masih akan menemukan monster itu bahkan sebelum dia bisa melihat mereka.
"Oh? Itu monster jenis baru." Riyan sangat terkejut karena akhirnya melihat monster yang bukan Si Serigala. Monster ini memiliki dua kaki yang tebal, tubuh bulat yang ditutupi bulu, dan leher panjang seperti burung unta.
Namun, monster seperti burung unta ini memiliki bulu yang terbuat dari baja, dan bahkan kulitnya tampak seperti logam.
"Apa-apaan itu? Seekor burung unta baja?" tanya Riyan saat menyaksikannya dari jauh.
"Itu adalah Steel Feather. Ini sebenarnya adalah monster rank E."
"Apa?"
"Untuk menembus bulu dan tubuh besinya, kamu akan membutuhkan setidaknya 2.000 Magic power. Kamu tidak akan bisa menghancurkannya pada levelmu saat ini, bahkan jika kamu mengisi lebih banyak Mana ke Black Bullet," lanjutnya.
"Kita tidak akan tahu sampai kita mencobanya." Riyan berkata dengan senyum di wajahnya.
"Baiklah. Silakan dan cobalah. Namun, jika Kamu tidak dapat membunuhnya dalam satu serangan, kamu harus bertahan lima menit melawannya. Jika gagal, kamu akan mendapat hukuman.'
"Apakah itu berarti aku akan mendapatkan hadiah jika aku bisa membunuhnya dengan satu serangan?" Riyan menatap Kamila penuh harap.
"Aku akan memikirkannya setelah itu," katanya
setelah beberapa saat terdiam.
"Cukup bagus." Riyan mengangguk.
Ia melanjutkan untuk membidik ke arah Steel Feather yang tidak sadar dan bersiap untuk menggunakan Black Bullet.
Whoosh!
Black Bullet melesat ke arah Steel Feather dengan kecepatan luar biasa, dan bahkan sebelum ia menyadari bahwa ia sedang diserang, Black Bullet mencapai tubuhnya.
Bulu-bulunya yang seperti baja, bisa menangkis bahkan beberapa serangan dari seekor Tooth Wolf, hampir hancur seketika ketika Black Bullet menyerang.
Tepat setelah menghancurkan bulu bajanya, Black Bullet terus menyerang tubuhnya yang kokoh tanpa melambat, menembusnya dengan hampir tidak ada perlawanan sama sekali.
Namun, Steel Feather tidak segera mati meskipun banyak lubang di tubuhnya. Ia berbalik untuk melihat Riyan dengan ketakutan sesaat sebelum berbalik dan melarikan diri ke arah yang berlawanan, darahnya mengalir keluar dari lubang di tubuhnya.
"Apakah itu dihitung sebagai kemenanganku? Aku tidak bisa membunuhnya dengan segera, tapi pasti akan mati kehabisan darah cepat atau lambat, kan?" ucap Riyan berbalik untuk melihat Kamila, yang memiliki ekspresi tercengang di wajahnya saat ini.
"..."
"Kak Kamila?" Ia memanggilnya dan tidak ada respon.