
Setelah menghabiskan 7 jam panjang mengikuti pelajaran, Riyan bersiap meninggalkan kelas untuk pergi ke pusat pelatihan. Namun, sebelum ia bisa pergi kemana-mana, Mina mendekatinya dan berkata, "Hei, Riyan."
"Ya?"
"Kamu mungkin tidak tahu ini karena kamu amnesia, tapi kita memiliki pelajaran di Colosseum besok," ucap Mina.
"Maaf? Di ... apa?" ulang Riyan yang meragukan pendengarannya. Ia pikir salah dengar.
'Mereka memiliki Colosseum di Akademi?' batinnya.
"Colosseum. Tepat di belakang pusat pelatihan. Kita pergi ke sana setiap hari selasa untuk berlatih pedang, dan bahkan akan ada instruktur untuk membimbingmu." Mina menjelaskan.
"Aku mengerti, aku akan datang ke sana besok pagi."
"Aku tak mengharapkanmu untuk berpartisipasi karena lukamu, tapi karena kita berlatih pedang, kamu mungkin ingat satu atau dua hal," ucap Mina.
Riyan mengangguk meski tahu dengan baik bahwa ia tidak akan mengingat apapun.
Setelah meninggalkan gedung akademi, ia berhasil menuju pusat pelatihan dan memulai latihannya dengan Kamila. Mereka berlatih selama beberapa jam, masih dengan teknik-teknik dasar dan peningkatan kapasitas Mana.
"Apakah semua orang di akademi berlatih ilmu pedang?" Riyan tiba-tiba bertanya kepada Kamila menjelang akhir pelatihan mereka.
"Tidak semua orang, tapi mayoritas siswa kelas biasa melakukannya."
"Jadi siswa non kelas sihir adalah seorang pendekar pedang di sekolah ini?" tanya Riyan.
"Ya, itu benar."
"Kenapa kamu tiba-tiba mengajukan pertanyaan ini?" tanya Kamila penasaran.
"Yah, kelasku seharusnya memiliki agenda di Colosseum besok, dan para siswa akan berlatih ilmu pedang, katanya Bu Mina."
"Oh, kamu benar, aku lupa tentang itu." Kamila tiba-tiba mengerutkan kening.
"Ada apa?" Riyan bertanya padanya setelah melihat ekspresi dari wanita itu.
"Kamu mungkin harus sparing dengan siswa dari kelas lain besok."
"Apa? Aku pikir kita hanya untuk berlatih," ucap Riyan garuk-garuk kepala sebab keheranan.
"Ya, dan sparing dengan siswa lain dianggap latihan. Sebenarnya, ini sangat umum. Meskipun tidak ada yang berani berduel dengan Riyan asli, tapi mungkin ada beberapa siswa yang ingin menguji levelmu saat ini."
"Dan sejujurnya, aku tidak ingin kamu sparing dengan siswa lain," ucap Kamila menatap Riyan dengan serius.
"Aku tahu, aku tak cukup kuat, bukan?"
"Tidak, bukan begitu, aku tidak ingin guru lain menjadi curiga terhadapmu, itu saja."
"Jangan khawatir, aku tidak memiliki niat untuk melawan siapa pun sampai aku cukup kuat." ucap Riyan menunjukkan senyumnya.
"Bagus."
.
.
.
.
Keesokan paginya, Riyan berhasil menuju Colosseum, yang berjarak sekitar lima menit berjalan kaki dari pusat pelatihan.
"Sialan, tempat ini jauh lebih besar dari yang aku duga ..." gumam Riyan dengan terkejut setelah tiba di Colosseum, yang berukuran setidaknya tiga kali lipat dari stadion sepak bola.
Setelah menghabiskan beberapa saat mengagumi bangunan itu, Riyan mengikuti puluhan siswa di dalamnya.
Begitu berada di dalam Colosseum, Riyan melihat ke arah lapangan untuk mencari Mina. Untungnya, ia mudah untuk menemukan karena penampilan uniknya.
Beberapa saat kemudian, ia dikelompokkan oleh Mina dengan sisa siswa di kelasnya.
"Apakah semua siswa di sini untuk berlatih? Aku bahkan bisa melihat siswa kelas sihir di sini," ucap Riyan
"Ya, latihan pedang di sisi kiri lapangan dan sihir di sisi kanan lapangan. Jika kamu ingin sparing dengan mereka, kamu hanya perlu berjalan ke arah mereka dan langsung menantang," beritahu Mina tentang kebiasaan para siswa.
"Yah ... aku tak memiliki pemikiran itu, sih ..."
Ketika semua siswa tiba, Mina berkata, "Habiskan 10 menit untuk pemanasan, lalu kita akan mulai berlatih."
"Baik."
Semua siswa di sana membawa pedang mereka sendiri, jadi mereka segera mulai pemanasan dengan mengayunkan pedang. Hanya Riyan yang genggamannya kosong.
"Maaf, alu tidak tahu kita perlu membawa pedang sendiri," ucap Riyan mengangkat tangannya.
"Jangan khawatir tentang hal itu, aku sudah mengatakan bahwa aku tidak mengharapkanmu untuk berlatih bersama kami hari ini."
"Aku tahu, tapi aku masih ingin berlatih. Apakah ada pedang yang bisa aku pinjam?"
Mina menunjuk pada rak senjata di kejauhan dan berkata, "Kamu bisa menggunakan salah satu dari senjata-senjata itu."
"Aku akan segera kembali."
Riyan berlari ke rak senjata dan mulai melihat-lihat pedang di sana.
Semua pedang dibedakan berdasarkan berat, jadi tak lama untuk Riyan menemukan apa yang ia cari, pedang 15kg.
Sebetulnya, 15 kg adalah pedang paling ringan di rak.
Setelah menghabiskan seluruh akhir pekan dengan Kamila, kekuatan lengannya meningkat ke titik di mana ia bisa mengayunkan pedang pada berat itu tanpa artefak sihir.
Sekarang ia juga memiliki pedang, Riyan lantas mulai pemanasan seperti siswa lain dengan mengayunkan pedangnya.
"Mengapa Riyan mengayunkan pedang ringan seperti itu." Teman sekelasnya bergumam satu sama lain.
Bagaimanapun, meskipun Riyan telah kehilangan ingatannya, amnesia tidak ada hubungannya dengan kekuatan seseorang.
"Itu pastinya disebabkan oleh luka-lukanya."
"Luka-lukanya harusnya sangat serius untuk kehilangan begitu banyak kekuatan, namun dia masih datang ke kelas seperti biasa. Betapa mengagumkannya."
"Kita hanya bisa menebak sekarang karena bahkan dia juga tidak tahu."
Sepuluh menit berlalu.
"Sekarang semua orang sudah pemanasan, saatnya berlatih."
Mina mengambil sebuah kotak dari penyimpanan ruang seperti milk Kamila, sedangkan para siswa berbaris di depannya.
Para siswa melanjutkan untuk memasukkan tangan ke dalam kotak itu dan menarik selembar kertas yang memiliki nomor yang tertulis di sana.
"Siswa yang mendapat nomor yang sama akan sparing satu sama lain. Kalian ingin menantang seseorang, kalian bisa melakukannya setelah pertarungan pertama," terang Mina kepada mereka.
Dan untuk dua jam berikutnya, para siswa dari kelas Riyan akan saling berhadapan satu sama lain di lapangan terbuka.
Tentu saja, kelas lain melakukan hal yang sama namun di lokasi yang berbeda di lapangan itu
"Apa yang kamu pikirkan? Apakah kamu ingat sesuatu?" Mina mendekati Riyan.
"Maaf, aku tak mengingat apa pun." Riyan cuma bisa menggeleng.
"Aku mengerti ... kamu tetap akan punya banyak waktu untuk mengingat. Tenang saja.'
"Aku tak akan menyebut tempat ini aman ..." Riyan menunjukkan senyuman pahit.
"Kurasa aku tidak bisa membantahnya, tapi percayalah, ini lebih baik daripada di luar kota, di mana Vampire dan monster berkeliaran dengan bebas," ucap Mina seolah-olah menakut-nakuti Riyan.
"Hah? Monster? Aku tahu tentang Vampire, tapi ada monster juga?" Ini adalah pertama kali Riyan mendengar tentang keberadaan monster.
"Tentu saja. Vampire sebenarnya cukup langka dibandingkan dengan monster, tapi juga jauh lebih kuat daripada monster, sebagian besar karena kecerdasan dan pengetahuan mereka."
"Begitu, ya? ..." Riyan secara tidak sadar melirik Lila, yang terbang mengelilingi lapangan dan menyaksikan para siswa yang sedang berlatih.
Begitu semua siswa bertarung setidaknya sekali, Mina berkata kepada mereka, "Kalian sekarang bisa menantang kelas lain jika kalian mau."
Setelah mendapatkan persetujuan, sebagian besar siswa di kelas segera mencari lawan dari kelas lain.
Namun, mereka hanya berani mendekati siswa biasa.
Riyan tetap bersama Mina dan melihat dari kejauhan. Namun, ia dengan cepat menjadi bosan hanya berdiri terus dan menjadi penonton, jadi ia mulai berlatih sendiri lagi.
Ketika para siswa dari kelas lain melihat Riyan berlatih sendiri, beberapa dari mereka mendekatinya.
"Hei, Riyan, ayo kita bertarung," ucap seorang siswa berbadan besar yang lebih tinggi dari Riyan.
"Maaf, tapi aku tak dalam kondisi untuk bisa sparing dengan orang lain." Riyan segera menolak tantangannya.
"Hah, apakah kau takut? Kau adalah orang yang aku harapkan bisa menerima tantanganku!" Siswa itu melihat Riyan dengan heran.
Riyan berhenti mengayunkan pedangnya dan melirik siswa itu.
"Jika kau ingin bertarung, aku akan melawanmu, bahkan semua yang kau inginkan setelah aku berurusan dengan Thaya. Siapa namamu? Jika kau tidak datang mencariku, aku akan datang mencarimu," ucap Riyan dengan tatapan datar.
Siswa itu tiba-tiba merasa gentar setelah mendengar ucapan Riyan.
"A-aku akan kembali setelah tantanganmu dengan Thaya ..." Siswa itu dengan cepat berbalik dan berjalan menjauh dari Riyan.
Beberapa siswa lagi dari kelas lain mendekati Riyan untuk mengajaknya sparing, tapi semuanya ditolak mentah-mentah
"Riyan benar-benar berubah. Bahkan tak berani bertarung dengan siswa biasa——dia berubah menjadi pengecut."
Siswa kelas sihir di sisi lain Colosseum telah memperhatikan Riyan sejak awal, karena mereka berharap bisa melihatnya bertarung. Namun, itu rasanya mustahil.
Beberapa saat kemudian, seseorang di sana berteriak sambil menunjuk pada seseorang."L-lihat di sana!"
"Apa? Apa yang dia lakukan di sini? Dia tidak pernah menampakkan diri saat latihan sebelumnya?!"
Siswa kelas sihir melihat siswa berambut merah mendekati Riyan.
"Riyan!" Gadis berambut merah itu meneriakkan namanya begitu ia cukup dekat dengan Riyan.
"Ya?" Riyan dengan cepat menoleh untuk melihat seorang gadis muda cantik berjalan ke arahnya dengan ekspresi marah.
'Siapa gadis ini?' Riyan bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Maaf, tapi jika kau ingin sparing denganku, aku harus menolak," ucap Riyan.
Namun, gadis itu mengabaikan kata-kata itu dan menodongkan pedangnya kepada Riyan begitu saja.
"Kau berjanji bahwa kau akan melawanku! Namun, kau mati sebelum pertarungan kita! Aku telah menunggu tiga bulan untuk saat ini!" ucapnya dengan sorot mata yang tajam.
"Aku minta maaf, tapi aku bahkan tak ingat siapa kau. Jika kau ingin melawanku, aku tak keberatan, tapi ada barisan orang yang menunggu untuk melawanku. Tolong tunggu giliranmu," tolak Riyan dengan halus sembari sedikit membungkuk. Ia berniat meninggalkan gadis itu.
"Bertarung denganku!" desak gadis itu menggerakkan pedangnya. Riyan lantas berhenti bergerak.
Namun, si rambut merah menghentikan pergerakannya tepat sebelum pedang itu menyentuh leher Riyan.
Mereka berdua saling bertatapan dalam kurun waktu yang lama.
"Baiklah ... Jadi begitulah caramu bermain, ya?" Gadis itu menarik kembali pedangnya dan menghela nafas.
Dan tanpa penjelasan, ia berbalik dan berjalan menjauh dari Riyan.
'Apa-apaan dia? Aku bahkan tak bisa melihat gerakannya!' batin Riyan sedikit ngeri dengan gadis itu.
Satu-satunya alasan Riyan tidak mencoba untuk menghindari hunusannya hanya karena ia tidak bisa bereaksi terhadap gerakan si rambut merah.
Begitu siswa berambut merah itu pergi, Riyan bertanya pada Mina, "Siapa dia?"
"Dia adalah adik perempuan dari Crimson Magia. Namanya Anastasia. Dia memiliki kebiasaan suka menantang orang-orang kuat," ucap Mina yang memandang gadis berambut merah itu di kejauhan.
"Crimson Magia?" Riyan mengangkat alisnya dengan heran.
"Ya, dia memiliki afinitas sihir tertinggi untuk api di seluruh akademi ini, dan dia juga salah satu siswa terkuat."
"Bisa dikatakan, Anastasia tak berbakat seperti kakaknya, itulah mengapa dia terus menantang orang-orang kuat sebagai cara untuk membuktikan kekuatannya kepada orang lain. Abaikan saja, Riyan, dia akan berhenti mengganggumu jika sudah bosan."
"Aku harap dia memang bisa bosan. Tapi, kenapa dia tiba-tiba pergi begitu saja? Aku belum melakukan apa pun."