
Kurang lebih 2 jam saat latihan, Riyan sudah roboh 3 kali. Intensitas latihan yang diberikan Kroni begitu keras.
"T-tunggu ... biarkan aku menarik napas, aku kelelahan ..." ucap Riyan dengan nafas yang tersengal-sengal saat ia berbaring di lantai. Lantai yang terbuat dari metal.
"Tentu saja, lanjutkan dan gunakan waktu yang kau butuhkan. Namun, asal tau saja, bahwa untuk setiap menit yang kau habiskan, aku akan meningkatkan intensitas latihan ke level yang lebih tinggi!" Kroni berkata dengan nada dingin
Dibandingkan dengan sikapnya yang ramah dan rendah hati sebelum latihan, Kroni saat ini seperti binatang buas yang menyiksa manusia untuk bersenang-senang.
Saat Riyan mendengar kata-kata yang mengancam seperti itu. Ia dengan enggan memaksa dirinya kembali berdiri dan mulai mengayunkan pedangnya lagi.
Namun, beberapa saat kemudian.
"Salah! sikumu seharusnya lebih tinggi! Posisi pedangmu salah!" Kroni mengoreksi Riyan setiap kali ia membuat kesalahan, bahkan memukulnya dengan pedang kayu untuk setiap kesalahan.
'Sialan! Rasanya seperti dicambuk dengan rantai baja meski dia jelas menggunakan pedang kayu! Jenis latihan macam apa ini?! Bahkan lebih buruk lagi, dia tidak membiarkanku minum stamina potion saat aku kelelahan! Mengapa aku bahkan setuju untuk melakukan ini lagi?!' batin Riyan yang meluapkan kekesalannya.
"Agh!" Riyan menjerit setelah dipukul lagi.
"Bersihkan pikiranmu yang tak penting dan fokus pada pedang serta gerakanmu!" Kroni berteriak.
Begitu Riyan benar-benar menghabiskan energi terakhir di tubuhnya satu jam kemudian, Kroni menyerahkan stamina potion dan berkata, "Minum dan berdiri lagi."
Setelah meminum stamina potion dalam satu tegukan, Riyan berdiri lagi dan terus berlatih tanpa menunggu staminanya untuk pulih sepenuhnya.
Hal ini membuat Riyan merasa seolah-olah ia kelelahan terus-terusan——seperti ia selalu berada di ambang pingsan.
'Bocah ini ... Dia memiliki beberapa ketahanan mental yang luar biasa untuk menanggung semua ini dalam waktu yang lama.' pikir Kroni memerhatikan Riyan.
'Sudah lima jam sejak kami mulai, namun dia belum mengeluh sekali. Ketika guruku menggunakan metode pelatihan ini padaku untuk pertama kalinya, aku menyerah dalam waktu setengah jam dan terus mengeluh.' Kroni sedikit takjub pada Riyan.
Setelah kira-kira jam 5 sore, Kroni menghentikan latihan Riyan dan berkata, "Hei, ini adalah waktu istirahat. Silahkan makan, tapi jangan makan terlalu banyak, atau kau hanya akan membuang semuanya saat kau mulai berlatih lagi."
"Aku terlalu lelah untuk bergerak, dan aku lebih suka berbaring di sini dan beristirahat."
"Terserah kau saja, aku akan kembali dalam satu jam," ucap Kroni sebelum pergi.
Sementara itu, Riyan menutup matanya dan langsung tertidur.
Satu jam berlalu dalam sekejap mata. Ketika Kroni kembali ke ruang pelatihan, ia membangunkan Riyan dari tidurnya, yang terasa seperti hanya berlangsung selama beberapa detik saja.
Pelatihan dilanjutkan setelah itu.
.
.
.
.
Riyan berhasil menguasai 10 combo saat tengah malam, Kroni berkata kepadanya, "Sepertinya kau memiliki bakat dengan pedang. Aku tak berpikir kau akan belajar 10 combo dengan begitu cepat. Karena ini, aku akan menambahkan 5 combo lagi untukmu!"
Riyan ingin mengeluh, tapi ia bisa merasakan dirinya mengalami perubahan, jadi ia memutuskan untuk bungkam saja.
Pada pukul 3 pagi, saat Riyan menguasai lebih banyak combo, Kroni menyerahkan stamina potion.
"Sebelum kita memulai tahap latihan berikutnya, aku ingin kau pulih sepenuhnya," ucap Kroni.
Riyan hampir menangis setelah mendengar kata-kata yang menurutnya indah itu. Woah, istirahat penuh.
Sementara Riyan beristirahat, Kroni berkata kepadanya, "Jadi, kau ingin tahu mengapa Kamila dipanggil sebagai Saintess, 'kan?"
"Ya." Riyan mengangguk.
"Itu karena dia adalah salah satu Healer terkuat di negara ini. Afinitas sihir untuk elemen cahayanya juga sangat tinggi. Sebelum dia menjadi seorang perawat di Akademi, dia adalah petualang S-rank yang telah mengumpulkan sejumlah besar reputasi dan prestasi. "
"Aku tidak tahu mengapa dia memutuskan untuk menjadi perawat di akademi itu, tapi dia dulu menjadi petualang terkenal sebelum pensiun."
"Serius?" Riyan mendengarkan semua informasi itu dengan mulut yang menganga.
"Bukannya kak Kamila masih berusia 20-an? Bagaimana dia bisa memiliki begitu banyak pencapaian pada usia muda? "
"Dia adalah orang yang berbakat. Beberapa orang bahkan akan memanggilnya monster. Dia juga memulai karirnya sebagai petualang pada usia 11 tahun."
"Wow ... sungguh tak dipercaya. Ternyata kak Kamila sehebat itu!?"
Beberapa saat kemudian, Kroni mengambil pedangnya lagi dan berkata, "Baiklah. Istirahat sudah berakhir. Mari kita mulai tahap kedua dari latihanmu."
Ia menghunuskan pedang ke arah Riyan dan berkata, "Meskipun kau mungkin telah menguasai 10 combo, kau belum benar-benar menyempurnakannya. Ada perbedaan antara menghafalnya dan menggunakannya.
Dan agar kau benar-benar menguasainya, kau harus mendapatkan pengalaman melalui pertarungan sebenarnya. Karena itu, kau akan melawanku selama sisa waktumu di sini."
"Dan jika kau berpikir itu akan lebih mudah dari pada tahap satu, aku memiliki berita buruk untukmu."
Kroni tiba-tiba memancarkan aura yang kuat dari tubuhnya, yang menyebabkan Riyan membeku dalam ketakutan.
'P-perasaan apa ini? Naluriku menyuruh untuk berlari! ' Riyan gemetat tanpa henti.
"Kenapa kau berdiri saja?! Latihan sudah dimulai! Datanglah padaku jika kau tak mau mati!".
Kroni tiba-tiba berteriak saat ia berlari ke arah Riyan.
Riyan secara tidak sadar mengayunkan pedang pada Kroni, tapi dengan mudah diblokir.
"Ada apa dengan ayunan buruk itu sekarang, huh?! Apakah kau sudah melupakan semua yang kau pelajari hari ini?! Menyerang dan bertahan dengan Formless Sword Dance!"
"Ya!"
Riyan mengertakkan giginya dan mencoba yang terbaik untuk menahan tekanan Kroni sambil juga berusaha untuk menggunakan Formless Sword Dance, tapi jauh lebih mudah mengatakan daripada melakukannya.
Riyan tidak membuat kemajuan selama setengah jam, tapi akhirnya ia terbiasa dengan tekanan dari Kroni.
Meskipun Riyan tidak cukup kuat untuk membuatnya bertarung dengan serius. Kroni mengagumi ketekunan dan dedikasinya, sesuatu yang bahkan banyak petualang Rank tinggi tak miliki.
.
.
.
.
Sementara Riyan berlatih dengan Kroni, Kamila berkeliling kota untuk urusannya sendiri.
"Selamat Datang di Potion Haven, Saintess. Apakah Anda di sini untuk lebih banyak potion?" Pemilik toko tersebut bertanya pada Kamila, hampir seolah-olah ia adalah langganan di sana.
"Ya, tapi beri aku 10 kali lipat dari biasanya," ucap Kamila
"10 kali lipat? Apakah Anda berencana untuk meninggalkan kota?" tanya pemilik toko sedikit segan
"Semacam itu," balas Kamila sedikit acuh.
"Saya mengerti, tolong beri saya beberapa menit untuk mempersiapkannya."
Sementara Kamila menunggu pemilik toko kembali, ia melihat sekeliling toko untuk melihat apakah ada hal lain yang ia butuhkan.
Begitu pemilik toko kembali, Kamila membayar untuk potion yang akhirnya menghabiskan biaya satu juta Yor.
"Terima kasih, Saintess. Saya harap ini berarti Anda akan meninggalkan masa pensiun dan kembali menjadi petualang," kata pemilik toko.
"Apa yang saat ini aku lakukan jauh lebih berbahaya daripada menjadi petualang," Kamila tiba-tiba berkata.
"Huh?" Pemilik toko menatap matanya.
"Sampai jumpa nanti," Namun, Kamila pergi tanpa menjelaskan lebih jauh lagi.
Beberapa saat kemudian, Kamila memasuki bangunan lain, dan yang ini terlihat jauh lebih mewah daripada toko potion..
"Selamat datang kembali di rumah pelelangan Mirage, Saintess." Seorang pria dengan setelan hitam menyambut Kamila tak lama setelah ia memasuki gedung itu.
"Apa ada yang bagus hari ini?" Kamila bertanya padanya dengan suara yang tenang.
"Ini daftar artefak sihir untuk hari ini. Kami memiliki artefak A-Rank yang dilelang sekitar satu jam yang lalu." Pria itu menyerahkan selebaran.
Setelah melirik sekilas pada kertas tersebut, Kamila berbalik dan berjalan tanpa mengatakan kata lain.
"Sampai jumpa lain kali, Saintess." Pria itu tidak keberatan dengan tindakannya sama sekali dan bahkan membungkuk pada Kamila.
.
.
.
.
Keesokan harinya, Kamila pergi untuk memeriksa Riyan dua jam sebelum akhir dari latihannya.
'Dia mungkin tidak lebih baik daripada mayat sekarang ...' pikir Kamila saat ia berjalan ke ruang latihan.
Setelah memasuki ruangan, mata Kamila melebar karena terkejut ketika melihat pemandangan di dalamnya.
'Dia benar-benar mengikuti latihan Kroni?!' Kamila sangat kaget melihat Riyan sedang berduel dengan Kroni. Tidak ingin mengganggu mereka, Kamila berdiri di pintu dan menunggu mereka selesai.
Setelah dua jam pertempuran tanpa henti, Kroni berkata, "Baiklah, kita selesai dengan latihannya. Kau bisa berhenti sekarang."
Namun, hampir seolah-olah ia tidak mendengar Kroni, Riyan terus mengayunkan pedangnya.
"Bangun!" Kroni memukul Riyan pada kepalanya dengan pedang kayu sampai jatuh
Setelah terjatuh, Riyan tidak bangkit lagi.
"Oh, sial ..." Kroni bergegas untuk mengecek kondisi Riyan.
"Bagus, dia masih hidup ..." Ia menghela napas.
"Apa yang terjadi di sini?" Kamila mendekati mereka dan bertanya.
Kroni menatapnya dan tersenyum, "Kau memberiku satu monster. Dan aku tak membicarakan kekuatannya atau bakat. Dia benar-benar bertahan pada keseluruhan latihan. Jika dia bisa terus bertahan dalam pelatihanku, dia akan mudah mencapai tingkatkan tinggi dalam beberapa bulan."
"Jadi, kau pikir dia berbakat dengan pedang?" tanya Kamila.
"Meskipun dia tidak memiliki bakat sepertimu, tapi dia punya potensi yang bagus."
Kamila tidak bisa tidak tersenyum setelah mendengar kata-kata Kroni, dan ia berkata, "Dia mungkin tidak menyukainya sekarang, tapi dia pasti seorang yang sangat berbakat."
"Huh?" Kroni mengangkat alisnya.
"Kau akan segera tahu, aku berencana membuatnya menjadi petualang dalam 2 minggu."
"Seorang petualang, ya?"
Setelah merenungkan sejenak, Kroni berkata, "Hei, Saintess. Aku tahu kesepakatan kita hanya berlangsung sampai hari ini, tapi aku ingin terus melatihnya selama dua minggu berikutnya jika kau tidak keberatan. Aku tidak akan meminta pembayaran apapun."
"Alasanmu?" tanya Kamila, ia tak tergiur pada tawaran Kroni dan selalu bersikap waspada.
"Bocah ini telah mengambil minatku." Kroni tersenyum.
"Aku tidak akan mengatakan apapun. Reon bisa memutuskan untuk dirinya sendiri setelah dia sadar."
"Baiklah." Kroni mengangguk mengerti.