
"Apa ada yang salah?" tanya Kamila melihat Riyan Ari yang nampak sangat bermasalah.
"Huh? Apakah kak Kamila tak melihat sekumpulan layar dengan teks muncul di depan wajahku?" tanya Riyan dengan nada yang bingung.
Kamila mengerutkan kening, "Apakah kamu mempermainkanku?"
"B-bukan! Ini ungguhan, aku tak sedang berusaha menggodamu! Lihatlah! Di sini!" Riyan menunjuk layar transparan yang mengikuti ke mana matanya bergerak.
"Tidak ada apa-apa di sana," ucap Kamila melihat Riyan dengan curiga.
"Tak mungkin ... tapi aku bisa melihat layar itu dengan jelas——"
"Kamu jelas sangat kelelahan karena berlatih sampai kamu berhalusinasi. Istirahatlah, latihan kita selesai untuk hari itu."
"Apa?! Bagaimana dengan latihan sihirnya?! Kak Kamila bilang bahwa akan mengajariku sihir!"
"Mencoba untuk menggunakan sihir saat kamu yang kelelahan adalah mirip dengan bunuh diri, aku tak akan membiarkannya. Jika kamu ingin belajar sihir, maka kamu harus segera istirahat dan memulihkan staminamu.
Sehingga kamu akan memiliki cukup energi untuk belajar sihir setelah berlatih pedang, yang merupakan prioritasmu saat ini." Dan tanpa mengatakan hal lain, Kamila membuka pintu dan pergi.
"Kamu tahu bagaimana caranya kembali ke asrama, bukan? Aku akan bertemu denganmu di sini, setelah kegiatanmu di akademi selesai. Jangan berani terlambat atau aku tak akan mengajarimu sihir." Ia sempat-sempatnya memberikan ancaman.
Setelah Kamila pergi, Riyan juga mulai berjalan kembali ke asramanya sendiri. Sedangkan untuk layar transparan misterius itu, mereka menghilang beberapa waktu yang lalu.
'Mungkin aku memang benar-benar berhalusinasi ... ' batin Riyan.
Beberapa saat kemudian.
'Ah, sialan. Ada begitu banyak orang di sini. Mereka mungkin mencariku ...' pikir Riyan setelah ia cukup dekat dengan asramanya dan melihat kerumunan di luar gedung asrama.
Benar saja, saat para siswa melihat kehadiran Riyan, mereka mulai berseru pada yang lain.
"Riyan! Itu benar-benar dia!"
"Ah, astaga. Aku tak bisa mempercayainya! Dia benar-benar masih hidup!"
Para siswa selalu mengucapkan kata-kata yang sama, sampai Riyan bosan karena telah mendengar hari ini puluhan kali.
Ketika para siswa mengepungnya, Riyan mendengus dengan suara keras, "Bisakah kalian berhenti bertingkah seolah-olah hari ini adalah hari terakhir kalian bisa melihatku? Kalian akan memiliki banyak kesempatan untuk melihatku di lain waktu. Aku benar-benar lelah dan ingin kembali ke kamarku. Jadi, biarkan aku sendiri!"
Para siswa menjadi diam sampai salah satu dari mereka berkata, "Kamarmu? Itu dibersihkan sebulan setelah 'kematian'mu. Kau seharusnya tak memiliki kamar sekarang."
"Apa? Mustahil! Bagaimana bisa?"
Riyan tidak mempercayainya dan bergegas menuju ke kamarnya. Ia ingat sangat jelas terbangun di kamarnya sendiri hari ini.
Beberapa menit kemudian, Riyan tiba di hadapan kamar 1-G.
Ia mulai mencari dompetnya yang menyimpan kunci kamar. Namun, semua sakunya kosong, dan dompetnya tak ada
'Oh sial! Aku meninggalkan dompetku di kamar hari ini karena aku terlalu terburu-buru untuk berangkat!' kesal Riyan menjerit di dalam hati.
"Apakah kau butuh bantuan membuka pintu ini?" Seseorang tiba-tiba menghampirinya dan bertanya.
Riyan menoleh untuk melihat orang yang baru saja berbicara dan ia mengenalinya sebagai pengurus asrama.
"Ini harusnya adalah kamarku, tapi aku lupa di mana aku memasukkan kuncinya ..." ucap Riyan agak canggung.
"Aku tidak keberatan membuka pintu ini untukmu, tapi jangan bilang aku tak memperingatkanmu sebelumnya," balas si pengurus asrama.
Pengurus asrama membuka pintu dengan sebuah kartu dan beberapa saat kemudian pintu telah terbuka dan ia membiarkan Riyan masuk ke dalam.
"Apa inu? Ini bukan kamarku!" Riyan bingung mendapati bagian dalam kamar yang terlihat sepenuhnya berbeda dari pagi ini sebelum ia pergi ke akademi.
'Mungkin Riyan asli dari dunia ini di tempatkan ke kamar yang berbeda?' batinnya.
Dengan pemikirannya itu, ia lalu keluar dan bertanya pada pengurus asrama, "Di mana kamarku?"
"1-G, tapi seperti yang sudah aku katakan——kamarmu telah dibersihkan karena kau dianggap telah meninggal." terang pengurus asrama dengan jelas.
"Aku mengerti ... jika memang demikian, apakah ada kamar yang tersedia sekarang? Aku bisa menggunakannya untuk sementara?"
"Maaf, tapi gedung ini sudah berkapasitas penuh. Aku akan meminta pengurus asrama lainnya untuk melihat apakah mereka memiliki kamar yang tersedia."
"Terima kasih." Riyan mengangguk.
Dengan demikian, ia mengikuti pengurus asrama menuju ke ruangannya.
Setelah beberapa panggilan telepon, pengurus asrama berkata kepadanya, "Ada satu kamar yang tersedia di gedung asrama tua. Maaf, tapi hanya itu yang kita miliki untuk sekarang."
"Bangunan tua, huh ... baiklah, tak seperti aku punya pilihan." Riyan mengangkat bahunya tak peduli.
"Sekali lagi, aku sangat menyesal tentang hal ini." Pengurus asrama menundukkan kepalanya.
"Jangan khawatir tentang hal itu, itu bukan kesalahanmu."
"Terima kasih, kau tahu di mana asrama tua itu? Berjalan sekitar sepuluh menit dari sini."
"Ya, aku tahu."
"Pengurus asrama lain harusnya ada di sana menunggumu. Dia memiliki rambut merah." beritahu si pengurus asrama.
"Terima kasih."
'Huh, aku sangat berharap asrama tua itu tidak ada hantunya seperti du duniaku ...' Riyan berdoa dalam hatinya.
Asrama tua itu terkenal di dunianya karena berhantu. Ada banyak fenomena yang yang tidak dapat dijelaskan siapa pun secara nalar. Rumor itu sudah tersebar ke seluruh siswa.
Tentu saja, Riyan tidak percaya pada takhayul—— setidaknya tidak sampai saat ini.
Jika sihir, Vampire, dan penyihir ada di dunia ini, ada kemungkinan hantu juga bisa ada.
Sepuluh menit kemudian, Riyan tiba di gedung asrama tua. Dan sebuah kejutan, asrama tua itu tidak seperti di dunianya, juga tidak menyerupai sebuah bangunan yang angker. Itu sangat bertolak belakang.
"Nah, ini adalah sebuah kejutan." Riyan bergumam saat ia mendekati pintu masuk, di mana seorang siswa berambut merah yang kira-kira berumur di awal 20-an bisa terlihat sedang menunggu sesuatu.
"Riyan!" Siswa berambut merah itu mulai melambaikan tangan saat matanya bertemu dengan mata Riyan.
Riyan mendekatinya dan menyapa, "Halo."
"Aku Andre, pengurus asrama ini. Kamarmu sudah siap. Ikuti aku," ucap Andre langsung memimpin jalan.
Riyan mengangguk dan mengikuti Andre menuju ke kamar barunya.
Beberapa menit kemudian, begitu mereka sampai di depan sebuah pintu kamar, Andre menyerahkan kuncinya dan berkata, "Jika kau memiliki pertanyaan, kau dapat menemukanku di ruanganku setelah pulang dari akademi.
Oh, meskipun mereka membersihkan kamar lamamu, mereka belum membuang barang-barangmu. Aku telah mengirim e-mail ke orang-orang di bagian penyimpanan, jadi kau akan mendapatkan barang-barangmu kembali dalam beberapa hari."
"Aku mengerti. Terima kasih."
Setelah memasuki kamar barunya, Riyan melihat sekeliling tempat itu.
Ruangan itu cukup luas, tapi itu karena kurangnya furnitur dan barang-barang pribadi. Selain meja makan, beberapa kursi, dan tempat tidur, ruangan itu praktis kosong.
"Aku rindu buku dan TV ..." Ia mendengus keras saat ia mulai melepaskan pakaiannya.
Begitu ia sudah telanjang bulat, Riyan memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang tertutup keringat.
'Aku masih belum percaya bahwa aku telah melakukan perjalanan ke dunia lain. Rasanya sangat tidak nyata, namun ... apakah aku benar-benar dalam mimpi yang benar-benar nyata? Mungkin ini adalah mimpi dari koma setelah melakukan pertarungan?' pikir Riyan.
Riyan merenungkan apa yang harus ia lakukan di dunia ini, tentang masa depannya, tentang dunia asalnya.
Ia merasa gugup dan bahkan sedikit ketakutan akan ketidakpastian, namun Riyan juga bersemangat dengan dunia ini dan semua hal baru yang ia pelajari.
'Menurut kak Kamila, sepertinya aku memiliki Magic Talent yang cukup bagus ... aku tak berpikir aku akan sehebat itu ... ini bisa menjadi kesempatan bagiku ... kesempatan untuk mengubah tujuanku untuk menjadi ... '
Riyan berkahir dengan ketiduran di bak mandi, dan ada sosok misterius yang mengintipnya.