
"Guild petualang? Kenapa kita ke sana?" tanya Riyan.
"Oh, apakah kamu tahu apa itu guild petualang? Apakah ada di duniamu?" Kamila balik bertanya.
Riyan menggeleng, "Hanya ada di novel fantasi. Aku tahu tentang istilah itu berkat novel-novel itu."
"Hmm ... begitu?" Kamila tidak tertarik. "Di sana kamu bisa menjadi petualang. Itu akan membantu perkembanganmu!"
"Petualang, ya?" balas Riyan garuk-garuk kepala.
"Tapi, apakah kau mengatakan bahwa aku akan bertarung dengan monster? Aku bahkan tak mampu melawan manusia di dunia ini. Dan kau sudah berniat melemparkanku pada sekumpulan monster?!" ucap Riyan sedikit protes.
"Bertarung dengan monster itu lebih mudah dari pada melawan manusia. Kamu akan segera merasakannya. Tak seperti manusia, para monster tak memiliki kecerdasan. Jadi mereka hanya mengandalkan insting, yang mana membatasi pergerakan dan aksi yang dilakukan," ucap Kamila memberi penjelasan.
"Dan juga, itu bukan berarti aku membuatmu bertarung dengan monster. Kamu membutuhkan pengalaman. Alasan kita pergi ke guild petualang adalah untuk bertemu dengan seorang petualang. Dia dikenal sebagai Raja Pedang, Kroni. Dia seorang petualang A-Rank. Dia yang akan menjadi gurumu untuk hari ini dan seterusnya sampai dirasa cukup."
Setengah jam kemudian, Mereka sampai di guild petualang. Kamila memarkirkan mobilnya.
"Sebelum kita masuk ke guild petualang, aku ingin kamu memakai kalung ini." Kamila tiba-tiba memberikan sebuah kalung perak pada Riyan.
"Apa ini?" ucap Riyan mengerutkan kening saat menatap kalung itu.
"Itu adalah artefak sihir D-rank yang bisa mengubah wajah dan suaramu. Kamu akan dikenal sebagai Reon ketika di luar akademi. Dengan cara ini, kamu bisa berlatih tanpa merasa cemas pada hal lainnya.
Aku sudah merekayasa sebuah wajah untukmu. Jadi, kamu hanya perlu mengaktifkan artefak itu dengan Mana-mu." beritahu Kamila panjang lebar.
Riyan menjadi ragu dan bertanya pada Kamila, "Kak Kamila, bisa kau beritahu padaku? Kau mencuri wajah siapa?"
Kamila tiba-tiba memukul kepala Riyan dengan tinjunya. "Kamu menuduhku?"
"A-aku cuma bercanda. Dan ... itu menyakitkan, bagaimana jika pukulanmu membuat otakku cedera?" Riyan segera mengaktifkan artefaknya.
Kamila nampak malas menanggapi.
"Apa-apaan ini? Aku nampak seperti seorang playboy dengan wajah dan gaya rambut ini!" ucap Riyan setelah melihat penampilannya di kaca.
Rambut hitamnya telah menjadi pirang gelap, dan matanya menjadi merah tua.
"Bencana, bahkan suaraku terdengar begitu aneh! Apakah ini tipe orang yang kau buat, kak Kamila?"
"Aku memilih itu karena tau kamu akan membencinya. Sekarang, berhenti protes dan keluar dari mobil. Kita sudah terlambat dua menit." Kamila mengusir Riyan.
Riyan menghela nafas dengan malas lalu keluar dari mobil.
Beberapa saat kemudian, Riyan mengikuti Kamila masuk ke sebuah bangunan besar yang terlihat tak seperti guild petualang yang ada di cerita fantasi yang selalu dibacanya.
Dibandingkan dengan kedai atau restoran dalam imajinasinya, guild petualang di dunia ini tampak lebih seperti gedung perkantoran.
"Aku memiliki janji dengan Raja Pedang," ucap Kamila.
"S-selamat datang ke guild sederhana kami, Saintess!" ucap si resepsionis yang tampak mengenal Kamila.
'Apakah dia baru saja memanggilnya Saintess?' batin Riyan yang mengira dirinya salah dengar.
"Raja Pedang sudah menunggu di ruang nomor tiga!"
"Aku mengerti." Kamila mengangguk. "Ayo pergi," katanya sambil melihat Riyan.
Beberapa menit kemudian, mereka memasuki sebuah ruangan di mana pria bertubuh tinggi dan besar bisa terlihat berdiri di dekat jendela, diam-diam menatap ke luar dengan tatapan tajam.
"Aku mohon maaf atas keterlambatannya, terlepas dari siapa yang mengatur pertemuan ini," ucap Kamila setelah memasuki ruangan.
Pria besar itu berbalik dan menatap Kamila dan Riyan dengan serius. Riyan menelan ludahnya dengan gugup, bertanya-tanya apakah pria itu akan meneriaki dirinya.
Namun, begitu terkejutnya, pria itu tiba-tiba menunjukkan senyuman ramah, "Jangan khawatir tentang hal itu! Karena Saintess yang memanggilku, aku tak keberatan menunggu bahkan beberapa jam lagi! Hahaha!"
Ia kemudian melihat Riyan dan melanjutkan, "Apakah bocah ini yang kau ingin aku latih?"
"Ya, namanya Reon, dan aku ingin kau mengajarinya cara menggunakan pedang dengan benar."
"Reon, ya? Senang bertemu denganmu, bocah. Kau bisa memanggilku Kroni, aku adalah seorang pendekar pedang terbaik di kota ini. Karena Saintess telah memintaku untuk melatihmu, aku akan memastikan bahwa kau akan menjadi pendekar pedang kedua terbaik di kota, hanya di bawahku!" ucap Kroni sedikit angkuh.
"Aku tidak peduli dengan uang! Jika kau berjanji untuk makan malam denganku, aku akan mengajarinya secara gratis!"
"Itu tidak akan menjadi gratis, dan aku akan membayarmu," balas Kamila langsung dengan wajah yang datar.
"Kau masih sedingin es." Kroni tertawa terbahak-bahak.
"Omong-omong, mari kita mulai berlatih sekarang. Ikuti aku, Reon." Kroni berkata pada Riyan.
Riyan mengangguk dan mengikutinya ke ruang latihan yang terletak di bawah bangunan guild.
"Berapa banyak pengalaman yang kau miliki dengan pedang?" Kroni tiba-tiba bertanya.
"Tidak banyak, aku hanya mengayunkan pedang tanpa arah untuk meningkatkan kekuatanku selama seminggu terakhir."
"Apakah begitu? Silahkan ayunkan pedang ini untukku." Kroni melemparkan sebuah pedang baja untuk Riyan.
Riyan reflek menangkap pedang itu, tapi ia segera menyesali tindakannya, karena pedangnya memiliki berat sekitar 50 kg, yang lebih dari yang bisa ia tangani.
"Ya?" Kroni menatap Riyan dengan mata yang membelalak.
"Maksimal berat pedang yang bisa digunakannya adalah 40 kg, dan dia mulai berlatih hanya seminggu yang lalu," kata Kamila.
"Apa-apaan? Dia lebih lemah dari yang aku pikirkan. Sepertinya kita punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan, bocah."
"Gunakan ini sebagai gantinya." Kamila menyerahkan pedang yang biasa digunakan oleh Riyan.
Setelah ia memiliki pedang yang biasa ia gunakan, bisa digerakkan. Riyan mengayunkan pedangnya beberapa kali di hadapan Kroni.
"Baiklah, kau bisa berhenti sekarang," ucap Kroni.
Dan ia melanjutkan, "Penampilanmu tidak buruk bagi seseorang yang baru berlatih seminggu yang lalu. Kau pasti sudah menghabiskan banyak waktu untuk mengayunkan pedang."
"Namun, sementara itu, kau tak memiliki aspek lainnya. Ayunan pedangmu terasa kosong. Itu tak memiliki emosi dan pengalaman. Dan lebih buruk dari semua itu ... rasanya sangat lemah."
"Tapi jangan khawatir, aku akan melatihmu menjadi seorang pendekar pedang yang ahli sebelum akhir pekan ini berakhir! Ini akan sulit, tapi aku tak akan membiarkanmu berhenti. Bahkan jika kau mati! Aku mengerahkan semuanya, reputasiku dipertaruhkan! Aku tidak akan mempermalukan diriku di depan Saintess."
"Kalau begitu aku akan meninggalkanmu sendirian, Reon. Aku akan menjemputmu besok," ucap Kamila.
"Huh?" ucap Riyan dengan mata yang melebar dengan kaget.
Kroni tiba-tiba menepuk punggung Riyan dan berkata, "Apakah kau pikir akan bisa tidur malam ini? Maaf, tapi kau akan berkeringat sepanjang malam bersamaku, bocah!"
Kamila tersenyum dengan ekspresi aneh di wajahnya, "Semoga berhasil."
Dan tanpa mengatakan kata lain, Kamila menghilang.
"Wow, aku tak berpikir akan pernah melihat senyuman Saintess. Apa hubunganmu dengannya?" Kroni bertanya kepada Riyan setelah Kamila pergi.
"Dia seperti waliku ... ngomong-ngomong, mengapa kau terus memanggilnya Saintess?" Riyan akhirnya mendapat kesempatan untuk bertanya.
"Huh? Kau tidak tahu?"
"Haruskah aku tahu?" Riyan mengangkat alisnya.
"Tak bisa dipercaya! Kau baru keluar dari gua?" Kroni menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin menceritakannya kepadamu, tapi kita tidak punya waktu. Aku akan mengubahmu menjadi seorang pendekar pedang dalam satu hari setengah, kita akan membutuhkan setiap menit yang bisa kita dapatkan."
"Aku sekarang akan menunjukkan dasar-dasar ilmu pedang. Tonton dan pelajari." Kroni mulai menari di sekitar ruang latihan dengan pedang di tangannya. Riyan lantas memerhatikan dengan seksama.
Beberapa menit kemudian, Kroni menghentikan pergerakannya dan berkata, "Apa yang baru saja kau saksikan adalah teknik pedang yang disebut 'Formless Sword Dance'. Ini adalah salah satu teknik pedang yang paling mudah untuk dipelajari tapi juga yang paling sulit untuk dikuasai."
"Ada total 99 combo berbeda dalam teknik ini, tapi kau hanya akan belajar 10, yang lebih dari cukup untuk memenuhi syarat sebagai seorang pendekar pedang."
"Ambil ini." Kroni menyerahkan dua stamina potion dan dua gelang kekuatan.
Begitu Riyan mengenakan artefak tersebut, Kroni secara resmi memulai latihan kejamnya, sesuatu yang akan diingat Riyan selama sisa hidupnya.