System: Parallel World

System: Parallel World
Chapter 18



Setelah menghabiskan 2 jam mengayunkan pedangnya pada slime tiruan, Riyan kehabisan nafas dan stamina.


"Makan ini." Lamila menyerahkannya pil peningkat.


Setelah itu, Riyan bertanya kepada Kamila, "Apakah kau akan mengajariku sihir sekarang?"


Kamila menggelengkan kepalanya dan berkata, "Kita akan melakukannya setelah kamu beristirahat dan aku selesai makan siang. Aku akan melihatmu kembali ke sini dalam satu jam."


"Baiklah," balas Riyan mengangguk.


Riyan kembali ke kamarnya untuk mandi sebelum berjalan ke kantin lagi.


Begitu perutnya sudah penuh akan makanan, ia kembali ke pusat pelatihan dengan 15 menit untuk pemanasan.


'Tempat ini tak seperti gedung serba guna yang aku tahu, dan ini juga jauh lebih besar. Mari kita lihat-lihat.' Dengan pemikiran itu, Riyan mulai berkeliaran di pusat pelatihan.


Bangunan itu banyak memiliki lorong-lorong dan ruang pelatihan pribadi, jadi Riyan tidak repot-repot memeriksa satu per satu. Sebagai gantinya, ia memeriksa daerah di belakang pusat pelatihan, di mana lapangan pelatihan out-door.


Di sana, dia bisa melihat para siswa kelas sihir maupun siswa biasa melakukan kegiatan masing-masing.


Para siswa biasa mempraktikkan teknik senjata mereka pada tiruan slime dan objek lainnya, sedangkan siswa kelas sihir melatih mantra sihir mereka pada objek tiruan yang tampaknya dibuat dari kristal.


Riyan berfokus pada siswa kelas sihir karena mereka paling menarik baginya.


"Fireball!" Seorang pemuda menjulurkan telapak tangannya ke kristal yang jaraknya 10 meter di depannya dan berteriak keras.


Namun, kristal itu tiba-tiba memancarkan cahaya tanpa warna, menyerap bola api sebelum bisa menimbulkan kerusakan.


Sesaat setelah menyerap sihir, lalu objek kristal itu memancarkan cahaya hijau.


"Apa yang terjadi?" Riyan bertanya pada Lila.


"Itu adalah benda penyerap sihir, akan menyerap semua mantra sihir dan mengevaluasi kekuatan sihir dari mantra sihir itu," jelasnya.


"Magic power di atas 100 dan di bawah 500 akan memancarkan cahaya hijau. 500 sampai 1.000 akan memancarkan cahaya biru. 1.000 sampai 2.000 akan memancarkan cahaya ungu. 2.000 sampai 3.000 akan memancarkan cahaya oranye. 3.000 sampai 5.000 akan memancarkan merah dengan 5.000 menjadi batasnya."


Riyan berpikir sejenak pada penjelasan Lila, "Aku mengerti fungsi benda itu, tapi aku tak mengerti pada bagian sihirnya."


"Kalau begitu, aku akan memberikan beberapa contoh," kata Lila


Dan ia melanjutkan, "Sulit untuk mengevaluasi kekuatan sihir karena banyak variabel, tapi inilah pokoknya. Magic power sekitar 500 biasanya cukup kuat untuk mematahkan tulang. 1.000 cukup kuat untuk membuat lubang di tubuh jika kamu tidak memiliki perlindungan. Magic power 2.000 cukup kuat untuk menghancurkan sebuah bangunan."


Riyan mengangkat alis dan bertanya, "Berapa banyak kekuatan sihir yang menurutmu dimiliki orang seperti Thaya?"


"Nah, itu tergantung pada mantra sihir apa yang dia gunakan, tapi dia harusnya bisa mengeluarkan setidaknya 1.000 Magic power dengan mantra sihir tingkat 2."


Riyan menelan ludah dengan ngeri setelah mendengar ini, dan kemudian ia bertanya, "B-bagaimana denganku? Black Bullet-ku bisa menciptakan lubang di dinding. Itu seharusnya sekitar 500, kan?"


"Ya, itu benar." Lila mengangguk.


'Normalnya, sihir tingkat 1 yang digunakan oleh pemula seperti dia hanya akan memiliki sekitar 100 Magic power, tapi karena afinitas sihirnya yang tinggi, dia mampu mencapai setidaknya 500 pada percobaan pertamanya ... bakat yang mengerikan ...' batin Lila.


Setelah menonton beberapa menit lagi, Riyan akhirnya masuk ke dalam gedung dan menunggu Kamila kembali.


Ketika Kamila tiba, ia segera menyambutnya dengan senyuman, "Selamat datang kembali, kak Kamila!"


"Aku tahu kamu ingin menggunakan sihir. Tapi aku harus memperingatkanmu. Bahkan jika aku mengajarimu sihir hari ini, tidak ada jaminan bahwa kamu bisa segera menggunakannya. Sebelum menggunakan sihir, kamu perlu menghafal lingkaran sihir, dan itu sendiri bisa berjam-jam bahkan berhari-hari," terang Kamila dengan serius.


"Itu hanya menghafal beberapa lingkaran sihir, apa sulitnya? Aku memiliki ingatan yang cukup bagus," Riyan tersenyum, berpura-pura tidak tahu apa-apa.


Kamila memutuskan untuk tidak menjelaskannya sehingga Riyan bisa merasakan betapa sulitnya menghafal lingkaran sihir. Yah, itu niatnya, tapi Riyan memiliki ingatan super.


"Karena kamu memiliki afinitas sihir untuk sihir kegelapan, aku telah memilih dua mantra sihir kegelapan tingkat 1 untukmu," ucap Kamila.


Kamila mengambil laptop dari penyimpanan ruang dan membuka dua file video.


"Mantra sihir pertama disebut 'Black Bullet'. Ini seperti menembak peluru dari pistol, tapi dalam kasus ini, peluru itu adalah sihir dan pistolnya adalah tanganmu."


Kamila membuka file video pertama, yang menunjukkan pria paruh baya yang sedang mempraktikkan mantra Black Bullet.


"Mantra sihir kedua disebut 'Dark Barrier'. Itu adalah mantra sihir pertahanan yang menciptakan penghalang di sekitarmu, melindungimu dari bahaya. Namun, hanya bisa digunakan bila ada bayangan di sekitarmu, dan semakin gelap, maka penghalang akan lebih kuat, jadi mantra sihir ini paling kuat di malam hari."


Setelah menunjukkan video kedua dari mantra sihir yang akan diajarkan, Kamila bertanya pada Riyan, "Mantra sihir mana yang ingin kamu pelajari dulu?"


"Dark Barrier!" Riyan menjawab tanpa ragu-ragu, itu mengejutkan Kamila.


"Mengapa kamu memilih 'Dark Barrier? Aku malah yakin kamu akan memilih Black Bullet." Ia memutuskan untuk bertanya kepada Riyan.


"Hah? Bukankah sudah jelas? Keselamatan lebih penting. Dengan mantra sihir ini, aku akan merasa jauh lebih aman di dunia yang berbahaya ini," balas Riyan tersenyum.


Meski Riyan tidak berbohong tentang ingin merasa lebih aman, itu bukan seluruhnya benar.


"Selanjutnya, karena aku tidak dapat menggunakan sihir secara terbuka di depan Orang-orang, tak ada alasan bagiku untuk belajar mantra sihir tipe ofensif seperti Black Bullet untuk saat ini." Riyan terus memberikan alasan yang logis.


'Orang ini ... sungguh tak terduga ... ' pikir Kamila.


"Baiklah, inilah lingkaran sihir untuk 'Dark Barrier'. Aku akan memperlihatkan lingkaran sihir untuk Black Bullet begitu kamu bisa menggunakan 'Dark Barrier'," ucap Kamila menyerahkannya secarik kertas dengan lingkaran sihir yang tergambar.


Riyan menerima kertas itu, melihatnya sekilas dengan serius, lalu menyerahkannya kembali ke Kamila.


[Anda telah mempelajari mantra sihir: Dark Barrier]


[Dark Barrier]


[Affinity: Dark]


[Tier: 1]


[Mana: 50]


[Mastery Rank: F]


"Apa yang kamu lakukan?" Melihat tindakannya, Kamila bertanya dengan alis yang terangkat. Ia sungguh bingung.


"Aku sudah menghafalkannya," Riyan dengan tenang menjawab.


"Apa? Tidak mungkin kamu bisa menghafalnya dengan begitu cepat," ucap Kamila ragu.


"Tapi itu benar. Serius!"


"Menghafal lingkaran sihir tidak seperti menghafal kata-kata pada sebuah buku. Ini lebih seperti menghafal setiap detail kecil pada karya seni yang sangat rinci dengan desain yang kompleks.


Jika kamu lupa rinciannya sedikit saja, kamu tak akan dapat menggunakan sihir dengan benar, dan lingkaran sihir secara alami sulit dihafal. Bahkan seorang dengan ingatan di atas rata-rata akan memerlukan satu atau dua jam untuk menghafal lingkaran sihir ini."


"Aku tak tahu harus menjelaskannya, kak Kamila. Tapi, aku benar-benar sudah menghafalnya." Riyan bersikukuh.


"Jika itu benar, maka kamu harusnya bisa menggunakan mantra itu sekarang."


Kamila lantas sebagian lampu di ruangan itu dan berkata, "Bayangkan lingkaran sihir yang muncul di kepalamu dan keluarkan Mana."


"Umm ... Bagaimana cara mengeluarkan Mana?" Riyan berpura-pura tidak tahu lagi untuk menghindari kecurigaan.


Jamila mendekatinya, meletakkan telapak tangannya di dada Riyan, dan menuangkan sebagian Mana-nya.


"Apakah kamu bisa merasakannya?"


"Ya, aku bisa merasakannya. Ini adalah perasaan yang sangat menyegarkan."


"Bagus. Hafalkan perasaan ini."


Riyan memejamkan mata, dan beberapa saat kemudian, bayangan di ruangan itu tiba-tiba mulai berkumpul di sekitar tubuhnya.


Kamila lantas menarik kembali telapak tangannya dan mengambil beberapa langkah jauh dari Riyan. Matanya melebar dengan terkejut.


'Tidak mungkin ... Dia benar-benar berhasil menghafal lingkaran sihir dalam waktu yang sesingkat itu ...'


Kamila sungguh tidak percaya saat dia menatap Dark Barrier yang mengelilingi tubuh Riyan seperti bola.


"Bagaimana? Apakah itu berhasil?" Riyan bertanya sesaat kemudian.


Setelah terbungkam, Kamila akhirnya menyerahkan kertas lain, yang tergambar lingkaran sihir untuk Black Bullet.


"Ini adalah lingkaran sihir untuk Black Bullet. Aku ingin kamu menghafal dan menggunakannya."


Riyan mengangguk, dan ia dengan tenang menerima kertas itu.


Namun, karena ia sudah belajar sihir itu sebelumnya, Riyan cuma pura-pura melihatnya.


"Oke, aku sudah selesai."


"Incar tembok. Jangan khawatir, tidak akan ada kerusakan pada temboknya," perintah Kamila.


Setelah menyerahkan kertas itu kembali ke Kamila, Riyan menunjuk dengan jari telunjuknya, ia membidik.


Sebuah peluru hitam berukuran seperti kelereng muncul di ujung jarinya sebelum melesat dan menghantam tembok.


Suara sesuatu yang menghantam dinding logam dengan benda tumpul bergema. peluru hitam itu menabrak dinding dan menghilang tanpa membiarkan satu bekas pun.


"Luar biasa ..." gumam Kamila saat ia menatap senyuman bangga di wajah Riyan.