
"Syukurlah kerusakannya tak besar, dan lubang di dinding itu terlalu kecil untuk diperhatikan dari luar dan mudah disembunyikan dari dalam." Riyan menghela nafas setelah menutupi lubang dengan menempelkan selembar kertas. Ini adalah solusi sederhana namun efektif.
"Jika aku ingin terus berlatih sihir sambil menjaga rahasia. Aku harus melakukannya di tempat lain. Apakah kau memiliki tempat seperti itu, Lila?"
"Kenapa kamu tak bisa melakukannya di pusat pelatihan? Mereka memiliki ruangan pribadi yang dibuat untuk siswa yang ingin berlatih sihir."
"Aku bisa melakukan itu, tapi akan ada orang yang curiga jika aku masuk ke ruang latihan untuk siswa kelas sihir. Sedangkan aku tak bisa menggunakan sihir?"
"Kamu terlalu memikirkannya," ucap Lila mengangkat bahu.
"Tapi jika kamu cemas, kamu bisa mengunjungi sebuah pusat pelatihan pribadi di luar akademi. Namun, aku harus memperingatkanmu, aku tak bisa meninggalkan area akademi, jadi aku tak bisa membantumu jika di luar."
"Kenapa kau tidak bisa pergi dari sini? Apakah ada semacam penghalang yang mencegah kau pergi?" tanya Riyan.
"Tidak, tidak ada. Hanya Mana yang ada di tempat ini cukup untuk menjaga jiwaku. Mana di luar wilayah Akademi berkali-kali lebih buruk. Jika aku pergi ke luar, aku tak akan bisa menjaga kondisi jiwaku. Dan jiwaku akan rusak lalu aku akan benar-benar mati."
"Aku mengerti ... Nah, aku tak berencana pergi ke luar karena aku tak punya uang, dan menyewa ruang pelatihan pribadi kedengarannya mahal." Ia cuma mengedikkan bahunya.
"Ngomong-ngomong, apa yang biasa kau lakukan sebagai hantu? Apakah kau hanya berkeliaran di sekitar sini?" Riyan tiba-tiba bertanya.
"Aku bukan hantu, dan ya, karena aku tak bisa menyentuh apapun, aku hanya bisa berkeliaran di sekitar Akademi dan melihat orang-orang melakukan sesuatu. Aku pergi ke kelas untuk menambah pengetahuanku sampai saat ini, dan aku melihat para siswa berlatih ketika aku bosan."
"Ketika aku sangat bosan, aku memata-matai siswa ganteng di kamar mandi,," ucap Lila dengan senyum sesat di wajahnya.
Riyan mengerutkan kening, "Kau benar-benar mesum. Aku sekarang memiliki pemikiran lain dengan seseorang sepertimu ..."
"A-aku hanya bercanda! Cih, kamu tak bisa diajak melawak!?" cibir Lila mendecihkan lidah.
"Mana mungkin gadis yang cantik dan anggun seperti diriku sudi memata-matai para lelaki saat mereka berada di kamar mandi! Aku masih ingin menjaga kesucian mataku. Kalian para lelaki kadang melakukan itu 'kan, saat di kamar mandi ... melubangi sabun batang?!" imbuh Lila menuding Riyan, tatapannya menyipit penuh curiga.
Riyan agak mengalihkan pandangannya, "Y-yah, mungkin benar. Tapi, aku bukan golongan itu. Aku ingin seorang wanita yang melakukannya untukku, kenapa harus repot-repot? Tapi, yah ... cuma omong doang. Buktinya aku tak punya wanita seperti itu." Ia tertawa garing.
Sudut bibir Lila berkedut setelah mendengar perkataan Riyan.
"Maafkan aku! Tolong jangan berhenti menjadi temanku! Andai aku punya tubuh fisik, pasti aku akan melakukannya untukmu. Apalagi aku akan setia padamu, masa bodoh dengan laki-laki terganteng di dunia ini!"
Alis Riyan berkedut sendiri dan bergumam sendiri, 'Yah, pikirannya terlalu liar,' batinnya.
"Itu bukan poinnya. Huh, lagian, mari kita ubah topik. Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu. Bisakah kau ceritakan bagaimana kau bisa meninggal? Bagaimana dengan hidupmu sebelum menjadi seorang Spirit?"
"..."
Lila menunjukkan ekspresi ragu-ragu di wajahnya.
"Kau tak perlu memberi tahuku jika kau merasa tidak nyaman dengan itu. Aku hanya bertanya, bukan menuntut," Riyan bergegas berucap.
"Terima kasih, aku akan menceritakan tentang latar belakangku saat sudah siap. Namun, aku akan memberitahumu bagaimana aku bisa meninggal. Aku dikhianati oleh keluargaku sendiri, dan aku ditikam dari belakang. Begitulah penyebab aku bisa meninggal." beritahu Lila terdengar sendu.
Riyan tidak mengharapkan kematian Lila bisa setragis itu. Sekarang ia mengerti mengapa Lila enggan menceritakan masa lalunya.
"Bisakah kamu ceritakan tentang duniamu sendiri?" Lila yang giliran bertanya pada Riyan.
"Percayalah, kau akan menyesal. Itu adalah tempat yang sangat membosankan jika dibandingkan dunia ini." beritahu Riyan.
"Benarkah?"
"Tentu saja, dunia ini memiliki sihir, tapi di duniaku, sihir hanya ada dalam cerita dan film fantasi. Jika kau mengeluarkan semua barang yang menyenangkan di dunia ini, kau akan dapat memiliki duniaku."
"Menyenangkan, ya ..." ucap Lila dengan suara yang pelan.
"Terlepas dari itu, aku masih ingin mendengarnya. Jika kamu mau menceritakan tentang duniamu, aku akan mengajarkan mantra sihir lagi!"
"Setuju!" Riyan tanpa berpikir langsung menyetujuinya.
Lalu ia menyadari sesuatu. "Tunggu, kau mengatakan bahwa kau tak bisa menggunakan sihir karena seorang Spirit, bukan? Apakah lingkaran sihir bukan bagian dari sihir?"
"Ya, lingkaran sihir masih termasuk sihir." Lila mengangguk.
"Kalau begitu kenapa kau bisa menggunakannya?" tanya Riyan menaikkan sebelah alisnya.
"Karena lingkaran sihirku tidak benar-benar lingkaran sihir. Aku adalah Spirit, jadi aku bisa mengubah tubuhku sesuai dengan imajinasiku, seperti ini ..."
Tangan kanan Lila tiba-tiba berubah menjadi pisau belati.
"Itu sangat hebat," puji Riyan bertepuk tangan.
"Ini juga menjelaskan bagaimana aku bisa menciptakan lingkaran sihir tanpa menggunakan sihir."
"Sekarang kamu mengerti, cepat ceritakan tentang duniamu!" desak Spirit itu.
"Bahkan jika kau mengatakan itu, aku bahkan tak tahu harus mulai dari mana. Duniaku sama persis seperti dunia ini, tapi tanpa sihir dan Vampire, dan itu termasuk akademi dan siswa di sini." ucap Riyan.
"Kalau begitu, ceritakan tentang hidupmu sebelum datang kesini."
Riyan mengangguk dan berkata, "Aku adalah seorang siswa biasa di duniaku, namun akademi atau sekolah itu memiliki nama dan jurusan yang berbeda. Ingat, duniaku tak ada sihir!".
"Aku berasal dari latar belakang biasa, orang miskin. Jadi, aku harus mendapatkan beasiswa untuk masuk ke sini.
"Oh, karena aku dulu beberapa kali masuk kelas akselerasi, jadi aku adalah siswa paling muda di angkatanku."
"Dan tepat saat akhirnya aku sudah terbiasa dengan hidupku di akademi ... aku malah disasarkan ke dunia ini tanpa sebab yang jelas."
Lila merespon dengan ekspresi sendu di wajahnya setelah mendengar kisah kehidupan sekolah Riyan yang menyedihkan.
"Bagaimana dengan hidupmu sebelum di akademi?" tanya Lila lagi.
Riyan terkekeh dan berkata, "Itu lebih membosankan. Yang aku lakukan hanyalah belajar dari hari ke hari, jadi aku tak punya teman."
Setelah beberapa saat diam, Lila berbicara, "Jujur, hidupmu sangat mirip dengan hidupku."
"Aku tak punya teman karena aku telah menghabiskan sebagian besar waktu berlatih sihir di rumah. Dan aku memiliki keluarga yang sangat keras. Ini adalah hidupku dari awal sampai akhir."
"Mungkin itu karena kehidupan kita yang serupa, jadi membawa kita bersama? Apakah ini mereka sebut sebagai pertemuan yang ditakdirkan?"
"Aku meragukannya." Riyan segera menyangkalnya.
Lila tersenyum, "Tapi memang benar bahwa kamu satu-satunya orang di akademi ini yang bisa melihatku. Huh, ya sudahlah ... inilah mantra sihir lain, seperti yang aku janjikan."
Lila menunjukkan pada Riyan lingkaran sihir yang berbeda kali ini. Ia menatap lingkaran sihir itu selama beberapa detik sebelum akhirnya notifikasi dari System muncul.
[Anda telah mempelajari mantra sihir: Black Flame]
[Black Flame]
[Afinity: Dark / Fire]
[Tier: 1]
[Mana: 30]
[Mastery Rank: F]
"Ini lingkaran lingkaran sihir untuk Black Flame, sebuah mantra sihir kegelapan dan api." Lila menjelaskan.
"Hah? Aku pikir tak bisa menggunakan sihir dengan afinitas yang berbeda." Riyan memiringkan kepalanya dengan bingung.
"Mantra sihir ini memiliki elemen api. Tapi, selama mantra sihir itu juga memiliki elemen kegelapan, kamu tetap akan bisa menggunakannya. Jika kamu memiliki afinitas sihir untuk kedua elemen tersebut, mantra sihir ini akan menjadi lebih kuat," lanjut Lila menjelaskan lebih rinci.
"Aku mengerti ... aku benar-benar ingin mencoba mantra sihir baru ini, tapi aku harus menahannya untuk saat ini." Riyan menghela napas dengan kecewa.
Beberapa saat kemudian, Riyan meninggalkan kamar dan pergi ke pusat laundry untuk membersihkan seragamnya. Saat dalam perjalanan kembali, ia tak sengaja bertemu dengan Andre.
"Ada apa, Riyan? Dan kenapa kau memakai jubah mandi?"
"Aku tidak punya pakaian, dan seragamku saat ini sedang dicuci di laundry," beritahu Riyan
"Hmm ... lalu, apakah kau mau meminjam beberapa pakaianku? Kita sepertinya memiliki ukuran tubuh yang sama, harusnya pas, sih."
"Apakah kau serius?" tanya Riyan antuasias.
"Ya, aku punya banyak pakaian yang sudah lama tak kupakai lagi. Kau bahkan bisa membawa banyak."
Riyan menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku hanya butuh sesuatu yang bisa aku pakai keluar. Satu set pakaian harusnya cukup."
"Baiklah, ikut aku." Andre membawa Riyan ke kamarnya sendiri. Selain pengurus asrama, ia juga siswa akademi..
Beberapa saat kemudian, Andre menyerahkan pada Riyan 3 set pakaian.
"Aku tahu kau hanya meminta satu, tapi ambil saja. Aku berencana untuk membuangnya nanti,"
"Terima kasih, aku berutang padamu," ucap Riyan mengangguk.
"Juga, aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau keberatan jika aku melakukan latihan di sekitar asrama?"
"Tentu saja. Selama kau tak membuat masalah atau menggunakan sihir sembarangan. Kau akan baik-baik saja. Penggunaan sihir dilarang di luar pertandingan resmi dan pusat pelatihan," terang Andre.
"T-terima kasih." Riyan tiba-tiba teringat lubang di dinding kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Riyan berganti ke pakaian barunya dan mulai berlari mengitari asrama, sementara Lila mengikutinya dengan melayang. Setelah berlari selama tiga jam tanpa henti, Riyan kembali ke kamarnya untuk mandi.
Setelah itu, ia mengenakan seragam akademinya dan meninggalkan asrama.
"Kemana akan kamu pergi sekarang?" tanya Lila.
"Kantin, jelas. Aku kelaparan setelah semua pelatihan yang kulakukan hari ini," balas Riyan.
Ada 5 kantin berbeda yang bisa digunakan oleh para siswa akademi. 2 diantaranya untuk dikhususkan bagi siswa akademi dengan makanan standar, semuanya gratis. Sedangkan, 1 kantin lainnya khusus untuk para siswa yang tak keberatan untuk membayar, tentunya untuk makanan mewah.
Sedangkan untuk dua kantin lainnya, satu diperuntukkan hanya untuk siswa kelas sihir sementara yang lainnya adalah untuk siswa biasa.
Beruntung untuk Riyan, kantin yang digunakan oleh siswa biasa seperti dirinya terletak paling dekat dengan asramanya, dan ia sampai setelah berjalan kaki singkat.
Ketika ia tiba, para siswa di sana dengan cepat melihat ke arah Riyan. Dan dengan semua orang di sana yang memerhatikan, itu membuat hampir tidak mungkin baginya untuk makan dengan tenang.