System: Parallel World

System: Parallel World
Chapter 12: Bakat mengerikan



"Jangan berkata begitu ... kaulah yang memanggilku ke dunia ini, 'kan?!" ucap Riyan yang langsung membuat kesimpulan. Fakta bahwa Lila mengetahui identitasnya langsung dijadikan acuan.


Lila tersenyum dan berkata, "Apakah aku terlihat bisa menggunakan sihir teleportasi? Juga, karena aku adalah seorang Spirit, aku tak bisa menggunakan sihir, jadi tidak! Aku tak memanggilmu ke dunia ini."


"Lalu, bagaimana kau bisa tahu bahwa aku dari dunia lain?! Hanya kak Kamila yang tahu tentang ini!"


"Aku mendengarmu bergumam ke diri sendiri di kamar mandi. Kamu tak sadar, tapi aku telah memperhatikanmu cukup lama di kamar mandi." Lila terkekeh dengan cara yang menyebalkan di hadapan Riyan.


"Dengan itu bisa kukatakan .... aku telah mengetahui rahasia kecilmu. Lagipula Riyan asli dari dunia ini sudah mati, kurasa? Adapun aku tak mengenalnya secara pribadi, tapi aku telah melihat dia beberapa kali saat masih hidup. Dan Riyan asli tidak dapat melihatku."


Riyan menatap Spirit cantik di hadapannya itu dengan ekspresi yang bermasalah. Makhluk yang tidak jelas itu tidak bisa dipercaya.


Setelah beberapa saat tenggelam dalam keheningan, Riyan berbicara, "Jadi, apa yang kau inginkan dariku? Jika kau di sini tidak untuk menggangguku, maka kau bisa meninggalkan aku sendiri!?"


"Apa? Setelah tahun-tahun yang tak terhitung, aku akhirnya, Lila si Spirit telah menemukan seseorang yang bisa melihat dirinya, apalagi bisa saling bertukar kata! Tidak mungkin aku akan meninggalkanmu sendiri sekarang!" tegas Lila tersenyum menyeringai, memamerkan deret gigi putihnya.


"Aku tahu itu adalah kesalahan untuk mengakuimu ..." Riyan menghela napas.


"Aku tak memiliki motif tersembunyi. Aku hanya ingin menjadi temanmu. Itu sangat membosankan hidup sebagai seorang Spirit, kamu tahu? Aku bisa melihat dan mendengar semua orang, tapi mereka tidak dapat melihat atau mendengarku. Rasanya seperti aku hidup sendirian di dunia ini."


Riyan mengangkat alis dan bertanya, "Tak bisakah kau berbicara dengan Spirit atau hantu lainnya?"


"Yah ... aku secara teknis adalah seorang Spirit, lagipula aku bukan Spirit sejati. Jadi, aku juga tak bisa melihat mereka," ucap Lila tersenyum kecut.


Riyan menatapnya dengan tatapan curiga, "Jadi kau bukan hantu atau Spirit? Itu mencurigakan ... penjelasanmu tak konsisten!"


"Lagian, aku tak mendapatkan apa-apa dengan berteman dengan entitas yang tak jelas, yang bisa merasuki tubuhku. Jadi, aku harus menolak tawaranmu." imbuh Riyan mencibir.


"Aku hanya bercanda tentang merasuki tubuhmu. Ayolah, aku hanya seorang jiwa yang tak berdaya, jadi aku tak bisa merasukimu." ucap Lila melakukan pembelaan.


"Tak mengubah fakta bahwa aku tidak punya alasan untuk berteman denganmu."


"Alasan, ya?" Lila berpikir sejenak sebelum berbicara lagi, "Bagaimana dengan aku mengajarimu sihir?"


"Ya?" Mata Riyan melebar dengan seketika.


"Kamu ingin belajar sihir, 'kan? Sebenarnya, aku berada di sana saat kamu menguji Magic Talent-mu. Aku kebetulan memiliki afinitas sihir untuk sihir kegelapan juga, dan aku sangat kuat saat masih memiliki tubuh fisik."


"Jika kamu berteman denganku, aku tidak keberatan mengajarkan beberapa mantra sihir kegelapan. Wajar bagi teman untuk saling membantu," Lila tersenyum tipis..


"Kau benar-benar memanfaatkan kelemahan orang-orang, ya?" Riyan mengertakkan giginya pada tawarannya yang sangat menggiurkan itu.


"Kak Kamila akan mengajariku sihir, jadi aku tak membutuhkanmu." Pada akhirnya, Riyan menolak tawaran dari Lila.


"Mungkin benar, namun dia cuma bisa mengajarimu satu atau dua mantra sihir dasar. Tapi aku bisa mengajarkan segala macam sihir kegelapan yang kuat dan lebih banyak lagi. Aku juga bisa menjamin kamu akan belajar sihir lebih cepat di bawah arahanku dari pada wanita itu." Lila nampak masih belum menyerah untuk membujuk Riyan.


"Jika kamu tidak mempercayaiku, aku tak keberatan memberimu sampel."


Lila tiba-tiba menjulurkan jari telunjuknya dan berbicara, "Black bullet. Ini adalah sihir kegelapan tingkat 1."


Saat berikutnya, Riyan bisa melihat lingkaran sihir berwarna merah dengan banyak simbol yang tidak ia kenali muncul di depan telunjuk Lila.


"Sebetulnya cukup mudah untuk belajar sihir, sebenarnya kamu hanya perlu menghafal lingkaran sihir yang dibutuhkan untuk sihir tersebut. Menggunakan sihir adalah cerita yang berbeda," terang Lila.


"Untuk menggunakan sihir, kamu harus memiliki afinitas untuk jenis sihir yang ingin kamu gunakan, dan kamu harus memiliki cukup Mana untuk menggunakannya."


"Gunakan waktu untuk menghafal lingkaran sihir ini dan——"


"Aku sudah mengingatnya dalam ingatanku, selanjutnya apa?" Riyan menyela, membingungkan Lila.


"Hah? Kamu sudah menghafalkannya? Bagaimana mungkin? Lingkaran sihir memiliki fenomena yang membuatnya secara alami sulit untuk orang bisa menghafalkannya, itu tidak peduli seberapa bagus ingatanmu.


Jadi, bahkan orang-orang yang memiliki daya ingat yang di atas rata-rata saja memerlukan beberapa waktu untuk menghafal lingkaran-lingkaran sihir itu, dan semakin kuat mantra sihir, akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menghafalkannya," terang Lila menjelaskannya panjang lebar.


"Kau tidak mempercayaiku?" tanya Riyan mengangkat bahunya.


Panel transparan muncul di hadapan Riyan untuk kedua kalinya.


[Anda telah mempelajari mantra sihir: Black bullet]


[Afinity: kegelapan]


[Tier: 1]


[Mana: 10]


[Mastery Rank: F]


[+200 Magic experience, +1 Magic Point]


Ding!


[Anda telah menerima quest dari Magic System]


[Quest: Meningkatkan Mastery Rank]


[Deskripsi: Meningkatkan sebuah mantra sihir 1x ke Mastery Rank 'E']


[Batas waktu: 7 hari]


[Hadiah: 400 Magic experience, 2 Magic point]


'Aku tahu bahwa ini bukan halusinasi. Dari ribuan novel yang telah kubaca. Di antaranya ada yang membahas tentang System. Namun, aku tak mengenali ini sebelumnya, tapi ini pasti 'System'!? ' pikir Riyan saat ia menatap panel berwarna biru transparan tersebut.


"Sederhana saja, kamu hanya perlu membayangkan lingkaran sihir di dalam kepalamu dan melepaskan Mana di tubuhmu. Lingkaran sihir yang kamu bayangkan harus sempurna, atau mantra sihir tidak akan diaktif."


Riyan mengusap matanya dan mendengus kasar, "Ini adalah pertama kalinya aku menggunakan sihir, dan duniaku tidak ada sihir. Jadi aku akan memerlukan lebih banyak penjelasan darimu. Untuk pemula, bagaimana cara mengeluarkan Mana?"


"Betapa merepotkannya dirimu." Lila memutar bola matanya dengan malas. "Namun, untuk temanku yang tidak terhormat, aku akan membantumu." Barulah ia tersenyum manis.


Lila melayang di depan Riyan dan berkata, "Aku akan membantumu 'merasakan' Mana-mu. Namun, hanya itu hal terbaik yang bisa aku lakukan untukmu. Kamu harus menemukan caranya sendiri," instruksi Lila.


Lila kemudian mengetuk dahi Riyan dengan salah satu jarinya. Riyan bisa segera merasakan sesuatu yang berbeda pada tubuhnya.


"Inikah perasaannya? Aku tidak tahu bagaimana cara menggambarkannya, tapi rasanya menakjubkan. Seperti ada semacam kekuatan lain di dalam diriku!" Riyan berseru, terdengar bersemangat setelah merasakan Mana untuk pertama kalinya.


"Bagus, sekarang coba keluarkan dengan lingkaran sihir untuk Black Bullet dengan pikiranmu." Lila menginstruksikannya.


Riyan menunjuk ke dinding dengan tangannya yang membentuk pistol, dan ia menarik napas dalam-dalam.


Saat berikutnya, bola hitam seukuran sebuah kelereng muncul di ujung jarinya.


"Itu berhasil!" Riyan berteriak dengan bersemangat setelah melihat dirinya mampu menggunakan sihir.


"Dasar payah! Tetap fokus!" Lila tiba-tiba berteriak pada Riyan.


Namun, Riyan terkejut dengan suara kerasnya dan tanpa sengaja melepas mantra sihirnya, mengirim bola hitam itu ke arah dinding.


Whoosh!


Bola hitam tersebut menembus dinding dengan mudah dan, menciptakan lubang kecil di sana.


"Kamu beruntung tidak ada ruangan lain di belakang dinding itu, atau kamu bisa mendapat masalah! Saat menggunakan sihir, kamu harus tetap fokus, tidak peduli apapun. Kamu bisa terluka atau orang lain yang terkena dampaknya," ucap Lila segera memarahi Riyan, sewajarnya seorang guru pada muridnya yang membuat kesalahan.


"Aku akhirnya punya seseorang untuk diajak berbicara setelah begitu lama, jadi jangan berani membuat dirimu terbunuh begitu cepat, oke? Aku nanti kesepian lagi," ucap Lila mengedipkan mata.


"Maaf ... aku agak terlalu bersemangat." Riyan mengakui kesalahannya dan meminta maaf.


"Yah, ngomong-ngomong, selamat untuk belajar mantra sihir pertamamu." Lila mulai bertepuk tangan.


"Huh, rasanya sangat hebat, dan semuanya berkatmu, Lila!" ucap Riyan dengan senyuman lebar.


"Apakah ini berarti kamu akan berteman denganku?" Lila mendadak bertanya.


Riyan diam sejenak sebelum menganggukkan kepalanya dengan yakin "Aku tak keberatan menjadi temanmu. Tapi jika kau melakukan sesuatu yang mencurigakan seperti mencoba merasuki tubuhku, aku akan segera memanggil seorang pengusir hantu!"


"Aku bersumpah tidak akan melakukan hal seperti itu!" ucap Lila.


Riyan mengangguk, dan ia mengepalkan tinju di depannya, "Aku belum benar-benar memperkenalkan diri. Aku Riyan. Senang bertemu denganmu, Lila."


Lila juga mengulurkan tinjunya sampai menyentuh tinju Riyan.


"Diberkatilah! Kamu secara resmi menjadi teman pertamaku sepanjang sejarah!" Lila memamerkan senyum manisnya.


'Sepanjang sejarah? Apakah dia benar-benar tak pernah memiliki teman, walaupun saat dia masih seorang manusia?' batin Riyan. Namun, ia dengan segera membuang pikiran itu.


Beberapa saat kemudian, Riyan mulai melihat-lihat ruangan untuk menemukan sesuatu yang bisa menyembunyikan lubang di dinding. Sementara ia melakukan itu, Lila melihat dirinya diam-diam.


'Tak hanya bisa menghafal lingkaran sihir dengan sekali lirik. Tapi dia bahkan bisa melemparkan mantra sihir coba coba, seolah-olah dia sudah biasa melakukannya.


Apakah ini benar-benar pengalaman pertamanya? Jika demikian, bakat yang mengerikan, Riyan ... ' Lila tersenyum di dalam hatinya saat melihat Riyan.