System: Parallel World

System: Parallel World
Chapter 19



'Orang ini ... tidak hanya dia bisa belajar sihir dalam hitungan detik, dia bahkan bisa tanpa melakukan rapalan dalam percobaan pertama! Bakat sihirnya sangat di luar nalar!' batin Kamila takjub pada Riyan.


"Aku cukup baik dengan sihir, bagaimana kalau singkirkan pedang dan mulai berfokus pada sihir?" ucap Riyan tersenyum pada Kamila yang sibuk dengan pikirannya.


"J-jangan besar kepala!" ucap Kamila mengerutkan kening setelah bungkam cukup lama.


Dan ia melanjutkan, "Kamu mungkin memiliki bakat untuk belajar sihir, tapi kamu harus berfokus pada ilmu pedang."


"Aku mengerti bahwa aku harus mengikuti keahlian Riyan asli, tapi tidakkah itu akan menyia-nyiakan bakat sihirku?" ucap Riyan mengeluh.


"..."


Setelah beberapa saat diam, Kamila akhirnya berbicara,


"Dengar, Riyan. Aku mengakui bahwa kamu sangat berbakat dalam sihir. Namun, itu tidak berarti kamu harus mengabaikan hal-hal lain. Hanya karena kamu bisa melatih Mana-mu, tidak berarti kamu tak boleh melatih tubuhmu, dan hanya karena kamu bisa menggunakan sihir tidak berarti kamu tidak perlu menggunakan senjata."


"Akan ada situasi di mana kamu tidak dapat menggunakan sihir, dan akan ada saat kamu harus menggunakan tubuhmu untuk bertarung. Dalam situasi ini, seorang penyihir yang dapat menggunakan senjata dan memiliki tubuh yang kuat akan menang atas orang-orang yang hanya berfokus pada sihirnya."


Kamila tidak bisa menyangkal fakta bahwa Riyan adalah seorang jenius sihir, namun ia tidak setuju dengan pernyataan bahwa itu akan membuang bakatnya.


Kamila melanjutkan, "Bagaimana dengan ini? Kamu bisa fokus untuk berlatih sihir begitu kamu mengalahkan Thaya dengan menggunakan ilmu pedang. Kamu sudah 10 tahun terlambat datang untuk belajar sihir, bagaimanapun juga. Masih ada cukup waktu untuk belajar sihir."


"Kau benar, kak Kamila. Penting untuk memiliki tubuh yang kuat dan menguasai gaya tempur lainnya bahkan jika aku bisa menggunakan sihir. Maaf, kegembiraan untuk bisa belajar sihir pasti mempengaruhi pikiranku," Riyan menghela napas, menyadari kearoganannya.


"Aku akan terus berlatih pedang dan tubuhku dengan tekun bahkan setelah aku mengalahkan Thaya" ucap Riyan.


"Baiklah, mari kita lanjutkan latihanmu." Kamila mengangguk.


Beberapa saat kemudian, Kamila mengambil peraga latihan lain dari penyimpanan ruang dan meletakkannya beberapa meter di depan Riyan.


"Itu adalah alat penyerap sihir yang mengevaluasi kekuatan sihir seseorang, 'kan? Aku melihat beberapa siswa yang berlatih sihir dengan benda itu tepat sebelum datang ke sini," ucap Riyan menunjuk kristal penyerap sihir.


"Ya, itu benar, karena kamu sudah tahu tentang hal itu, kita bisa melewatkan penjelasan dan langsung masuk ke dalam pelatihan. Aku ingin kamu menghantam kristal ini dengan sebanyak-banyaknya Black Bullet yang bisa kamu keluarkan. Kamu bisa berhenti begitu kamu merasa mulai merasa pusing," terang Kamila.


"Oke


Riyan menunjuk jarinya ke kristal dan mulai menembakkan Black Bullet setiap beberapa detik.


Namun, setelah Black Bullet yang ke 5, Riyan tiba-tiba mulai merasa pusing.


"A-apa yang terjadi padaku? Aku tiba-tiba merasa sangat lelah ..." Riyan segera duduk di lantai dan mulai menggosokkan matanya yang hendak tertutup.


"Apa yang kamu alami disebut Mana Fatigue. Ini pada dasarnya tubuhmu menyuruh untuk berhenti menggunakan sihir. Inilah yang terjadi saat Mana rendah. Jika kamu terus menggunakan sihir saat berada di tahap itu, kamu akan kehilangan kesadaran, dan itu bukan skenario terburuknya." Kamila menghampiri Riyan.


"Apa skenario terburuknya?" Riyan bertanya dengan penasaran.


"Kamu mati."


Riyan menelan ludahnya dengan ngeri, dan ia membuat catatan mental untuk tidak pernah menggunakan sihir kapan pun dia mengalami Mana Fatigue, kecuali jika itu adalah situasi hidup-mati.


"Minum ini, itu adalah Mana potion," Kamila menyerahkannya sebotol cairan biru.


Setelah meminum Mana potion, Riyan bisa merasakan kelelahannya menghilang dalam dalam beberapa saat.


"Seberapa sering aku bisa minum ini?" tanya Riyan melihat botol kaca yang berisi cairan biru.


"Meskipun kamu bisa minum Mana potion setiap jam, disarankan agar kamu meminumnya setiap dua sampai tiga jam untuk menurunkan risiko overdosis Mana, di mana kamu memperoleh terlalu banyak Mana dalam waktu yang terlalu singkat."


"Setiap jam? Mengapa ada perbedaan besar di Cooldown antara stamina potion dan Mana potion?" tanya Riyan menaikkan sebelah alisnya.


"Ada beberapa alasan. Yang pertama bahwa Mana secara alami meregenerasi lebih cepat dari pada stamina.


Kedua, Mana potion jauh lebih baik kualitasnya daripada stamina potion karena semua orang bergantung pada Mana. Alasan lainnya adalah bahwa Mana potion mengandung Mana asli, yang akan langsung memulihkan Mana kita seperti mengisi gelas kosong dengan air. Namun, kamu tak bisa melakukan itu dengan stamina," terang Kamila


"Aku mengerti ... Itu benar-benar masuk akal."


Beberapa saat kemudian, Kamila berkata lagi, "Mana-mu seharusnya sudah pulih sepenuhnya sekarang. Silakan ulangi apa yang kamu lakukan sebelumnya. Ini akan memberi tahu kita keadaan kapasitasmu saat ini."


Riyan mengangguk dan mulai menembakkan Black Bullet lagi, membuat kristal bersinar biru muda setiap saat.


Sekitar satu menit dan sepuluh peluru hitam kemudian, Riyan mulai mengalami Mana Fatigue lagi.


'Karena setiap Black Bullet menggunakan setidaknya 10 Mana, seharusnya aku memiliki sekitar 100 Mana, ya? Akan lebih baik jika System bisa menunjukkan berapa banyak Mana yang aku miliki ...' pikir Riyan.


Beberapa saat kemudian.


[Menghitung total Mana Host]


[Perhitungan Selesai]


[Mana: 9/125]


'Begitu mudah ...' Riyan terkejut dengan respon System terhadap keinginannya, dan ia bertanya-tanya apakah ada hal lain yang bisa dilakukan oleh System.


"Kak Kamila, aku punya pertanyaan. Katakanlah Black Bullet menggunakan 10 Mana dan aku memiliki total Mana 100. Dapatkah aku menggunakan semua Mana untuk satu Black Bullet?" tanya Riyan yang mengangkat tangan kanannya. Ia mendadak kepikiran hal itu.


"Ya, itulah yang sebut Overcharge. Bila kamu menggunakan lebih banyak Mana daripada yang diperlukan untuk menggunakan sebuah mantra sihir.


Namun, ada batasan untuk berapa banyak kamu bisa Overcharge. Setiap mantra sihir akan memiliki penggunaan minimal Mana. Misalnya, jika kamu hanya menggunakan 5 Mana untuk mengaktifkan Black Bullet yang membutuhkan 10 Mana, itu tidak akan bisa aktif. Sedangkan untuk batasnya, itu akan tergantung pada penguasaan mantra sihir dan afinitas sihirmu."


"Ini sangat umum bagi orang yang melakukan Overcharge untuk satu mantra sihir, tapi itu tidak berarti itu tak berbahaya. Jika kamu mencoba untuk memberikan Mana terlalu banyak pada suatu mantra sihir, kadang itu akan meledak di wajahmu," terang Kamila panjang lebar.


"Yah, aku mengerti ..." Riyan mengangguk.


Riyan membuat catatan lain untuk tidak pernah melakukan Overcharge untuk mantra sihirnya, sampai melewati batas.


"Ngomong-ngomong, bagaimana aku bisa tahu apakah aku hampir mencapai batas?"


"Saat baru mulai sulit untuk mengeluarkan Mana lebih banyak ke dalam mantra sihir. Kamu akan merasakan penolakan. Ini sangat jelas, jadi kamu tak akan melewatkannya," ucap Kamila. Namun, ia berpikir bahwa Riyan pasti bisa melakukan lebih.


Beberapa saat kemudian, Riyan mulai mengayunkan pedang itu lagi saat ia menunggu Mana-nya untuk pulih secara alami.


Meski ia tidak bisa menggunakan sihir saat ia mengalami Mana Fatigue, ia masih bisa menggunakan staminanya sendiri untuk melatih tubuhnya.


Keadaan sudah gelap di luar, Kamila lantas mengingatkan Riyan, "Pergi makan malam. Aku akan menemuimu kembali ke sini dalam satu jam."


"Hah? Kita masih lanjut latihan hari ini?"


"Apakah kamu memiliki kelas besok?" tanya Kamila.


"Tidak, aku pikir tidak ada." Riyan menggeleng.


"Kalau begitu kamu akan berlatih denganku. Sebenarnya, aku tidak berencana membiarkanmu tidur malam ini," ucap Kamila menyeringai jahat.


Mata Riyan melebar dengan terkejut setelah mendengar kata-katanya.


"Mengapa kamu menatapku seperti itu? Jika kamu ingin mengalahkan Thaya, kamu perlu banyak usaha," ucap Kamila mengerutkan kening.


Kamila melanjutkan "kamu mungkin tidak menyadari hal ini, tapi pertandinganmu dengan Thaya jauh lebih penting daripada yang kamu pikirkan. Itu bahkan bisa dikatakan bahwa itu akan memutuskan apakah kamu hidup atau mati di akademi ini."


"Apa yang kau maksud?" tanya Riyan meminta klarifikasi.


"Ada banyak orang——siswa yang memiliki dendam terhadap Riyan asli, dan mereka semua menunggu hasil pertarunganmu dengan Thaya."


"Jika kamu kalah dari Thaya, mereka pasti akan membanjirimu dengan tantangan, dan jika kamu menolak, mereka akan mengancammu."


"Namun, jika kamu menang, mungkin tidak akan ada banyak penantang, dan semakin baik hasilnya, semakin kecil kemungkinan mereka akan mengganggumu," ucap Kamila.


"Serius?! Berapa banyak siswa yang mengganggu Riyan asli?!"


"Mayoritas siswa kelas sihir membencinya."


"Tak mungkin..."


Setelah berada dalam kebingungan sesaat, Riyan mematahkan realita dan berbicara dengan suara yang tegas, "Aku tak lapar! Mari lanjutkan latihannya!"


Namun, Kamila mulai berjalan keluar dan berkata, "Jika kamu lapar, kamu bisa cari makan sendiri. Aku mau makan."


"Juga, kamu dilarang berlatih sihir jika aku tidak di sini bersamamu."


"Aku mengerti." Riyan mengangguk, dan ia terus berlatih dengan pedang, sementara Kamila menghilang dari ruangan itu.