System: Parallel World

System: Parallel World
Chapter 23: Pergi ke guild petualang



Setelah menunggu di luar bank selama 15 menit, Riyan menjadi siswa pertama yang masuk ke bank hari ini.


"Aku di sini untuk mengakses rekening bank milikku," ucap Riyan mengutarakan niatnya saat datang ke bank pagi-pagi.


Pegawai di sana menatapnya sebentar, lagipula sebuah kejutan orang yang dinyatakan mati sekarang berdiri di hadapannya.


"Silakan tekan jari Anda ke pemindai. Kami perlu mengkonfirmasi identitas Anda terlebih dahulu."


"Ya?" Mata Riyan melebar dengan kaget.


'Jari? Jangan bilang aku membutuhkan sidik jari?! Sialan!' rutuk Riyan dalam hati.


"Sepertinya tidak semudah yang kamu pikirkan, ya?" Lili terkekeh menutupi mulutnya.


Riyan meliriknya dengan tatapan kesal.


'Hantu vampir ini! Dia pasti tahu tentang ini sebelumnya, namun dia bahkan tidak repot-repot memperingatkanku! Lilia!' Riyan sudah sangat kesal pada si Vampire mesum


"Ada apa?" tanya pegawai itu saat melihat Riyan hanya berdiri dalam diam.


"Kau mengerti, aku memiliki amnesia, jadi aku tidak ingat cara kerja benda ini," ucap Riyan yang tersenyum pahit.


"Amnesia? Jadi Anda adalah Spellsword. Saya sudah mendengar tentang diri Anda," ucap pegawai itu dengan senyuman.


Dan ia melanjutkan, "Untuk mengakses informasi bank Anda dan menarik atau menyetor uang, kami harus memverifikasi identitas Anda bahkan jika kami tahu wajah Anda. Kita tidak bisa hanya mengandalkan wajah seseorang di dunia yang mana orang bisa menyamarkan diri dengan sihir, bukan?"


"Hah? Ada mantra sihir seperti itu?" Riyan tertegun.


"Tentu saja. Meski cukup langka, ada artefak sihir dengan kemampuan untuk mengubah penampilan seseorang di luaran sana."


Ia tiba-tiba teringat tentang apa yang terjadi dengan barang-barangnya yang tercuri dan bertanya-tanya apakah seseorang telah menyamar menggunakan wajahnya.


"Jika mereka bisa mengubah penampilan, apakah itu juga untuk sidik jari dan semacamnya?" Riyan kemudian bertanya.


"Haha ... tentu saja tidak. Tak ada artefak sihir dengan kekuatan dan akurasi semacam itu. Yang terbaik yang bisa mereka lakukan adalah mengubah wajah, suara, dan struktur tubuh. Hal-hal seperti sidik jari dan golongan darah tidak dapat diubah." Pegawai itu tertawa terhadap pertanyaan yang menurutnya polos itu.


"Oh, oke ..." Riyan menggaruk tengkuknya sendiri dengan canggung.


'Karena aku secara teknis adalah Riyan, itu berarti aku harusnya memiliki sidik jari yang sama dengan Riyan asli 'kan?' Riyan harap-harap cemas.


'Apa yang akan terjadi jika sidik jariku tak cocok? Itu akan menjadi masalah ... bagaimanapun, mereka akan curiga jika aku malah berbalik pergi ... ' batin Riyan yang mengalami dilema.


Terjebak pada dilema seperti itu, Riyan memutuskan untuk bertaruh pada mesin pemindai sidik jari itu. Riyan bisa merasakan jantungnya berdenyut seperti bedug saat menunggu hasil pindaian.


Sesaat kemudian ...


"Baiklah, saya telah mengkonfirmasi identitas Anda, Riyan. Anda sekarang dapat mengakses rekening bank Anda," ucap pegawai itu.


'I-itu berhasil!' Riyan berseru girang dalam hati.


Ia lalu segera mengambil rekening banknya.


"500.000 Yor?!" Riyan tergoda saat melihat jumlah digit di rekening banknya.


Di dunia sebelumnya, 500.000 Yor atau setengah juta dolar itu sudah cukup untuk membeli rumah yang bagus di beberapa tempat.


"Wow ... itu lebih buruk dari yang aku pikirkan ..."


Namun, Lila tampak kecewa dengan hasilnya.


Dan ia melanjutkan, "Itu hampir tak cukup untuk membeli artefak D-Rank biasa ..."


'Aku tidak akan membeli artefak apapun! Aku hanya butuh uang untuk membeli pakaian!' batin Riyan menanggapi Lila.


Beberapa saat kemudian, Riyan bertanya, "Ngomong-ngomong, apakah kau menawarkan kartu debit?"


"Ya, kami menawarkannya," balas pegawai bank.


"Bisakah digunakan di luar akademi?"


"Tentu saja, Anda menginginkan satu?"


"Tolong." Riyan mengangguk.


"Beri saya waktu sebentar."


Pegawai itu pergi selama beberapa menit sebelum kembali dengan kartu berwarna merah.


"Anda harus mengatur pin baru untuk kartu ini. Masukkan kartu ke dalam slot di samping pemindai dan ketik pin yang Anda inginkan."


Riyan mengikuti instruksinya.


"Semuanya selesai, Anda bisa menggunakan kartu itu."


"Terima kasih," ucap Riyan sedikit menundukkan kepala.


Ia meninggalkan bank tak lama setelah menyelesaikan urusannya di sana.


"Kamu tahu, kamu secara teknis mencuri uang orang mati dengan penipuan identitas?" Lila mengingatkannya.


"D-diam" ... tidak seperti aku akan menghabiskan semuanya. Aku hanya menggunakannya untuk mendapatkan beberapa pakaian. Aku juga pasti akan mengembalikan uangnya!"


"Apa yang akan kamu lakukan, mencari pekerjaan? Siswa tidak diizinkan untuk bekerja jika kamu tidak tahu," kata Lila.


"Aku tahu, ini juga sama di duniaku. Namun, ada aturan bahwa siswa yang mendapat nilai yang baik dalam setiap ujian akan mendapatkan hadiah uang. Apakah di sini juga ada peraturan seperti itu?


"Semacam itu. Namun, bukan ujian, kamu akan mendapatkan bayaran berdasarkan rangking akademimu."


"Ini cukup sederhana, sebenarnya. Kamu hanya harus bertarung, dan jika kamu mengalahkan seseorang dengan ranking yang lebih tinggi dari dirimu, kamu akan mengambil ranking itu."


"Aku pikir itu akan menjadi sesuatu seperti itu, ini akademi sihir bagaimanapun juga." Riyan menghela napas.


"Ngomong-ngomong, berapa peringkat Riyan asli?"


"Ini mungkin mengejutkanmy, tapi Riyan asli hanya berada di ranking 69."


"Huh? Aku pikir dia adalah salah satu yang terkuat di akademi." Riyan mengerutkan kening setelah mendengar informasi itu.


"Dia bisa mendapat ranking yang lebih tinggi seharusnya. Ranking dihitung hanya saat pertandingan resmi, dan Riyan asli jarang melakukannya. Jika memenangkan pertarungan yang tidak resmi, kamu tidak akan mencuri ranking mereka.


Riyan asli adalah seseorang yang kebanyakan bertempur dalam pertandingan tidak resmi, yang berarti bahwa ranking-nya jarang meningkat. Tapi, dia mendapatkan sebagian besar uangnya dari berburu monster dan Vampire sebagai seorang petualang."


"Petualang? Profesi seperti itu ada di dunia ini juga?" Riyan bergumam dengan kaget.


"Ya, dan ini sangat populer sejak para siswa mulai ikut menjadi seorang petualang."


"Biarkan aku menebak, pasti ada juga guild petualang dan semacamnya."


"Kamu tampaknya sangat berpengetahuan dalam aspek ini," kata Lila melirik Riyan yang nampak antusias.


"Yah ... ini adalah trope yang sangat umum di duniaku. Petualang hampir ada di semua fiksi fantasi."


"Lagian, ceritakan lebih banyak tentang petualang di dunia ini." Riyan menjadi bersemangat.


"Tentu."


Lila melanjutkan untuk menjelaskan kepadanya tentang petualang di dunia ini, sementara Riyan pergi untuk sarapan pagi sebelum menuju ke pusat pelatihan.


Jam sembilan, Riyan bertemu dengan Kamila di luar pusat pelatihan.


"Kenapa kau berpakaian seperti itu? Aku jarang melihatmu tanpa jas putih." Riyan bertanya kepada Kamila, yang berpakaian kasual, hampir seperti ia akan pergi berkencan.


"Aku belum memberitahumu? Kita akan menghabiskan waktu di luar akademi hari ini."


"Kau tidak ..." Riyan menghela napas.


"Nah, sekarang kamu sudah tahu. Ganti pakaian selain seragam akademi. Aku tak ingin orang mengenalmu," kata Kamila serius.


"Sayangnya, aku tidak punya banyak pakaian. Selain seragam ini dan beberapa pakaian latihan yang aku dapatkan secara gratis, aku tidak punya hal lain. Itu semua karena ada beberapa bajin9an yang mencuri barang-barang Riyan asli!"


Kamila menghela napas, "Baiklah, ayo beli baju. Ada pusat perbelanjaan di akademi yang bisa kita kunjungi," usulnya.


"Baiklah." Riyan mengangguk.


Ada mall juga di dunianya, sehingga Riyan cukup familiar dengan itu. Beberapa saat kemudian, mereka tiba di mall, tapi itu tidak terlihat seperti yang diingat oleh Riyan.


"Cepat pilih yang ingin kamu beli. Kita tak memiliki banyak waktu karena kita memiliki janji dengan seseorang."


"Aku mengerti, aku akan mengambil sesuatu dengan cepat."


"Tunggu. Apakah kamu punya uang?" Kamila tiba-tiba bertanya. Riyan tersenyum dan berkata dengan suara yang agak sombong,


"Jangan khawatir, aku bisa membayar barangku sendiri."


"Apakah kamu tak merasa malu mengatakan bahwa itu adalah uangmu?" ucap Lila tiba-tiba.


"Apakah kau tidak bisa terlalu sewot hari ini?" rutuk Riyan dengan dengan suara yang pelan.


"Kamu ingat bahwa aku tak bisa meninggalkan area akademi, bukan? Itu berarti aku tak akan bisa menemanimu!" Lila mengingatkan.


"Oh, benar, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan tentang itu, dan tidak seperti aku bisa menolak kak Kamila, jadi kau harus menungguku sampai aku kembali."


"Kamu harus menceritakan semuanya saat kembali! Setiap detail terakhir!" Lila berseru sebelum menghilang.


"Jika mengingat semuanya, tapi yah ... tentu."


Beberapa saat kemudian, Riyan memasuki toko pakaian terdekat yang bisa ia temukan dan dengan cepat memilih t-shirt hitam biasa serta celana hitam panjang. Setelah membayarnya, ia langsung berganti pakaian barunya di ruang ganti.


"Ayo pergi sekarang," ucap Kamila saat melihat Riyan sudah selesai.


"Bagaimana dengan seragamku?"


"Buang saja. Itu semua sudah usang, dan seragam itu gratis," katanya dengan santai.


"Apa? Tapi, itu satu-satunya hal yang aku bawa bersamaku dari dunia ini!" Riyan menolak.


"Dasar menyusahkan! Berikan seragam itu kepadaku." Kamila memberi isyarat untuk menyerahkan seragamnya.


Riyan menyerahkannya, dan Kamila melanjutkannya dengan membuangnya di dalam penyimpanan ruang.


"Ayo pergi sekarang atau kita akan benar-benar terlambat."


Riyan mengangguk dan mengikuti Kamila ke gerbang masuk akademi.


Meskipun guru membebaskan mereka kapan pun ingin meninggalkan area akademi. Namun, Riyan harus tetap melakukannya karena ia masih menjadi siswa. Setelah itu selesai, Kamila membawa Riyan ke mobil pribadinya.


"Kamu memiliki mobil yang sama dengan dirimu dari duniaku." Riyan berkata kepada Kamila saat ia duduk dengan santai di samping tempat duduk pengemudi dengan santai, hampir seolah-olah ia sudah pernah melakukannya berkali-kali.


Kamila menyipitkan mata pada Riyan, tapi ia tidak mengatakan apapun.


Begitu mereka berada di jalanan, Riyan bertanya, "Jadi ... kemana kita akan pergi?"


"Guild Petualangan," Kamila dengan datar menanggapi.