
" Hm, mungkin kita bisa membeli ramen di dekat sini?" Tanya dokter Kaito yang dibalas dengan anggukan oleh Yuki.
Yuki dengan cepat turun dari kursi dan menarik tangan Kaito untuk pergi ke ruang pemeriksaan, Kaito yang ditarik hanya bisa pasrah dan berjalan mengikuti kemana si kecil menarik tubuhnya.
" Pelan-pelan, Yuu" Ujar Kaito takut gadis itu terjatuh, Yuki kemudian memperlambat langkahnya.
Sepanjang jalan Kaito tersenyum, pasalnya Yuki punya sedikit trauma akan skinship. Karena itu kadang kontak dengan orang lain membuat tubuhnya secara reflek gemetar, walau tidak ia tunjukkan tapi rasa takut dalam dirinya teramat besar. Apalagi kontak fisik dengan pria, terutama sang ayah. Dan Kaito senang, senang dan bersyukur karena Yuki mempercayainya. Karena Yuki tidak takut padanya.
" Ah, Yuhi-sensei!!" Panggil seorang perawat menghentikan langkah Yuki dan Kaito, Kaito menoleh dan mendapati perawat itu nampak berjalan panik ke arahnya.
" Sensei gawat, ada pasien yang harus segera anda temui!" Ujar si perawat dengan wajah panik, Kaito melirik Yuki sejenak. Gadis itu ternyata sudah melepaskan pegangannya.
" Kai-san pergi saja, aku akan menunggu di ruangan ku" Ujar Yuki menenangkan, Kaito tersenyum kecut kemudian mengangguk.
" Baiklah, kita akan beli dessert di perjalan pulang" Ucap Kaito yang dibalas anggukan mantap oleh Yuki.
Kaito pergi bersama dengan perawat tadi untuk memeriksa pasien, sedang kini Yuki masih berdiri di lorong menatap kepergian Kaito. Ya, pekerjaannya sebagai seorang dokter tentu membuat Kaito sangat sibuk.
" Hahhhh..." Helaan nafas pelan keluar dari bibir mungil sang gadis, Yuki menatap jam tangan miliknya. Sekarang sudah jam 06:53 waktu setempat, sebentar lagi waktunya makan malam.
DUK
" Ah, maaf!" Ujar seorang pemuda yang menabrak bahunya, Yuki menoleh kepada pemuda itu.
" Ya, tidak apa. Aku minta maaf karena berdiri di tengah jalan" Ucap Yuki sembari membungkuk.
" Tidak-tidak ini salah kami yang bercanda sambil berjalan!" Ucap pemuda tadi menyesal, Yuki mengangkat kepalanya dan mendapati seseorang pemuda yang sepertinya dia kenal.
" ...Ki-chan?" Gumam pemuda itu saat mendapati wajah Yuki, sedang Yuki langsung tersadar bahwa pemuda di depannya adalah orang yang baru saja ia pikirkan tadi pagi.
" Sato..Osamu?" Balasnya dengan gumaman pelan, pemuda itu mengangguk mantap.
" Lama tidak bertemu Ki-chan!" Ujar Sato Osamu sembari berlutut menyamakan tingginya dengan Yuki.
" Hm, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Yuki menatap Sato Osamu, sedang yang ditatap terkekeh.
" Aku mengunjungi adik ku, dan aku tinggal di sekitar Shinjuku." Ujar Sato Osamu yang membuat Yuki ber'o'ria
" Dan, seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan disini?" Sambung Sato Osamu menatap Yuki penuh selidik.
" Ah, aku mengunjungi paman ku!" Ujarnya membuat alasan sebaik mungkin, Sato Osamu hanya mengangguk walau masih menaruh curiga pada Yuki.
" Kau sendirian?" Tanya Sato lagi
" Aku diantar, paman ku sedang memeriksa pasien jadi dia meminta ku bermain di luar" Ujar Yuki memberi penjelasan terbaik yang dia bisa
" Siapa pamanmu itu?" Kini bukan Sato yang bertanya, tapi seorang pemuda pendek dengar rambut wavy miliknya.
" Yuhi, Yuhi Kaito" Jawab Yuki menatap sedikit horor pada teman-teman Sato Osamu, sedang mereka mengangguk paham.
" Baiklah, kalau begitu mau pergi bersama kami?" Tanya Sato Osamu, Yuki segera membalasnya dengan gelengan cepat. Mau bagaimana pun dia masih asing dengan Sato Osamu, walau dia tidak meragukan kemampuannya dalam berkelahi. Tapi, kondisi tubuhnya saat ini sedang dalam kondisi buruk. Jadi, lebih baik ia tidak macam-macan terlebih dahulu atau Kaito-sensei akan menghajarnya nanti.
" Paman akan marah padaku nanti" Ujar Yuki yang dibalas angggukan oleh Sato dan yang lainnya.
" Oh, Snow-chan !" Teriak sebuah suara memanggil Yuki, Yuki menoleh dan mendapati seorang perawat berjalan ke arahnya.
" Yuhi-sensei memintamu menunggu di ruanganmu, kenapa masih disini?" Tanya perawat itu menyelidik.
" Maaf, Minamoto-san. Aku bertemu dengan seseorang tadi" Ujarnya menatap Sato Osamu dan teman-temannya.
" Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu ya!" Pamit Sato melambai pergi bersama teman-temannya. Yuki menatap kepergian mereka, sebelum ikut pergi ke ruangannya bersama si perawat.
" Yuhi-sensei sedang ada operasi saat ini, bagaimana kalau makan malam lebih dulu? Yuhi-sensei bilang kamu belum makan dari siang" Tanya Minamoto begitu mereka tiba di ruangan rawat pribadi milik Yuki, Yuki menghempaskan tubuhnya ke sofa kemudian mengangguk paham.
" Aku makan sup saja" Pintanya pada Minamoto
" Baiklah, apa sup saja cukup?" Tanya Minamoto ragu, Yuki hanya membalas dengan anggukan pelan sembari membuka koper di sudut meja.
Di keluarkan sebuah laptop dari sana kemudian di nyalakan guna menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Yuki mulai menarikan jemarinya di atas keybord, mengetik dengan cepat selayaknya seorang PRO. Matanya bergerilya kesana kemari membaca satu demi satu huruf dalam dokumen dihadapannya.
15 menit berlalu dan Minamoto kembali dengan sebuah sup di nampan, Yuki menghentikan kegiatannya sejenak dan menerima sup itu.
" Hahh, tidak bisakah kau beristirahat Snow-chan?" Tanya Minamoto yang dibalas dengan cengiran polos ala Yuki.
" Aku akan istirahat saat ini sudah selesai, masih ada beberapa puluh dokumen lagi" Ucapnya yang membuat Minamoto mendelik kesal, pasalnya gadis itu tidak akan mengenal kata istirahat sampai pekerjaannya benar-benar selesai.
" Hahhh, baiklah..." Helaan nafas keluar dari bibir si perawat membuat Yuki melirik heran.
" Kau boleh mengerjakannya, tapi ingat! Pukul 9 kau harus sudah tidur, oke?" Ujar Minamoto mencoba membuat kesepakatan dengan Yuki, Yuki melirik jam di sisi ruangan mendapati saat ini baru pukul 04:30 sore.
" Baik, aku akan istirahat sebelum jam 9" Jawab Yuki menyetujui hal itu, masih ada cukup waktu baginya untuk mengerjakan dokumen-dokumen itu sebelum pukul 9.
" Kalau begitu aku pergi dulu ya? Jika ada sesuatu yang kau butuhkan kau bisa memanggil perawat" Pamit Minamoto sebelum beranjak keluar dari kamar rawat Yuki.
Yuki kembali fokus pada pekerjaannya, menatap tumpukan e-mail yang belum dia baca sedari pagi. Harusnya dia menyelesaikan pekerjaannya kemarin, kalau bukan karena sang ayah yang menyeretnya ke ruang hukuman pasti dia sudah menyelesaikan berkas-berkas itu.
Waktu berlalu dengan cepat, sang fajar bahkan terganti dengan rembulan udara dingin khas malam menyapa kulitnya. Akan tetapi Yuki tetap diam, memilih mengerjakan berkas-berkas didepan mata daripada beristirahat. Hingga waktu makan malam terlewat, dan jam menunjuk pukul setengah 8 malam. Yuki berhenti dari aktifitasnya, meregangkan tubuhnya perlahan.
" Hahhh, ternyata sudah malam ya.." Gumamnya menatap jam, Yuki dengan cepat membereskan laptopnya kemudian beranjak turun dari ranjangnya. Perutnya lapar minta diisi, dan karena pekerjaanya sudah usai lebih baik dia pergi mencari dokter Kaito.
Yuki melangkahkan kakinya pergi ke luar ruangan, melewati lorong-lorong kamar pasien yang nampak ramai. Ya, ini masuk jam periksa jadi wajar kalau koridor ramai dengan tangisan anak-anak yang takut dengan dokter atau perawat.
Yuki mengedarkan pandangannya sepanjang jalan, mengamati apakah sosok yang ia cari ada atau tidak. Sudah cukup lama Yuki mencari, setiap koridor di lantai 2 ia lewati bahkan di apotik dan ruang operasi juga ia kunjungi. Namun nampaknya gadis itu belum berjodoh, Yuki menghela nafas panjang.
" Hahhh, Kai-san masih belum selesai ya?" Tanyanya entah pada siapa, kini gadis itu berada di sekitar taman di lantai dasar.
Ya, Yuki sengaja mencari udara segar. Gadis kecil itu melirik ke jam tangan miliknya, jarum menunjuk pukul 8 malam, tak menyangka pencariannya memakan waktu setengah jam. Gadis itu melangkahkan kakinya berjalan menuju salah satu bangku taman, mendudukkan tubuhnya dan beristirahat sejenak disana.
" Aku lapar.." Gumamnya menyadarkan tubuhnya pada kursi, kepala mendongak ke atas menatap langit malam tanpa bintang. Sang rembulan bersinar dengan terang malam ini, membuat Yuki menarik garis pada senyumnya.
" Ouch!!"
Sebuah suara menarik atensi Yuki, membuat gadis itu mengedarkan pandangannya dan mendapati seorang anak berambut perak yang usianya mungkin beberapa tahun lebih tua diatasnya. Anak itu nampak tengah mengusap telapak tangannya, dan Yuki juga mendapati selang infus yang tergeletak di tanah.
" Dia melepas infusnya..." Gumam Yuki yang kemudian beranjak turun dari kursi dan berjalan ke arah anak itu.
" HEI!"