Shiroi Yuki

Shiroi Yuki
Bolehkah ayahanda?



" Sial! " Umpatnya kemudian mencoba bangkit dari duduknya, sedikit bersusah payah sampai akhirnya tubuhnya berhasil bangkit dari sana.


Yuki melangkahkan kakinya mendekati ranjang, walau terkadang dirinya jatuh dan harus bangkit kembali, Yuki berhasil mencapai ranjang. Dengan segera dia mengambil tas kecil di sudut kemudian membukanya, mengambil beberapa botol dan tablet kemudiam mengeluarkan isinya.


Mungkin sekitar 5 pil dan 4 kapsul yang kemudian dia telan dengan sekali teguk tanpa air, rasa pahit menyerang indra perasanya. Akan tetapi setelah beberapa lama tubuhnya terasa jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Yuki merebahkan tubuhnya ke ranjang, iris merah itu perlahan tertutup karena efek obat. Melupakan makanan yang belum ia sentuh sedikitpun di meja.


Waktu bergulir, siang menjadi malam dan malam berganti dengan pagi yang mulai menjemput.


DRRRTT


DRRRTT


Ponsel yang berada di sakunya bergetar dengan kencang membuat Yuki terbangun dari tidurnya, tangannya refleks mencari keberadaan benda pipih itu kemudian mejawab panggilan yang masuk.


___________________________________________________________________________________________.


* Ada apa ayahanda? * Tanya Yuki spontan\, ya pasalnya hanya nomor sang ayah yang ada di ponselnya\, jadi tidak mungkin dia salah menjawab.


* Datang ke ruang bawah tanah sekarang * Titah sang ayah singkat.


* Bai-...*


____________________________________________________________________________________________


TUT


Telfon dimatikan secara sepihak oleh sang ayah, Yuki menatap ponselnya sejenak kemudian mendapati ini masih pukul 2 dini hari.


" Hahh....." Helaan nafas panjang keluar dari bibirnya.


Yuki melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar mandi, menghiraukan kepalanya yang masih berputar akibat baru terbangun dari tidur.


Yuki dengan cepat mengganti pakaiannya, merapikan makanan yang tercecer dimeja. Menatap keranjang berisikan cookies disana, Yuki tersenyum tipis sebelum mengambil segelas air dan meneguknya. Setidaknya dia mengisi perutnya dengan sesuatu sebelum menjalani hari nya, ya Yuki memulai harinya saat matahari bahkan belum terbit.


Dengan cepat menggerakan kedua kakinya menuju ke ruang bawah tanah yang menjadi tujuannya, Yuki menghela nafas singkat setelah 10 menit berjalan dan dirinya sudah berada ditempat tujuannya sedang sang ayah belum tiba.


" Hahhh...." Helaan nafas lega keluar bibirnya. Setidaknya dia tidak membuat snag ayah menunggu, dengan begini mungkin hukumannya akan sedikit diringankan.


5 menit berlalu dan derap langkah menyapa indra pendengarannya, Yuki langsung berdiri dengan tegap di depan pintu dengan kepala tertunduk. Sang ayah yang melihat anak buangannya telah berdiri di tempat yang menjadi tujuannya kini mengukir senyum, walau begitu jangan percaya pada senyuman yang dia buat.


Karena ini bukan lah senyum manis yang dia tunjukkan pada putri kesayangannya, Fuyumi. Atau senyum misterius yang selalu dia gunakan di depan rekan dan colega nya, senyum yang terpatri jelas merupakan senyum yang di tunjukkan guna merendahkan seseorang.


Tatapan matanya menatap rendah dan hina, seakan dia menatap serangga yang paling kotor di muka bumi. Langkah nya terhenti kala dirinya tiba di depan pintu, Yuki segera membungkuk hormat sebelum membukakan pintu untuknya.


" Silahkan, ayahanda" Ucap Yuki mempersilahkan sang ayah, Seiji berjalan masuk dengan tenang melangkahkan kaki nya ke penjuru ruangan, seakan diri nya tahu apa yang ada di depan matanya walau lampu masih belum di nyalakan.


Yuki menekan tombol lampu, memperlihatkan ruangan seluas 8 meter persegi, yang di penuhi dengan rak-rak berisikan buku-buku langka dan berharga yang telah di simpan sejak mansion ini selesai dibangun. Sebuah meja kerja tepat di tengah ruangan, dengan beberapa peralatan seperti pena dan kertas yang tertata rapi disana.


Nuansa klasik terkesan kental memenuhi ruangan, akan tetapi saat kau menatap ke belakang meja kerja disana. Nampak dinding berwarna cream yang dipenuhi dengan alat penyiksaan yang akan membuat siapapun merinding, Seiji mulai melangkahkan kakinya ke sana. Mengambil salah satu cambuk yang biasa dia gunakan setiap memberikan hukuman pada Yuki.


Seiji POV On


" Kemarilah, Snow." Titah ku angkuh pada sampah kecil yang berdiri di depan pintu yang sudah tertutup.


Bocah itu melangkahkan kaki nya dengan cepat mendekat ke arah ku, aku memandang nya dari atas sampai bawah seperti biasa, selalu rapi dengan gaya pakaian yang sama setiap harinya. Tidakkah ia punya pakaian yang lain ?


" Apa kau tahu apa kesalahanmu?" Tanyaku dingin, sampah itu nampak terkejut sebelum akhirnya mengangguk pelan.


" S-saya hampir membuat perusahaan mengalami kerugian besar karena tidak bisa mengontrol bawahan dengan benar." Jawab sampah itu yakin, ya itu memang kesalahannya. Harusnya dia bisa mengolendalikan orang-orang itu dengan benar. Hampir saja aku rugi ratusan juta karenanya.


" Lalu?" Sambungku lagi, sampah itu semakin menundukkan kepalanya, aku tidak suka itu. Aku ingin melihat wajah takutnya, tangan ku bergerak begitu saja mengayunkan cambuk yang ku pegang.


CTASSSH


" Heh~~" Ucap ku dengan sebuah smirk penuh kepuasan, bagaimana tidak? Sekarang sampah itu tersungkur ditanah dengan air mata yang keluar dari sudut matanya.


" Siapa yang mengizinkanmu menangis!? Cepat berdiri!!" Titahku pada bocah itu, dengan perlahan dia bangkit dan kini menatapku penuh ketakutan.


" Ahahahahaha, apa-apaan wajah itu? Monster pembunuh sepertimu tidak seharusnya memiliki wajah seperti itu!!" Ejekku sembari melayangkan cambukku lagi.


CTAASH


CTASH


CTASHH


Ayunan demi ayunan ku lakukan sampai darah nampak turun dari tubuh bocah itu..


" Bangun sialan!"


Aku menarik rambutnya kencang, cukup kencang hingga beberapa helaian rambutnya terlepas. Rambut perak yang harusnya menjadi simbol darah keluarga Suzue, kenapa harus monster ini yang memilikinya?


" Ck, bangun dan berdirilah dengan kaki mu itu. Dasar sampah!" Ucapku melempar tubuhnya hinga dia tersungkur beberapa meter dari tempat ku berdiri.


Cih, lihatlah. Sekarang dia sedang berusaha untuk bangun, ingin sekali aku melihat wajah nya yang hancur saat ini, pasti benar-benar menyenangkan. Butuh banyak waktu bagi bocah sialan itu untuk bangun. Dan itu membuatku kesal karena menunggu terlalu lama.


" Cih, apa kau seekor lemur!? Berdiri saja begitu lambat"


" M-uhuk, maaf..." Ucapnya sembari terbatuk, tunggu itu darah!?


" Maaf karena... menjadi lemah a..-yahanda" Ucap bocah itu kini menatapku. Benar-benar menyebalkan, wajahnya yang hancur entah kenapa membuatku kesal.


" Cih, bersihkan tempat ini sebelum pergi! Dan jangan lupa untuk pergi ke sekolah sebelum Fuyumi siap" Titahku sembari berjalan pergi dari sana.


" B-baik" Jawabnya lemah


Sial -Batinku kesal melihat bocah itu begitu lemah.


" A-Ayahanda!!"


Hm?


Apa lagi sekarang?


Sampah itu memanggilku?


Aku menghentikan langkahku sejenak, sedangkan dia diam. 1 menit berlalu dan dia belum membuka suara, sudahlah lebih baik aku kembali ke kamar dan tidur saja.


" A-ano!" Ucapnya saat aku hampir melangkahkan kaki ku, anak ini benar-benar tidak puas dengan hukumanku?


" Jangan membuang waktuku sialan!" Maki ku menatapnya marah, dan lihatlah. Sekarang bocah itu malah menunduk takut, sebenernya apa yang dia inginkan?


" Cepat katakan!!"


" A-ano, b-bolehkan saya p-pergi ke dokter hari ini?" Tanyanya gemetar, aku menatapnya bingung.


" Untuk apa? Apa kau ingin dokter untuk mengobati luka kecil seperti itu?" Tanyaku yang membuat dia tersentak, aku diam memperhatikan gelagatnya hingga dia kembali menatapku.


" O-obat saya hampir habis, jadi...saya ingin meminta obat lagi" Lirihnya


Ha? Obat?


Tunggu dulu, seingatku baru 2 minggu yang lalu dia check up dan dokter memberikan jatah obat untuk sebulan.


" Terserahmu saja, asal jangan terlambat untuk pertemuan nanti siang" Ucapku berjalan pergi.


Seiji POV off


Yuki yang mendengar itu merasa lega, setidaknya dia bisa mendapatkan beberapa pemeriksaan dan pengobatan di rumah sakit.


BRUKK


Tubuh kecil itu tersungkur ke tanah, rasa sakit menggerayangi seluruh tubuhnya. Dengan segenap tenaga Yuki mencoba untuk tetap sadar, sayangnya tubuhnya tidak mau di ajak bekerja sama.


" Sial!" Lirihnya sebelum pandangannya berubah gelap.


Yuki kehilangan kesadaran, dengan darah yang masih keluar dari tubuhnya. Diatas lantai marmer yang dingin, tubuh ringkih itu tergeletak begitu saja tanpa alas.


.


.


.


Waktu kian berlalu jam menunjukkan pukul 03:30 dini hari dan Yuki sepertinya kembali mendapatkan kesadarannya. Tubuh itu nampak bergerak beberapa saat, sebelum akhirnya gadis itu terduduk lemah disana. Yuki melihat sekeliling masih gelap, jadi dia dengan cepat membersihkan darah yang bercecerah di ruangan. Sesekali tertatih dan terjatuh karena rasa sakit dipunggungnya.


" Argh..." Ringisnya pelan kala punggungnya terasa semakin nyeri, selain itu tubuhnya kini terasa sangat lemah dan letih.


" Sepertinya aku kehilangan cukup banyak darah..." Gumamnya setelah selesai membersihkan ruangan.


Yuki bergegas pergi dari sana, tidak lupa mengunci pintu dan memastikan ruangan sudah kembali rapi dan bersih. Yuki sempat melirik jam yang kini menunjukkan pukul 04:15 pagi, kini Yuki berjalan menuju ke arah kamar nya.


" Oh ya, aku lupa mengatur semak mawar di selatan..."