Shiroi Yuki

Shiroi Yuki
ayunan dan salju



Yuki POV on


" Oh ya, aku lupa mengatur semak mawar di selatan..." Gumamku teringat dengan kejadian kemarin siang


" Hahhh..."


" Masih ada sedikit waktu, sebaiknya aku segera kesana dan merapikannya sedikit" Ujarku sembari melangkahkan kaki ke arah taman di selatan. Butuh sekitar 20 menit dari ruang bawah tanah ke taman di selatan, dan lagi tubuhku rasanya mulai sakit.


Setibanya disana aku memandang sekitar, ribuan mawar pink mekar dengan indahnya. Dinding labirin yang terbuat dari tanaman mawar itu terlihat indah berjejer rapi disana, ya walau bentuknya tidak simetris karena sepertinya belum dirapikan sama sekali.


" Sepertinya aku harus bekerja sangat keras..." Ucap ku lelah. Taman seluas hampir 2 hektar ini harus ku kerjakan sendirian, ini pasti akan memakan waktu 2 minggu lebih untukku menyelesaikannya.


" Hahhh"


Menghela nafas pelan sebelum kaki ku melangkah pergi menuju ke gudang yang tidak jauh dari sana, mengambil peralatan dan mulai merapikan dinding mawar yang ada disana. Tidak lupa berhati-hati saat merapikan setiap sudutnya, juga tidak lupa untuk selalu waspada akan setiap duri yang ada di sekitar batang mawarnya.


Sebenarnya ini bukan pertaman kali aku diminta melakukan hal seperti ini, tapi ini pertama kalinya aku diperintahkan untuk mengurus labirin mawar. Padahal biasanya aku hanya diminta untuk merapikan pagar semak disekitar pintu masuk.


Sebenernya ini sangat merepotkan, karena butuh ketelitian dan fokus tinggi. Tapi apa lagi yang bisa ku harapkan di rumah ini? Bisa istirahat sehari saja dengan tenang itu sudah sangat bagus bagiku.


" Laaaa la la la..."


" Lala la lala.."


" La lala lalaaaa..."


Senandungku pelan sembari memeriksa sudut pagar yang ku buat, saat ku rasa sudah tepat aku berpindah ke pagar satunya dan mulai bekerja.Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, bahkan matahari sudah mulai mengintip dari celah fajar. Ku langkahkan kakiku kembali ke kamar kemudian bergegas untuk bersiap dan pergi ke sekolah.


.


.


.


" Ouch.." ringisku kala air dingin menyentuh bekas luka yang baru, sepertinya aku harus mengobatinya sebelum berangkat.


Aku segera menyelesaikan mandi ku kemudian keluar dengan handuk menutupi tubuh, aku pergi mencari P3K yang biasanya ada dibawah ran-


" Benar, ranjangku hancur...." Ucapku mentap ke arah ranjang didepanku, aku merunduk dan mencoba mencari apakah kotak P3K itu masih ada atau tidak. Dan setelah mencari beberapa waktu aku bersyukur karena kotaknya masih utuh, beruntung aku menyimpangnya didekat dinding jadi tidak terkena dampak dari ranjang yang rusak.


Aku membuka kotak itu kemudian mengambil alkohol dan kapas untuk membersihkan luka, dan sayangnya seperti biasa aku tidak bisa menjangkau punggungku sepenuhnya. Hingga aku memutuskan untuk menggunakan satu-satunya cara.


Dan disinilah aku sekarang, berdiri di depan kaca wastafel dengan bantuan kursi sebagai pijakan, aku mendudukkan tubuhku di tepi wastafel membiarkan punggungku terlihat didepan kaca.


" Sshhss" Ringisku saat alkohol yang ku tumpahkan ke punggungku menyentuh luka, rasanya sakit sampai air mata keluar dari sudut mataku. Setelah memastikan seluruh lukanya steril aku mengoleskan obat merah dengan susah payah sebelum membalut bekas cambukan itu dengan perban.


Hampir satu jam aku dikamar mandi hanya untuk membersihkan luka ini, dan saat aku keluar jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi.


" Sebaiknya aku segera berangkat" Ujarku segera memakai seragam kemudian membereskan peralatan sekolah dan memasukkannya ke dalam tas.


Aku mengambil beberapa cookies dan menyimpannya dalam plastik kemudian mengunci pintu dan berangkat ke sekolah. Sepanjang jalan di koridor nampak para maid dan butler yang sibuk membersihkan kediaman, juga para maid pribadi Fuyumi yang sibuk berteriak membangunkan Fuyumi. Ini adalah pagi yang biasa dikediaman Suzue, kesibukan adalah hal yang selalu mewarnai pagi dimansion ini.


" Nonaaa!!!" Sebuah teriakan membuatku berhenti, nampak Bibi Rin berlari dengan sesuatu ditangannnya.


" Hahh.. Hahh... Hahhhh...." Bibi Rin nampak kehabisan nafas setelah berlari, padahal umurnya baru sekitar 40-an dan dia sudah lelah hanya karena berlari!?


" Bibi kau harus lebih sering berolahraga" Ucapku sembari memandangnya datar, Bibi Rin langsung bangkit dan mencubit pipi kanan ku dengan tangannya yang kosong.


" Awww, itu sakit!!!" Rengekku yang membuat Bibi Rin melepaskan cubitannya, kini tangan kanannya ganti mengulurkan kotak yang tadinya ada ditangan kirinya.


" Ini, sarapan! Minum susu nya lebih dulu agar perutmu tidak kosong!" Resan Bibi rin sembari mengomeliku dipagi hari yang menyebalkan ini.


" Baik-baik akan ku ingat! " Ucapku menerima kotak bekal yang dia berikan kemudian kembali melanjutkan perjalananku. Sedang Bibi Rin segera bergegas kembali ke dalam mansion untuk mengurus segala keperluan Kak Fuyumi.


" Hahh, aku lelah..." Ucapku sembari memandang Mansion Suzue dari luar pintu gerbang.


Sepanjang perjalanan aku disuguhi dengan keindahan alam dikala pagi, burung-burung beterbangan, kilau kemuning padi, dan bunga-bunga yang semerbak wangi memenuhi perjalanan ku menuju ke sekolah. Sesekali aku melirik jam tanganku, sekarang baru pukul 06:45 pagi.


Terlalu awal bagiku untuk tiba disekolah, jadi saat aku tiba di depan taman yang dekat dengan sekolah. Aku menghentikan langkahku, kemudiann duduk disebuah ayunan besi disana. Sebelum mengeluarkan kotak bekal yang diberikan Bibi Rin. Aku meneguk separuh susu hangat yang ada dalam botol, sebelum kembali memasukkannya kedalam tas dan memilih untuk melamun sembari mengamati sekitar.


" Hahh...." Sebuah helaan nafas tertangkap oleh telingaku, aku menoleh dan mendapati seorang kakek tua yang biasa berlari disekitar sini.


" Oh kau nak, sudah lama tidak melihatmu" Ujar kakek itu, aku membungkuk singkat dari tempat ku duduk.


Kakek itu berjalan mendekat dan duduk di ayunan yang ada disebelahku. Kakek itu nampak sedikit kesakitan karena punggungnya sebelum ia berhasil duduk disana.


" Bagaimana kabar mu nak?" Tanya kakek itu, dalam hati aku merasa heran akan tetapi aku tetap menjawabnya.


" Tidak buruk kek. " Jawabku singkat, kakek itu tersenyum kecil.


" Kakek sering melihatmu duduk disini setiap pagi, dan kadang kau tak datang sampai beberapa hari. Apa yang membuatmu datang sepagi ini nak?" Tanya kakek itu menatapku penasaran.


" Kakek tau aku?" Tanyaku balik sembari menatap lekat kakek itu.


" Ahahahaha, kau lucu sekali" Ujar kakek itu sembari terkekeh, membuatku menatapnya penuh kebingungan. Ku pikir kakek itu tak pernah memperhatikan keberadaanku selama ini.


" Kamu selalu duduk disini sejak musim dingin tahun lalu, benar bukan?" Tanya beliau membuatku terkejut, sudah selama itu kakek ini memperhatikanku?


~ Flashback On


Itu benar, saat itu adalah pertama kalinya aku pergi ke taman kanak-kanak, pagi itu salju turun cukup deras dan aku hanya memakai jaket tipis yang ku punya. Seperti biasa aku pergi tanpa sarapan dan berangkat terlalu awal sama seperti hari-hari biasanya. Tapi hari itu aku tidak sengaja bertemu dengan seorang pemabuk beberapa blok sebelum taman ini, pria itu mencekik leher ku dan berniat membunuhku karena mengira aku adalah istrinya. Aku menendang kepala pria itu semampuku sebelum akhirnya meronta dan melepaskan diriku, itu benar-benar sakit. Rasanya leherku hampir patah karena itu.


" Hosh... Hosshh..... Hosshhh..."


Aku berlari tanpa arah waktu itu, dalam pikiran ku hanya lari dan lari sampai aku tidak sengaja menabrak seorang pemuda dijalan depan taman ini.


BRUUKK


" Argh / Shhss" Ringisku dan pemuda itu kala tubuh kami jatuh ke tanah.


" Hei kau tidak apa?" Tanya pemuda itu membantuku bangun, aku sedikit takut tapi akhirnya aku mengangguk singkat.


" SIALAN, KEMARI KAU!!!!" Teriak pria itu masih mengejarku


" Gawat..." Lirihku hendak lari, tapi pemuda itu menahan kerah leher ku membuatku tidak bisa berlari.


" Hei tunggu dulu bocah, kau berhutang maaf padaku. Dan lagi, jangan kabur dari orang tua mu!" Omel pemuda itu membuatku kesal


" Dia bukan orang tua ku sialan! Pak tua itu mabuk dan hampir membunuhku!!" Ucapku membuat pemuda itu tersentak kaget.


" Hahh, KEMARI KAU DASAR ISTRI TIDAK BERGUNA!!" Racau pria tua itu membuat pemuda itu membolakan matanya kaget.


" Dia benar-benar mabuk parah...." Lirihnya yang tanpa sadar membuatku mengangguk setuju.


" HEI PAK TUA!!" Panggil pria itu, membuat kami berdua saling menatap sampai pemuda itu menunjuk dirinya sendiri.


" Aku?"  Tanyanya yang dibalas anggukan mantap dari pria itu.


" YA KAU!! KAU BERHUTANG 10.000¥ PADAKU!!" Racau pak tua itu lagi.


" Lepaskan, aku mau pergi.." Lirihku, pemuda itu melirikku sejenak sebelum akhirnya membawaku diantara celah ketiaknya dan berlari menjauh dari sana.


Pak tua itu tentunya ikut mengejar kami, pemuda itu berlari membawa ku melewati beberapa belokan, berputar- putar di sekitar sana selama 10 menit hingga akhirnya kami bersembunyi dibawah perosotan di taman ini.


" Hahh... Hahhh.... Hahhhhh" Pemuda itu nampak mengatur nafasnya yang tidak beraturan, aku diam dan tak mempedulikannya. Walau akhirnya tanganku mengulurkan sebotol air putih baru.


" Minumlah" Ucapku dan pemuda itu langsung mengambilnya tanpa rasa sungkan sedikitpun.


" Ahhh, thanks"