
" Selamat makan!" Ucap keduanya sebelum menyantap hidangan, Sawamura sudah kembali ke dapur dan kini hanya menyisakan mereka berdua di kantin yang sepi.
Izana dan Yuki menyantap hidangannya dengan nikmat, hingga derap langkah dari luar membuat keduanya merasa terganggu.
" Disini benar-benar berisik!" Keluh Izana sembari menyuapkan mie dalam mulutnya.
" Mungkin ada pasien gawat darurat?" Ujar Yuki seadanya, dirinya benar-benar sudah terbiasa dengan kondisi dirumah sakit.
BRAKKK
Suara pintu digebrak dengan kencang membuat Izana dan Yuki. Ah tidak, bahkan seluruh pegawai dapur keluar untuk melihat ke arah sumber suara.
" YUU-CHAN!!" Pekik sosok yang mendobrak pintu dengan paksa, sosok itu berlari ke arah Yuki sembari membawa kantung kresek ditangan kanannya.
" Kai-san, kau sudah selesai?" Tanya Yuki santai, sosok itu, Kaito mengangguk pelan sembari menetralkan detak jantungnya.
" Kau sudah makan?" Tanya Kaito, sedang Yuki berdecih, bola matanya bergulir ke bawah dan tangannya menunjuk piring didepannya yang masih penuh.
" Yah, kita tidak jadi makan diluar..."Ujar Kaito sedih, Yuki hanya menghela nafas lelah.
" Aww" Pekik Kaito begitu sebuah pukulan mendarat keras di kepalanya, Kaito menoleh dan mendapati seorang staf dapur dibelakangnya.
" Apa sih, Kiyoko?" Ketus Kaito yang masih kesal, staf cantik itu menatap garang pada Kaito.
" Aku tau kau tergesa-gesa, tapi tidak perlu mendobrak pintu kami!" Marah staf yang dipanggil Kiyoko itu, Kurumi Kiyoko salah seorang koki yang bertugas di dapur khusus staf di rumah sakit ini.
" Maaf, aku panik begitu mendapati Yuu-chan tidak ada diruangannya" Ucap Kaito menyesal, Kiyoko nampak menghela nafas pelan.
" sudah-sudah, tolong maafkan Kai-san, Kurumi-san" ucap Yuki menegahi pertengkaran keduanya, Kiyoko menghela nafas sebelum mengangguk pelan.
" Hmm, Sawamura aku pesan pasta satu!" Ujarnya pada Sawamura yang masih berdiri diantara pintu dapur.
" Baik!" balasnya menarik kerah belakang Kiyoko sembari melangkah masuk kembali ke dapur.
" Oh, ini temanmu Yuu-chan?" Tanya Kaito begitu mendapati Izana yang menyantap makanannya tanpa menghiraukan keberadaannya.
" Tidak, kami baru berkenalan beberapa saat tadi" Ucap Yuki seadanya.
" Ouh, kamu... Sanada-kun?" Tanya kaito begitu mendapati Sanada yang mendongak menatapnya.
" Loh, Yuhi-sensei?" Kini giliran Izana yang malah menatap Kaito bingung.
" Ahahahahaha, jadi Yuu-chan berhasil menaklukanmu?" Ujar Kaito sembari tertawa, Izana merengut kesal sedang Yuki menatap bingung keduanya.
" Berisik!" Ketus Izana yang membuat Kaito makin terbahak.
" Nee, Yuu-chan. Apa yang kau lakukan untuk menaklukkan kucing liar ini?" Tanya Kaito yang membuat Izana mengeram rendah.
" Siapa yang kau panggil kucing liar?? Dan lagi dia hanya membantuku memasang infus!" Ujar Izana menggerutu, Kaito menatap terkejut pada Izana.
" Kau..., kau mencabut jarum infusmu lagi!!??????" Tanya Kaito menatap tak percaya pada Izana, seingatnya selama 3 hari ini sudah sekitar 5 kali Izana melepas jarum infusnya sendiri. Ya, 5 kali hanya karena anak itu merasa kesal dan ngambek pada sang kakak yang tak kunjung datang ke rumah sakit untuk menemaninya.
" Hmm" Jawab Izana singkat.
" Hahhh, Yuu-chan tolong bantu aku mengurus anak kucing yang satu ini~~~" Rengek Kaito membuat Yuki terkekeh pelan.
" Haha, itu kan pekerjaanmu Kai-san! Oh ya, bisa kita segera mulai pemeriksaannya?" Tanya Yuki pada Kaito, Kaito menangguk.
" Apa pak tua sialan itu sudah menghubungimu lagi?" Tanya Kaito yang dibalas dengan gelengan oleh Yuki.
" Ayahanda memberiku izin menginap, tapi aku harus pulang untuk memberi makan anak kucing yang ku temukan tadi pagi" Ujar Yuki yang membuat Kaito terkejut.
" Woah, kau membawanya pulang?" Tanya Kaito yang dibalas dengan anggukan singkat.
" Baiklah, kalau begitu segera habiskan makananmu dan kita mulai pemeriksaannya!" Ujar Kaito bersemangat, pasalnya sepanjang hidupnya baru kali ini dia melihat Yuki begitu terbuka dan peduli pada makhluk hidup.
" Oh ya, aku beli shortcake diperjalanan tadi. Ini untuk Yuu-chan dan ini untuk mu Sanada-kun!" Ucap Kaito sembari memberikan cake itu dihadapan keduanya.
" Arigato" Ucap Izana dan Yuki, keduanya kembali asik menyantap hidangan mereka.
.
.
.
" Silahkan makanannya!" Ujar Sawamura menghidangkan makanan milik Kaito.
" Woah, thank you!" Ucap Kaito yang langsung bersiap menyantap hidangannya, sedang Yuki dan Izana sudah menghabiskan makanan mereka.
" Kai-san, aku dan Iza-nii kembali lebih dulu ya!" Ucap Yuki menghanturkan izin.
" Kau harus istirahat, Iza-nii" Ucap Yuki yang membuat Izana menarik bibirnya ke bawah, anak itu merasa kesal dengan ucapan bocah dihadapannya.
" Memangnya kenapa? Ini baru pukul set 9 malam!" Protes Izana membuat Yuki terkekeh pelan.
" Kau harus istirahat agar cepat sembuh!" Ucap Yuki yang menyeret Izana kembali ke ruangannya, anak itu nampak pasrah ditarik oleh yang lebih muda. Sepanjang jalan Izana hanya mengikuti kemana Yuki menariknya, hingga langkah si cantik terhenti didepan kamar rawatnya.
" Iza-nii harus tidur, ok?" Ucap si cantik yang dibalas dengan anggukan oleh Izana, Yuki mengulum senyum tipis sebelum mengulurkan tangannya untuk menepuk puncak kepala Izana.
" Anak baik" ucapnya membuat Izana ternganga.
" Aku harus pergi ke ruang pemeriksaan, jadi...semoga kau cepat sembuh!" Ucapnya sebelum berlari pergi, Izana terdiam ditempat. Tidak mengerti kenapa gadis kecil itu berlari pergi, juga maksud dari kata-kata si cantik yang sulit dia pahami.
" Dasar aneh!" Gumam Izana sebelum melangkah kembali ke kamarnya.
Yuki berlari kembali ke ruang perawatannya, memilih menanti Kaito yang saat ini sedang menyantap makanannya di kantin. Yuki merebahkan tubuhnya ke ranjang, ada sedikit rasa sesak dalam dadanya.
" Sesak..." Lirihnya menatap langit-langit ruangan, gadis itu mulai memutar otaknya.
Sepertinya aku punya cukup uang untuk melakukan operasi? -Batin sang gadis dalam benaknya.
" Tapi, apa ayahanda akan mengizinkan...?" Lirihnya ragu, dia tidak yakin sang ayah akan mengizinkan dirinya menjalani operasi.
" Haha, ayahanda pasti lebih memilih aku bekerja sampai mati karena penyakit ini daripada aku mati karena kesalahan saat operasi!" Ucapnya dingin, raut datar terlukis pada wajah cantiknya, tapi kata yang terucap dari bibirnya benar-benar menyiratkan luka.
" Urgh..." Gadis itu merubah posisinya menghadap pintu, Yuki bisa melihat beberapa perawat berlalu-lalang di koridor. Yuki bosan dengan pemandangan itu, anak itu benci dengan rumah sakit.
Selain karena sang ayah yang menyalahkan dirinya atas kematian sang ibu, Yuki selalu memimpikan ibunya setiap dia dirawat dirumah sakit, selain itu bau disinfektan dan obat-obatan membuat kepalanya makin pusing. Juga suasana riuh saat keadaan darurat setiap saat.
Yuki melamun, menatap kaca di sekat pintu dari atas ranjangnya. Angannya lagi-lagi terbang entah kemana, pergi menjelajahi setiap jengkal pikirannya, memikirkan hal-hal yang berkaitan dengen pekerjaan hingga hal-hal sepele seperti bagaimana kabar kucing yang baru saja ia pungut tadi siang..
Eh?-
Kucing?-Batinnya begitu otaknya mengingat kucing yang baru saja ia pungut tadi siang.
SRAKK
Yuki segera bangkit dari tempat duduknya dan menatap jam dinding, ini sudah hampir jam 9 malam dan dia lupa meninggalkan makanan untuk si kucing. Yuki yang panik segera mencari ponsel miliknya, kemudian mencari nomor sang pengasuh sekaligus pelayan kesayangannya, Bibi Rin.
DRTT
DRTT
DRTT
DRTT
*Halo!* Ucap Yuki begitu panggilannya terhubung.
* Ha-, Nona ada apa menelpon saya di jam segini?* Tanya Bibi Rin yang ucapannya terpotong oleh si cantik.
* Bibi bisa tolong ke kamar ku!?* Pintanya yang membuat si penerima mengernyitkan keningnya bingung.
* Ada apa?* Tanya Bibi Rin heran.
* Aku membawa anak kucing pulang tadi siang, dan aku tidak bsia pulang sekarang. Jadi, bisakah bibi berikan dia susu atau makanan terlebih dahulu!?" Jelas Yuki meminta bantuan dari sang pelayan.
* Hahh, Bibi kira kenapa...* Ujar Bibi Rin terdengar lega.
* Baik, akan Bibi beri sesuatu untuk kucingnya* Sambung Bibi Rin.
* Bibi tidak marah?* Tanya Yuki lagi, kali ini tawa terdengar setelah jeda beberapa detik.
* Haha, untuk apa bibi marah?* Tanya Bibi Rin heran, sedang Yuki nampak menatap tidak percaya pada ponselnya.
* Kalau nona inngin memeliharannya, Bibi tidak keberatan. Selama nona senang, Bibi tidak akan marah hanya karena seekor kucing!!* Ucap Bibi Rin membuat Yuki mengulum senyumnya.
* Terimakasih bibi* ucap Yuki pelan.
* Haha, baiklah. Kalau begitu nona baik-baik di rumah sakit ya!* Ucap Bibi Rin lembut.
* Loh, bibi tau da-...*
Sambungan telfon terputus begitu saja, membuat Yuki menatap ponselnya yang kini menampakkan layar gelap. Yuki menatap bingung pada ponsel-nya, sedangkan pikirannya merana karena penasaran bagaimana Bibi Rin tau kalau dirinya sedang berada di rumah sakit.
" Yuu-chan!"