
" Sialan, ini terjadi lagi" Umpat Yuki memandang lelah ruangannya. Tidak seharusnya anak kecil mengumpat seperti itu, tapi yang Yuki tahu bahwa kata-kata seperti itu digunakan orang dewasa saat mereka merasa kesal.
" Untuk apa sih melakukan hal seperti ini?"
" Mereka benar-benar keterlaluan, coba saja aku bisa menghajar mereka!!" Ucap mulut kecil nya terus menyerukan rasa kesal, sedangkan tangannya sibuk mengambil pakaian yang tercecer dilantai.
" Aku ingin pergi saja dari tempat ini!!!" Celetuknya kesal, pakaiannya diletakkan di sudut meja belajarnya sebelum dirinya mencoba mengangkat kasur kecil itu dan menyandarkannya ke dinding.
Yuki memandang ranjang kayu dibawah sana yang sudah patah menjadi 2, entah apa yang terjadi disini Yuki tidak mau tau.
" Hahhh" Helaan nafas panjang keluar dari bibirnya, Yuki mulai mengambil posisi sebelum menyeret patahan ranjang itu keluar.
" Urgh, ini berat sekali??" Keluh nya kala mendapati ranjang itu tidak bergeser sedikit pun.
" Argh, siapa peduli?!!!" Ucapnya sebelum menjatuhkan kasurnya begitu saja kemudian membanting tubuh kecil nya.
" Aku lelah..." Lirih nya sebelum memejam kan iris merah nya.
Beberapa jam telah berlalu dan Yuki masih sibuk menjelajah alam mimpi, sementara itu saat ini ketukan pintu beberapa kali terdengar dari luar membuat Yuki terpaksa bangun dan bergegas menghampiri pintu. Mau bagaimana pun indra Yuki sangat sensitif, selain itu gadis kecil itu tidak pernah melepaskan rasa waspadanya bahkan ketika tidur.
Pasalnya mansion ini adalah tempat yang berbahaya, mungkin bagi Yuki lebih baik tinggal di hutan dengan binatang buas daripada harus tinggal di tempat nyaman yang penuh dengan monster mengerikan yang bisa membunuhmu dengan perlahan.
" Maaf membuatmu menung-Bibi!!" Pekik nya mendapati seorang pelayan wanita di depan pintu.
Yuki mendengus kesal kemudian berjalan masuk kembali dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Sedangkan pelayan itu hanya terkekeh sembari melangkahkan kaki nya masuk ke dalam, meletakkan sebuah keranjang berisikan makanan untuk Yuki sebelum mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di sebelahnya.
" Apa nona tidak senang melihat saya lagi~~?" Tanya pelayan itu menggoda, Yuki berdecih kesal.
" Bibi harusnya langsung masuk saja, lagian panggilan apa itu? Aku bukan nona di tempat ini!" Protes Yuki yang mendapat kekehan lembut dari pelayan itu.
" Bukan nona dari mana nya? Nona jelas-jelas tuan putri di kediaman ini. Nona lahir dari rahim nyonya rumah ini, dan nona juga anak dari tuan di rumah ini." Jelas sang pelayan
" Lalu dari mana anda bisa menyimpulkan kalau nona bukan nona di rumah ini?" Tanya sang pelayan lagi, Yuki merengut dan itu membuat pelayan itu tergelak karena wajah imut yang dibuat Yuki.
" Hentikan itu bibi!!!" Protes Yuki tidak terima
" Lagi pula sejak awal Ayahanda sudah memutuskan, hanya ada satu nona di kediaman ini dan itu adalah Kak Fuyumi dan bukan aku." Sanggah nya pada pernyataan si pelayan
" Dan lagi, mana ada nona yang di perlakukan seperti budak? Bahkan aku tidak lebih terhormat dari para pelayan disini....." Ucapnya sendu, pelayan itu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Yuki. Mendudukkan tubuhnya di lantai, dengan tubuh yang menghadap pada tubuh kecil di depannya. Lengan terulur menggapai wajah cantik yang kini terlihat murung, diangkatnya wajah kecil itu kemudian di kecupnya kening Yuki dengan perlahan.
" Anda bukan budak, nona." Ucap si pelayan membuat Yuki menatap nya dalam, mencoba mencari kebohongan dari sosok didepannya.
" Anda adalah nona di rumah ini, anda adalah putri dari Suzue Seiji dan Suzue Kiyo. Anda juga pemilik tempat ini, walau saat ini anda di perlakukan seperti ini. Tapi, percayalah! Percayalah suatu hari nanti anda akan mendapatkan kembali hak anda, dan anda pasti akan bahagia!" Ucap si pelayan sembari tersenyum tulus.
"...." Yuki terdiam, tidak mampu mengucap sepatah kata untuk membalas perkataan pelayannya. Kata-kata manis itu terlalu manis dan terlalu indah untuk dia mimpikan, Yuki bahkan tidak pernah berani memimpikan kebebasan. Hidupnya terlalu mengerikan sampai diri nya tidak berani bermimpi.
" Nona harus bahagia! Suatu saat nanti nona harus bahagia!" Seru si pelayan dengan senyum penuh keyakinan.
" Berjanjilah pada saya, nona?" Pinta pelayan itu pada Yuki. Kini senyum itu menghilang, berganti dengan tatapan penuh permohonan dan senyum pasi di bibirnya. Yuki menatap ragu pada pelayannya, dalam hati nya dia tidak mengerti apa itu kebahagiaan, tidak pernah ada seorang pun yang mengajarkannya tentang itu Dan dia juga tidak pernah mengenalnya sama sekali.
" Nona?" Panggil pelayan itu lagi, kali ini Yuki tidak hanya diam. Yuki mengangguk pelan sebagai jawaban atas pemintaan pelayannya, walau sungguh dalam dirinya tidak mengerti apa itu kebahagiaan, tapi Yuki tetap mengangguk.
" Baiklah, sekarang saat nya makan!" Seru si pelayan mengalihkan suasana menyedihkan itu, dirinya bangkit dan berjalan menuju ke keranjang di meja makan. Mengeluarkan sepiring sup ayam dan roti dari sana kemudian meletakkannya di meja, Yuki berjalan mendekat kemudian mendudukkan tubuhnya di atas kursi yang lebih kecil.
" Urgh, sup lagi?" Ucap nya menatap lelah pada sup yang disajikan di depannya.
" Anda tidak boleh pilih-pilih makanan nona, lagi pula pencernaan anda sangat sensitif bukan? Jadi lebih baik anda makan sup terlebih dahulu!" Omel si pelayan yang sudah terbiasanya dengan sikap nonanya.
" Tapi Bibi Rin, aku bosan dengan sup~~~" Rengeknya pada sang pelayan, Rin.
" Hahh, habiskan sup nya, makan roti nya beberapa saat setelah sup nya dan lihat apa yang ada di dalam keranjang!" Ucap Bibi Rin sebelum melangkah pergi dari sana
" Bibi tidak mau tinggal lebih lama?" Tanya Yuki menatap Bibi Rin yang hendak pergi
" Heh, tadi marah waktu saya datang tiba-tiba. Dan sekarang anda tidak rela saya pergi~~?" Ucap Bibi Rin menggoda Yuki, Yuki yang tidak suka di goda pun langsung saja melempar serbet yang ada di meja ke arah Bibi Rin.
" Pergi saja sana, aku tidak peduli!!!" Ucap nya kesal, Bibi Rin bergegas pergi dengan tawa yang masih terus terdengar dari mulutnya.
Yuki menatap pintu yang telah tertutup sepenuhnya, sudut bibir nya sedikit tertarik ke atas mengukir senyum tipis. Entah apa nama perasaan yang tengah dia rasakan saat ini, tapi jelas sekali ada perasaan hangat dalam dirinya.
" Seandainya ibunda masih hidup, apa dia juga akan memperlakukan ku seperti Bibi Rin memperlakukan aku?"
Lirih nya menatap langit-langit ruangannya.
" Ah sudahlah, siapa juga yang peduli! Kalau ibunda hidup aku pasti tidak akan ada disini sekarang!!" Ucapnya sembari menyendok sup nya.
" Benar juga...."
" Andai ibunda yang di selamatkan waktu itu, aku pasti...."
" Aku pasti tidak perlu hidup dan menderita seperti ini......"
" Itu artinya.....Aku..tidak akan pernah lahir..." Lirih nya dengan tatapan kosong, selera makannya kembali hilang. Padahal kalau diingat hampir 5 hari ini dia tidak makan dengan benar, sedang kondisi tubuhnya juga sedang tidak baik.
TES
Bercak merah mengotori meja di bawahnya, Yuki refleks memegang hidungnya kemudian memeriksa tangan yang ia arahkan ke hidung. Benar saja, darah mengalir dari hidungnya. Yuki segera berlari ke kamar mandi dan membersihkan darah yang keluar dari hidungnya.
" Ck, ini bukan saat yang tepat bodoh. Bertahanlah sebentar lagi!" Maki nya pada diri sendiri. 15 menit berlalu dan darah akhirnya berhenti mengalir, Yuki menyandarkan tubuhnya ke dinding. Kepalanya terasa sakit sekarang, dia butuh obat nya saat ini juga.
Dengan perlahan Yuki bangkit dan berjalan dengan susah payah menuju ke laci nakas di sebelah ranjang nya. Yuki membuka laci dengan kasar sampai laci itu jatuh, namun sayangnya bukan obat-obatan yang biasa dia konsumsi akan tetapi hanya laci kosong yang dia jumpai.
Yuki dengan panik mencari obat yang mungkin berada di tempat lain, mulai dari nakas, dalam lemari dan setiap sudut ruangan dia periksa. Naas nya tidak satupun dari pil pahit itu ia temukan. Pada akhirnya tubuhnya melemas dan berakhir dengan tergeletak di lantai begitu saja.
" Hosh..Hoshh...Hoshh....." Nafasnya menderu tidak karuan, kepalanya semakin pusing dan cairan merah kembali mengalir dari hidung nya.
" O...bat...." Racaunya sembari mencoba menenangkan dirinya sendiri, keadaannya benar-benar kacau tapi otaknya masih memikirkan dimana obat yang mungkin dia simpan.
" Hahhh....Hoshh....." 5 menit berlalu sembari mengontrol dirinya, Yuki ingat dia membawa beberapa pil obat dalam perjalanan kemarin.
" Sial! "