
" Aku akan menganti pakaian, setelahnya aku akan langsung pergi ke ruang make up." Ucap Yuki yang langsung menganti pakaiannya setelah para pelayan keluar. Yuki melepas satu demi satu pakaian yang melekat di tubuhnya, kemudian mengantinya dengan gaun yang kini melekat dengan indah di tubuhnya.
Gaun berwarna perak yang berpadu dengan warna hitam dan emas yang nampak begitu elegan pada gaun itu, Yuki mengenakan sarung tangan untuk menutupi bekas luka pada lengannya. Mengambil high heels yang terletak tidak jauh dari sana, heels itu sudah disesuaikan dengan gaun yang akan dia kenakan, bahkan Yuki meminta para pelayan untuk mencarikannya heels setinggi 8cm untuk menunjang penampilannya.
Bukankah itu terlalu tinggi untuk anak sesusianya, bahkan Fuyumi sendiri tak bisa mengenakan heels setinggi itu. Yuki terlalu serius dalam memainkan perannya, dia selalu melakukan yang terbaik untuk mengangkat nama dan citra sang kakak. Sayangnya Fuyumi tak pernah mengerti itu, yang dia ketahui sang adik hanya diminta ayahnya untuk berperan sebagai dirinya dipesta-pesta yang penuh dengan musuh dari sang ayah.
Ya, benar sekali. Fuyumi pikir sang ayah hanya ingin melindunginya dan mengunakan Yuki sebagai perisai. Sayangnya Fuyumi tak pernah mengerti seberapa besar usaha yang Yuki kerahkan untuk menjadi perisai bagi dirinya, bahkan sang ayah tak pernah menceirtakan bagaimana ia membesarkan Yuki selama ini.
Sungguh, seandainya Fuyumi tahu bagaimana cara Seiji membesarkan Yuki. Fuyumi pasti akan menangis dan memohon pada sang ayah untuk menghentikan tindakannya, apalagi jika ia tahu apa yang Yuki lakukan demi memerankan karakter yang sempurna dimata sang ayah, Fuyumi pasti akan menangis dan memohon pada Yuki untuk berhenti. Bahkan Fuyumi mungkin akan berlutut dan memohon maaf atas segala yang sang ayah lakukan pada Yuki.
Yuki yang selesai menganti pakaiannya kini melangkahkan kakinya pergi dari ruang ganti menuju ke tempat rias, disana sudah ada beberapa pelayan yang bertugas untuk membantu merias wajah cantiknya. Yuki tanpa basa basi langsung mendudukkan tubuhnya di kursi tanpa menghiraukan tatapan kagum dari para pelayan seperti yang biasa ia lakukan.
" Seperti biasa anda selalu memukau Suzue-san." Ucap salah seorang pelayan senior yang Yuki ketahui dengan baik.
" Itu tidak benar senpai!" Protes pelayan yang lebih muda pada seniornya.
" Suzue-san berkali-kali lipat lebih cantik dibanding biasanya!!" Ucap pelayan muda itu memuji kecantikan Yuki, sang senior terkekeh pelan mendengarnya.
" Ya, kau benar Haruka. Suzue-san benar-benar memukau kali ini, anda terlihat seperti mawar putih yang baru mekar!" Ucap pelayan senior itu sembari menambahkan pujian pada Yuki di akhir kalimatnya.
" Aku tidak begitu, lagipula mawar putih tidak terlihat sepucat ini" Ucapnya menatap dirinya di cermin, Yuki bisa melihat betapa indahnya gaun putih itu saat berpadu dengan kulit putih pucatnya. Bahkan ia sempat tertegun sejenak kala mendapati warna gaun itu benar-benar pas dengan warna kulitnya.
" Itu tidak benar, Suzue-san sangat cantik mengenakan gaun itu!" Seru Haruka yang tidak terima saat Yuki merendahkan dirinya, bagaimana bisa gadis itu tak mengakui kecantikan yang begitu jelas dari tubuhnya. Tentu saja Haruka marah dengan itu, Yuki harusnya lebih menghargai dirinya sendiri.
" Hm, arigatou" Ucap Yuki berterimakasih atas pujian yang dilayangkan, juga amarah yang bisa Yuki lihat dari sorot mata Haruka. Yuki kini memilih diam dan membiarkan kedua pelayan itu merias dirinya dengan baik.
Make up tipis di bubuhkan di atas wajah putih itu, mengoleskan pewarna merah muda pada bibir tipis nan cantik, tak lupa memberikan perona pada pipi yang tirus itu. Haruka mengikat sebagian rambut Yuki ke samping kemudian memasangkan hiasan rambut yang bertatahkan batu obsidian.
45 menit berlalu dan Yuki sudah selesai, gadis itu nampak begitu sempurna sekarang. Kecantikan tiada dua kini telah selesai dipoles dengan sedikit make up yang membuatnya terlihat sempurna. Semua ornag yang melihatnya selalu terpana, dan kali ini Kinro pun sedikit tertegun kala mendapati Yuki yang tiba-tiba masuk dan mendudukkan dirinya.
" Apa ada yang lain, Kinro-san?" Tanya Yuki saat mendapati Kinro yang meliriknya dari spion belakang kini tengah termenung, Kinro yang sadar segera mengalihkan pandangannya kemudian menyalakan mobil dan mengemudikannya menuju ke tempat pesta.
Tidak butuh waktu lama bagi Kinro untuk mengemudikan mobilnya ke tempat pesta, Yuki menghela nafas pelan selama perjalanan. Sesekali ia melirik bosan ke arah jendela. Tatapan sendu begitu jelas pada manik ruby itu, kristal merah yang harusnya bersinar dengan indah terlihat begitu gelap dan kosong, bahkan kaca jendela yang memantulkan manik itu tengah disinari oleh gemerlapnya lampu jalanan. Dan sayangnya gemerlap kota tak mampu menyinari kristal merah itu.
" Apa papa sudah disini?" Tanya Yuki kala Kinro menghentikan mobilnya di depan sebuah hotel mewah berbintang 5, Kinro balas dengan deheman singkat. Yuki menghela nafas kemudian membuka pintu dan mulai berjalan keluar, para pelayan sudah menyambut kedatangannya.
" Selamat malam Suzue-sama, bisa saya mengantar anda?" Ucap pelayan itu yang dibalas dengan anggukan oleh Yuki.
" Mohon bantuannya" Ucap Yuki mengulurkan telapak tangannya yang kemudian di genggam oleh pelayan itu, sang pelayan menuntun Yuki masuk menuju ke ruang pesta.
" Anda benar-benar memukau malam ini, Suzue-sama" Ucap pelayan itu berbasa-basi, Yuki yang mendengarnya hanya melirik bosan. Selalu pujian yang sama, tak bosankah orang-orang memujinya seperti itu? Jujur, ia sangat bosan mendengarnya.
" Terimakasih untuk pujiannya, dan terimakasih sudah mengantarku" Ucap Yuki kala ia tiba di ruang pesta, sang pelayan mengangguk kemudian pamit untuk undur diri.
Yuki melangkahkan kakinya masuk, dan dalam sekejap seluruh atensi dalam ruangan difokuskan pada si cantik yang baru memasuki ruangan. Yuki menghela nafas pelan, perlahan ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok sang ayah yang harusnya berada di tengah ruang pesta itu.
" Selamat malam Suzue-chan" Ucap salah seorang tamu yang tiba-tiba menyapa Yuki, Yuki lantas menoleh dan mendapati seorang pria tua berusia 50-an berdiri di belakangnya. Ojiro Hamada, CEO dari Mitachi Inc, salah satu perusahaan yang bergerak di industri kendaraan ringan.
" Selamat malam Ojiro-san" Jawab Yuki dengan senyum bisnis yang biasa dia gunakan.
" Haha, senang rasanya bisa berbicara denganmu" Ucap Ojiro Hamada yang membuat Yuki kesal, pasalnya gadis itu sangat tahu bahwa pria tua itu ingin menjilatnya.
" Sebuah kehormatan bagi saya untuk bertemu anda, saya harap anda dalam kondisi baik saat ini. Saya dengar, akhir-akhir ini Mitachi mendapat permintaan yang cukup tinggi daari pasar" Ucap Yuki yang ingin segera mengahiri pembicaraan itu.
" Oh, hahahaha. Itu benar, tidak ku sangka kau mengetahuinya!" Ucap Ojiro yang terbahak kala mendengar ucapan yuki, sedangkan orang-orang disekitar menatap tak suka pada pria itu. Pasalnya ia mencuri start untuk berbicara dengan Yuki.
" Ku dengar kalian juga mengajukan proposal untuk bekerja sama di proyek kendaraan masa depan yang baru kami adakan beberapa waktu lalu" Ucap Yuki lagi, Ojiro Hamada yang mendengar itu tentunya langsung mengukir smirknya. Ini adalah salah satu alasan mengapa orang-orang suka menjilat yuki, pasalnya gadis itu cepat tanggap walau hasil akhirnya tidak selalu sesuai dengan permintaan mereka.
" Itu benar! Yaa, ku harap kita bekerja sama dengan Suzue Corp" Ucap Ojiro yang dibalas dengan anggukan oleh Yuki.
" Saya mengerti, saya harap anda bisa memenangkan tendernya. Kalau begitu saya permisi, saya harus mencari ayahanda sebelum beliau khawatir" Ucap Yuki yang beranjak pergi dari pria tua itu begitu saja tanpa membiarkan Ojiro membalasnya.
" Apa kau menikmati pestanya, Suzue-san?" Baru saja beberapa langkah ia menjauh dari Ojiro Hamada dan kini seorang pria dewasa berjalan mendekat ke arahnya, Yuki menghela nafas pelan.
" Tentu saja, ini pesta yang luar biasa" Jawab Yuki menoleh pada pria itu.
" Apa anda tidak menyukainya, Shizo-san?" Ucap Yuki melempar senyum polos, menghadapi ular berbisa dari BSICS benar-benar perkara yang tidak mudah. Manager dari perusahaan sepatu itu benar-benaar lawan bicara yang merepotkan, bahkan Yuki selalu membuang-buang waktunya hanya agar ia bisa lepas dari pria aneh itu.